Senjakala Media Cetak – Senjakala Gatekeeper Literasi
Dalam menghadapi perubahan zaman yang ditandai dengan senjakala media cetak, masyarakat dihadapkan pada paradoks yang menarik.
Terbitnya media online telah membuka pintu bagi demokratisasi penulisan; sebuah era di mana setiap orang, tanpa terkecuali, dapat mengungkapkan pikiran dan ide mereka ke ruang publik. Namun begitu, kebebasan ini membawa konsekuensi yang tidak terduga. Dengan hilangnya batasan, semua tulisan, tanpa memandang kualitas, berpotensi untuk dibaca khalayak ramai, menciptakan sebuah samudra konten yang luas, di mana hal-hal cemerlang harus berebut napas dengan yang tak bernilai.
Kita menyaksikan bagaimana media baru ini, yang seharusnya menjadi sumber kesenangan, perlahan-lahan berubah menjadi kotak pandora yang membingungkan. Setiap orang bisa menulis, tetapi tidak semua yang ditulis layak dibaca. Tanpa adanya penjaga yang mumpuni, kita kehilangan penapis yang esensial dalam menjamin kualitas bacaan.
Kehadiran penjaga dalam media cetak tradisional selama ini telah menjadi penapis yang cakap untuk memelihara standar kualitas. Mereka bertindak sebagai kurator yang memilah apa yang pantas untuk disajikan kepada pembaca. Dengan menghilangnya peran tersebut dalam media online, kita dihadapkan pada senjakala kualitas bacaan. Bacaan-bacaan buruk yang tidak terkontrol kini dengan mudahnya bercampur dengan bacaan-bacaan bahari, sehingga sulit untuk memisahkan antara keduanya.
Sampai di sini saya mulai mempertanyakan eksistensi penjaga yang becus di medium basabasi.co, karena belum apa-apa saya sudah dihadapkan pada penggalan cerpen anggitan Andrean Putra berjudul ‘Wabah’ yang terbit tanggal 17 April 2015 berikut:
“Sujud mengerjap, kumis tebal mirip kumis Freddie Mercury tampak nyengir kepanasan. Suara beratnya kalah oleh suara cempreng khas ibu-ibu yang bergosip perihal tetangga yang sudah tak perawan lagi namun sampai sekarang masih belum menikah.”
Mohon Maaf, Hanya Sekadar Mengingatkan – Kejawa-jawaan dan Kenapa Harus Jawa?
Cara penulis mendeskripsikan adegan tersebut menurut saya kurang elok, bertele-tele, dan gagal memberikan kontribusi substansial terhadap arus naratif keseluruhan. Sebuah deskripsi yang efektif seharusnya tidak hanya menggambarkan adegan atau karakter secara visual, tetapi juga memperkaya lapisan makna dan menambah kedalaman pada struktur cerita. Sayangnya, dalam hal ini, penulis belum berhasil mencapai keseimbangan antara ironi(?) dan fungsionalitas naratifnya.
Saya pikir penggunaan ironi dalam narasi ini pun terasa sumbang. Ironi yang adekuat seharusnya menyajikan kontras yang tajam dan mengundang rasa mawas diri. Di sini, teknik tersebut malah terkesan dipaksakan dan tidak memberikan dimensi tambahan pada pemahaman pembaca terhadap karakter atau situasi. Kerap kali ironi di sini hanya berfungsi sebagai tempelan, yang tidak ada pun tidak mengapa.
“Dia sekarang duduk di samping makam perawan yang baru mati beberapa jam lalu, bukan putrinya, bukan pula saudaranya ataupun pacarnya. Namun, seorang perawan dengan hidung besar yang dibilang mancung telah tewas sebelum diperawani oleh suaminya. Dia tewas bukan karena takut oleh itunya suami, tetapi karena mendengarkan apa yang dikatakan Sujud.”
Sering kali penulis terjerumus ke dalam perangkap naratif yang sia-sia. Alih-alih membangkitkan rasa penasaran, penulis malah memberikan deskripsi yang melewah dan tidak esensial sehingga menambah beban pada narasi, mengaburkan fokus, serta menghilangkan kesempatan untuk mempertajam konflik atau karakter.
