Review: Matahari di Atas Bukit

0

Processed with VSCO with t2 preset

Matahari di Atas Bukit

Penulis: Ris Prasetyo

Lukisan cover: Steve Kamajaya

Penerbit: ALAM BUDAYA

Cetakan: I (1985)

Jumlah halaman: 277 hlmn

*

ᴥBlurb ᴥ

Seorang insinyur wanita berada di wilayah pertambangan. Di sini ia terlibat dengan berbagai masalah; cinta, kekuasaan serta berbagai intrik kedegilan manusia. Namun tidak sejengkal pun ia mundur.

Novel ini luar biasa, karena ia membeberkan berbagai sisi perasaan wanita; kekerasannya, kelembutannya dan perlawanannya. Ris Prasetyo menuang semua secara intens dan penuh penghayatan, maka layak novel ini memenangkan hadiah kedua dalam Sayembara Fiksi Majalah Sarina 1.

*

“Ayah betul bahwa kemerdekaan membutuhkan ide-ide dari para pemikir. Tetapi sebagai calon pemimpin yang baik, tidak hanya duduk di belakang meja menunjuk kesalahan bawahan, Yah. Dia harus bisa terjun langsung ke lapangan. Kalau perlu memberikan contoh bagaimana yang sebenarnya harus diperbuat.”

-Utari (hlmn 22)

Berkisah tentang seorang insinyur wanita yang menjadi Base Camp Master di salah satu pusat pertambangan batu mangan di Bima, Nusa Tenggara Barat. Meski memiliki jabatan yang lebih tinggi di antara yang lain-lain, Utari tetap bisa mengayomi dan mampu bersahabat dengan anak-anak buahnya; Zulfikar, Kustomo, Tony, Sahala, Fauzi dan Cong.

Sungguh baik hati wanita yang satu ini, selain berusaha dengan keras demi melancarkan proses tambang perusahaannya, Utari juga menaruh simpati kepada kondisi masyarakat yang terbelakang dan kurang berpendidikan di desa-desanya. Kondisi masyarakat di desa-desa itu, Kalemba contohnya, sungguh sangat memprihatinkan. Anak-anak di sana tak mampu sekolah sampai ke jenjang yang cukup tinggi. Sedangkan orang dewasanya kerap bermalas-malasan, padahal kebutuhan semakin lama semakin mahal.

Adanya proyek tambang ini tentu disambut dengan gembira oleh para masyarakatnya. Banyak sekali kebaikan-kebaikan yang timbul akibat adanya proyek ini, sebut saja terbukanya lapangan pekerjaan bagi seluruh golongan masyarakat (termasuk anak-anak dan wanita. Psstttt… ini sebenarnya tidak dibolehkan loh); meningkatnya perputaran uang di sana sebab orang-orang proyek sedikit banyak membutuhkan produk-produk yang dihasilkan masyarakat seperti ikan, minyak kelapa, sayur-mayur, dan lain-lain; juga pembangunan infrastruktur demi kemaslahatan masyarakat.

Namun, akan selalu ada orang-orang yang tak berkenan dengan perubahan. Apalagi jika perubahan itu sedikit banyak mengusik-usik kenyamanan. Sebut saja Kasim Gumba “Si Macan Putih”, jagoan kampung yang sangat ditakuti hingga penjuru pulau.

Penyebab Kasim Gumba memandang benci proyek tambang ini, tak lain dan tak bukan adalah karena banyak orang yang mulai melupakan nilai-nilai luhur dan adat istiadat masyarakat. Wanita-wanita tak lagi di rumah melayani suami dan anak mereka. Bukit-bukit digerogoti buldoser-buldoser. Dan orang-orang proyek banyak melakukan tindakan tidak terpuji dengan merayu dan menghamili anak-anak gadis di desa.

Itu, atau ada hal yang lain yang entah?

Di tengah-tengah segala sabotase yang dilakukan oknum-oknum desa—seperti dirusaknya jembatan yang baru saja dibangun Utari, paku dan duri yang diserak di sepanjang jalan, isu-isu yang disebar yang mampu memancing adu domba—Utari mendapatkan dukungan penuh dari lelaki yang dicintainya, Insinyur Joko.

Meski begitu, percayakah Utari ketika Insinyur Joko membalas cintanya? Padahal kita tahu sama tahu kalaulah Insinyur Joko adalah Don Juan yang kerap bermain api dengan wanita?

“Tunggu dulu. Politik untuk hidup atau hidup untuk politik, Zul?”

