Review: Petunia yang Berguguran di Hati Senja

0

wp-1502376509426.

Petunia yang Berguguran di Hati Senja

Penulis: Ansar Siri

Editor: Tiara Purnamasari

Layout: Tiara Purnamasari

Desain Sampul: Roeman-Art

Penerbit: Mazaya Publishing House

ISBN: 978-602-6362-36-0

Cetakan: I (April 2017)

Jumlah Halaman: 123 hlmn

*

ᴥBlurb ᴥ

Kau pernah tidak percaya dengan sesuatu yang nyata-nyata terpatri di depan mata? Berharap semua itu hanya mimpi dan kau akan segera terbangun? Aku pernah membaca hal semacam ini di sebuah novel, juga menemukan tokoh beberapa film mengucapkannya. Dan sekarang, aku mengalaminya.

Mama berdiri di depan pintu, bergelayut manja di lengan seorang lelaki. Ia berusaha memberikan senyum terbaik. Kemudian mama memperkenalkan lelaki tadi sebagai pacar barunya. Aku tersentak. Selama sekian detik kesulitan menarik napas. Bukan lantaran mama berganti pasangan lagi, bukan pula karena lelaki yang dipilihnya kini tampak sebaya denganku. Lebih dari itu, lelaki yang kini sedang mengulurkan tangan dan baru saja menyebutkan nama adalah Ruwanta, orang yang kucari selama ini demi pengakuan untuk bakal malaikat kecil di rahimku.

*

“Ini tentang hati yang merapuh oleh kenangan.”

Berkisah tentang Senja yang sangat menggilai Ruwanta, teman sekampusnya di salah satu universitas di Bandung. Cinta itu begitu besar, begitu akbar, hingga cinta-cinta yang lain, yang entah kualitas dan kuantitasnya, tersamarkan oleh cinta tersebut. Termasuk cinta dari teman sedari kecilnya; Yudit.

Mungkin rasa itu bisa sebegitu agung sebab perhatian-perhatian kecil seperti yang selama ini Ruwanta berikan, yang manis dan menghangatkan, tak lagi bisa diterima Senja di rumahnya. Segala tercipta karena mamanya berubah semenjak ditinggal mati oleh suaminya, papa Senja. Sedari sana, hanya tersisa sudut-sudut rumah yang dingin, botol-botol bir, serta kebencian-kebencian yang nyata di pelupuk mata.

Mungkin sebab itulah yang menjadikan Ruwanta semestanya Senja.

Namun, masihkah Ruwanta menjadi segala Senja setelah apa-apa yang terjadi di antara mereka? Setelah ditinggalkannya Senja seorang diri berteman rasa takut dan kekecewaan? Setelah apa-apa yang dia lakukan pada mama?

Dan bagaimana dengan cinta Yudit yang entah itu?

*

“Menurutku senja berarti sesaat. Apa yang bisa dibanggakan dari sesaat?”

-Senja (hlmn 3)

Membaca novela yang kurang dari seratus lima puluh halaman ini adalah sebuah guilty pleasure bagi saya; ingin baca terus, tetapi di sisi lain tak ingin cepat-cepat menyelesaikan kisah-kisahnya. Apalagi pada novela jawara milik Daeng Ansar ini.

Mengambil semesta anak kuliahan, buku bersampul lembut dengan bunga petunia berwarna ungu ini mampu mengajak saya berpetualang di dalam kepala Senja, tokoh utama wanita kesayangan kita. Senja diimajikan sebagai seorang mahasiswi di salah satu universitas di Bandung yang tengah asyik menikmati hubungan-entah-apa yang dia jalin dengan Ruwanta. Istilah gawulnya, Hubungan Tanpa Status (HTS). Bukan tanpa sebab; Ruwanta kerap memberikan perhatian-perhatian yang menyiratkan sesuatu kepada Senja, membuat Senja berharap dan terus berharap tanpa kepastian.

Padahal di sana ada Yudit, lho, Senja! Yudit! Yang kamu diamkan tiap kali dirinya memulai obrolan! Yang tak kamu acuhkan setiap dirinya memberikan perhatian! Yang kamu balas dengan kekecewaan-kekecewaan atas semua dia punya ketulusan-ketulusan!

Eh, maap, esmosi.

Begitulah, manusia memang kerap mengejar-ngejar apa yang buruk namun nikmat bagi mereka, lalu tak mengindahkan apa yang baik bagi mereka.

Semakin ke belakang, saya dibuat semakin mangkel oleh Senja dan Ruwanta. Betapa bodohnya, betapa betapa mengesalkannya. Dan untuk kesekian kalinya, saya dibuat sebegini jengkel oleh tokoh rekaan Daeng Ansar.

Beruntung, Senja memiliki Nila di hidupnya yang hampir carut-marut; seorang sahabat yang selalu ada bahkan di saat kita melakukan hal-hal paling bodoh. Seorang sahabat sejati.

“Selebihnya, ia hanya pemilik pesona, sedang aku tawanannya.”

-Senja (hlmn 65)

wp-1502376531714.

Kemampuan Daeng Ansar bercerita memang sudah tak diragukan lagi. Dengan tema yang sederhana juga konflik yang lumayan rumit, kisah Senja sukses dibuat seapik ini, seciamik ini. Kemudian, yang paling saya perhatikan benar, penggunaan sudut pandang orang pertama yang teramat pas untuk gaya tulis Daeng Ansar yang alahai nian untuk dinikmati.

Dengan POV seperti ini, juga penuturan yang lembut dan manis, yang baku dan begitu mendayu-dayu, membuat saya sebagai pembaca asyik-asyik saja berpetualang dalam pikiran-pikiran Senja.

Saya diajak untuk lebih menikmati lika-liku hidup Senja.

Namun, tak bisa dibilang novela seciamik ini sudah sempurna dan tak lepas dari satu-dua kekurangan. Saltik menjadi salah satunya. Tetapi, sudah sejauh ini, saya nda akan bahas saltik-saltikan ah~ ehe ehe~

Salah duanya, risiko menggunakan cara bertutur yang manis-puitis seperti itu adalah kekurangdinamisan dalam bercerita. Daeng Ansar perlu tahu kalau tak semua isi novelanya dapat dituturkan dengan manis. Ada adegan-adegan yang mana memerlukan pompaan adrenalin agar pacu itu jantung, agar semakin nikmat apa yang dibaca.

Ingat pola ‘awalan-perkenalan masalah-puncak konflik-penyelesaian masalah-akhiran’ dalam teori Gustav Freytag? Nah, Daeng Ansar, menurut saya yang lancang ini, kurang asyique dalam mengeksekusi adegan di rel kereta api. Kami butuh pompaan adrenalin, keringat dingin, jantung yang kempat-kempot saking sibuknya memompa darah lebih cepat.

“Pernah terlintas pikiran untuk menjauh, pergi tanpa ambil pusing. Tapi sesuatu yang kubangun selama bertahun-tahun, kembali memanggil, meminta disempurnakan wujudnya di bawah payung ketulusan.”

-Yudit (hlmn 105)

Dan satu hal lain yang saya teramat jatuh hatikan dari novela ini adalah ending-nya. O, Daeng, kau pintar sekali memberikan apa yang teramat aku butuhkan dalam novela penuh luka-duka begini.

“Saya diperlihatkannya betapa pilu dan menyedihkan petunia-petunia yang berguguran. Semua kekecewaan-kekecewaan dan kelegaan-kelegaan baur jadi satu, jadi padu. Dan apa-apa yang telah terjadi dan tengah menanti, disampaikannya dengan tebu.”

-Meesterzena (IG: @meesterzena)

Dan perkenankanlah saya mengangkat topi, mengacungkan ibu jari, menyelamatkan sang empunya cerita yang telah dengan sukses menghibur saya dengan kisah-kisah di buku jawara ini. Pun, saya takkan ragu-ragu untuk memberikan…

Bintang 4

Sampai ketemu di ulasan selanjutnya!

wp-1502377657666.

Advertisements

Blogtour : Aster untuk Gayatri

34

Aster untuk Gayatri

IMG_20170521_090449

Penulis: Irfan Rizky

Editor: Tiara Purnamasari

Layout: Tiara Purnamasari

Desain Sampul: @megapuspitap

Penerbit: Mazaya Publishing House

ISBN: 978-602-6362-35-3

Cetakan: I (April 2017)

Jumlah Halaman: 160 hlmn

*

ᴥBlurb ᴥ

Telah kularungkan

Kepada Gayatri

Tiap-tiap kesedihan

Jua

Perih-pedih masa lampau

 

 Dan telah kuwariskan

Kepada Giran

Cerita-cerita luka

Tentang rindu

Yang dipandanginya

Lama-lama

 

Pun telah kuhidangkan

Kepada kamu

Seorang

Kisah-kisah tentang

Apa-apa

Yang harusnya

Ada

Dan apa-apa

Yang mestinya

Tiada

*

“Agar jatuh cinta sedikit demi sedikit saja, karena siapa yang pernah tahu sakitnya seperti apa jika tergesa-gesa memberi segala?”

