Blogtour : Aster untuk Gayatri

Aster untuk Gayatri

IMG_20170521_090449

Penulis: Irfan Rizky

Editor: Tiara Purnamasari

Layout: Tiara Purnamasari

Desain Sampul: @megapuspitap

Penerbit: Mazaya Publishing House

ISBN: 978-602-6362-35-3

Cetakan: I (April 2017)

Jumlah Halaman: 160 hlmn

*

ᴥBlurb ᴥ

Telah kularungkan

Kepada Gayatri

Tiap-tiap kesedihan

Jua

Perih-pedih masa lampau

 

 Dan telah kuwariskan

Kepada Giran

Cerita-cerita luka

Tentang rindu

Yang dipandanginya

Lama-lama

 

Pun telah kuhidangkan

Kepada kamu

Seorang

Kisah-kisah tentang

Apa-apa

Yang harusnya

Ada

Dan apa-apa

Yang mestinya

Tiada

*

“Agar jatuh cinta sedikit demi sedikit saja, karena siapa yang pernah tahu sakitnya seperti apa jika tergesa-gesa memberi segala?”

-Gayatri (hlmn 13)

Tak ada yang lebih menenangkan bagi Gayatri daripada hujan pukul delapan yang santun benar membasuh-bersihkan tabah tubuhnya. Di umurnya yang dua-delapan ini, dirinya masih harus berurusan dengan perkara-perkara yang tak begitu disukainya: kelakuan apaknya, kemauan mandenya, dan perhatian-perhatian Giran yang menyenangkan.

Untuk yang terakhir, dia tak benar-benar tak menyukainya. Hanya saja, Gayatri sudah pernah terluka. Dan tolol benar jika dirinya menyodorkan lebam yang sama pada Giran, mahasiswanya.

“Karena, bukankah jatuh cinta pada cinta itu sendiri adalah sesantun-santunnya cinta?”

-Giran (hlmn 19)

Yang luput dari perhatian Gayatri adalah Giran serupa dengannya. Telah lama dipeliharanya itu luka-duka, dijadikannya teman, dibuatnya nyaman. Kesakitan-kesakitan di masa lalu saling tarik-menarik di antara mereka, menambahkan rasa, menumbuhkan cinta.

Dan jika nanti Giran tahu dan mengerti akan kesukaran-kesukaran Gayatri, masih maukah dia menerimanya?

Dan bagaimana dengan Gayatri? Akankah ia tetap berpikir kalau wayangnya, meski sudah berbeda, namun berlakon sama?

Dan apakah semesta dan Tuhan kembali lancang untuk kesekian kali?

“Dan jika kita, kau dan aku, masih abai dan lancang pada kehendak masa lalu, maka hanya akan ada pahit yang membayang, menyambut ujung-ujung pilu yang menerjang.”

-Gayatri (hlmn 96)

***

Hai halo! Salam sejahtera! Bagaimana kabar? Semoga luar biasa selalu!

Sebelumnya, perkenankan saya berucap terima kasih kepada orang-orang yang sangat, sangat mendukung proses lahirnya novela perdana saya. Kepada Tuhan, orang tua, keluarga, dan sahabat-sahabat yang ucapan terima kasihnya telah saya tuangkan pada halaman pertama novela ini. Beli! Sehabis itu baca sendiri!

Lalu kepada teman-teman blogger buku: Mba Aya yang telah menghelat blogtour di minggu pertama; dan Miss Carra yang nanti dapat jatah mengulas buku saya yang tak seberapa di minggu terakhir. Kalian panutanqu.

Kemudian kepada teman-teman di Hello Author (saya akan mencoba lebih spesifik di sini): Mba Eka, Mba Rosyi, Mba Mia, terima kasih untuk ulasan-ulasannya. Mba Nurul, Mas Aji, Mas Tegar, Mba Dhamas, Mba Novi, Mbak Melly, Mas Beni, Mba Prima, Mba April, Mba April, Kang Dede, Daeng Ansar dan anggota lain yang superkece, terima kasih!

Kepada teman-teman Monday FlashFiction: Fajar ‘Ajay’, Sarif ‘Ranger’, Mba Vanda, Mas Iwann, Mas Wisnu dan teman-teman lain yang belum memiliki buku ini: plis beli.

Dan terakhir kepada kamu yang  sudah mau repot-repot ngikutin persyaratan-persyaratan di bawah; aku padamu. Seandainya saya sekaya itu, sudah saya berikan gratis untuk kamu sekalian. Heuheu.

Saya sempat disangsikan oleh Mba Aya, perkara menjadi host blogtour novela ini padahal saya pengarangnya. Memang lucu. “Budget terbatas, Mbae,” canda saya, sedikit meringis. Maka dari itu, saya ndak akan melakukan tindakan konyol dengan mengulas novela saya sendiri, ehe ehe ehe.

Namun, sebagai gantinya, saya akan menyediakan tautan-tautan dari ulasan-ulasan mereka atas novela Aster untuk Gayatri ini.

*

“Aster untuk Gayatri”, laiknya kisah cinta pada umumnya, menggetarkan dengan percikan asmara. Tema yang umum, topik yang ramai dibahas—luka, kepedihan, masa lalu, kekecewaan, kesengsem, jatuh cinta, sakit hati, jatuh cinta lagi—namun, bukankah kita selalu menyambut kisah-kisah demikian untuk menghibur diri?

Ya, kali ini, “Aster untuk Gayatri” pun secara umum mengangkat cerita dengan bait-bait esensi di atas. Tetapi, mengapa membacanya begitu nikmat?

Karena, eksekusi penulis dalam membumbui yang akan membedakan dan gaya sastra pada novella ini, membuat saya abai pada jenuh. Sebaliknya, malah bikin tangan gatal untuk membalik halaman tiap halamannya.”

-Nofrianti Eka P. (Founder Hello Author)

“Jujur, saya merasa kaget sama penggunaan bahasa yang dipakai penulis. Belum pernah ada yang seperti ini. Kosakata yang dipilih penulis, seakan-akan buat saya merasa sedang membaca sebuah puisi. Saya kebingungan meyakinkan diri sendiri, apa ini sebuah novel atau sebuah buku puisi tapi berbentuk novel. Pemilihan bahasa baku juga jadi daya tarik tersendiri buat baca buku ini. Terlalu banyak pemilihan kata baru, yang mau nggak mau bikin saya jadi rajin buka KBBI buat cari artinya satu per satu.