“Kelihatannya, dua hal itu sekali jalan, Bu.”

-(hlmn 38)

Ris Prasetyo mengambil semesta 1980an untuk latar waktu ‘Matahari di Atas Bukit’. Hal ini tentu menjadi pembeda dan penanda keunikan buku ini dibanding beberapa buku terakhir yang saya baca. Digempur habis-habisan oleh kemajuan dan kepesatan ilmu pengetahuan dan teknologi, saya diajak berjalan-jalan di Nusa Tenggara Barat hampir empat-puluh-tahun lalu. Dan rasanya teramat-amat-amat-amat-amat sangat menyenangkan!

Kegembiraan saya tak sampai di situ saja. Dengan budaya bahasa yang dimiliki angkatan 80an, jua ketertiban menulis yang berlaku saat itu, saya dibuat jatuh cinta pada kata demi katanya, pada frasa demi frasanya. Pada istilah-istilahnya. Pada keindahan tekniknya. Pada segala, pada semua.

wp-1502803284726.

“Siang itu betul-betul dia merasakan ibarat meniti pada kawat berduri. Maju hancur, mundur terkubur.”

-(hlmn 64)

Membaca kisah Utari bagaikan membaca kisah Raden Ajeng Kartini di dimensi waktu dan tempat yang lain. Betapa polah tingkahnya sungguh merupakan cerminan dari apa yang seharusnya wanita masa kini (dan bahkan di masa depan) miliki; teguh hati, percaya diri, lembut namun jua berani.

Dan di sinilah bagian yang paling saya sukai di buku ini, ketika Utari mendobrak segala kemapanan dan stereotip tentang wanita yang harusnya begini, harusnya begitu.

“Prestasinya yang menonjol sempat dibuktikan ketika dia memimpin pencarian urat emas di daerah Masuparia, Kalimantan Tengah. Dia telah berbuat banyak. Sebagai wanita, dia telah berhasil menyusup ke tengah-tengah rumah penduduk yang sulit ditembus, ke tengah-tengah hutan yang ganas, dan ke tengah-tengah pelacuran yang akan tumbuh di tengah hutan itu. Bahkan tak jarang dia berhasil membangkitkan semangat kaum ibu di pinggir-pinggir hutan yang terasing, atau di desa-desa yang terpencil. Dialah Kartini abad ini! Dialah Utari!”

-(hlmn 77)

Meski banyak bercerita tentang romansa antara Utari dan Insinyur Joko, juga kegigihan Utari dalam melaksanakan kewajibannya sebagai salah satu pemimpin proyek tambang ini, Ris Prasetyo tak lupa memberikan bumbu-bumbu lain seperti konflik keluarga, kedegilan manusia, dan rasa nasionalisme yang menjadikan buku ini begitu nikmat, begitu lezat untuk dibaca.

Hanya tiga hal yang sempat menjadi cabai di gigi (baca: sedikit mengurangi bookgasm yang tengah saya alami pada buku ini); pertama, penggunaan sudut pandang orang ketiga yang sempat membingungkan di awal-awal cerita. Saya agak sedikit sulit menjabarkannya jadi, maaf.

Kedua, pemakaian bahasa asing (entah Belanda, entah Perancis, duh tak pandai saya) yang kadang-kadang digunakan Insinyur Joko ketika berbicara dengan Utari yang tidak ada catatan kakinya. Ingin saya bisikkan rasanya kepada Ris Prasetyo; ‘Manknya pemb4ca-pembac4 lau perna iqut lez basa asink, hah?’

Ketiga, adegan (hampir) bunuh diri yang membuat saya terheran-heran di tengah-tengah cerita. Entah karena plothole, entah karena memang harusnya seperti itu dan perbedaan budaya dan logika di antara saya dan Ris Prasetyo-lah yang menjadi hambatannya.

“Rambut boleh sama hitam tetapi pendapat bisa berlainan.”

-(hlmn 51)

Saya, dengan teramat bahagia dan tiada secuil pun keraguan, memberikan…

Bintang 5

Selamat Ris Prasetyo. Satu yang saya ingin tahu; bagaimana caranya agar kau tahu kalau bukumu yang satu ini teramat saya cintai?

“Hati-hati bicara, Zul. Di daerah tertentu di wilayah ini uang seratus ribu sudah bisa membunuh manusia.”

“Ya, nggak usah jauh-jauh, Bu. Di Jakarta sana, gara-gara rokok sebatang, nyawa bisa melayang.”