-Gayatri (hlmn 13)

Tak ada yang lebih menenangkan bagi Gayatri daripada hujan pukul delapan yang santun benar membasuh-bersihkan tabah tubuhnya. Di umurnya yang dua-delapan ini, dirinya masih harus berurusan dengan perkara-perkara yang tak begitu disukainya: kelakuan apaknya, kemauan mandenya, dan perhatian-perhatian Giran yang menyenangkan.

Untuk yang terakhir, dia tak benar-benar tak menyukainya. Hanya saja, Gayatri sudah pernah terluka. Dan tolol benar jika dirinya menyodorkan lebam yang sama pada Giran, mahasiswanya.

“Karena, bukankah jatuh cinta pada cinta itu sendiri adalah sesantun-santunnya cinta?”

-Giran (hlmn 19)

Yang luput dari perhatian Gayatri adalah Giran serupa dengannya. Telah lama dipeliharanya itu luka-duka, dijadikannya teman, dibuatnya nyaman. Kesakitan-kesakitan di masa lalu saling tarik-menarik di antara mereka, menambahkan rasa, menumbuhkan cinta.

Dan jika nanti Giran tahu dan mengerti akan kesukaran-kesukaran Gayatri, masih maukah dia menerimanya?

Dan bagaimana dengan Gayatri? Akankah ia tetap berpikir kalau wayangnya, meski sudah berbeda, namun berlakon sama?

Dan apakah semesta dan Tuhan kembali lancang untuk kesekian kali?

“Dan jika kita, kau dan aku, masih abai dan lancang pada kehendak masa lalu, maka hanya akan ada pahit yang membayang, menyambut ujung-ujung pilu yang menerjang.”

-Gayatri (hlmn 96)

***

Hai halo! Salam sejahtera! Bagaimana kabar? Semoga luar biasa selalu!

Sebelumnya, perkenankan saya berucap terima kasih kepada orang-orang yang sangat, sangat mendukung proses lahirnya novela perdana saya. Kepada Tuhan, orang tua, keluarga, dan sahabat-sahabat yang ucapan terima kasihnya telah saya tuangkan pada halaman pertama novela ini. Beli! Sehabis itu baca sendiri!

Lalu kepada teman-teman blogger buku: Mba Aya yang telah menghelat blogtour di minggu pertama; dan Miss Carra yang nanti dapat jatah mengulas buku saya yang tak seberapa di minggu terakhir. Kalian panutanqu.

Kemudian kepada teman-teman di Hello Author (saya akan mencoba lebih spesifik di sini): Mba Eka, Mba Rosyi, Mba Mia, terima kasih untuk ulasan-ulasannya. Mba Nurul, Mas Aji, Mas Tegar, Mba Dhamas, Mba Novi, Mbak Melly, Mas Beni, Mba Prima, Mba April, Mba April, Kang Dede, Daeng Ansar dan anggota lain yang superkece, terima kasih!

Kepada teman-teman Monday FlashFiction: Fajar ‘Ajay’, Sarif ‘Ranger’, Mba Vanda, Mas Iwann, Mas Wisnu dan teman-teman lain yang belum memiliki buku ini: plis beli.

Dan terakhir kepada kamu yang  sudah mau repot-repot ngikutin persyaratan-persyaratan di bawah; aku padamu. Seandainya saya sekaya itu, sudah saya berikan gratis untuk kamu sekalian. Heuheu.

Saya sempat disangsikan oleh Mba Aya, perkara menjadi host blogtour novela ini padahal saya pengarangnya. Memang lucu. “Budget terbatas, Mbae,” canda saya, sedikit meringis. Maka dari itu, saya ndak akan melakukan tindakan konyol dengan mengulas novela saya sendiri, ehe ehe ehe.

Namun, sebagai gantinya, saya akan menyediakan tautan-tautan dari ulasan-ulasan mereka atas novela Aster untuk Gayatri ini.

*

“Aster untuk Gayatri”, laiknya kisah cinta pada umumnya, menggetarkan dengan percikan asmara. Tema yang umum, topik yang ramai dibahas—luka, kepedihan, masa lalu, kekecewaan, kesengsem, jatuh cinta, sakit hati, jatuh cinta lagi—namun, bukankah kita selalu menyambut kisah-kisah demikian untuk menghibur diri?

Ya, kali ini, “Aster untuk Gayatri” pun secara umum mengangkat cerita dengan bait-bait esensi di atas. Tetapi, mengapa membacanya begitu nikmat?

Karena, eksekusi penulis dalam membumbui yang akan membedakan dan gaya sastra pada novella ini, membuat saya abai pada jenuh. Sebaliknya, malah bikin tangan gatal untuk membalik halaman tiap halamannya.”

-Nofrianti Eka P. (Founder Hello Author)

“Jujur, saya merasa kaget sama penggunaan bahasa yang dipakai penulis. Belum pernah ada yang seperti ini. Kosakata yang dipilih penulis, seakan-akan buat saya merasa sedang membaca sebuah puisi. Saya kebingungan meyakinkan diri sendiri, apa ini sebuah novel atau sebuah buku puisi tapi berbentuk novel. Pemilihan bahasa baku juga jadi daya tarik tersendiri buat baca buku ini. Terlalu banyak pemilihan kata baru, yang mau nggak mau bikin saya jadi rajin buka KBBI buat cari artinya satu per satu.

Sekali dua muncul percakapan berbahasa Minang, baik dari cerita Gayatri maupun Giran. Pemilihan bahasa daerah yang sempat bikin saya curiga kalau penulis juga orang Minang. Sama sekali nggak akan merasa kebingungan baca bahasa Minang, lewat bantuan catatan kaki yang menjelaskan baik itu arti percakapan, maupun arti dari sebuah istilah yang ditulis.

Yang sangat disayangkan dari karangan ini, terlalu banyak narasi yang bertele-tele, sampai akhirnya agak keteteran di beberapa hal yang justru perlu ditulis detail. Begitu tahu kalau Giran ternyata juga punya konflik batin dari masa lalu yang nggak kalah hebat dibanding Gayatri, terus terang saya agak kecewa kenapa konflik batin ini cuma diangkat sekali. Itu pun hanya sekilas. Padahal cerita soal kehidupan Giran sehari-hari cukup banyak dijabarkan, tapi konflik batin (yang buat saya juga cukup mengguncang) ini seakan sama sekali nggak ada pengaruh berarti di kehidupannya.”

-Vanda Kemala (Admin Buku panutan saya di mondayflashfiction.com)

“Sebuah cerita yang dituturkan dengan apik. Penulis sebagai pengamat di sini menumpahkan kalimat dan kosa kata yang hampir mirip seorang pujangga penyair. Padahal kalau untuk konflik yang dipilih penulis cukup sederhana dan bukan lagi hal baru. Tetapi gaya bahasa yang digunakan oleh si penulis ini berbeda dari cerita roman kebanyakan. Dibanding menikmati konfliknya, saya justru lebih menikmati permainan kata yang penulis racik dengan baik meski semuanya menggunakan bahasa yang baku.

Saat membaca buku ini, saya merasa seperti masih miskin kosa kata karena saya menemukan beberapa kata yang agaknya masih asing di telinga dan jarang ditemui di buku fiksi kebanyakan. Salah satu kata yang paling sering ditemui di buku adalah “alahai”, sebuah kata yang mungkin lebih familiar jika disandingkan dengan saudaranya “aduh”. Perumpamaan serta majas apalah-apalah yang digunakan juga terasa sangat pas.

Satu hal yang agak saya sayangkan dari cerita di buku ini, yaitu penulis tidak menyebutkan secara spesifik nama tempat yang dimaksud di cerita. Misalnya Gayatri mengajar di universitas mana dan di bidang apa? Giran bekerja di perpustakaan apa dan seperti apa? Gayatri kerja sebagai guru apa setelah ia pindah? Meski ini hanya hal kecil, namun bagi saya jadi agak mengganggu karena detil yang hilang ini menimbulkan tanya di sepanjang saya membaca kisah tokohnya.”

-Aya Murning (Blogger Buku)

***

GIVEAWAY!

Nebulus

Blogtour ini berlangsung sampai dengan tanggal 17 Juni 2017, waktu indonesia bagian Meester!

