Review : Critical Eleven

8

Critical Eleven

Critical Eleven

Penulis: Ika Natassa

Desain sampul: Ika Natassa

Editor: Rosi L. Simamora

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-602-03-1892-9

Cetakan: X (Februari 2016)

Jumlah halaman: 344 hlmn

*

šBLURB›

Dalam dunia penerbangan, dikenal dengan istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it’s kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada suatu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

*

Sungguh sangat merisaukan hati ketika melihat goodreads’ review tentang Critical Eleven ini yang, yah… ada beberapa yang sepertinya tidak mempunyai etika dalam me-review. Mungkin beliau-beliau ini tidak pernah membaca ‘Cara Me-review Yang Baik’ oleh Mbae Evi Sri Rejeki atau Mbae Peri Hutan.

Well, setelah saya mengeluhkesahkan hal ini di twitter dan dengan sengaja mencolek sang penulis langsung, Mbae Ika, her answer is such a relieving.

“Tidak apa-apa. Menikmati karya itu pengalaman personal, dan cara masing-masing orang berbagi pengalaman personal itu berbeda-beda :p :p

Paling tidak dia sudah menghargai dengan membeli bukunya, daripada cari bajakan.”

Begitulah.

Dan jika penulisnya sendiri selow, lha mbok saya nggak perlu ceriwis-ceriwis lagi tho? Ehe.

Uh, oh! Kalau begitu saya harap review saya kali ini semoga menjadi ajang berbagi pengalaman personal yang bukan hanya tidak menyakiti sesiapa, juga mencerahkan.

#walauakubukannabiakuinginmencerahkan #meesterzenauntukDKI2017 #bodoamat

Berkisah tentang Ale dan Anya yang pisah ranjang setelah empat tahun menjalani biduk rumah tangga. Penyebabnya adalah suatu tragedi besar yang menyakiti hati keduanya. Tak ada yang salah sebenarnya. Menyalahkan Tuhan pun percuma. Bukankah kitab-kitab itu menyatakan kalau Tuhan Maha Benar Atas Segala?

Untuk menghadapi tragedi tersebut, keduanya memilih untuk merayakannya dengan cara masing-masing. Dalam diam, dalam tangis, dalam benci, dalam rindu yang terbantahkan, dalam doa yang tak usai-usai terujar, dalam gumul tubuh setelah dahaga satu kemarau.

Ale hampir putus asa. Segala cara telah ia lakukan agar Anya tetap di sisinya. Berhasil, namun Anya yang tinggal adalah Anya yang berbeda. Yang pasif, yang menganggapnya ada namun tiada, yang masih memakai cincin perkawinannya namun tak lagi sudi seranjang.

Lalu, apa yang harus Ale lakukan ketika suatu hari ia pulang dengan post-it tertempel di pintu lemari Anya yang sudah setengah kosong?

#OOOWWW

Ucet-ucet-uceeet!!! Critical Eleven really, really broke my heart : (

Ika Natassa mampu membuat saya cekikikan macam perawan, trenyuh, dan meneteskan air mata ketika membaca buku yang spektakuler ini. Critical Eleven adalah buku ketiga Mbae Ika yang saya baca setelah Divortiare (yang bacanya dulu waktu saya masih SMP) dan Antologi Rasa.

Dengan sudut pandang yang berganti-ganti antara Anya dan Ale, juga cara penulisan berbeda yang digunakan atas keduanya, membuat saya tak kesulitan mengikuti isi pikiran mereka. Anya yang ber-aku dan Ale yang ber-gue sama sekali tak membuat saya pusing ataupun siwer (mengutip kosakata kenalan saya yang kapok setelah membaca Antologi Rasa. Katanya, “Too good to be true. LOL. Man, puhlease.)

Untuk kamu yang sama sekali buta bahasa Inggris, saya tak merekomendasikan buku ini. Kecuali kamu memiliki kamus bahasa Inggris, atau yang lebih canggih, Google Translate, untuk menerjemahkan beberapa penggalan kalimat bahasa Inggris yang tak difasilitasi footnote.

Dan bagi saya sendiri, novel dengan dwibahasa seperti ini selain menambah khazanah pengetahuan, juga memiliki sensasi tersendiri yang sulit saya jabarkan. Mewah, lux, berkelas, entahlah. Sulit. Dan saya tidak bermaksud meremehkan mereka yang seketika menolak membaca buku ini hanya karena matanya siwer oleh banyaknya kalimat-kalimat italic di dalamnya. Sungguh.

Sedari awal pun saya sudah jelaskan kalau saya hanya ingin berbagi tentang pengalaman personal saya.

Ehe.

Jika saja saya wanita, maka saya tanpa perlu bermalu-malu, tanpa perlu berpikir dua kali, tanpa perlu bertendensi apa pun, akan menyatakan kalau saya jatuh cinta dengan Aldebaran Risjad.

Sangat-sangat jatuh cinta.

Cara Ika membuat Ale mendeskripsikan cintanya kepada Anya, begitu… begitu… manis.

Tak ada yang tak akan jatuh cinta kepada Ale. Jamin.

Pun begitu dengan Tanya Laetitia Baskoro (well, jadi ngerti susahnya usaha Ale menghafal nama tengah Anya sebelum ijab). Merasakan perasaan Anya ketika menjabarkan betapa dia rindu setengah mati, juga benci setengah mati kepada Ale membuat saya bingung sendiri. Plis deh, Nya! Sebegitu susahnya kah?

: (

Kalau kamu sempat bingung di awal-awal membaca buku ini, maka kamu tidak sendiri. Namun percayalah, puzzle-puzzle kebingunganmu itu satu-satu akan terpecahkan, dan membuat kamu merasa takjub karena telah membaca novel yang aduhai kerennya ini.

Dan kalau sampai di sini kamu masih ragu buat membacanya, maka saya merasa gagal sebagai reviewer. Plis atuhlaaah! Buku bagus banget ieu teh : (

Saya suka kovernya, flashback-nya, konsepnya, jalan ceritanya, temanya, karakternya. Saya suka Si Jeki, Risjad’s Family, naskah yang typo-nya nihil, filsafat-filsafatnya, Jakarta, konfliknya. Saya suka ibu-ibu di commuterline, abang-abang fotokopi, mbak-mbak Frank and Co., Nino, ketoprak Ciragil.

Saya suka semuanya.

Semuanya.

And because of that, this book deserves these stars…

Bintang 5

Saya menunggu buku Mbae Ika selanjutnya! xoxo

Advertisements