Sekali dua muncul percakapan berbahasa Minang, baik dari cerita Gayatri maupun Giran. Pemilihan bahasa daerah yang sempat bikin saya curiga kalau penulis juga orang Minang. Sama sekali nggak akan merasa kebingungan baca bahasa Minang, lewat bantuan catatan kaki yang menjelaskan baik itu arti percakapan, maupun arti dari sebuah istilah yang ditulis.

Yang sangat disayangkan dari karangan ini, terlalu banyak narasi yang bertele-tele, sampai akhirnya agak keteteran di beberapa hal yang justru perlu ditulis detail. Begitu tahu kalau Giran ternyata juga punya konflik batin dari masa lalu yang nggak kalah hebat dibanding Gayatri, terus terang saya agak kecewa kenapa konflik batin ini cuma diangkat sekali. Itu pun hanya sekilas. Padahal cerita soal kehidupan Giran sehari-hari cukup banyak dijabarkan, tapi konflik batin (yang buat saya juga cukup mengguncang) ini seakan sama sekali nggak ada pengaruh berarti di kehidupannya.”

-Vanda Kemala (Admin Buku panutan saya di mondayflashfiction.com)

“Sebuah cerita yang dituturkan dengan apik. Penulis sebagai pengamat di sini menumpahkan kalimat dan kosa kata yang hampir mirip seorang pujangga penyair. Padahal kalau untuk konflik yang dipilih penulis cukup sederhana dan bukan lagi hal baru. Tetapi gaya bahasa yang digunakan oleh si penulis ini berbeda dari cerita roman kebanyakan. Dibanding menikmati konfliknya, saya justru lebih menikmati permainan kata yang penulis racik dengan baik meski semuanya menggunakan bahasa yang baku.

Saat membaca buku ini, saya merasa seperti masih miskin kosa kata karena saya menemukan beberapa kata yang agaknya masih asing di telinga dan jarang ditemui di buku fiksi kebanyakan. Salah satu kata yang paling sering ditemui di buku adalah “alahai”, sebuah kata yang mungkin lebih familiar jika disandingkan dengan saudaranya “aduh”. Perumpamaan serta majas apalah-apalah yang digunakan juga terasa sangat pas.

Satu hal yang agak saya sayangkan dari cerita di buku ini, yaitu penulis tidak menyebutkan secara spesifik nama tempat yang dimaksud di cerita. Misalnya Gayatri mengajar di universitas mana dan di bidang apa? Giran bekerja di perpustakaan apa dan seperti apa? Gayatri kerja sebagai guru apa setelah ia pindah? Meski ini hanya hal kecil, namun bagi saya jadi agak mengganggu karena detil yang hilang ini menimbulkan tanya di sepanjang saya membaca kisah tokohnya.”

-Aya Murning (Blogger Buku)

***

GIVEAWAY!

Nebulus

Blogtour ini berlangsung sampai dengan tanggal 17 Juni 2017, waktu indonesia bagian Meester!

Mau dapetin novel ini secara cuma-cuma? Penulis sudah menyiapkan 1 eksemplar novela Aster untuk Gayatri bagi 1 peserta yang beruntung. Simak syarat dan ketentuannya berikut ini:

  1. Punya alamat kirim di wilayah Indonesia.
  2. Follow blog ini lewat akun WordPress atau via e-mail. Klik tombol follow yang ada di sidebar pojok kanan bawah.
  3. Follow akun berikut ini dari sosmed yang kamu punya:
  1. Share info giveaway ini di sosial media punyamu, bebas di mana saja (boleh semuanya atau pilih salah satu).
  • Jika di facebook: cantumkan link post ini dengan hashtag #AsteruntukGayatri dan tandai minimal 3 temanmu
  • Jika di twitter: cantumkan link post ini dengan hashtag #AsteruntukGayatri. Jangan lupa mention 2 akun di atas dan satu akun temanmu
  • Jika di instagram: repost foto banner di atas yang sudah saya upload di akun instagram saya @irfansebs, lalu tinggal ikuti ketentuan di caption-nya.
  1. Jawab pertanyaan berikut:

Giran teramat membenci pantai dan malah menyukai aroma pinus di pegunungan.

Kalau kamu, lebih memilih pantai atau gunung?

Jawab dengan jawaban yang paling unik dan menarik ya!

  1. Untuk keperluan pendataan peserta, tuliskan di kolom komentar di bawah ini berisi nama kamu, ID sosmed yang digunakan atau e-mail aktif, domisili, dan link share/repost yang tadi.
  2. Pemenang akan saya umumkan secepatnya di twitter, instastory, dan di post ini juga.

Itu saja. Nggak susah kan? Kalau masih ada rules yang membingungkan, for fast response jangan sungkan tanya langsung ke saya lewat mention/DM di twitter atau instagram.

Nah, tunggu apa lagi? Jangan lupa berdoa yang banyak. Selamat ikutan dan good luck!

***

PENGUMUMAN PEMENANG

Sebelumnya saya haturkan teramat banyak terima kasih bagi teman-teman yang sudah mau bersenang-senang di blogtour kedua Aster untuk Gayatri ini (akuh pada klean!). Semoga yang beruntung dapat menikmati Aster untuk Gayatri ini dengan santun, dan yang belum beruntung masih tertarik untuk mendapatkan novela perdana saya ini.

Dan pemenang di blogtour kedua Aster untuk Gayatri adalah:

Nama: Baiq Cynthia

Twitter: @baiqverma

Domisili: Situbondo

Selamat ya, Mba Baiq. Untuk keperluan pengiriman hadiah, segera kirimkan data diri berupa nama, alamat lengkap, dan nomor telepon yang bisa dihubungi ke e-mail saya di irfan10215@gmail.com dengan subjek Pemenang Giveaway Aster untuk Gayatri. Saya tunggu e-mail konfirmasi dari Mba Baiq maksimal 2×24 jam. Apabila tidak ada kabar setelah batas waktu tersebut, maka saya akan pilih pemenang yang baru.