Lebih jauh lagi, logika yang dipaparkan dalam penggalan ini begitu banal dan tidak mampu menyajikan alur berpikir yang koheren, sehingga meninggalkan saya dalam kebingungan. Perawan yang bukan siapa-siapanya Sujud mempunyai suami? Makam dari orang yang baru mati beberapa jam?
Saya pikir upaya penulis untuk mengundang tawa melalui humor yang disematkan pada satu bagian spesifik meleset jauh dari sasaran. Tidak lucu, tidak menghibur, (sekali lagi) tidak menambah suatu apa pun.
Lebih lanjut, ikhtiar penulis untuk menyelipkan unsur kejawa-jawaan dalam cerita ini tidak hanya gagal mencapai tujuan estetiknya, tetapi juga cringe.
Frustrasi adalah kata yang kuat. Saya mencatat bahwa literatur kita, yang seharusnya menjadi wadah inklusif bagi beragam suara dan narasi, kerap kali terjerat dalam politik budaya Jawa-sentris. Fenomena ini tidak hanya mengecilkan kekayaan budaya yang dimiliki oleh Nusantara, tetapi juga menimbulkan ketidakseimbangan representasi yang serius. Saat unsur kejawa-jawaan dipaksakan ke dalam tulisan dengan cara yang kurang organik, bukan hanya estetika naratif yang terganggu, tetapi juga integritas literatur sebagai cerminan dari pluralitas Indonesia. Kita harus bertanya, mengapa dalam keberagaman yang begitu luas, hanya satu suara yang terus-menerus didengungkan?
Malah, menurut saya, sebagai penulis kita harus selalu bertanya: Kenapa harus Jawa?
Kalau tidak memberikan dimensi baru atau memperkaya narasi atau memberikan perspektif unik atau memperdalam pemahaman atau memiliki fungsi yang integral dalam memajukan alur cerita, kenapa harus Jawa?
Berikut adalah beberapa dari banyak hal yang mengganggu saya, antara lain karena tidak keren, tidak bertalian dengan cerita, atau kombinasi keduanya.
- Beberapa hari kemudian, hari itu masih pagi sekali, bahkan matahari pun belum berani menunjukkan dadanya yang terbakar.
- Mereka semua berlari ke arah Sujud, kemudian menutupi kepala Sujud dengan karung goni lecek penuh tambalan bekas wadah bulu ayam tukang jagal sebelah. Mereka membawanya ke polsek setempat dan mengamankannya.
- Dia menatap sekilas wajahnya pada genangan air hasil rembesan hujan di dalam terali. Sudah lama aku tak berkaca, wajahku sangat buruk, seperti cecak saja.
- Sujud didudukkan di sebuah kursi yang dibilang panas. Sebenarnya kursi itu tidak panas, bahkan dingin, karena AC yang berembus di ruang kejaksaan sangatlah rendah.
Riset dan Stereotip – Yang Tidak Mungkin Ada di Rezim Jokowi
Riset merupakan elemen krusial dalam penulisan sebuah cerita, terutama ketika penulis menyadari adanya kesenjangan yang signifikan antara pengetahuan yang dimiliki dan realitas yang ingin dijelajahi. Kesadaran ini mendorong penulis untuk menyelami lebih dalam, mencari pemahaman yang lebih luas mengenai subjek yang hendak dicipta. Riset yang saksama memungkinkan penulis untuk menangkap nuansa, konteks, dan detail yang akan memperkaya narasi, memberikan lapisan keaslian yang tak tergantikan dan meningkatkan kredibilitas karya.
Tanpa riset yang memadai, sebuah cerita dapat dengan mudah tergelincir menjadi cerminan dari pengetahuan yang dangkal dan perspektif yang sempit. Ini bukan hanya berdampak pada kualitas estetika karya, tetapi juga pada kemampuannya untuk berkomunikasi dengan pembaca secara efektif. Riset membantu penulis untuk membangun dunia yang kohesif dalam narasi mereka, di mana setiap elemen, dari karakter hingga latar, beroperasi dengan logika internal yang konsisten dan meyakinkan. Sebuah proses yang membutuhkan ketekunan dan dedikasi.