Mau dapetin novel ini secara cuma-cuma? Penulis sudah menyiapkan 1 eksemplar novela Aster untuk Gayatri bagi 1 peserta yang beruntung. Simak syarat dan ketentuannya berikut ini:

  1. Punya alamat kirim di wilayah Indonesia.
  2. Follow blog ini lewat akun WordPress atau via e-mail. Klik tombol follow yang ada di sidebar pojok kanan bawah.
  3. Follow akun berikut ini dari sosmed yang kamu punya:
  1. Share info giveaway ini di sosial media punyamu, bebas di mana saja (boleh semuanya atau pilih salah satu).
  • Jika di facebook: cantumkan link post ini dengan hashtag #AsteruntukGayatri dan tandai minimal 3 temanmu
  • Jika di twitter: cantumkan link post ini dengan hashtag #AsteruntukGayatri. Jangan lupa mention 2 akun di atas dan satu akun temanmu
  • Jika di instagram: repost foto banner di atas yang sudah saya upload di akun instagram saya @irfansebs, lalu tinggal ikuti ketentuan di caption-nya.
  1. Jawab pertanyaan berikut:

Giran teramat membenci pantai dan malah menyukai aroma pinus di pegunungan.

Kalau kamu, lebih memilih pantai atau gunung?

Jawab dengan jawaban yang paling unik dan menarik ya!

  1. Untuk keperluan pendataan peserta, tuliskan di kolom komentar di bawah ini berisi nama kamu, ID sosmed yang digunakan atau e-mail aktif, domisili, dan link share/repost yang tadi.
  2. Pemenang akan saya umumkan secepatnya di twitter, instastory, dan di post ini juga.

Itu saja. Nggak susah kan? Kalau masih ada rules yang membingungkan, for fast response jangan sungkan tanya langsung ke saya lewat mention/DM di twitter atau instagram.

Nah, tunggu apa lagi? Jangan lupa berdoa yang banyak. Selamat ikutan dan good luck!

***

PENGUMUMAN PEMENANG

Sebelumnya saya haturkan teramat banyak terima kasih bagi teman-teman yang sudah mau bersenang-senang di blogtour kedua Aster untuk Gayatri ini (akuh pada klean!). Semoga yang beruntung dapat menikmati Aster untuk Gayatri ini dengan santun, dan yang belum beruntung masih tertarik untuk mendapatkan novela perdana saya ini.

Dan pemenang di blogtour kedua Aster untuk Gayatri adalah:

Nama: Baiq Cynthia

Twitter: @baiqverma

Domisili: Situbondo

Selamat ya, Mba Baiq. Untuk keperluan pengiriman hadiah, segera kirimkan data diri berupa nama, alamat lengkap, dan nomor telepon yang bisa dihubungi ke e-mail saya di irfan10215@gmail.com dengan subjek Pemenang Giveaway Aster untuk Gayatri. Saya tunggu e-mail konfirmasi dari Mba Baiq maksimal 2×24 jam. Apabila tidak ada kabar setelah batas waktu tersebut, maka saya akan pilih pemenang yang baru.

Untuk peserta lain yang belum beruntung, jangan sedih atau kecewa. Masih ada 1 kesempatan lagi buat menangin buku ini di blog selanjutnya (klik di sini).

Terakhir, bahagia selalu! Jumpa lagi di lain kesempatan!

***

PS: Jika ada yang berminat ingin membeli langsung buku ini, untuk pemesanan bisa kirim SMS/WA ke nomor 085-722-025-109 atau via BBM dengan add PIN D79DCD48.

 

Review : Melarin

3

C360_2017-03-30-08-29-23-484-01

Melarin

Penulis: Muftia Dinastri, Wardatul Aini, dkk

Editor: Tiara Purnamasari

Layout: Tiara Purnamasari

Desain sampul: Roeman-Art

Penerbit: Mazaya Publishing House

ISBN: 978-602-73734-6-4

Cetakan: I (April 2016)

Jumlah Halaman: 202 hlmn

*

ᴥBlurb ᴥ

Sudut-sudut dipenuhi oleh ribuan penduduk. Mereka mengukir setiap jengkal langkah menjadi sejarah yang tertata hingga tak pernah ada orang yang dapat menghancurkannya. Rumah-rumah kayu adalah sumber kekuatan karena di sanalah mereka menyembunyikan cikal bakal cahaya mereka. Namun, kau tahu, negeri ini tak bisa hidup tanpa satu hal. Puisi ajaib Sang Ratu bernama  melarin. Ya, puisi orang yang telah lama aku kenal.

-Penggalan cerpen juara 1 “Melarin” karya Muftia Dinastri

Gadis itu menghela napas. Kini rambutnya telah dikepang rapi. Cantik. Kemudian dia beranjak duduk di sebuah kursi tua lengkap dengan sebuah meja tua. Di sinilah A Ling menuliskan semua harapannya pada buku bewarna pink dengan sebuah pulpen ajaib yang bagian atasnya ada cermin bulat kecil.

-Penggalan cerpen juara 2 “Cermin Pink Ajaib” karya Wardatul Aini

*

Yang paling sulit dari mengulas sebuah buku, baik itu novel maupun kumpulan cerpen, adalah menciptakan paragraf pembuka yang wow bin mencengangkan bin menakjubkan bin tiada-duanya-sampai-sampai-pengulas-merasa-lebih-baik-modol-daripada-begadang-memikirkan-membuat-suatu-kalimat-pembuka-dalam-ulasan-yang-ciamik-bin-menyenangkan. Sebab tanpa modal paragraf pembuka yang wow dan sebagainya, dan sebagainya, apa bedanya ulasan-ulasan saya dengan ulasan-ulasan mereka?

Aih. Mari lupakan saja apa-apa tentang saya, barang beberapa jenak.

Melarin lahir dari kegelisahan suatu penerbit yang heran mengapa rak-rak fiksi fantasi di toko-toko buku di Indonesia masih didominasi oleh karya-karya terjemahan milik penulis-penulis asing yang tahu nasi padang saja dari lagu. (Tiba-tiba terbayang, J.K. Rowling makan dengan tangan, kaki diangkat sebelah, sibuk menggigiti tulang ayam.)

Kumpulan cerpen ini memuat dua-delapan buah cerita pendek yang ditulis dengan gaya dan kekhasan masing-masing, membuat Melarin ini semakin kaya akan cerita-cerita. Salah satu cerpen saya ada di dalamnya.

Dan di dalam kesempatan yang baik ini, saya akan mengulas beberapa—tentu tidak semua—cerita yang menurut saya layak untuk dikupas dan dibahas.

Tom Si Jempol – Alfa Ulfatihah NE

Cerita ini mempunyai eksplorasi ide dan imajinasi yang tinggi terhadap tema: fantasi. Campur baur dongeng-dongeng macam Jack dan Pohon Kacang, Cinderella, dan Gadis Bertudung Merah dengan inti cerita Thumbelina membuat kisah ini tak membosankan dari awal sampai akhir. Pun meski tak halus benar, penulis terlihat matang dalam membuat cerita hingga membuat satu kesatuan yang utuh.

Salut.

Lima bintang/lima bintang

Dua Kepala – Eka Sumantri Samosir

Eka Sumantri berani mengangkat hal baru nan unik di dalam kumpulan cerpen ini: politik. Sentilan-sentilan yang nyata benar mengkritik sesiapa membuat saya terhibur jua bertanya-bertanya; benarkah pemerintah sekarang memiliki ‘dua kepala’?

Terlepas dari kurang gregetnya karakter yang dibentuk, juga hal-hal tidak terlalu orisinal macam “Pelahap Waktu” (siapalah saya yang lancang benar mengkritik ketulenan karya seseorang), cerpen ini adalah salah satu cerpen terbaik di dalam buku ini.

Empat bintang/lima bintang

Kutukan Misty – Fanny Christina Hadiyanto

Satu hal yang langsung muncul dalam kepala kala membaca cerpen berlatar sekolah menengah ini adalah: yaampun teenlit binggow. Perkara-perkara remaja seperti bulliying, pencarian perhatian dan jati diri, dikemas unik juga ringan.

Penulis punya bakat, baik-baik saja mengasahnya.

(Masih bingung mau dikasih tiga-setengah atau) Empat bintang/lima bintang

Di Balik Cahaya – Irfan Juhari

Membaca cerpen ini seperti menonton film Jumanji ataupun apa-itu-yang-ada-boardgame-luar-angkasa-nya-persis-Jumanji-maaf-malas-googling-haft.

Dulu, dulu sekali, pernah saya berandai-andai memiliki mesin waktu demi memperbaiki apa-apa yang perlu diperbaiki dari masa lalu; kebodohan-kebodohan, perpisahan, ketidaktahuan yang masif dan sebagainya. Sekarang pun masih getol mengumpamakan, memisalkan.

Alah.

Judul cerpen milik Mas Irfan ini menurut saya agak ndak nyambung dan terkesan mengecoh. Tapi apalah arti dari sebuah judul, bukan? Dan terlepas dari itu, cerpen ini memiliki makna yang sangat nyata dan umum adanya.

Apik.