-(hlmn 39)

Sampai ketemu di ulasan selanjutnya!

wp-1502803357517.

Advertisements

Review: Petunia yang Berguguran di Hati Senja

0

wp-1502376509426.

Petunia yang Berguguran di Hati Senja

Penulis: Ansar Siri

Editor: Tiara Purnamasari

Layout: Tiara Purnamasari

Desain Sampul: Roeman-Art

Penerbit: Mazaya Publishing House

ISBN: 978-602-6362-36-0

Cetakan: I (April 2017)

Jumlah Halaman: 123 hlmn

*

ᴥBlurb ᴥ

Kau pernah tidak percaya dengan sesuatu yang nyata-nyata terpatri di depan mata? Berharap semua itu hanya mimpi dan kau akan segera terbangun? Aku pernah membaca hal semacam ini di sebuah novel, juga menemukan tokoh beberapa film mengucapkannya. Dan sekarang, aku mengalaminya.

Mama berdiri di depan pintu, bergelayut manja di lengan seorang lelaki. Ia berusaha memberikan senyum terbaik. Kemudian mama memperkenalkan lelaki tadi sebagai pacar barunya. Aku tersentak. Selama sekian detik kesulitan menarik napas. Bukan lantaran mama berganti pasangan lagi, bukan pula karena lelaki yang dipilihnya kini tampak sebaya denganku. Lebih dari itu, lelaki yang kini sedang mengulurkan tangan dan baru saja menyebutkan nama adalah Ruwanta, orang yang kucari selama ini demi pengakuan untuk bakal malaikat kecil di rahimku.

*

“Ini tentang hati yang merapuh oleh kenangan.”

Berkisah tentang Senja yang sangat menggilai Ruwanta, teman sekampusnya di salah satu universitas di Bandung. Cinta itu begitu besar, begitu akbar, hingga cinta-cinta yang lain, yang entah kualitas dan kuantitasnya, tersamarkan oleh cinta tersebut. Termasuk cinta dari teman sedari kecilnya; Yudit.

Mungkin rasa itu bisa sebegitu agung sebab perhatian-perhatian kecil seperti yang selama ini Ruwanta berikan, yang manis dan menghangatkan, tak lagi bisa diterima Senja di rumahnya. Segala tercipta karena mamanya berubah semenjak ditinggal mati oleh suaminya, papa Senja. Sedari sana, hanya tersisa sudut-sudut rumah yang dingin, botol-botol bir, serta kebencian-kebencian yang nyata di pelupuk mata.

Mungkin sebab itulah yang menjadikan Ruwanta semestanya Senja.

Namun, masihkah Ruwanta menjadi segala Senja setelah apa-apa yang terjadi di antara mereka? Setelah ditinggalkannya Senja seorang diri berteman rasa takut dan kekecewaan? Setelah apa-apa yang dia lakukan pada mama?

Dan bagaimana dengan cinta Yudit yang entah itu?

*

“Menurutku senja berarti sesaat. Apa yang bisa dibanggakan dari sesaat?”

-Senja (hlmn 3)

Membaca novela yang kurang dari seratus lima puluh halaman ini adalah sebuah guilty pleasure bagi saya; ingin baca terus, tetapi di sisi lain tak ingin cepat-cepat menyelesaikan kisah-kisahnya. Apalagi pada novela jawara milik Daeng Ansar ini.

Mengambil semesta anak kuliahan, buku bersampul lembut dengan bunga petunia berwarna ungu ini mampu mengajak saya berpetualang di dalam kepala Senja, tokoh utama wanita kesayangan kita. Senja diimajikan sebagai seorang mahasiswi di salah satu universitas di Bandung yang tengah asyik menikmati hubungan-entah-apa yang dia jalin dengan Ruwanta. Istilah gawulnya, Hubungan Tanpa Status (HTS). Bukan tanpa sebab; Ruwanta kerap memberikan perhatian-perhatian yang menyiratkan sesuatu kepada Senja, membuat Senja berharap dan terus berharap tanpa kepastian.

Padahal di sana ada Yudit, lho, Senja! Yudit! Yang kamu diamkan tiap kali dirinya memulai obrolan! Yang tak kamu acuhkan setiap dirinya memberikan perhatian! Yang kamu balas dengan kekecewaan-kekecewaan atas semua dia punya ketulusan-ketulusan!

Eh, maap, esmosi.

