Review : 3 Luka 4 Wanita 1 Cerita

3

 c360_2017-02-16-08-07-30-153

3 Luka 4 Wanita 1 Cerita

Penulis: Nofrianti Eka P.

Editor: Nerin Richa

Layout: Nerin Richa

Design: Rahmi Intan

Penerbit: Nerin Media

ISBN: 978-602-73049-5-6

Cetakan: I (Januari 2016)

Jumlah Halaman: 152 hlmn

*

ᴥBlurb ᴥ

 “Kau makin membuatku merasa ngeri untuk menikah.” -Kara-

“Bukankah cinta bisa dipelajari?” -Aning-

“Aku rindu gombalmu itu sekarang.” -Ayu-

“Aku mencintainya dan aku yakin dia juga mencintaiku.” -Dea-

*

“Rindu selalu mencari jalan pulang

Tak peduli

Seberapa jauhnya…”

-Nofrianti Eka P.

“Ayu, wanita muda berparas cantik yang harus kehilangan suami yang dicintainya karena leukimia. Ia berjuang untuk bangkit, berjuang untuk merelakan suami yang memanjakan dan menyayanginya sepenuh hati. Merelakan seseorang untuk pergi selamanya. Ikhlas itu… tidak mudah.

Dea, seorang istri yang mendapat perlakuan kasar dari suami dan sindiran tajam dari mertua karena tak kunjung hamil. Ada rahasia besar yang ia simpan. Alasannya, ia terlalu mencintai suaminya.

Kara, yang mendapat trauma melihat kegagalan pernikahan ibunya dan menjauh dari ayah kandungnya. Trauma ini menjadikannya enggan menjalin hubungan dengan pria sementara ada lelaki yang sedang gigih mendekatinya. Kara harus menghadapi kenyataan bahwa tumbuh rasa suka di hatinya namun di sisi hati yang lain, ia takut bahwa pemikiran negatifnya tentang lelaki adalah benar.

Aning, perempuan belia yang impiannya seketika runtuh saat ia diperkosa dan mendapati dirinya hamil. Bingung, kalut, dan takut, ia memutuskan diri untuk menceburkan dirinya di sebuah danau. Ia takut menghadapi manusia yang mungkin akan membuat hidupnya semakin berat.

Ketiga wanita dewasa, bertemu dengan seorang gadis yang sedang putus asa dalam hidupnya. Saat mereka bertemu, mereka mendapati bahwa di dunia ini, tidak ada orang yang menjalani hidupnya dengan mudah. Semua perempuan memiliki masalah. Semua perempuan mungkin memiliki masa lalu yang menyedihkan. Semua perempuan mungkin pernah merasakan kehilangan. Semua perempuan mengalami kekecewaan.

Keempat wanita yang bertemu secara tak sengaja ini akhirnya membuka hati mereka, mencoba untuk menguatkan satu sama lain, saling merangkul dan memberi rasa sayang agar mereka tidak merasa sendiri. Mencoba untuk memaafkan orang-orang yang meninggalkan mereka, mencoba menutup pintu trauma dan memersilakan mempersilakan kebahagiaan masuk kembali ke dalam diri mereka.”

Dan tanpa embel-embel ‘prolog’, saya langsung disuguhkan penjelasan tentang siapa-siapa dan apa-apa yang akan terjadi dalam ini novel. Jujur saja, tulisan di atas sangat membantu saya di bagian-bagian awal untuk mengerti jalan cerita novel yang memiliki banyak tokoh utama ini.

Yep, banyak tokoh utama. Ayu, Dea, Kara, dan Aning yang begitu pandai menyembunyikan rahasia demi rahasia.

“Biar bagaimana pun, seorang istri harus bersikap baik pada suaminya.”

-Dea (hlmn 17)

Awal-awal proses membaca yang menyenangkan ini, saya sempat dibuat sangsi akan kualitas dari novel perdana Mba Eka. Tiga bab pertama masih terasa kaku, typo di mana-mana, dan satu yang membuat saya sampai saat ini masih merasa heran: penulis berlama-lama menggunakan ‘si istri’, ‘si suami’, ‘teman si istri’ untuk menarasikan isi cerita yang menurut saya terlalu berlebihan. Apalagi tidak berhenti-henti sepanjang satu bab penuh.

Tetapi, di tiga belas bab sisanya, Mba Eka dengan sangat sukses menunjukkan kualitas tulisannya yang apik tenan!

Sudah hampir dua tahun saya mengenal penulis juga karya-karyanya, dan beberapa kali berdiskusi seru tentang hal-hal yang berkaitan dengan literasi. Dan satu yang saya tangkap dan mengerti benar adalah kemampuan beliau dalam membangun cerita yang utuh dan membuai.

Di novel 3 Luka, 4 Wanita, 1 Cerita ini, penulis mampu membangun karakter tokoh per tokoh dengan elok. Ayu yang bijak menghadapi masa depan yang menjanjikan kesendirian. Dea yang rapuh di luar, tabah di dalam kala menghadapi suaminya yang ringan tangan. Kara yang ceplas-ceplos, yang membangun dinding tinggi demi melindungi hati. Aning yang polos, yang suci betul, yang tengah belajar mengerti apa arti kehidupan.

“Lelaki memang biang masalah.”

-Kara (hlmn 42)

Membaca novel ini seperti menyelami diri sendiri. ‘Sudahkah pantas saya mengeluh?’ ‘Sudahkah bijak saya menghadapi masalah-masalah yang ada di pelupuk mata?’ ‘Sudahkah tepat kepada siapa saya meminta pertolongan?’ dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sama peliknya, sama sulitnya, kerap hadir di tiap-tiap halaman.

