Review : Melarin

3

C360_2017-03-30-08-29-23-484-01

Melarin

Penulis: Muftia Dinastri, Wardatul Aini, dkk

Editor: Tiara Purnamasari

Layout: Tiara Purnamasari

Desain sampul: Roeman-Art

Penerbit: Mazaya Publishing House

ISBN: 978-602-73734-6-4

Cetakan: I (April 2016)

Jumlah Halaman: 202 hlmn

*

ᴥBlurb ᴥ

Sudut-sudut dipenuhi oleh ribuan penduduk. Mereka mengukir setiap jengkal langkah menjadi sejarah yang tertata hingga tak pernah ada orang yang dapat menghancurkannya. Rumah-rumah kayu adalah sumber kekuatan karena di sanalah mereka menyembunyikan cikal bakal cahaya mereka. Namun, kau tahu, negeri ini tak bisa hidup tanpa satu hal. Puisi ajaib Sang Ratu bernama  melarin. Ya, puisi orang yang telah lama aku kenal.

-Penggalan cerpen juara 1 “Melarin” karya Muftia Dinastri

Gadis itu menghela napas. Kini rambutnya telah dikepang rapi. Cantik. Kemudian dia beranjak duduk di sebuah kursi tua lengkap dengan sebuah meja tua. Di sinilah A Ling menuliskan semua harapannya pada buku bewarna pink dengan sebuah pulpen ajaib yang bagian atasnya ada cermin bulat kecil.

-Penggalan cerpen juara 2 “Cermin Pink Ajaib” karya Wardatul Aini

*

Yang paling sulit dari mengulas sebuah buku, baik itu novel maupun kumpulan cerpen, adalah menciptakan paragraf pembuka yang wow bin mencengangkan bin menakjubkan bin tiada-duanya-sampai-sampai-pengulas-merasa-lebih-baik-modol-daripada-begadang-memikirkan-membuat-suatu-kalimat-pembuka-dalam-ulasan-yang-ciamik-bin-menyenangkan. Sebab tanpa modal paragraf pembuka yang wow dan sebagainya, dan sebagainya, apa bedanya ulasan-ulasan saya dengan ulasan-ulasan mereka?

Aih. Mari lupakan saja apa-apa tentang saya, barang beberapa jenak.

Melarin lahir dari kegelisahan suatu penerbit yang heran mengapa rak-rak fiksi fantasi di toko-toko buku di Indonesia masih didominasi oleh karya-karya terjemahan milik penulis-penulis asing yang tahu nasi padang saja dari lagu. (Tiba-tiba terbayang, J.K. Rowling makan dengan tangan, kaki diangkat sebelah, sibuk menggigiti tulang ayam.)

Kumpulan cerpen ini memuat dua-delapan buah cerita pendek yang ditulis dengan gaya dan kekhasan masing-masing, membuat Melarin ini semakin kaya akan cerita-cerita. Salah satu cerpen saya ada di dalamnya.

Dan di dalam kesempatan yang baik ini, saya akan mengulas beberapa—tentu tidak semua—cerita yang menurut saya layak untuk dikupas dan dibahas.

Tom Si Jempol – Alfa Ulfatihah NE

Cerita ini mempunyai eksplorasi ide dan imajinasi yang tinggi terhadap tema: fantasi. Campur baur dongeng-dongeng macam Jack dan Pohon Kacang, Cinderella, dan Gadis Bertudung Merah dengan inti cerita Thumbelina membuat kisah ini tak membosankan dari awal sampai akhir. Pun meski tak halus benar, penulis terlihat matang dalam membuat cerita hingga membuat satu kesatuan yang utuh.

Salut.

Lima bintang/lima bintang

Dua Kepala – Eka Sumantri Samosir

Eka Sumantri berani mengangkat hal baru nan unik di dalam kumpulan cerpen ini: politik. Sentilan-sentilan yang nyata benar mengkritik sesiapa membuat saya terhibur jua bertanya-bertanya; benarkah pemerintah sekarang memiliki ‘dua kepala’?

Terlepas dari kurang gregetnya karakter yang dibentuk, juga hal-hal tidak terlalu orisinal macam “Pelahap Waktu” (siapalah saya yang lancang benar mengkritik ketulenan karya seseorang), cerpen ini adalah salah satu cerpen terbaik di dalam buku ini.

Empat bintang/lima bintang

Kutukan Misty – Fanny Christina Hadiyanto

Satu hal yang langsung muncul dalam kepala kala membaca cerpen berlatar sekolah menengah ini adalah: yaampun teenlit binggow. Perkara-perkara remaja seperti bulliying, pencarian perhatian dan jati diri, dikemas unik juga ringan.