Untuk peserta lain yang belum beruntung, jangan sedih atau kecewa. Masih ada 1 kesempatan lagi buat menangin buku ini di blog selanjutnya (klik di sini).

Terakhir, bahagia selalu! Jumpa lagi di lain kesempatan!

***

PS: Jika ada yang berminat ingin membeli langsung buku ini, untuk pemesanan bisa kirim SMS/WA ke nomor 085-722-025-109 atau via BBM dengan add PIN D79DCD48.

 

Advertisements

34 thoughts on “Blogtour : Aster untuk Gayatri

  1. Nama : Jasmine Nur Ramadhani
    IG : @jfaanur_
    Twitter : @jfaanur
    Link share : https://twitter.com/jfaanur/status/873943906479620096
    https://www.instagram.com/p/BVNMbkMgR1W/
    Sebelumnya terima kasih sudah menyelenggarakan GA berhadiah Novel Aster Untuk Gayatri ini.
    “Kalau kamu, lebih milih pantai atau gunung ?” PANTAI 😀
    1. Saya sendiri kalau memandang suatu hal sering mengaitkannya dengan filosofi yang saya buat buat sendiri, terlebih kalau bentuknya berupa alam
    => Saya suka ketenangan, Menurut saya, kalau lagi ada di pantai tuh rasanya langsung tenang gitu, sejuk sama anginnya, air lautnya yang buat seger, bahkan air itu sendiri udah jadi penenang dan penyejuk kalo lagi emosi 😥
    2.Saya sendiri emang punya harapan bisa keliling pantai serta laut Indonesia sementara temen temen saya lebih tertarik buat naik turun gunung
    3. Saya juga emang dasarnya suka pantai terlebih yang masih bening airnya gak tau juga kenapa , indah aja gitu 😀
    Wish me luck

    Like

  2. Nama : Melati Setiyaning P
    twitter @melatist
    email : melatisetiya48@gmail.com
    Link share : https://mobile.twitter.com/melatist/status/873936826536304640?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C5732210843

    Giran teramat membenci pantai dan malah menyukai aroma pinus di pegunungan.

    Kalau kamu, lebih memilih pantai atau gunung?

    jawabanya:

    Aku lebih suka pantai, kenapa?
    Karena dipantai pemandangannya sangat luar biasaaa indah. mungkin gada bedanya juga sama gunung. di gunung juga pemandangannya gak kalah luar biasa
    Tapi, aku lebih memihak ke pantai karena setiap kali aku pergi ke pantai Imajinasiku selalu saja berkeliaran, banyak ide2 muncul yg dapat aku tuangkan ke dalam cerita2ku. hamparan Pasir putih, dan air laut yang biru membuatku merasakan ketenangan, ketenangan hati dan fikiran. pantai selalu menjadi destinasi wisata yang paling banyak di kunjungi oleh masyarakat. so karena keindahannya itulah pantai selalu jadi daya tarikku ketimbang gunung.
    kenapa aku gak memilih gunung. karena aku takut ketinggian, walaupun memang setiap kali ada teman-temanku yg pergi muncak ke gunung, mereka selalu ng-share foto2 di puncak gunungnya. Sedikit iri juga sih karena pemandangannya memang sangat indah bisa liat pemandangan dari atas sana. wahhh keren banget. tapi karena ketakutanku sama ketinggian aku gak pernah mau tiap kali di ajak muncak sama teman-teman. karena di pantai sudah membuatku senang, bermain dengan keluarga tercinta. berenang bareng teman2 walaupun gak bisa berenang, di pantai aku bisa bebas-sebebas2nya 🙂
    #AsteruntukGayatri

    Like

  3. Maafkan ada yg terlupa 😂

    Pantai atau Gunung?
    Baiklah, tak perlu berbelit-belit untuk menjawab pertanyaan sederhana yang terlontar begitu saja (atau mungkin tak sesederhana itu) oleh pemandu blogtour kali ini, yang kebetulan juga adalah penulis novela yang saya harap bisa berjodoh dengan saya.
    “KALAU KAMU, LEBIH MEMILIH PANTAI ATAU GUNUNG?”
    Seketika hening.. untuk sesaat pertanyaan itu mampu mencekikku secara transparan dan menyisakan bekas luka tak kasat mata, juga menitipkan sesak yang tibatiba menguasai rongga dada.
    Siapa yang tak menyukai Pantai dengan segala keindahan yang disuguhkannya? Selalu ada ceria kala jemari saling bersapa dengan pasir dan tubuh bertatap muka dengan angin yang semilir meski terkadang mentari menyengat raga berusaha mencari perhatian sang empunya. Tiada bisa kupungkiri, akupun menyukainya.

    Namun disini, aku harus memilih antara Gunung dan Pantai. Ya, dengan tegas akan kujawab Gunung! Bukan, bukan karen Giran lebih menyukai aroma pinus atau apa. Bukan pula karena aku menggilai ketinggian atau bagaimana.
    Hanya saja, ada sesuatu yang rumit di dalam hati yang meski kujelaskan aku tak yakin akan dimengerti.
    Di pegunungan, ada kesejukan tersendiri yang disuguhkan. Pada gigilnya yang merasuk diam-diam seolah mengingatkan rasa sakit secara perlahan. Jangan pikir dingin itu tidak sakit, sungguh! Hypotermia itu menyakitkan. Takkan mampu hangat hanya dalam seperkian waktu dekapan.
    Juga di sana, akan kau temukan betapa indahnya sebuah persahabatan. Belajar mengalahkan ego dan melakukan apa yang seharusnya. Bukan hanya tentang menikmati keindahan, namun juga tentang menjaganya.
    Dan, untukku, gunung lebih dari itu. Ada sesak yang terlanjur kusesap hingga merangsek ke dalam sanubariku.
    Ya! Ada cinta tak sempurna di sana. Tentangku, tentangnya, tentang mereka. Tentang apa-apa yang menjadi harapan lalu sirna menjelma kekelaman.
    Tentang segala kebahagiaan yang bermetamorfosis menjadi kesedihan.
    Aneh memang, namun aku terlanjur candu pada setiap jengkal menyakitkan yang tersisa di antara kerikil dan bebatuan, juga tanjakan tajam yang hampir membuatku berhenti menapaki jalan.
    Dan ya, aku terlanjur mengakrabi ketidak sempurnaan cinta manusia.