Begitulah, manusia memang kerap mengejar-ngejar apa yang buruk namun nikmat bagi mereka, lalu tak mengindahkan apa yang baik bagi mereka.

Semakin ke belakang, saya dibuat semakin mangkel oleh Senja dan Ruwanta. Betapa bodohnya, betapa betapa mengesalkannya. Dan untuk kesekian kalinya, saya dibuat sebegini jengkel oleh tokoh rekaan Daeng Ansar.

Beruntung, Senja memiliki Nila di hidupnya yang hampir carut-marut; seorang sahabat yang selalu ada bahkan di saat kita melakukan hal-hal paling bodoh. Seorang sahabat sejati.

“Selebihnya, ia hanya pemilik pesona, sedang aku tawanannya.”

-Senja (hlmn 65)

wp-1502376531714.

Kemampuan Daeng Ansar bercerita memang sudah tak diragukan lagi. Dengan tema yang sederhana juga konflik yang lumayan rumit, kisah Senja sukses dibuat seapik ini, seciamik ini. Kemudian, yang paling saya perhatikan benar, penggunaan sudut pandang orang pertama yang teramat pas untuk gaya tulis Daeng Ansar yang alahai nian untuk dinikmati.

Dengan POV seperti ini, juga penuturan yang lembut dan manis, yang baku dan begitu mendayu-dayu, membuat saya sebagai pembaca asyik-asyik saja berpetualang dalam pikiran-pikiran Senja.

Saya diajak untuk lebih menikmati lika-liku hidup Senja.

Namun, tak bisa dibilang novela seciamik ini sudah sempurna dan tak lepas dari satu-dua kekurangan. Saltik menjadi salah satunya. Tetapi, sudah sejauh ini, saya nda akan bahas saltik-saltikan ah~ ehe ehe~

Salah duanya, risiko menggunakan cara bertutur yang manis-puitis seperti itu adalah kekurangdinamisan dalam bercerita. Daeng Ansar perlu tahu kalau tak semua isi novelanya dapat dituturkan dengan manis. Ada adegan-adegan yang mana memerlukan pompaan adrenalin agar pacu itu jantung, agar semakin nikmat apa yang dibaca.

Ingat pola ‘awalan-perkenalan masalah-puncak konflik-penyelesaian masalah-akhiran’ dalam teori Gustav Freytag? Nah, Daeng Ansar, menurut saya yang lancang ini, kurang asyique dalam mengeksekusi adegan di rel kereta api. Kami butuh pompaan adrenalin, keringat dingin, jantung yang kempat-kempot saking sibuknya memompa darah lebih cepat.

“Pernah terlintas pikiran untuk menjauh, pergi tanpa ambil pusing. Tapi sesuatu yang kubangun selama bertahun-tahun, kembali memanggil, meminta disempurnakan wujudnya di bawah payung ketulusan.”

-Yudit (hlmn 105)

Dan satu hal lain yang saya teramat jatuh hatikan dari novela ini adalah ending-nya. O, Daeng, kau pintar sekali memberikan apa yang teramat aku butuhkan dalam novela penuh luka-duka begini.

“Saya diperlihatkannya betapa pilu dan menyedihkan petunia-petunia yang berguguran. Semua kekecewaan-kekecewaan dan kelegaan-kelegaan baur jadi satu, jadi padu. Dan apa-apa yang telah terjadi dan tengah menanti, disampaikannya dengan tebu.”

-Meesterzena (IG: @meesterzena)

Dan perkenankanlah saya mengangkat topi, mengacungkan ibu jari, menyelamatkan sang empunya cerita yang telah dengan sukses menghibur saya dengan kisah-kisah di buku jawara ini. Pun, saya takkan ragu-ragu untuk memberikan…

Bintang 4

Sampai ketemu di ulasan selanjutnya!

wp-1502377657666.

Review: Semua Ikan di Langit

0

Processed with VSCO with c3 preset

Semua Ikan di Langit

Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Penyunting: Septi Ws

Ilustrator isi: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Desainer sampul: Tim Desain Broccoli

Penerbit: Penerbit Grasindo

ISBN: 978-602-37580-6-7

Cetakan: I (Februari 2017)

Jumlah Halaman: 259 hlmn

*

ᴥBlurb ᴥ

Pekerjaan saya memang kedengaran membosankan—mengelilingi tempat yang itu-itu saja, diisi kaki-kaki berkeringat dan orang-orang berisik, diusik cicak-cicak kurang ajar, mendengar lagu aneh tentang tahu berbentuk bulat dan digoreng tanpa persiapan sebelumnya—tapi saya menggemarinya. Saya senang mengetahui cerita manusia dan kecoa dan tikus dan serangga yang mampir. Saya senang melihat-lihat isi tas yang terbuka, membaca buku yang dibalik-balik di kursi belakang, turut mendengarkan musik yang dinyanyikan di kepala seorang penumpang… bahkan kadang-kadang menyaksikan aksi pencurian.