Empat bintang/lima bintang

Jerit Generasi di Abad 99 – Lailatur Rahmah

Astaghfirullah al adzhim.

Entah mau dibawa ke mana cerpen ini. Sureal bukan, fantasi bukan. Satire bukan, sindiran bukan. Salah ketik di mana-mana. Alur hancur. Inti cerita ndak ada. Ending gantung.

Astaghfirullah al adzhim.

Satu bintang/ima bintang

Vendeta – M. Sanjaya

Bisa dibilang, cerpen ini mempunyai ide/premis cerita yang paling baik, paling fantasi. Berkisah tentang perang dunia kesekian antara Bangsa Athnas (penamaannya kreatif!) dan pasukan langit (sayangnya kurang kreatif). Kedua bangsa ini telah berselisih dan berkesumat secara terus menerus di Bumi, hingga perseteruan mereka, suka tidak suka, ikut menyeret penduduk bumi.

Diceritakan dari sudut pandang seorang manusia bumi, yang adalah korban perang, membuat saya penasaran tentang apa-apa yang terjadi sesudahnya.

Teramat ciamik. Masih sangat bisa dikembangkan. Saya tunggu ya novel utuh tentang Bangsa Athnas ini, Mas Sanjaya!

Empat bintang/lima bintang

Melarin – Muftia Dinastri

Saya memilih buku Melarin untuk diulas karena saya tak menjadi juara pertama pun kedua dalam kategori ini. Memang pongah, betul, tetapi selain itu karena rasa penasaran jua ikut andil.

Dan saya merasa cerpen saya di buku ini tidak ada apa-apanya dibanding Melarin :’)

Meski lebih doyong ke sureal daripada fantasi, Melarin mampu membuat saya teramat terhibur. Diksinya istimewa, premisnya matang,  deskripsinya wow binggow. Lengkap. Hampir sempurna.

Lima bintang/lima bintang

Think All About People – Pratiwi Nur Zamzani

Astaghfirullah.

Idem.

Astaghfitullah.

Satu bintang/lima bintang

Pemberi Ide dan Perpustakaan Ajaib – Salwidyah

Cerpen ini satu-satunya yang membuat hati saya… hangat.

Berkisah tentang Gadis Pemberi Ide yang tiba-tiba menghilang dari suatu negeri bernama Jordein. Dia lelah pada manusia-manusia yang menggantungkan harapan mereka kepada dia. Dia merasa itu tak baik, oleh karena itu ia tinggalkan kepada mereka sebuah perpustakaan ajaib.

Dengan keterbatasan saya terhadap kata-kata, meski teknik bercerita di cerpen ini biasa benar, entah kenapa karya Mbak Salwidyah ini mampu mendapatkan…

Lima bintang/lima bintang

*

~Trivia~

Lagu yang cocok dengan kumcer ini Alligator Sky-nya Owl City :)))

Kesan yang diharapkan: Siapa ini yang punya cerpen lebi bagus dari ue~

Kesan yang didapatkan: Anjay bagus banget :(((

Tokoh favoritkuh Arina di Pemberi Ide dan Perpustakaan Ajaib.

Kumcer Melarin yang kaya ini adalah novel kedua saya yang saya baca di tahun 2017. Selain untuk menuntaskan tantangan yang saya janjikan kepada diri sendiri, ulasan kumcer ini juga diikutsertakan dalam Monday FlashFiction Reading Challenge yang akan dihelat selama setahun kedepan.

Dan berdasarkan akumulasih, kumcer ini pantas mendapatkan…

Bintang 3

Selamat!

Sampai ketemu di ulasan selanjutnya!

Review : Terlalu Cinta

4

Terlalu Cinta

Terlalu Cinta

Penulis: Pelantan Lubuk

Editor: Tiara Purnamasari

Layout: Tiara Purnamasari

Desain Sampul: Roeman-Art

Penerbit: Mazaya Publishing House

ISBN: 978-602-72920-6-2

Cetakan: I (Desember 2015)

Harga:  Rp. 77.000,-

*

ᴥBlurb ᴥ

Berdentang sebuah puisi di benakku. Malang adalah kota di mana kita berjumpa, saling mencintai, dan tak berdaya meminta waktu agar sudi kembali.

Lirih puisi lain melambai. Malang adalah kota di mana kita berjumpa, saling mencintai, tak berdaya mengulang hari, tapi kita bisa berjani: janji berjumpa lagi.

Besok malam, waktu untuk menunaikan janji itu tiba. Tidak ada janjian apa pun, selain empat tahun yang lalu ketika jalan cerita lelaki itu menemui titik buntunya, dan mereka berdua putus asa dengan segalanya. Tidak ada janjian apa pun, selain empat tahun yang lalu, untuk bertemu di tempat pertama kali mereka menyudahi semuanya.

Jika mereka sama-sama bisa datang, berarti kisah telah memilih tetap pada lembaran yang sama. Tak perlu ada keraguan lagi. Tak perlu ada penegasan lagi.

Jika di antara mereka ada yang tak datang, berarti kisah telah memilih lembaran yang berbeda. Tak perlu ada kabar lagi. Tak perlu ada penegasan lagi.

Dan hari ini, aku memilih datang.

Aku memilih tetap pada lembaran yang sama.

*

“You must not lose faith in humanity. Humanity is like an ocean; if a few drops of the ocean are dirty, the ocean does not become dirty.”

-Mahatma Gandhi

Ikhlas menurut KBBI: ikhlas a bersih hati; tulus hati.

Ikhlas menurut sebagian netizen dewasa ini: tidak eksis, sekalipun eksis selalu ada kepentingan kaum-kaum tertentu di baliknya.

Peduli menurut KBBI: peduli v mengindahkan; memperhatikan; menghiraukan.

Peduli menurut sebagian netizen dewasa ini: perbuatan yang memiliki propaganda dalam setiap eksekusinya, selalu ada orang lain yang lebih pantas dihiraukan menurut komparasinya pribadi.

Begitulah, miris bukan?

Mungkin itu semua hanya sekadar terjemahan bebas yang sedikit berlebihan dari saya. Atau mungkin juga realita yang ada memang seperti itu, bahkan mungkin lebih parah lagi. Siapa yang tahu?

Baru saja beberapa hari menjalankan ibadah puasa, publik sudah dibuat gempar karena berita tentang seorang ibu pengelola Warteg (Warung Tegal) yang barang dagangannya habis diganyang Satpol PP. Hal ini dilakukan oleh pemerintah demi pengondusifan suasana Kota Serang selama bulan Ramadan.

Dan tenang saja, saya tidak akan mengeluarkan justifikasi apa pun tentang perkara ini. Karena, benar dan salahnya suatu perkara hanya terletak pada persepsi masing-masing bukan?

Telah banyak debat kusir dan opini-opini yang dikemukakan di berbagai portal berita, forum diskusi serta status-status di sosial media. Pun fakta-fakta dari tragedi penyitaan barang dagangan yang membuat netizen geram (dan sebagian lagi mengamini), muncul semakin banyak dan semakin tidak beretika.

Maksud saya, di mana letak pentingnya fakta bahwa pengusaha Warteg yang sukses mampu memiliki rumah di salah satu daerah yang terkenal eksklusif dalam perkara ini? ‘Pondok Indah’-nya Tegal, sebagian mengungkapkan.

Seorang wanita tua menangis demi mempertahankan dagangannya ketika dirazia. Menyedihkan? Tentu. Memancing belas kasihan? Pasti. Terlepas dari benar atau tidaknya sikap ibu tersebut terhadap peraturan yang ada, saya yakin banyak dari orang-orang di negara ini yang terketuk pintu hatinya, apalagi di bulan nan suci ini. Saya pribadi merasa teramat sedih ketika membayangkan jikalau ibunda sayalah yang berada di Serang sana, karena kebetulan ibunda saya juga seorang pedagang.

 Dan dari sebegitu banyak pintu hati yang terketuk, hanya beberapa yang mau dan peduli untuk ikhlas membantu. Salah satunya Dwika Putra (twitter: @dwikaputra).

“Karena jalan sunyi yang mulia ini, memang tak pernah ramai.”

-Izzat (hlmn 215)

Dengan rasa humanis yang tinggi, terlepas dari ada atau tidaknya tendensi lain, beliau dengan ‘Patungan Netizen’-nya mengadakan penggalangan dana yang bertujuan untuk membantu ibu pemilik Warteg tersebut. Donasi ini, ungkapnya, bukan tentang politik, agama, atau apa pun. Hanyalah semata-mata rasa kemanusiaan yang tergerak ketika melihat sesama kita yang sedang kesusahan.

“Kalian harus pastikan bahwa kalian sedang berbagi karena kalian mencintai mereka. Setulus hati. Mencintai manusia lain.”