    Like

  4. Elsita F mokodompit
    Twitter @sitasiska95 https://twitter.com/sitasiska95/status/874218944692801536
    Domisili Morowali, Sulawesi Tengah

    Aku suka pantai. Aku suka wangi garamnya, deburan ombaknya, anginnya, dan buih-buih lautnya. Pantai selalu bisa buat aku tenang. Pantai juga bisa menjadi tempat ‘pelampiasan kemarahan’ paling pas. Di pantai aku bisa menjerit sepuasnya lalu kemudian mendapat ketenangan setelahnya. Buatku, perumpamaan pantai itu seperti orang yang datang dan pergi dalam hidup kita. Dan, walau setiap saat ada yang berganti, ombaknya berganti, pantai itu tetap pantai. Tidak berubah jadi mall atau hal lain. Seperti saya, sebanyak apapun sosok yang datang kemudian pergi dari hidup saya, saya tetap saya.

    Like

  5. Nama : Hamdatun Nupus
    Akun Twitter : @HamdatunNupus
    Link Share : https://twitter.com/HamdatunNupus/status/874427287487127552
    Domisili : Depok, Jawabarat

    Aku pilih Gunung kayak Giran. Kenapa ?

    Karena Gunung tak pernah ingkar janji! , dia akan terus ada ditempatnya. Contoh Gunung Papandayan di Garut, tingginya 2665Mdpl jarak tempuh yang pernah kulalui pertama kali 3 jam lamanya untuk bisa sampai di point perkemahan (pondok saladah), menginjakan kaki yang kedua kalinya digunung ini aku hanya membutuhkan waktu 2 jam, dan terakhir kali ketiga menginjakan kaki disana aku hanya menghabisakan waktu kurang dari 1 jam. Bukan gunungnya berpindah atau menjadi lebih dekat tapi kecepatan langkah dan stamina kita yang meningkat.

    Sekali lagi, karena Gunung tak pernah ingkar janji! dan ia tak suka kepada orang-orang yang menyombongkan diri. Sudah tak terhitung berapa banyak pendaki yang menjadi celaka akan kecongkakannya sendiri. Merasa paling kuat, merasa paling tahu, merasa paling bisa. Padahal, iklim disana bisa langsung berubah 180 derajat, dari cerah menjadi badai, dari panas menyengat hingga angin yang begitu menggigit.

    Dari Gunung, aku belajar untuk lebih rendah hati, banyak-banyak bersyukur dan mencintai diri sendiri. Segala sesuatu yang kupandang hebat dari bawah, nyatanya hanya terlihat sekecil semut dari atas sana. Mampu bertahan untuk mencapainya memaksaku untuk menjadi lebih kuat. Begitulah Gunung

    Like

  6. nama: devira belin
    twitter: @virscnd
    domisili: semarang-jateng
    link share: https://twitter.com/Virscnd/status/874534729210396672
    jawaban:
    gunung, karena selain mendapatkan udara sejuk dan pemandangan yg indah, kita juga bisa dapet ketenangan disana. terutama suara angin dan burung-burung. cocok sekali untuk recharge jasmani dan rohani yg lelah, penat karena padatnya kesibukan harian

    Like

  7. Nama : Yohana
    e : yohanasiallagan23@gmail.com
    Link share : https://twitter.com/MrsSiallagan/status/874907967509889026
    t : @mrssiallagan
    Sebenarnya dua-duanya favorit aku banget,, tapi kalau harus milih, aku bakalan pilih Gunung. Kenapa?
    Karna menuju puncak gunung itu nggak gampang sekali butuh perjungan. Ditambah naik gunung nggak mungkin sendiri jadi harus ada temen yang memang harus solid. Saling tolong menolong, saling menjaga. Pokoknya kerja sama adalah kuncinya. Mau naik gunung harus rela ribet bawa banyak barang ditas. mulai dari camilan, air putih, masker, dan barang lainnya. Harus dipikirin dulu. Dan kalau udah sampai di puncak gunung rasanya tuh bahagia banget, ingat perjuangan nggak udah terbayar berkat pemandangannya. udara yang sejuk ditambah pemandangan indah. lihat pohon2 pokoknya bikin bahagia bangeytt dan lebih sehat tentunya..

    Like

  8. Eriz Xandrie
    Twitter: @RizAnNie88
    Ayaseyis(at)gmail(dot)com
    Kota Batu Jatim

    Aku pilih GUNUNG dong 😊.

    Alasannya karena
    1. Pantai dan gunung sama” memiliki pemandangan yg indah. Namun menurut q gunung lebih memiliki pemandangan yg indah, dengan nuansa alam yg asri, dingin, sejuk , dengan suara kicauan burung dan suara” binatang hutan yg bikin suasana hati maupun pikiran jadi fresshhh dan bikin tenang.

    2. Bakalan banyak cerita unik dan menarik yg bisa diceritain yg dijadiin pengalaman yg tak terlupakan. Ketika ada yg tanyak kamu liburan kemana aja?? Dengan semangat aku bisa jawab Gunung bro (keliatan lebih keren dan keliatan berkepribadian menarik…alaaaaa apaaan nih ngaco wkwkwk) 😂

    3. Dengan begini lebih mengenal lingkungan dan menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan.

    4. Aku lebih bisa mengenal diri ku sendiri, begitu juga teman” traveling ku.
    Dari sana keliatan, siapa yang sering ngeluh, siapa yang manja, siapa yang punya leadership tinggi, siapa yang tenang nyelesain masalahnya, semuanya bakal kelihatan dengan jelas.

    5. Selain itu juga lebih bersyukur kepada Allah SWT yg telah memberikan alam yg seindah ini. Terutama alam Indonesia yg belum tentu ada di negara lain. Dengan hutan” yg selalu memberi kesejukan dan oksigen segar untuk kita bernafas.
    Alhamdulillah 😊😊

    Like

  9. Nama: Fasiha
    ID twitter: @fasiiha
    E-mail: zhesui_fazz@yahoo.co.id
    domisili: jogja
    Link share: https://twitter.com/fasiiha/status/875233775445082112

    Gunung atau pantai?