Trayek saya memang hanya melewati Dipatiukur-Leuwipanjang, sebelum akhirnya bertemu Beliau, dan memulai trayek baru: mengelilingi angkasa, melintasi dimensi ruang dan waktu.

*

“Inilah kenapa perut orang menjadi gendut kalau makan terlalu banyak: karena mereka perlahan-lahan menjadi planet, dimulai dari perut yang menyimpan begitu banyak konstelasi bintang.”

Saya yang tak pernah bosan menjalankan pekerjaannya sebagai bus Damri, pada suatu hari diajak oleh ikan julung-julung kepunyaan Beliau untuk menemani Beliau berjalan-jalan. Mulai dari bandung zaman sekarang, hingga awal mula dan akhir suatu dunia.

Dengan trayek baru yang benar-benar dari ujung ke ujung—ujung masa dan ujung ruang—Saya telah melampaui pengetahuan-pengetahuan bus seusianya. Namun, hanya satu yang kerap mengusik ketenangan busi dan radiator Saya; bagaimana cara paling baik untuk mencintai Beliau?

Dibantu seorang kecoak, banyak ikan julung-julung, pohon-pohon pengisah, dan kisah-kisah, Saya akan terus mencari tahu. Sampai hancur tubuhnya, lebur raganya.

*

IMG_20170709_205009

“Menyayangi itu adalah kegiatan yang menakutkan.”

-Saya (hlmn 64)

Membaca Semua Ikan di Langit berarti menyerahkan diri pada semesta Mba Ziggy dan mengharuskan kerelaan dari diri sendiri untuk sekadar menjadi debu di antara planet-planet.  Novel jawara ini membuat saya terheran-heran akan bentuk imajinasi yang dimiliki penulisnya; seabsurd dan semegah apakah?

Yang saya temui pada awal-awal proses menelaah diri sendiri dengan membaca Semua Ikan di Langit ini adalah: 1. Ide-ide yang fresh dan sama sekali tidak banal; 2. Pengemasan plot yang sedemikian apik; 3. Penceriteraan yang sebegini ulung.

Tak heran, Laporan Pertanggungjawaban Dewan Juri Sayembara Novel DKJ 2016 berbunyi seperti ini:

“’Semua Ikan di Langit’ ditulis dengan keterampilan bahasa yang berada di atas rata-rata para peserta Sayembara kali ini. Novel ini mampu merekahkan miris dan manis pada saat bersamaan. Dan perbedaan mutu yang tajam antara Pemenang Pertama dan naskah-naskah lainnya, membuat dewan juri tidak memilih pemenang-pemenang di bawahnya.”

See? Bahkan naskah-naskah penulis sekaliber Arafat Nur, Benny Arnas, Asef Saeful Anwar diberi label ‘memiliki perbedaan mutu yang tajam’. Alahai kampret…

Rahasia yang menyenangkan lainnya, jika kau sudah mengunyah buku ini tiga sampai lima bab, maka kau akan menemukan kenyataan kalau novel ini tak benar-benar sama dengan novel-novel lainnya dalam bentuk struktur/isinya.

Sebut saja Harry Potter, Twilight, all-American Girls, Love Rosie, atau novel-novel dalam negeri seperti Ayat-Ayat Cinta, Sunshine Becomes You, Critical Eleven, Kubah, yang pasti memiliki satu plot besar, jalan cerita yang akbar tentang protagonisnya. Berbeda dengan Semua Ikan di Langit, yang menurut saya lebih menyerupai kumpulan kisah tentang Beliau, kumpulan cerita pendek.

Atau lebih mengejutkannya lagi, jurnal pengamatan tentang Beliau—anak kecil yang teramat ajaib, oleh Saya.

Meski tak sekaku laporan/jurnal ilmiah, pengamatan yang Saya lakukan ini terkesan begitu polos dan kekanak-kanakkan, padahal umur Saya sudah 30 tahunan.