Dan novel ini memiliki satu-dua jawabannya.

“Jangan khawatir, jangan bersedih! Kamu sudah berusaha melakukan hal yang tepat. Jangan pedulikan pendapat orang yang bahkan tidak mengenalmu dengan baik. Tidak ada hal yang mudah di dunia ini dan mungkin masalah yang kita alami sungguh kecil dibanding orang lain di luar sana.”

-Ayu (hlmn 55)

Romansa memang salah satu tema yang tak habis-habis diangkat, tak usai-usai dikulik. Beberapa buku bergenre tersebut yang pernah saya baca memiliki ide yang sederhana dengan eksekusi yang rapi juga istimewa. Dan 3 Luka, 4 Wanita, 1 Cerita ini adalah salah satunya.

Premis-premis seperti kekerasan dalam rumah tangga dan ditinggal mati suami tercinta, bukankah sering kita dengar dan/atau baca? Baik di cerpen-cerpen yang diunggah pada laman-laman sastra, maupun novel-novel daring jua luring?

Tetapi di kisah 3 Luka, 4 Wanita, 1 Cerita ini, hal-hal biasa tersebut dikemas dengan berbeda.

Penulis pandai menyimpan rahasia-rahasia yang ada pada setiap ceritanya dengan legit, tanpa bermaksud mengecoh pun membodohi pembaca. Sebut saja rahasia dibalik kemandulan Dea dan masa lalu Kara. Sekali lagi, apik tenan!

“Bukankah teman itu saling menguatkan?”

-Aning (hlmn 148)

Dari empat kisah yang disatupadukan, saya pribadi menyukai cerita Kara dan Aleks (dengan ‘K’ dan ‘S’. Bukan dengan ‘X’). Mungkin karena premis yang disuguhkan begitu pelik, juga adanya kejutan-kejutan yang tak sempat saya harapkan. Awalnya saya kira jalan ceritanya hanya lurus-lurus saja. Memang seharusnya hidup tak payah mengira-ngira, bukan?

Dan yang saya sukai paling buntut adalah kisah Aning. Terlalu sedikit porsi Aning di dalam buku ini. Kapan dan bagaimana dia sampai diperkosa tak dijabarkan. Lalu mengapa ketika hamil tiga bulan beliau baru memutuskan untuk bunuh diri? Kalau sebegitu depresinya, bukankah akan lebih masuk akal jika perbuatan yang tak boleh jadi itu dilakukan usai diperkosa?

Eits! Ingat, ‘bunuh diri kan tidak seperti rekreasi ke suatu pulau misterius, di mana bila ternyata pulau tersebut ‘basi’, kita bisa pulang atau pergi ke tempat lain’.

“Aku hanya berpikir, kamu tidak bisa lari terus-terusan dari kenyataan.”

-Aleks (hlmn 87)

Novel ini (terlepas dari runutnya jalan cerita, rapinya konflik, dan apiknya penututuran kisah-kisah), memiliki kekurangan yang bersifat teknis. Seperti penulisan brukat yang harusnya brokat, handal yang harusnya andal, puteri-putri, wudhu-wudu, setoples-stoples, shampoo-sampo, penggunaan partikel –pun, dan peleburan (hanya kata dasar yang berawalan huruf ‘p’-lah yang lebur jika diberi imbuhan. Contoh: peduli-memedulikan. Salah: persilakan-memersilakan, pertemukan-memertemukan).

Sayangnya, kesalahan-kesalahan ini ada di hampir seluruh bab. Mungkin penulis bisa lebih concern lagi untuk hal-hal yang bersifat teknis seperti ini di kemudian hari. Memang kalau sekadar mengerti, saya yakin pembaca mana pun akan mengerti. Tapi itu bukan satu-satunya hal yang penting dalam sebuah tulisan. Eh…

Menurut kalian, kebenaran tata bahasa dan gramatika itu penting gak sih?

“The very essence of romance is uncertainty.”

-Oscar Wilde, the Importance of being Earnest and Other Plays

Novel 3 Luka, 4 Wanita, 1 Cerita yang beralur maju-mundur ini adalah novel pertama yang saya baca di tahun 2017. Selain untuk menuntaskan tantangan yang saya janjikan kepada diri saya sendiri, ulasan novel ini juga diikutsertakan dalam Monday FlashFiction Reading Challenge yang akan dihelat selama setahun kedepan. Dan sebagai novel pembuka tahun, karya Mba Eka ini sangat sukses menghibur dan mendidik tanpa terkesan menggurui.

Oleh sebab itu, bintang-bintang ini pantas untuknya…

Bintang 4

YAY!!!

Uh, oh… Ada pertanyaan dari Monday FlashFiction; “Kalau ditakdirkan bertemu langsung dengan penulisnya, apa yang kamu ingin sampaikan padanya, berkaitan dengan bukunya yang telah kamu baca?”

Gampang sih, tinggal whatsapp aja tanpa perlu capek-capek lagi nunggu takdir. Ehe. Paling yang saya mau tanyakan; kenapa judulnya 3 Luka, 4 Wanita, 1 Cerita? Bukannya semua wanita (empat) mempunyai lukanya masing-masing?

Sampai ketemu di ulasan selanjutnya!

P.S.

Karena novel ini diterbitkan secara indie, maka kalian bisa memesannya langsung kepada Mba Eka atau Penerbit Nerin Media.