    Asli ini pertanyaan paling susah buat dijawab. Mengapa pertanyaannya bukan gunung atau mall aja? Hihi
    Bagiku pertanyaan ini seperti: “kamu lebih suka novel atau drama korea?” 😄😄😄
    Nah. Kan susah.
    Gunung atau pantai, keduanya bagian dari alam. Dan aku termasuk orang yang sangat menyukai dan menikmati alam.
    Gunung menawarkan kekuatan dan kedamaian, sedangkan pantai menawarkan kelapangan dan penghiburan.
    Ketika hati sedang kalut dan resah, maka gunung menjadi pilihan. Gunung membuat kita merasa bahwa kita hanyalah manusia kecil yang tidak boleh sombong. Gunung dengan hijaunya akan mengingatkan kita untuk bersyukur. Dan gunung dengan aromanya akan membuat kita mampu menenangkan dan menjernihkan pikiran..
    Inilah yang aku rasakan ketika berada di kaki Rinjani.
    Sedangkan pantai dengan berlatar langit biru, akan menerbitkan senyum di wajah, keinginan untuk ikut berlari beriak seperti ombak, meneriakkan kebahagiaan. Inilah yang aku rasakan ketika berada di pantai-pantai..
    Jadi…
    Bisakah keduanya disatukan saja? Seperti aku dan buku Gayatri ini? #ehh 😀 😀

    Like

  10. Dede Supriatna
    Twitter/ig: @dhegol27
    Email: dede.supriatna27.ds@gmail.com
    Bogor
    Link share:
    Twitter: https://mobile.twitter.com/dhegol27/status/875268446929305600?p=v
    Ig: https://www.instagram.com/p/BVWmx8JlvPH/

    (Kalau kamu, lebih memilih pantai atau gunung?)

    Ehem,
    Pertanyaan macam apa itu, Kang?
    Kenapa Akang ini bertanya seolah-olah pantai dan gunung adalah hubungan saya dengan dia, tidak akan pernah bisa bersatu meski kami saling mencintai (*eh). Jelas-jelas pantai butuh gunung untuk melindunginya dari embusan angin laut yang kerap membawakannya secercah rindu. Juga gunung yang butuh pantai sebagai tepiannya yang penuh dengan luka lara (apa-apaan ini?). Tapi, karena ini adalah sebuah pilihan, dan lazimnya sebuah pilihan adalah adanya yang harus dipilih, maka saya setuju dengan Giran untuk membenci pantai. Alasannya? cinta saja tidak pakai alasan, heuheu…
    Barangkali karena saya lebih menyukai suasana yang sepi, adem, serta keadaan yang dapat mengusik kenangan. Saya suka mengingat masa lalu, karena dengan mengingatnya saya merasa benar-benar hidup.

    Kesimpulannya adalah, bahwa sesungguhnya saya lebih menyukai “gunung” (entah apapun itu bentuk gunungnya. Heuheu…) karena mampu membuat saya mengenali siapa diri saya sebenarnya. (bukan hadist).

    Like

  11. Nama : Ka. Aileen
    Instagram : @ka.aileen’
    Link Share : https://web.facebook.com/photo.php?fbid=1891550691133465&set=a.1469806863307852.1073741828.100008356570367&type=3&theater
    Jawaban :
    .
    [ Obsesiku Pada Gunung, dan 25-ku Yang Beruntung]
    .
    Aku merapal doa, namun tak kunjung juga diberi. Ketika orang-orang mulai dikabul apa-apa yang dimohonkan, kenapa 21-ku tidak seberuntung itu? Barangkali, aku perlu majas-majas ternestapa, metafora-metafora paling surgawi, guna menawan hati Tuhan agar lebih murah hati perkara harapan yang satu ini. Meskipun itu perlu berlutut di tempat yang sedikit lebih tinggi. Gunung, misalnya? Setelah terkabul, aku akan pergi ke arah pantai. Cukuplah ada dua pasang kursi malas, debur ombak yang berkeretak, dan lambaian pohon nyur di tepi pantai. Dibalut kain bali sebatas pinggang, aku berbaring menantang matahari. Sementara ‘doa’ku berdiri, memandangiku dengan cara yang paling seksi.
    .
    “Diving, yuk!” Ajak ‘doa’ku.//Aku mencibir. “Berenang aja nggak bisa, mas.”//”Payah! Lebih suka pantai atau gunung?”//Aku menjawab. “Lebih suka gunung, dekat sama langit dan Pencipta. Tapi lebih suka kamu yang begini.”//Dia tertawa. “Aku iteman, ya? Kebanyakan diving, ini, jadi eksotis, haha. Eh, kalimatmu barusan bagus juga dipuisikan.”//Aku mendelik. “Dasar penulis!”//Sekarang dia terpingkal-pingkal. “Resiko punya suami penulis, tahu! Masa aku menuliskan kisah soal doa lampau yang mintanya Sinta tapi malah dikirim kamu, terus kamu cemburu, gitu?”//”Bajingan kamu, Pras!”//Pras berlagak kuyu. “Nggak serius -,- aku mau nulis obsesimu soal gunung dan 25-mu yang beruntung, setelah bertemu aku, hmmm.”//Rayuan Pras yang bukan main, aku bersemu karenanya. “Tulis sana. Upload dan tag akunku. Catut namaku besar-besar.”//Pras, dia tegap di bawah matahari, tersenyum nakal, dan aku menggelenyar karenanya. Semacam timbul hasrat ingin kembali pada kamar hotel kami yang hangat dengan kita yang lebur jadi satu. “Kan, sudah, Padma. Di hati dan pikiranku.”

    Like

  12. Nama: Heri Sutrisno
    Twitter: @Ahes_armiR9
    Domisili: Kudus
    Link: https://twitter.com/Ahes_armiR9/status/875637528853749760

    Jawaban:
    Sebab saya pernah naik perahu bersama Ibu, jauh-jauh ke pantai sekadar menikmati senja yang pudar, juga foto berduaan sampai di kira pacar. Maka, saya putuskan memilih GUNUNG. Tidak lain karena suatu ketika saya pernah merasai gigil yang sangat. Sampai-sampai berpikir esok tidak akan terbit kembali. (Yg terakhir alay) 😀

    Like

  13. Aku pilih gunung.

    Aku ingin bercinta di gunung, tubuhmu dan milikku hampir dekat dengan langit. Pasti rasanya sangat manis. Lalu, kita akan menonton semua yang hanya bisa dilihat dari ketinggian beribu kaki: masa laluku, harapanmu, hari-hari yang tanpa kita itu. Kemudian, aku tebak, cuacanya akan sangat dingin. Aku akan menarikmu, “Mari kita berpelukan sampai gunungnya meletus. Jangan pergi lagi.” Karena aku suka gunung, seperti kamu mencintai milikku.