Balik lagi, struktur cerita yang seperti ini mungkin bagi orang-orang seperti saya (dan ini saya rasakan benar), akan menjadi pedang bermata dua. Kebaikannya; cerita-cerita di dalamnya akan benar-benar berwarna, dan semestanya akan semakin luas tak terkira. Ketidakbaikannya; tiadanya perasaan-perasaan penasaran untuk terus membalik-balik halaman demi halaman.

“Semua makhluk punya cara bersedih dan cara menunjukkan kesedihan yang berbeda-beda. Tapi, saya rasa, manusia mempunyai cara yang paling baik.”

-Saya (hlmn 168)

Namun ketidakbaikan-ketidakbaikan itu (mohon maafkan kelancangan ini, heuheu), tak terlalu mengganggu saya selama saya disuguhkan oleh karakter Saya dan Beliau yang alamak membuat saya jatuh hati!

Saya terus diajak mengamat-kenali Beliau (lewat pikiran-pikiran Saya yang akhirnya membuat saya memiliki kedekatan batin dengannya, ceilah) seperti; keajaiban-keajaiban yang Beliau ciptakan ketika senang hati, kegundahan-kegundahanNya, petaka-petaka yang terjadi kala Beliau murka, nama yang pantas untukNya, kesukaan-kesukaanNya… banyak. Tak habis-habis, tak bosan-bosan.

Dan sama seperti Saya, saya ikut jatuh hati pada Beliau. Apalagi ketika beliau bermain-main di toko sepatu.

“Ah, manusia memang kebanyakan kaget. Itu karena mereka punya terlalu banyak perkiraan. Jadi, kalau perkiraannya salah, kagetlah mereka. Tapi, saya tidak.”

-Saya (hlmn 35)

Alur yang maju mundur dan sudut pandang yang konsisten jua plot cerita yang tak terlalu saling menyambung (seperti sudah dibahas di atas), membuat buku ini (mungkin saja, ya, da aku belum pernah nyoba) bisa dibaca dari mana saja. Dari tengah kebelakang. Dari belakang ke depan, dan sebagainya.

Mungkin loh, ya. Ehe.

Lalu, usai diturunkannya saya di halte terakhir, di halaman terakhir buku Semua Ikan di Langit ini, saya sedikit banyak dipengaruhi oleh pandangan Saya atas segala cintanya kepada Beliau. Mungkinkah… mungkinkah saya bisa mencintai Beliau yang lain itu, di dunia ini, sepolos dan se-tak-membutuhkan-alasan-balasan itu?

“Tapi, rindu itu tidak bisa disuruh-suruh. Kalau sudah datang, dia maunya malas-malasan saja, sampai bosan sendiri dan pergi sendiri.”

-Saya (hlmn 80)

Saya takkan ragu-ragu memberikan…

Bintang 5

Asal, dengan syarat, jawaban Mbak Ziggy dan penyunting buku ini (yang pastinya hebat sangat karena hanya ada satu salah ketik, tertwa yang seharusnya tertawa di hlmn 251) untuk memilih menggunakan cicak daripada cecak, dan kecoa daripada kecoak.

Tapi, kalau sampai meniadakan juara dua dan tiga, kok (sekali lagi) kampret, yha?

Sampai ketemu di ulasan selanjutnya!

1500009269373

Blogtour : Aster untuk Gayatri

34

Aster untuk Gayatri

IMG_20170521_090449

Penulis: Irfan Rizky

Editor: Tiara Purnamasari

Layout: Tiara Purnamasari

Desain Sampul: @megapuspitap

Penerbit: Mazaya Publishing House

ISBN: 978-602-6362-35-3

Cetakan: I (April 2017)

Jumlah Halaman: 160 hlmn

*

ᴥBlurb ᴥ

Telah kularungkan

Kepada Gayatri

Tiap-tiap kesedihan

Jua

Perih-pedih masa lampau

 

 Dan telah kuwariskan

Kepada Giran

Cerita-cerita luka

Tentang rindu

Yang dipandanginya

Lama-lama

 

Pun telah kuhidangkan

Kepada kamu

Seorang

Kisah-kisah tentang

Apa-apa

Yang harusnya

Ada

Dan apa-apa

Yang mestinya

Tiada

*

“Agar jatuh cinta sedikit demi sedikit saja, karena siapa yang pernah tahu sakitnya seperti apa jika tergesa-gesa memberi segala?”