-Eyang Tulip (hlmn 167)

Dan responnya ternyata amat sangat tak terduga. Donasi sejumlah lebih dari 265 juta rupiah telah terkumpul, membuat saya percaya kalau rasa peduli dan ikhlas belum benar-benar ranap di bumi nusantara ini. Membuat saya yakin tiap-tiap yang berhati masih menggunakannya, tiap-tiap yang berakal masih menggunakannya.

Namun sayangnya, hujatan dan ketidakpuasan yang terkumpul jua tak kalah banyaknya. Sebagian berseru bahwa banyak yang lebih membutuhkan donasi serupa seperti korban erupsi gunung Sinabung di Sumatera Utara. Padahal saya yakin, kesusahan itu tidak pantas untuk dibanding-bandingkan. Yang membedakan hanya urgensinya saja.

Sebagian lain menggunakan fakta yang menyatakan bahwa Ibu Saeni sudah cukup kaya hingga tidak lagi membutuhkan sumbangan. Padahal, semengerti saya, tak ada larangan untuk bersedekah kepada siapa saja, ataupun membantu siapa saja. Tahu kisah seorang dermawan yang menyedekahi orang kaya, pelacur dan pencuri?

“Maafkan dirimu sendiri. Pandanglah masa lalu sebagai masa lalu. Jangan sesali hal-hal buruk yang pernah terjadi dalam hidupmu. Setiap gerak di alam semesta ini punya rahasia sendiri-sendiri. Sebab akibat itu saling terkait. Mengagumkan jika kita mau memikirkan masak-masak, bahwa takdir seseorang sebagai pembunuh di kota ini ternyata bisa membuat taubat seorang pelacur di kota seberang lautan. Saling berantai, saling terkait. Maka jangan pernah sesali hidupmu.”

-Eyang Tulip (hlmn 99)

Rasa bangga saya atas masih banyaknya orang-orang yang tak lupa untuk memanusiakan manusia, mendadak remuk sebab membeludaknya respon skeptis dan nyinyir yang keluar dari mulut-mulut yang entah mengerti atau tidak konsep kepedulian.

Negara ini sedang sakit menurut saya. Dan negara ini amat, sangat membutuhkan lebih banyak lagi seseorang yang ringan tangan seperti saudara Dwika Putra. Dan saya harap, bukan hanya saya saja yang mendamba suatu tatanan kehidupan penuh cinta. Utopia untuk kita semua.

“Semua ingin hidup senang. Semua harus bercita-cita hidup senang. Menjalani hidup dengan riang. Tapi ketika keadaan sudah susah, jangan egois. Kita harus punya semangat kebersamaan yang besar.”

-Izzat (hlmn 125)

Sedikit berbeda dengan sosok Dwika Putra yang memilih membantu menyembuhkan negeri ini dengan cara membangun kembali karakter bangsa yang gemar tolong-menolong, Izzat dalam novel Terlalu Cinta yang akan saya ulas memilih jalan mendirikan sebuah komunitas mengajar yang bertujuan mengubah mentalitas-mentalitas tidak sehat pada anak-anak yang kurang beruntung agar mereka tak lagi terbelenggu oleh sistem.

“Kami belajar arti kepedulian dan pengabdian, dan biarkan anak-anak yang kurang beruntung itu belajar bahwa keadaan mereka bukanlah sebuah takdir yang tidak bisa diutak-atik, melainkan sebuah kondisi yang lahir dari mentalitas-mentalitas yang tidak sehat, sistem yang membelenggu, dan budaya yang tidak baik.”

-Izzat (hlmn 17)

Berkisah tentang Izzat Sanubari, mahasiswa asal Lombok yang menempuh perkuliahan di Kota Bunga yang dingin, Malang. Kehidupan perkuliahan Izzat amatlah jauh dari titel ‘mahasiswa kupu-kupu’. Bukan ‘kupu-kupu malam’ jika itu yang kalian tangkap, namun ‘kuliah pulang-kuliah pulang’.

“…lihatlah teman-teman kita yang tidak berorganisasi. Mereka cuma kuliah, lalu pulang. Tak ada pengalaman berharga, dan sekilas tak peduli pada idealisme mahasiswa yang harus aktif berbuat sesuatu untuk bangsa. Apakah kita sudah merangkul mereka?”

-Izzat (hlmn 34)

Izzat yang aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan, ditempa hingga menjadi pribadi yang kritis dan idealis, seseorang yang peduli juga kharismatik. Namun, hal itu tak serta-merta membuat sosok Izzat pantas dimahkotai gelar ‘sempurna’.

Hubungannya yang kandas di tengah jalan karena perkara jarak dengan Jannitha, kekasihnya sejak kelas 3 SMP, mampu menghasilkan impak yang sebegitu besar bagi seorang Izzat. Rasa takut yang dialami mantan kekasihnya itu menjelma sifat posesif dan ketidakyakinan, yang berujung menduanya salah satu hati. Pengkhianatan.

Sekali lagi saya tekankan kalau hal ini telah menjadi suatu impak yang amat, sangat besar. Pengkhianatan dari perempuan yang telah dikasihi lebih dari lima tahun mampu membuat Izzat yang bijaksana menjadi seorang penjahat wanita.

Ketika Izzat semakin tenggelam dalam rasa kecewa, Bandi menyelamatkannya. Peran Bandi di novel ini tak sekadar menjadi sahabat dekat Izzat, namun juga seseorang yang melengkapinya. Bukan… bukan… Lagi-lagi kalian salah. Tak pernah ada romantisme dalam hubungan Izzat-Bandi. Pun novel ini sama sekali tak menyinggung tentang homoseksual yang dewasa ini tengah viral isu-isunya.

“Izzat telah membaca banyak sekali buku dan piawai dalam perenungan. Bandi menyajikan pengalaman-pengalaman empiris dan tahu perkembangan situasi serta tempat-tempat yang unik. Izzat membutuhkan pengalaman beragam, Bandi mencari perenungan-perenungan. Mereka klop.”

(hlmn 156)

Seperti halnya sahabat sejati, Bandi tak pernah mau menggurui pun menceramahi. Ia hanya membawa Izzat ke sebuah panti asuhan dan memintanya untuk melampiaskan kekecewaannya dengan cara yang lebih arif, yang lebih tak menyakiti tiap-tiap yang berhati.

“Kamu seperti sandal hilang sebelah. Kamu kritis di berbagai diskusi, tapi mental kamu tak jauh berbeda dengan yang kamu kritik. Bukankah kamu bilang, seseorang yang tidak bisa konsisten untuk hal-hal kecil tak kan pernah bisa konsisten pada hal-hal yang besar?”

– Bandi (hlmn 40)

Dan dari sinilah segalanya bermula.

Izzat yang telah mendapatkan nuraninya kembali, memilih untuk terjun (lagi) ke dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan dan kepedulian yang sempat ia lupakan. Telah sejati bebas dirinya dari kungkungan kesumat atas terbitnya luka. Dan untuk kali ini, ia membawa hatinya.

Bersama Zaki dan Rustam, kawan berdiskusinya yang cenderung kiri, Izzat menggagaskan sebuah komunitas mengajar dengan konsep yang serba berbeda. Proyek akbar ini sebegitu menyita fokusnya, hingga mau tak mau Izzat sedikit lupa tentang rasa yang berdenyar-denyar sebab sesosok ‘wajah itu’.

‘Bahaya’ yang dirasa Izzat sebab ‘wajah itu’ menggiringnya kepada keputusan demi keputusan. Terus dan terus begitu. Hingga akhirnya, pada suatu titik, rasa keputusasaan menjejakkannya pada sebuah keadaan yang mengharuskan ia memutuskan segalanya; tentang rasa yang berdenyar-denyar sebab ‘wajah itu’.

“Kalau memang benar cinta. Walau berpisah. Pasti bertemu lagi.”

-Izzat (hlmn 312)

Tak pernah saya sebegini ingin membaca sebuah novel yang terbit melalui jalur indie. Semua karena testimonium yang keluar dari bibir (atau jari) Tiara Purnamasari, pemilik penerbitan indie Mazaya Publisihing House. Beliau banyak melukiskan bahwa novel Terlalu Cinta ini bagus sebagus-bagusnya, maka tak ayal saya pun penasaran; standar ‘bagus’ bagi sebuah penerbit indie itu seperti apa?

Dan ketika novel ini mendarat di gubuk saya yang tak seberapa, saya berusaha untuk tidak mematok pengharapan apa pun. Karena, siapa sih yang sedia tahan akan rasa kecewa? Namun, pada akhirnya, semua upaya saya untuk menahan segala dugaan dan pengharapan, hanya menjadi suatu kesia-siaan.

Sebab, novel ini aduhai kerennya.

Pada dasarnya, saya lebih memilih suatu konsep cerita yang sederhana namun eksekusinya bagus dan sempurna dibanding konsep yang sebegitu bagus dan menjanjikan namun eksekusinya amboi berantakan.