    Like

  14. Nama : Heni Susanti
    Twitter : @hensus91
    Domisili : Pati – Jawa Tengah
    Link share : https://twitter.com/hensus91/status/875895167760257024
    Saya lebih memilih pantai. Terutana dikala senja. Alasannya sih karena dari lahir saya sudah tinggal di daerah pegunungan, walaupun bukan penuh pohon pinus tapi pohon jati, tapi tetap saja setiap hari pemandangan pohon, bukit, tebing dan sejuknya udara selalu menjadi santapan harian. Karena itu aku selalu menyukai kesempatan bisa ke pantai. Mendengar debur ombak, menatap pantulan sinar matahari di permukaan air laut dan aroma asin air lautnya. Ibaratnya kaya yang terbiasa minum kopi hangat yang nikmat – pegunungan – lalu menikmati es krim coklat nan lezat – pantai -.

    Like

  15. Giran teramat membenci pantai dan malah menyukai aroma pinus di pegunungan.
    Kalau kamu, lebih memilih pantai atau gunung?
    Aku lebih suka pantai. Perbatasan antara daratan dan lautan itu selalu membuat kagum. Dari pemandangannya, suasananya, musiknya (deru ombak pantai). Saat masuk ke dalam laut di sekitar pantai pun berasa menyatu dengan alam. Dan yang paling mengagumkan tentu pemandangan sunrise (matahari terbit) dan sunset (matahari terbenam). Semakin menggetarkan jiwa betapa Maha Agungnya Allah SWT dengan segala keindahan ciptaanNya.
    nama: Aulia
    twitter: @nunaalia
    e-mail: auliyati.online@gmail.com
    domisili: Serang
    link share: https://twitter.com/nunaalia/status/875918526971658240

    Like

  16. Nama: Fuada Nisa
    Akun IG: @fuanisaa_
    Domisili: Bandung
    Link share: https://www.instagram.com/p/BVbKQs1AakZ/
    Saya rasa tak seorang pun mampu menafikan keindahan dan ketenangan yang didapatkan dari pantai dan gunung. Namun, jika harus memilih, saya lebih memilih pantai. Entah mengapa berada di pantai selalu membuat saya merasa dekat dengan Tuhan. Mungkin karena pantai bisa menyatukan saya dengan Mahakarya-Nya yang lebih besar.
    Hamparan laut dan luasnya langit seolah memeluk tubuh saya serta segala rasa sakit yang sempat mendera. Debur ombak dan desau angin mampu menina-bobokan saya, meluruhkan semua beban yang teramat melelahkan.
    Pantai itu seperti tempat pulang, tempat mengistirahatkan tubuh, hati, dan pikiran. Karena itulah, saya ingin menitikkan air mata setiap kali melihat pemandangan pantai, terutama saat tenggelamnya matahari. Ia seakan-akan menarik diri ini untuk ikut bersamanya, melindap ditelan lautan. Sama halnya dengan buku ini, nama Gayatri seakan mengetuk-ngetuk pintu hati saya, minta untuk dijemput. 😋 Karena itulah, meski gagal mendapatkannya di booktour sebelumnya, saya tetap memperjuangkannya. 😁 Semoga saja kali ini Mas Irfan bersedia mengantarkan Gayatri ke pelukanku. 😉 ☺

    Like

  17. Nama: Monica Indah
    Twitter: monicaindah5
    Domisili: Bogor
    Link Share: https://twitter.com/MonicaIndah5/status/875766725504933888
    Pertanyaan: Kalau kamu, lebih memilih pantai atau gunung?
    Jawab:aku pilih gunung. karena untuk naik ke puncak gunung itu ngga mudah, butuh perjuangan fisik maupun mental. dan setelah sampai ke puncak gunung itu, ada perasaan “wah” ini lho yang udah aku lewatin. begitu melihat ke sekeliling dan kebawah, betapa luas dan indahnya pemandangan dari atas. dan perasaan itu, perasaan dimana aku merasa “dekat” dengan Sang Pencipta dan perasaan dimana aku merasa begitu “kecil” dibandingkan semua hal yang ada di bumi ini, yah perasaan itu yang aku dapatin kalau naik gunung.

    Like

  18. Nama: Rina Fitri
    Twitter: @Rinafiitri
    Domisili: Aceh
    Link Share:

    Aku lebih suka gunung.
    Aku suka bagaimana pepohonan saling merajut daunnya, menciptakan sebuah kanopi yang melindungi setiap kepala yang melintas di bawahnya. Aku suka bagaimana sinar mentari mencoba mengintip masuk dari celah-celah dedaunan yang lebat. Aku suka bagaimana tingginya gunung seperti menipiskan jarakku dengan langit, membuatku bebas memandangi gemintang yang bertaburan, merangkainya menjadi sebuah rasi, serta mengamati cepatnya lesatan meteor. Aku suka aroma petrikor yang hadir dan menyeruak masuk ke indra penciuman setelah datangnya hujan. Aku suka mendengar cericit burung yang menghasilkan melodi indah bagi indra pendengaran.

    Gunung bagiku begitu misterius, menyimpan sejumlah misteri yang belum terkuak. Gunung memiliki efek magis yang menarik setiap orang untuk menelusurinya.

    Gunung memberikan banyak pelajaran bagi kehidupan. Bahwa kita harus berjuang dan mendaki terlebih dahulu untuk sampai di puncak. Bahwa segala perjuangan yang dilakukan, akan sebanding dengan hasil yang akan kita dapatkan. Bahwa manusia yang begitu sombong ini hanyalah sekecil semut bahkan tidak terlihat eksistensinya dari atas sana.