Penulis punya bakat, baik-baik saja mengasahnya.

(Masih bingung mau dikasih tiga-setengah atau) Empat bintang/lima bintang

Di Balik Cahaya – Irfan Juhari

Membaca cerpen ini seperti menonton film Jumanji ataupun apa-itu-yang-ada-boardgame-luar-angkasa-nya-persis-Jumanji-maaf-malas-googling-haft.

Dulu, dulu sekali, pernah saya berandai-andai memiliki mesin waktu demi memperbaiki apa-apa yang perlu diperbaiki dari masa lalu; kebodohan-kebodohan, perpisahan, ketidaktahuan yang masif dan sebagainya. Sekarang pun masih getol mengumpamakan, memisalkan.

Alah.

Judul cerpen milik Mas Irfan ini menurut saya agak ndak nyambung dan terkesan mengecoh. Tapi apalah arti dari sebuah judul, bukan? Dan terlepas dari itu, cerpen ini memiliki makna yang sangat nyata dan umum adanya.

Apik.

Empat bintang/lima bintang

Jerit Generasi di Abad 99 – Lailatur Rahmah

Astaghfirullah al adzhim.

Entah mau dibawa ke mana cerpen ini. Sureal bukan, fantasi bukan. Satire bukan, sindiran bukan. Salah ketik di mana-mana. Alur hancur. Inti cerita ndak ada. Ending gantung.

Astaghfirullah al adzhim.

Satu bintang/ima bintang

Vendeta – M. Sanjaya

Bisa dibilang, cerpen ini mempunyai ide/premis cerita yang paling baik, paling fantasi. Berkisah tentang perang dunia kesekian antara Bangsa Athnas (penamaannya kreatif!) dan pasukan langit (sayangnya kurang kreatif). Kedua bangsa ini telah berselisih dan berkesumat secara terus menerus di Bumi, hingga perseteruan mereka, suka tidak suka, ikut menyeret penduduk bumi.

Diceritakan dari sudut pandang seorang manusia bumi, yang adalah korban perang, membuat saya penasaran tentang apa-apa yang terjadi sesudahnya.

Teramat ciamik. Masih sangat bisa dikembangkan. Saya tunggu ya novel utuh tentang Bangsa Athnas ini, Mas Sanjaya!

Empat bintang/lima bintang

Melarin – Muftia Dinastri

Saya memilih buku Melarin untuk diulas karena saya tak menjadi juara pertama pun kedua dalam kategori ini. Memang pongah, betul, tetapi selain itu karena rasa penasaran jua ikut andil.

Dan saya merasa cerpen saya di buku ini tidak ada apa-apanya dibanding Melarin :’)

Meski lebih doyong ke sureal daripada fantasi, Melarin mampu membuat saya teramat terhibur. Diksinya istimewa, premisnya matang,  deskripsinya wow binggow. Lengkap. Hampir sempurna.

Lima bintang/lima bintang

Think All About People – Pratiwi Nur Zamzani

Astaghfirullah.

Idem.

Astaghfitullah.

Satu bintang/lima bintang

Pemberi Ide dan Perpustakaan Ajaib – Salwidyah

Cerpen ini satu-satunya yang membuat hati saya… hangat.

Berkisah tentang Gadis Pemberi Ide yang tiba-tiba menghilang dari suatu negeri bernama Jordein. Dia lelah pada manusia-manusia yang menggantungkan harapan mereka kepada dia. Dia merasa itu tak baik, oleh karena itu ia tinggalkan kepada mereka sebuah perpustakaan ajaib.

Dengan keterbatasan saya terhadap kata-kata, meski teknik bercerita di cerpen ini biasa benar, entah kenapa karya Mbak Salwidyah ini mampu mendapatkan…

Lima bintang/lima bintang

*

~Trivia~

Lagu yang cocok dengan kumcer ini Alligator Sky-nya Owl City :)))

Kesan yang diharapkan: Siapa ini yang punya cerpen lebi bagus dari ue~

Kesan yang didapatkan: Anjay bagus banget :(((

Tokoh favoritkuh Arina di Pemberi Ide dan Perpustakaan Ajaib.

Kumcer Melarin yang kaya ini adalah novel kedua saya yang saya baca di tahun 2017. Selain untuk menuntaskan tantangan yang saya janjikan kepada diri sendiri, ulasan kumcer ini juga diikutsertakan dalam Monday FlashFiction Reading Challenge yang akan dihelat selama setahun kedepan.

Dan berdasarkan akumulasih, kumcer ini pantas mendapatkan…

Bintang 3

Selamat!

Sampai ketemu di ulasan selanjutnya!

Advertisements