Dan Pelantan Lubuk, nama pena pengarang novel ini, memilih untuk sempurna dalam kesederhanaan.

Novel ini memperkenalkan saya dengan Izzat, lelaki yang menurut saya too good to be true. Saya diajak menyelami pemikiran-pemikiran Izzat yang kritis dan idealis, mengupas dari mana saja ia mendapatkan rasa peduli dan kasih sayang yang begitu besar, serta mengembara dalam seluk-beluk hatinya yang sedemikian kompleks ketika berhadapan dengan mukjizat tiap-tiap yang bernyawa; cinta.

Dan rasanya amat, sangat menyenangkan.

“Kalian tahu problem utama orang yang jatuh cinta? Mereka mendadak bego. Problem kedua orang yang jatuh cinta adalah, mereka mendadak rempong.”

(hlmn 56)

Diksi yang estestis serta nyastra membuat saya merasa kalau novel ini adalah novel yang ‘saya banget’. Kata demi kata dirangkai sebegitu rupa oleh penulis hingga terasa tebu dan nikmat dibaca. Pun alur campuran yang lebih banyak berisi kilas balik tentang jalan cerita Izzat dikemas seapik mungkin, serunut mungkin.

Tema yang diambil memang bukanlah hal yang baru; cinta. Namun, entah mengapa, mengurai satu hal yang sakral ini bagaikan mengupas kulit bawang. Seiring berjalannya waktu, lapisan demi lapisan itu mulai terbuka. Dan kau akan mengerti bahwa ada lebih banyak lapisan di dalamnya daripada yang kau kira.

Novel ini menyajikan cerita tentang cinta yang amat kurang ajar. Cinta yang hanya datang ketika tak ada yang menyambutnya. Cinta yang lalu pergi ketika sesiapa menginginkannya. Cinta yang ketika dikejar sekuat apa pun akan menjauh persis bayang-bayang.

Cinta yang traumatis.

Dan di tengah carut-marut kompleksitas tentang cinta, saya masih disuguhi kisah-kisah lain tentang persahabatan, persaingan, kepedulian, perjuangan, kasih sayang, kesungguhan hati, cita-cita, keikhlasan dan juga kepedihan.

Satu-satunya kekurangan yang ada dalam novel ini adalah penggunaan sudut pandang yang tidak konsisten dan banyaknya typo. Beberapa kali sudut pandang ketiga yang digunakan penulis tercampur dengan penggunaan kata ‘aku’ yang sejatinya digunakan untuk sudut pandang orang pertama. Pun typo serta penggunaan kata-kata yang tidak sesuai EYD (sekarang EBI) contohnya apapun yang seharusnya apa pun, handal yang seharusnya andal dan masih banyak lagi.

Namun tenang saja, pemilik Mazaya Publishing House yang juga selaku editor novel Terlalu Cinta ini telah menjanjikan adanya perbaikan di cetakan-cetakan mendatang. Hal yang sungguh menggembirakan.

Dan terakhir, jika penulis novel ini memilih gelar ’ciamik’ teruntuk mereka yang patut diberikan seratus jempol seperti Zaki dan Rustam, maka saya akan memilih gelar kebanggaan ala saya sendiri untuk penulis yang pantas diberikan seribu jempol atas keajaiban yang disuguhkan dalam novel ini; ‘aduhai’.

Dan novel yang ‘aduhai’ kerennya ini amatlah pantas mendapatkan…

Bintang 4

This book, somewhat somehow, amazingly fantastic.

Teruntuk Pelantan Lubuk, saya tunggu karya-karyamu selanjutnya, ya!

***

P.S.

Dikarenakan novel ini terbit secara indie, maka bagi kalian yang ingin memilikinya sila kunjungi laman Mazaya Publishing House di sini.

Review : Pacar Dunia Maya

0

Pacar Dunia Maya

Pacar Dunia Maya

Penulis: Yusi Kurniati

Editor: Tiara Purnamasari

Layout: Tiara Purnamasari

Desain Sampul: Roeman-Art

Penerbit: Mazaya Publishing House

ISBN: 978-602-73734-2-6

Cetakan: I (Januari 2016)

*

šBLURB›

Melda mengenal Adit lewat media sosial facebook. Sejak pertama mengenal Adit lewat media sosial tersebut, Melda langsung jatuh hati. Adit selalu berhasil membuat Melda percaya dengan kata-katanya, meski dalam lubuk hati Melda masih ragu tentang sosok Adit yang sebenarnya. Tapi ia sudah terlanjur jatuh cinta pada Adit. Apalagi ia mengenal Adit saat ia sedang terpuruk karena putus cinta dengan Rio, mantan kekasihnya yang posesif dan over protektif. Mereka pun memutuskan untuk pacaran meskipun sama sekali belum pernah bertemu secara langsung dan hanya berkomunikasi lewat media sosial dan handphone saja.

Sejak mengenal Adit, Melda makin sering aktif di media sosial. Dia dan Adit hampir setiap hari chatting sampai larut malam, sehingga tak jarang Melda terlambat datang ke kampus.

Kisah cinta Melda melalui berbagai prahara. Beberapa sosok lelaki sebelum Adit pun sempat hadir dalam hidupnya seperti Rio dan Yoga. Hubungan Melda dan Adit yang terjalin lewat media sosial mengalami pasang surut. Mulai dari kebohongan Adit yang mengirimkan foto pada Melda yang ternyata bukan dirinya. Sikap Adit serupa security yang selalu curiga dan mewajibkan Melda untuk laporan 24 jam. Yang akhirnya sering membuat mereka bertengkar.

Tapi kemudian, Adit berhasil membujuk Melda untuk kembali. Gea juga sering dimintai Adit untuk membujuk Melda ketika Melda ngambek. Sampai pada suatu saat, kebohongan terbesar Adit terungkap, yang membuat Melda benar-benar menyesal sudah begitu percaya pada Adit.

Apakah kebohongan terbesar yang Adit lakukan? Akankah hubungan Melda dan Adit berjalan lancar? Siapa sajakah yang terlibat dalam kebohongan besar Adit? Lalu, bagaimanakah kisah cinta Gea, sahabat sekaligus sepupu Melda?

*

“We don’t have a choice on whether we DO social media, the question is: how well we DO it.”

-Erik Qualman

 “NR memutuskan untuk menemui kenalan facebook-nya dan ia diajak ke Lapangan Turna, Cijantung. Menjelang malam hari, remaja perempuan berusia 15 tahun yang masih bersekolah kelas I SMK ini diperkosa oleh kenalannya tersebut bersama sekelompok remaja laki-laki lainnya di sebuah kebun kosong di Cijantung, Jakarta Timur .”

Mengerikan, bukan? Tetapi tenang saja, paragraf di atas sama sekali tidak tercantum di dalam buku Pacar Dunia Maya yang kali ini akan saya review. Namun, paragraf tersebut nyatanya benar terjadi di kehidupan ini, di kehidupan yang saya dan kamu jalani.

Lalu saya dan kamu, entah harus tetap tenang atau tidak karenanya.

“Kejahatan yang terimplikasi media sosial dan media online memang terus meningkat., terutama yang mengakses ke facebook dan twitter. Ada sekitar 74% dari kejahatan tersebut yang menggunakan facebook dan 24% lainnya menggunakan twitter,” papar Dimitri Mahayana, pakar IT dari Sharing Vision.

Saat ini kejahatan terkait facebook dilaporkan ke polisi setiap 40 menit. Bahkan pada tahun 2013 ada sekitar 12.300 kasus yang diduga melibatkan facebook. Sehingga facebook pun telah dirujuk dalam penyelidikan pembunuhan, pemerkosaan, pelanggaran seksual anak, penyerangan, penculikan, ancaman pembunuhan dan penipuan.

Dampak perkembangan teknologi saat ini memang cukup besar, baik dari sisi positif dan sisi negatifnya. Bahkan dari hasil survei, 29% kejahatan seksual via internet diawali lewat situs jejaring sosial. Pun peluang adanya kejahatan akan semakin bertambah jika ditindaklanjuti dengan kopi darat. Sebab, pelaku bisa saja menggunakan anonim dengan identitas yang tidak jelas yang sudah sepatutnya kita curigai.

Statistik jua menunjukkan bahwa kasus anak hilang yang melibatkan facebook pada tahun 2011 ada 18 orang, dan pada tahun 2012 ada 27 orang. Angka ini tentunya akan terus meningkat jika tidak adanya tindakan-tindakan yang diambil oleh pihak-pihak terkait.

Platform media sosial karya Mark Zuckerberg ini memang banyak melahirkan angka-angka fantastis yang membuat kita miris ketika membacanya. Namun, entah kenapa, seorang Yusi Kurniati malah mengangkat sebuah tema tentang hubungan yang terjalin via platform tersebut dan menyajikannya dengan manis dan sederhana.