    Like

  19. Nama : Tegar Putra Adi Nugraha
    IG : @nugrahalogy
    eMail : adinugraha29@gmail.com
    Domisili : Semarang – Jawa Tengah
    Link Share : https://www.facebook.com/adi.nugraha29/posts/10209040421239034
    Jawaban :
    Puja dan puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena atas rahmat dan karuniaNya, pertanyaan yang diberikan adalah pilih Pantai atau Gunung, bukan pilih Dedek yang itu atau Dedek yang satunya, dimana keduanya tinggal di masa lalu.
    .
    Hmm… Kusesap segelas kopi tanpa ampas (karena ampas kopinya sudah bersama dengan kawanku lacahya). Gunung atau Pantai? Pertanyaan yang sesederhana, sesederhana lembaran cerita masa silam yang dipaksa untuk dibuka dan dibaca ulang. Dengan leher yang tercengkram, kepala yang tertunduk, mata yang dipaksa menatap tiap kata pada lembaran yang pernah sengaja di lupakan. Pertanyaan sederhana yang menakutkan.
    .
    Gunung. Ia adalah gadis dengan pipi tembam yang selalu memerah merona dikecup dingin. Dengan kulit kuning langsat yang selalu dingin, sentuhannya mampu luluh lantakan amarah secara instan. Ia selalu menampakan ketegarannya dibalik wajahnya yang lugu. Terkadang hilang dibalik kabut ataupun awan, namun selalu siap membangunkanmu denga paras anggunnya ketika subuh. Ia selalu mengajarkanku makna sebuah perjuangan.
    .
    Pantai. Gadis tomboy yang akrab dengan rambutnya yang selalu dikuncir kuda. Semua yang melihat pasti akan beranggapan dia gadis yang teramat ceria. Dari suara serta riak tawanya yang tak pernah padam. Hmm… Gadis ini hanya mahir menyembunyikan sendu, Ia menikmati angin sore pantai yang meyesakkan. Ia gubah lukanya menjadi senja hingga orang-orang bisa ikut menikmatinya. Darinya aku belajar hidup tak perkara soal bahagia, luka bisa menjelma menjadi tawa bila tau cara menikmatinya dan menyesapi maknanya.
    .
    Pada pantai kubiarkan diriku jatuh pada rengkuhannya.

    Liked by 1 person

  20. Nama: Ananda Nur Fitriani
    Twitter: @anandanf07
    IG: @anandanftrn
    Email: anandanftrn(at)gmail(dot)com
    Domisili: Bogor
    Link share: https://twitter.com/anandanf07/status/875960145737428993

    Aku pilih pantai. Karena, pantai itu bagaikan paket lengkap nan hemat buatku. Mau panas-panasan? Bisa, dateng aja dari siang.
    Mau yang teduh? Bisa, duduk aja di bawah tenda payung.
    Mau yang adem-adem seger? Nyebur aja ke air.
    Di pantai juga aku bisa merasakan gabungan antara lembutnya duduk di pasir pantai, air yang terkadang menyapu kaki, indahnya suara ombak yang menghantam batu, bau perpaduan antara sengatan matahari dengan perairan, langit yang bak mempunyai seribu wajah, serta kerang-kerang yang terhampar bagai hiasan. Di pantai itu…. Aku bisa mendapatkan momen sempurna, di mana seluruh indra dapat bekerja. Hehe, apalagi setiap pantai mempunyai poin tambahan akan keindahannya tersendiri. Jadi Giran, yakin masih ga suka pantai?😋

    Like

  21. Nama : Baiq Cynthia
    Twitter : @baiqverma
    FB : Baiq Cynthia
    Link share : https://twitter.com/BaiqVerma/status/875983317052514304

    Alhamdulillah, sebelumnya saya sudah sangat penasaran dengan buku Aster Untuk Gayatri. Selain dari segi judul yang memikat, cover begitu anggun. Suka! Pengennya tuh dipeluk terus. Tapi, pas lihat isi kantong lagi kosong. Hanya menelan ludah.

    Wah! Senangnya minta ampun. Ada GA ini. Jika diberi pertanyaan memilih pantai atau gunung? Bingung sih. Dua-duanya saya suka. Tetapi, berhubung tempat saya temasuk pesisir, dan bukit-bukit.

    Ingin tahu gimana rasanya naik gunung!

    Saya pilih gunung mengapa?
    Simple sih. Gunung itu melambangkan proses hidup. Di mana kita akan melewati bebatuan terjal. Mulai dari awal yang sulit. Semakin didaki, terasa berat. Apalagi bentuk kemiringan yang semakin tinggi akan semakin curam.

    Belum lagi, semak belukar. Duri-duri tajam. Dan juga kemungkinan tersesat. Saya ingin kelak bisa naik gunung. Untuk saat ini hanya bisa melihat dan mengabadikan gambar pegunungan. Terutama beberapa gunung di jawa timur.

    Oh, iya. Senang rasanya jika bisa berhasil sampai puncak. Ada kepuasan tersendiri. Bisa melihat titik awal yang mengerikan, menjadi benar-benar indah. Melihat ciptaan Tuhan yang tak terhingga.

    Aku juga ingin melihat senja dari gunung. Selama ini, hanya melihat dari tempat jemuran kos-kosan yang lantai tiga.

    Filosofi hidup, belum usai. Kita harus kembali turun. Namun, Saat turun pun perlu hati-hati. Itu mengapa saat kita berada di puncak. Tidak boleh pongah, dan meremehkan. Kalau sudah terjerembab. Hilang semuanya. Bahkan nyawa taruhannya.

    Kehidupan seperti mendaki gunung. Semakin tinggi, semakin kencang anginnya. Semakin terjal. Sedikit oksigen. Pun saat kita telah sukses. Tak lupa untuk kembali ke awal. Tetap sederhana dan berbagi ilmu yang didapat.

    Karena indahnya ‘naik’ pasti akan merasakan indahnya ‘turun’.