-Gayatri (hlmn 13)

Tak ada yang lebih menenangkan bagi Gayatri daripada hujan pukul delapan yang santun benar membasuh-bersihkan tabah tubuhnya. Di umurnya yang dua-delapan ini, dirinya masih harus berurusan dengan perkara-perkara yang tak begitu disukainya: kelakuan apaknya, kemauan mandenya, dan perhatian-perhatian Giran yang menyenangkan.

Untuk yang terakhir, dia tak benar-benar tak menyukainya. Hanya saja, Gayatri sudah pernah terluka. Dan tolol benar jika dirinya menyodorkan lebam yang sama pada Giran, mahasiswanya.

“Karena, bukankah jatuh cinta pada cinta itu sendiri adalah sesantun-santunnya cinta?”

-Giran (hlmn 19)

Yang luput dari perhatian Gayatri adalah Giran serupa dengannya. Telah lama dipeliharanya itu luka-duka, dijadikannya teman, dibuatnya nyaman. Kesakitan-kesakitan di masa lalu saling tarik-menarik di antara mereka, menambahkan rasa, menumbuhkan cinta.

Dan jika nanti Giran tahu dan mengerti akan kesukaran-kesukaran Gayatri, masih maukah dia menerimanya?

Dan bagaimana dengan Gayatri? Akankah ia tetap berpikir kalau wayangnya, meski sudah berbeda, namun berlakon sama?

Dan apakah semesta dan Tuhan kembali lancang untuk kesekian kali?

“Dan jika kita, kau dan aku, masih abai dan lancang pada kehendak masa lalu, maka hanya akan ada pahit yang membayang, menyambut ujung-ujung pilu yang menerjang.”

-Gayatri (hlmn 96)

***

Hai halo! Salam sejahtera! Bagaimana kabar? Semoga luar biasa selalu!

Sebelumnya, perkenankan saya berucap terima kasih kepada orang-orang yang sangat, sangat mendukung proses lahirnya novela perdana saya. Kepada Tuhan, orang tua, keluarga, dan sahabat-sahabat yang ucapan terima kasihnya telah saya tuangkan pada halaman pertama novela ini. Beli! Sehabis itu baca sendiri!

Lalu kepada teman-teman blogger buku: Mba Aya yang telah menghelat blogtour di minggu pertama; dan Miss Carra yang nanti dapat jatah mengulas buku saya yang tak seberapa di minggu terakhir. Kalian panutanqu.

Kemudian kepada teman-teman di Hello Author (saya akan mencoba lebih spesifik di sini): Mba Eka, Mba Rosyi, Mba Mia, terima kasih untuk ulasan-ulasannya. Mba Nurul, Mas Aji, Mas Tegar, Mba Dhamas, Mba Novi, Mbak Melly, Mas Beni, Mba Prima, Mba April, Mba April, Kang Dede, Daeng Ansar dan anggota lain yang superkece, terima kasih!

Kepada teman-teman Monday FlashFiction: Fajar ‘Ajay’, Sarif ‘Ranger’, Mba Vanda, Mas Iwann, Mas Wisnu dan teman-teman lain yang belum memiliki buku ini: plis beli.

Dan terakhir kepada kamu yang  sudah mau repot-repot ngikutin persyaratan-persyaratan di bawah; aku padamu. Seandainya saya sekaya itu, sudah saya berikan gratis untuk kamu sekalian. Heuheu.

Saya sempat disangsikan oleh Mba Aya, perkara menjadi host blogtour novela ini padahal saya pengarangnya. Memang lucu. “Budget terbatas, Mbae,” canda saya, sedikit meringis. Maka dari itu, saya ndak akan melakukan tindakan konyol dengan mengulas novela saya sendiri, ehe ehe ehe.

Namun, sebagai gantinya, saya akan menyediakan tautan-tautan dari ulasan-ulasan mereka atas novela Aster untuk Gayatri ini.

*

“Aster untuk Gayatri”, laiknya kisah cinta pada umumnya, menggetarkan dengan percikan asmara. Tema yang umum, topik yang ramai dibahas—luka, kepedihan, masa lalu, kekecewaan, kesengsem, jatuh cinta, sakit hati, jatuh cinta lagi—namun, bukankah kita selalu menyambut kisah-kisah demikian untuk menghibur diri?

Ya, kali ini, “Aster untuk Gayatri” pun secara umum mengangkat cerita dengan bait-bait esensi di atas. Tetapi, mengapa membacanya begitu nikmat?