Dan melalui buku ini, mungkin pelajaran hidup yang sederhana namun penuh makna bisa sama-sama saya dan kamu petik.

“Jatuh cinta itu dapat terjadi pada sepersekian detik, ketika dua mata saling bertemu tatap.”

-Pacar Dunia Maya (hlmn 120)

Novel ini bercerita tentang Melda dan Adit yang awalnya tak saling mengenal, hingga akhirnya mereka menjalin hubungan lewat dunia maya. Mereka berkomunikasi hanya dengan chatting, SMS, serta telepon. Meski tak pernah satu kali pun bertemu secara langsung, Melda memutuskan untuk percaya saja kepada Adit dan menerima cintanya.

Hal yang menurut Gea sangat, sangat tidak bijak.

Mungkin Melda tak pernah mengenal istilah ‘bibit, bebet dan bobot’ ketika akan memilih pasangan karena ia tinggal jauh di Sintang, Kalimantan Barat, dan bukan di Jawa. Padahal, tiga hal tersebut sangat krusial dan merupakan hal paling utama dalam menentukan dengan siapa kita akan menghabiskan sisa umur kita

Atau mungkin hanya karena sekelumit rasa yang gagal diartikan sebagai cinta mati yang meledak-ledak, yang gaduhnya bingar, yang harus, yang tak mampu digugat oleh sesiapa yang menjadikan Melda seyakin itu dengan Adit.

Entah yang mana satu.

Berulang kali Gea mewanti-wanti, persis Ibu Kos menghadapi anak-anaknya yang telat bayar tiga bulan, namun berulang kali juga Melda menepis kenyataan yang disodorkan di depan hidupnya. Membuat saya sekali lagi sadar, cinta benar buta ternyata.

Dan nantinya, ketika bau busuk dusta mulai tercium, akankah Melda bertahan?

Novel ringan nan menyenangkan ini habis dalam dua malam. Tak perlu susah-susah mencerna, tipikal novel-novel teenlit yang pernah saya baca. Meki seperti itu, novel ini tetap sarat inspirasi dan nilai-nilai moral yang terlihat sepele namun berdampak besar jika diimplementasikan.

Salah satu contohnya bisa dilihat dari cara Gea yang memperlakukan pembantu rumah tangganya dengan sederajat, tanpa sedikit pun merasa lebih atau superior. Dan seandainya tiap-tiap yang berhati melakukan persis seperti apa yang dilakukan oleh Gea, maka utopia bukanlah cerita dongeng belaka.

Pun novel ini mengajari kita untuk selalu waspada terhadap apa-apa yang mendekat, yang ditawarkan, yang tidak kita ketahui betul asal-usulnya, persis nasihat orang-orang zaman dulu untuk ‘tidak membeli kucing dalam karung’.

Berpusat pada kisah cinta Melda, seorang mahasiswi Universitas Swasta Sintang, yang benar-benar bagaikan cerminan remaja masa kini. Hidupnya terisi penuh dengan gejolak-gejolak masa muda yang menggelora. Jika senang, senang sangat. Sedih pun begitu. Keteguhan dan konsistensinya terhadap sesuatu adalah daya tarik yang paling menonjol dari dirinya.

Berbeda jauh dengan Gea, sepupu Melda, yang bersifat dewasa serta mampu berpikir dengan kepala dingin. Ialah yang berusaha keras menjaga sepupu kesayangannya itu agar terhindar dari yang namanya rasa kecewa pun sakit hati. Gea juga yang banyak mencari-cari informasi tentang Adit hingga mengungkap tabir kebenaran yang selama ini membayangi kisah percintaan sepupu sekaligus sahabat sejatinya itu.

Dan yang terakhir, juga karakter yang paling mengesalkan, Adit. Tak perlu kiranya saya menuliskan banyak tentang dirinya. Adit ini tipikal-tipikal netizen yang terlalu sering share berita-berita berjudul sensasional yang isinya tak lebih dari omong kosong belaka. Well, ini hanyalah pikiran sekilas yang terlintas ketika mengenal sosok Adit lewat novel ini, heuheu.

Sebenarnya masih banyak karakter lain seperti Rio, Yoga, Tama, Arian, dan Irna yang ikut andil dalam membangun cerita. Namun karena porsi kemunculan yang tak terlalu banyak, membuat saya agak sulit untuk menentukan karakteristik tiap-tiap dari mereka.

Ketika memulai membaca novel ini, saya dijamu dengan sebuah flashback yang cukup apik tentang bagaimana Melda pertama kali berkenalan dengan Adit, hingga saat Melda menjemput Adit di Bandara Tebelian Sintang untuk kopi darat yang pertama kalinya. Alur maju-mundur serta sudut pandang orang ketiga yang sama apiknya membuat novel ini mudah dimengerti. Apalagi ditambah dengan penggunaan diksi yang luwes, yang anak muda banget, serta penceritaan yang mengalir membuat saya sama sekali tak merasa bosan ketika membaca novel Pacar Dunia Maya ini.

Namun, diksi serta kegramatikalan yang terlalu luwes menurut saya juga tak selalu baik. Saya teramat mengerti jikalau penulis ingin pembacanya merasa dekat dengan tokoh-tokoh yang ada di dalam novel ini. Namun, ketika memutuskan untuk menggunakan bahasa-bahasa prokem serta bahasa asing yang pastinya akrab di telinga para pembaca, penulis harusnya tahu dan mengerti kaidah penerapannya.

Saya selalu ingat, bahwa salah satu kesalahan penulis pemula adalah betapa malasnya mereka melakukan self-editing. Padahal, self-editing itu penting demi memudahkan editor dalam bekerja, pun demi memperoleh hasil paling maksimal dari suatu naskah. Karena, siapa yang lebih kenal suatu naskah daripada penulisnya sendiri?

Dan berikut ini adalah kekeliruan-kekeliruan yang saya temukan dalam buku ini:

  • perpectionist yang seharusnya perfectionist (terjadi beberapa kali)
  • under estimate yang harusnya underestimate (terjadi beberapa kali)
  • atau pun yang seharusnya ataupun (hlmn 6)
  • twitternya yang seharusnya twitter-nya (hlmn 6)
  • Penggunaan kata ‘Maag-nya’ di halaman 44. Awalnya saya kira kesalahan ada di penggunaan huruf kapital di awal kata yang seharusnya adalah huruf kecil. Namun, setelah saya telusuri lebih dalam, kata ‘maag’ tidak ada di KBBI. Yang ada hanyalah kata mag yang artinya (cak) lambung. Tentu ini tidak sinkron dengan arti ‘maag’ menurut wikipedia yaitu radang lambung atau tukak lambung. Jika ternyata ini adalah istilah asing (medis), maka menurut tata bahasa, penulisan yang benar adalah maag-nya (contoh lain twitter-nya dan facebook-nya)
  • “… Melda satu selera kok sama Gea,” sahut Gea…, di sini terjadi kesalahan penyebutan nama tokoh. Yang seharusnya ‘sahut Melda’, malah ‘sahut Gea’. Kalimat-kalimat sebelumnya dapat dijadikan bukti atas poin ini (hlmn 45)
  • paranoid yang seharusnya tidak ditulis miring (hlmn 57)
  • karna yang seharusnya karena (hlmn 57)
  • Let see yang seharusnya Let’s see (hlmn 59)
  • Tata letak yang sedikit berantakan di halaman 71 dan 82
  • bongsai yang seharusnya bonsai (hlmn 118)
  • signal yang seharusnya Atau mungkin dengan bahasa ibu saja, sinyal (hlmn 128)
  • Perpect yang seharusnya perfect (hlmn 129)
  • inbok yang seharusnya inbox (hlmn 134)
  • merekapun yang seharusnya mereka pun (hlmn 136)
  • ‘“… Aku nggak bisa tanpa dia.” Adit melemas.’ Mungkin terjadi kesalahan penulisan di sini. Yang seharusnya ‘memelas, malah ‘melemas’ (hlmn 138)
  • cleanning yang seharusnya cleaning (hlmn 144)
  • ‘ga’ pada kata-kata ‘ga suka, ga peduli dan ga beres’ yang seharusnya nggak atau tak atau tidak (hlmn 150)
  • Iapun yang seharusnya Ia pun (hlmn 162)
  • Tehrnya yang seharusnya tehnya (hlmn 172)
  • taxy yang seharusnya taxi (hlmn 184)
  • stobery yang seharusnya stroberi (hlmn 187)

Novel ini memang memiliki beberapa kesalahan yang bersifat teknis, namun dari segi plot, jalan cerita, eksekusi konflik, klimaks, serta ending yang tak diduga-duga, bisa dibilang novel ini layak dibaca dan sukses membuat saya jatuh suka.