    Karena begitulah, bisa belajar dari gunung. Terlalu sering digambar sejak TK. 🙂

    Salam
    Baiq Cynthia – Situbondo

    Like

  22. Nama: Lynn Melody
    Twitter: @justlynn23
    Domisili: Kalsel
    Link share: https://mobile.twitter.com/justlynn23/status/876109466218790913
    Jawaban: Saya lebih memilih pantai. Mengapa? karena pantai adalah salah satu tempat terbaik untuk saya melarikan diri sejenak dari rutinitas yang super padat. Berwisata ke pantai tidak perlu mengeluarkan banyak uang dan tidak membutuhkan waktu yang lama. Berada di Pantai membuat saya relax, apalagi jika berkunjung ke pantainya dengan teman – teman pasti sangat mengasikan. Pantai juga menawarkan berbagai macam keindahan seperti birunya air laut, pemandangan bawah laut yang mempesona, dan kehalusan pasir pantai yang membuat kita betah berlama – lama berada di pantai. Ditambah lagi keindahan matahari terbenam pun sangat luar biasa. Jadi berkunjung ke pantai sangat ampuh untuk menghilangkan stress dan membuat ketagihan untuk datang lagi, lagi, dan lagi.

    Like

  23. Nama : Rosyi Munawar
    IG : @rosyimunawar
    Email : rosyimunawar@gmail.com
    Domisili : Cianjur
    Link share : https://www.instagram.com/p/BVciXvZADRt/
    Pantai, aku tak pernah memiliki potret kenangan di tempat itu. Bahkan ada rasa takut bila berlari lebih jauh dari pasir-pasir yang tersapu ombak. Sebab aku nyaris tak bisa menikmati 22-ku jika saja waktu itu seorang lelaki dewasa tak merengkuh kami -aku dan teman- yang nekat menyelam di kedalaman dua meter. Buruk. Yang kumengerti saat itu. Tapi tetap kusimpan sebagai kisah masa kecil yang tak semua orang punya. Meski aku sendiri tak pernah menyukainya.
    Gunung, kami pernah berkemah di sana. Aku lebih menyukainya dibanding pantai dan kisah-kisahku dengan air dan kepayahan berenang.
    Pembinaku sempat berteriak ketika kami sampai di puncak. “Jangan ke sebelah sana (pohon-pohin pinus yang ditunjuk). Banyak serigala.” Kami mundur lalu meringkuk jauh di belakang punggungnya.
    Dan malamnya, langit tak membiarkan kami barang sejenak merasa hangat. Gigil menusuk tulang melalui rintik-rintik yang dijatuhi langit. Pada setiap pori-pori kulit yang tembus dari kain yang kami pakai.
    Dari sana pula, bumi (puncak yang kami pijak), kami bisa menikmati bau-bau tanah yang basah sisa-sisa hujan setengah malam. Langit-langit pekat yang begitu menawan. Lampu-lampu yang menghiasi kota, rumah juga bangunan megah yang terlihat seperti miniatur kota. Dan diiringi teriakan-teriakan dari adik kelas di dalam tenda. Yang semula hanya satu, menjadi dua dan menjadi banyak.
    “Tempat aing eta. Teu punten-punten sia luwat-liwat teh. Ngaganggu!” teriak satu di antara mereka.
    Saat itu aku merasa sangat menyesal karena tak pernah belajar banyak pada Bapak. Soal mengobati atau menjampi-jampi orang kesurupan. Haha dan itu menjadi salah satu alasan lain tentang keistimewaan gunung. Setidaknya mengajarkanku satu hal, bahwa kita yang sama-sama ciptaan-Nya berhak hidup damai dan saling berdampingan.
    Gunung. Tempat yang membuatku selalu ingin ke sana lagi dan lagi (sebelum timbangan masih ada di angka yang boleh dikatakan masih dalam kewajaran).

    Like

  24. Aku lebih memilih gunung. Udara memanjakan hidungku dari pengapnya polusi kehidupan, menjernihkan otakku atas apa-apa yang saling bersubtitusi tanpa henti. Gunung mengingatkanku pada perjuangan para bocah polos demi sesuap ilmu. Mereka yang berucap padaku, “Kami sudah terbiasa,” dengan senyum merekah seolah tanpa pemberat yang berarti dipundak kecil namun bertenaga, meski jalan terjal tanpa aspal curam menurun ketika pergi, menanjak naik disaat pulang. Yang menyadarkanku bahwa apa yang kujalani hanyalah hal remeh dibanding mereka ketika seumuran. Pertemuan di gunung yang begitu membekas, sarat makna meski ringkas. Betapa lucu ketika menilik sekitar, di kota yang lebih berkembang namun tanpa pacu langkah menggema lantang. Ah, bocah-bocah itu menang telak.

    Tak hanya itu, gunung mengenalkanku pada bagian estetika, konsep triloka yang tak akan pernah lepas dari kehidupan manusia. Miikro, makro, metakosmos. Itulah mengapa gunung menjadi bagian penting dari sebuah pertunjukan wayang, diwujudkan dalam gunungan. Perannya tontonan sekaligus tuntunan. Tiga bagian yang memiliki hubungan darinya; dasar gunung, sakala, yang terindera, hubungan antar manusia; bagian tengah, sakala-niskala, inilah antara terindera dan yang kasat, manusia dengan alam; dan terakhir puncak, niskala, inilah kaitan manusia dengan Sang Hyang Tunggal, Sang Pencipta. Gunung menginspirasi leluhur menyemaikan pengajaran hidup yang berarti pada anak cucunya.

    Nama: Dhamas Iki
    Instagram/ email: Dhamas Iki/ dhamas.iki@gmail.com
    Link share: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1503797129659993&id=100000891608479&refid=7

    Like

  25. Mau iseng jawab doang. Nunggu waktu habis soalnya 😂
    ···
    Gunung atau pantai? Entahlah. Aku tidak pernah berpikir untuk memilih antara keduanya; sama indah sama agung.
    Semacam kau bertanya padaku tentang hidupku atau hidupnya. Bagaimana bisa memilih kalau hidup kami ada dua yang menyatu? Gunung dan pantai, ganjil yang saling menggenapkan. Aku menikmati senja dan fajar yang bersimpuh di antara keduanya. Aku belajar tentang semesta pun dari keduanya. Bagaimana melihat tinggi namun tidak meninggikan diri. Bagaimana merendah tanpa merendahkan diri. Keduanya membuatku belajar; kau dan aku bagian kecil dari semesta Tuhan. Kita bagian kecil dari keindahan purbaNya.
    Ah, kenapa aku harus memilih antara gunung dan pantai, kalau bersamamu saja aku sanggup memilih bahagia?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s