Riset bukan hanya tentang akurasi faktual, tetapi juga tentang memahami dan menghormati pengalaman manusia dalam semua kompleksitasnya. Penulis yang melakukan riset dengan hati-hati dapat menavigasi topik yang sensitif dan kompleks dengan nuansa dan empati, serta menghindari stereotip dan penyederhanaan.
Berbicara tentang stereotip, penelitian yang cermat dan akurat memang merupakan alat penting bagi penulis untuk menghindari jebakan stereotip yang seringkali mereduksi kompleksitas karakter ke dalam cetakan yang mudah dikenali dan diprediksi. Namun, riset yang berakar pada kenyataan faktual juga harus mampu menuntun penulis untuk menanamkan kaki mereka pada realitas yang sebenar-benarnya, di mana karakter-karakter yang diciptakan tidak hanya sekadar lepas dari klise, tetapi juga merefleksikan nuansa dan paradoks yang ada dalam kehidupan manusia.
Dalam puncak konflik cerita, kematian hakim setelah mendengarkan sebuah berita menunjukkan bahwa hakim tersebut tak memiliki dosa. Hal ini yang kemudian menimbulkan pertanyaan di benak saya sebagai pembaca: ‘Apakah mungkin di zaman sekarang ini, di mana korupsi dan Jokowi eksis beriring-iringan, masih ada ruang bagi eksistensi hakim yang tak berdosa?’
Penutup – Tentang Saya
Pengalaman membaca adalah sebuah fenomena yang kompleks dan sering kali paradoksikal, atau setidaknya bagi saya. Kenikmatan membaca tampaknya telah menguap dalam hiruk-pikuk analisis dan penilaian yang tak berkesudahan. Atau setidaknya, bagi saya. Aktivitas yang dulunya merupakan pelarian singkat dari realitas, kini menjadi perang penuh darah dan air mata, di mana teks-teks dibongkar dan dihakimi dengan sifat obsesif (hiperbola, atau setidaknya memang benar begitu bagi saya). Rasa rindu akan kegiatan membaca yang murni—membaca demi membaca, demi kesenangan semata, demi momen-momen singkat namun berharga untuk terlepas dari morat-marit kehidupan nyata—kini menjadi semakin mendesak. Atau setidaknya begitu bagi saya.
Ironisnya, dalam mencari kesenangan tersebut, saya sering kali terjebak dalam siklus yang sama yang saya coba hindari: membaca dengan niat untuk mengkritik, bukan untuk menikmati. Dan ketika dihadapkan pada bacaan yang kurang menarik, yang tidak memenuhi standar estetika atau intelektual saya, rasa frustrasi itu kian bertambah. Bacaan-bacaan yang ‘jelek’ ini, yang mungkin sebelumnya akan saya skip without a second thought, kini menjadi penghalang dalam pencarian saya akan kesenangan membaca yang autentik.
Ini adalah zaman di mana jumlah tidak lagi menjadi indikator kualitas. Banyaknya tulisan yang bermunculan tidak serta-merta mencerminkan peningkatan dalam kualitas literasi. Sebaliknya, kita melihat bagaimana bacaan-bacaan jelek lolos dari kurasi dan mendominasi, mengaburkan garis antara tulisan yang berharga dan yang tidak; menciptakan tantangan baru bagi pembaca untuk menemukan konten yang benar-benar bahari, pun membedakan mana yang layak dibaca dan mana yang sebaiknya dihindari.
Pada akhirnya, kita harus mengakui bahwa kita berada di persimpangan jalan. Kita harus memilih antara menerima kekacauan ini sebagai norma baru, atau berusaha untuk mengembalikan nilai-nilai literasi yang pernah kita junjung tinggi.
