Dan atas segala pengalaman personal yang saya dapatkan usai membaca novel ini, saya dengan senang hati memberikan…

Bintang 3

Ditunggu karya-karya Mbae Yusi selanjutnya ya!

*

Ref: (sharingvision.com/2014/05/setiap-40-menit-terjadi-12-300-laporan-kasus/)

Review : Longing For Home

0

Longing For Home

LONGING FOR HOME

Penulis : Irfan Rizky, dkk

Editor : Tiara Purnamasari

Layout : Tiara Purnama Sari

Desain Sampul : Roeman-Art

ISBN : 978-602-73734-0-2

Penerbit : Mazaya Publishing House (2016)

*

Blurb

Aku akan selalu menemukanmu. Selalu. Bahkan pada debu yang berterbangan di bawah terik raja siang pukul satu. Pada kuap mulut-mulut mungil yang akan beranjak tidur. Pada gaduh acara gosip di televisi yang tak pernah kausuka.

Dan ketika aku menemukanmu, maka aku akan menemukan rumah sejati. Yang dibangun dari mimpi. Dikokohkan dengan cinta dalam hati. Cinta yang sejati. Cinta yang takkan pernah mati walau kau telah lama pergi.

(Penggalan cerpen “Rumah Yang Berbeda” karya Irfan Rizky)

Kontributor

Adinda Amara – Afifah Dinda Mutia – Aisya – Devita Cahyaning Islami – Diah Avitaa – Fadlun Suweleh – Fairuz Annisa Pardania – Jihan Maymunah – Luhdiah Prihatin Umroh – Mahdalena – Mutiara Magdalena – Nur Rahmah AR – Pramodyah Ayu Laraswati – Radita Nilna Salsabila – Selta Utary – September V – Siti Syamsiyah – Terdevan –Wahyuning Utami Riyadi – Wardatul Aini – Yesi Matahari

*

Review

Buku kumpulan cerpen ini menyajikan sebanyak 22 cerita yang lahir dari tangan para penulis yang mempunyai latar belakang berbeda. Cerpen-cerpen ketje ini dipertemukan pada suatu kompetisi bertemakan ‘Home’ yang diadakan oleh salah satu penerbit indie.

Di tengah banyak pandangan meremehkan yang ditujukan pada ‘dedek-dedek gemes dunia kepenulisan’ (baca: penulis pemula, mengutip dari sebuah artikel oleh Adam Yudhistira di basabasi.co), maka saya harap buku ini mampu meluruskan pola pikir ‘om-om gemes dunia kepenulisan’ (baca: penulis sok ahli) yang berpikir menempuh jalur melalui penerbitan indie itu adalah ‘abal-abal’ atau sebuah ‘kedodolan’.

Dan saya teramat sangat tersanjung atas keputusan juri yang dengan berbaik hati membuat cerpen saya menyandang titel Juara 1. Yay! Kamsahamnida, arigatou, bonjour, xie-xie, terima kasih, wilujeng sumping.

Yap! Lanjut review-nya! Dari 22 cerpen yang ada, saya akan me-review sebanyak delapan cerpen yang menurut saya unik, manis, dan menarik hati. Cuma ada satu hal yang kurang dan ternyata sangat mengganggu yaitu, TYPO! Benar para hadirin, typo. Musuh para penulis yang begitu kuat dan tak mungkin bisa dikalahkan jika para penulis malas mengedit. Begitu banyak typo bertebaran hingga typophobia saya kumat. Untuk cetakan berikutnya akan lebih indah lagi jika editor mampu mengubah typo-typo tersebut. Dan satu lagi, kertas serta sampul saya rasa terlalu tipis, mungkin bisa menggunakan kertas yang lebih bagus lagi untuk cetakan berikutnya.

*

Rumah Untuk Pulang – Adinda Amara

Bukankah keluarga seharusnya menjadi surga kecil di dunia ini, di mana kehangatan selalu mengalir dan perlindungan akan selalu ada dan menjagamu?

Cerpen pertama ini sukses membuat saya hanyut dalam nuansa sendu yang penulis ciptakan. Penggunaan diksi yang sederhana namun mengikat membuat saya tak perlu susah-susah menempatkan diri saya sebagai Rizaldi yang mempunyai luka begitu dalam. Serius. Sama sekali nggak bermaksud untuk lebay. Lalu ketika Rizaldi memohon izin, hampir saja air mata saya menetes.

Kembali Ke Habitat – Fadlun Suweleh

Sejatinya rumah bukan hanya tempat yang nyaman dan menenangkan untuk kita. Rumah adalah tempat yang tepat untuk kita, tempat yang kita butuhkan, bukan sekadar tempat yang kita inginkan.

Setelah diajak bersedih-sedih ria, mari saya ajak kalian membaca cerpen yang sarat akan satire juga menggelitik. Sindiran-sindiran terhadap tikus-tikus pemerintah yang tersaji dengan cukup apik sanggup menyunggingkan senyum prihatin yang ditujukan spesial kepada negara kita tercinta

Ada satu yang mengganggu saya. Di hal. 49  ada kalimat “(Di ruang periksa)”. Mungkin penulis ingin memperjelas setting percakapan yang berlatar belakang ruang periksa di adegan berikutnya, yang menurut saya sangat tidak perlu. Kalau untuk naskah drama, mungkin bisa.

Tempat Untuk Kembali – Jihan Maymunah

Ibu bagaikan rumah tempat kita tinggal, juga bagaikan rumah yang selalu melindungi kita dari segala macam cuaca.

Cerpen kali ini terasa dekat sekali dengan kehidupan masyarakat sekarang, dengan saya, dan mungkin juga dengan kalian. Di cerpen ini penulis mampu dengan apik menceritakan kesederhanaan tersebut dengan begitu mengesankan. Ada suatu pesan yang amat sederhana namun menampar yang bisa kita ambil dari cerpen ini. Salute.

Hujan Di Tepi Senja – Mutiara Magdalena

Di sini juga damai seperti rumah saya.

Akhirnya, nemu juga cerpen yang bertemakan cinta-cintaan favorit saya. Ehe… ehe… Gak usah di-review deh, bagus banget! Penulis mampu mengisahkan cerita romantis yang endingnya ternyata ehem-ehem. Diksi yang digunakan keren juga indah. Menghanyutkan.

Pulang – September V

Rumah adalah tempat untuk kembali, bukan untuk ditinggalkan.

Cerpen yang satu ini juga terasa begitu dekat dengan realita. Tentang Annisa yang galau sehabis PHK juga tentang kasih sayang Ibu yang tak berupa, tak berujung, tak tertakar. Mengharukan.

Pasir Dan Mentari – Siti Syamsiyah

Tidak perlu gunung emas atau istana berlian, cukup pasir dan mentari kau bisa mencintai dan mempertahankan tanah airmu demi masa depannya yang gemilang.

Satu lagi cerpen yang bernuansa satire, namun kali ini tak dibalut dengan humor-humor jenaka. Penulis mampu mengangkat dan menyindir isu-isu eksploitasi alam yang kini tengah marak di negeri kita tercinta. Pesan yang terkandung di dalam cerpen ini begitu benar dan menampar. Duh, saya juga jadi ikutan malu.

My Front Door – Terdevan

If you ever feel like this whole world put you down to your own knees, just come back home…

Satu lagi cerpen romantis yang menjadi favorit saya. Penulis dengan gaya penulisan yang memikat, agak-agak nyastra gitu, mampu melukiskan betapa LDR (Lama Diboongin Relationship, ehe… boong deng) begitu menyesakkan bagi dua insan yang saling mencinta. Diksinya keren, penggambarannya apik, plotnya rapih. Manis.

Surga Menghadirkan Rindu – Wardatul Aini

Surga dunia adalah rumah. Sejauh apapun kaki melangkah dan sehebat apapun dirimu, pada akhirnya rindu akan membawamu untuk kembali.

Cerpen ini adalah cerpen terakhir yang akan saya review. Dan betapa puasnya saya, cerpen yang terakhir ini adalah juga cerpen sederhana yang memikat. Cerpen yang bernuansa religius ini bercerita tentang impian untuk memiliki rumah yang layak. Sederhana, namun berisi. Ada hal-hal yang bisa dipetik dari cerpen ini seperti ketabahan, sikap selalu merasa cukup dan lain-lain.

Cukup sekian dari saya, kurang lebihnya mohon maaf, wa billahi taufik wal hidayah. Untuk keseluruhan, saya akan memberikan buku ini tiga dari lima bintang.

Bintang 3

Saya merasa bangga terhadap diri saya dan teman-teman sesama penulis yang terhimpun dalam buku ini. Teruslah berkarya, dan jangan pernah merasa cukup. Dan saya akan setia menunggu endorse-an buku dari kalian. Ehe.