Karena, eksekusi penulis dalam membumbui yang akan membedakan dan gaya sastra pada novella ini, membuat saya abai pada jenuh. Sebaliknya, malah bikin tangan gatal untuk membalik halaman tiap halamannya.”

-Nofrianti Eka P. (Founder Hello Author)

“Jujur, saya merasa kaget sama penggunaan bahasa yang dipakai penulis. Belum pernah ada yang seperti ini. Kosakata yang dipilih penulis, seakan-akan buat saya merasa sedang membaca sebuah puisi. Saya kebingungan meyakinkan diri sendiri, apa ini sebuah novel atau sebuah buku puisi tapi berbentuk novel. Pemilihan bahasa baku juga jadi daya tarik tersendiri buat baca buku ini. Terlalu banyak pemilihan kata baru, yang mau nggak mau bikin saya jadi rajin buka KBBI buat cari artinya satu per satu.

Sekali dua muncul percakapan berbahasa Minang, baik dari cerita Gayatri maupun Giran. Pemilihan bahasa daerah yang sempat bikin saya curiga kalau penulis juga orang Minang. Sama sekali nggak akan merasa kebingungan baca bahasa Minang, lewat bantuan catatan kaki yang menjelaskan baik itu arti percakapan, maupun arti dari sebuah istilah yang ditulis.

Yang sangat disayangkan dari karangan ini, terlalu banyak narasi yang bertele-tele, sampai akhirnya agak keteteran di beberapa hal yang justru perlu ditulis detail. Begitu tahu kalau Giran ternyata juga punya konflik batin dari masa lalu yang nggak kalah hebat dibanding Gayatri, terus terang saya agak kecewa kenapa konflik batin ini cuma diangkat sekali. Itu pun hanya sekilas. Padahal cerita soal kehidupan Giran sehari-hari cukup banyak dijabarkan, tapi konflik batin (yang buat saya juga cukup mengguncang) ini seakan sama sekali nggak ada pengaruh berarti di kehidupannya.”

-Vanda Kemala (Admin Buku panutan saya di mondayflashfiction.com)

“Sebuah cerita yang dituturkan dengan apik. Penulis sebagai pengamat di sini menumpahkan kalimat dan kosa kata yang hampir mirip seorang pujangga penyair. Padahal kalau untuk konflik yang dipilih penulis cukup sederhana dan bukan lagi hal baru. Tetapi gaya bahasa yang digunakan oleh si penulis ini berbeda dari cerita roman kebanyakan. Dibanding menikmati konfliknya, saya justru lebih menikmati permainan kata yang penulis racik dengan baik meski semuanya menggunakan bahasa yang baku.

Saat membaca buku ini, saya merasa seperti masih miskin kosa kata karena saya menemukan beberapa kata yang agaknya masih asing di telinga dan jarang ditemui di buku fiksi kebanyakan. Salah satu kata yang paling sering ditemui di buku adalah “alahai”, sebuah kata yang mungkin lebih familiar jika disandingkan dengan saudaranya “aduh”. Perumpamaan serta majas apalah-apalah yang digunakan juga terasa sangat pas.

Satu hal yang agak saya sayangkan dari cerita di buku ini, yaitu penulis tidak menyebutkan secara spesifik nama tempat yang dimaksud di cerita. Misalnya Gayatri mengajar di universitas mana dan di bidang apa? Giran bekerja di perpustakaan apa dan seperti apa? Gayatri kerja sebagai guru apa setelah ia pindah? Meski ini hanya hal kecil, namun bagi saya jadi agak mengganggu karena detil yang hilang ini menimbulkan tanya di sepanjang saya membaca kisah tokohnya.”

-Aya Murning (Blogger Buku)

***

GIVEAWAY!

Nebulus

Blogtour ini berlangsung sampai dengan tanggal 17 Juni 2017, waktu indonesia bagian Meester!

Mau dapetin novel ini secara cuma-cuma? Penulis sudah menyiapkan 1 eksemplar novela Aster untuk Gayatri bagi 1 peserta yang beruntung. Simak syarat dan ketentuannya berikut ini:

  1. Punya alamat kirim di wilayah Indonesia.
  2. Follow blog ini lewat akun WordPress atau via e-mail. Klik tombol follow yang ada di sidebar pojok kanan bawah.
  3. Follow akun berikut ini dari sosmed yang kamu punya:
  1. Share info giveaway ini di sosial media punyamu, bebas di mana saja (boleh semuanya atau pilih salah satu).
  • Jika di facebook: cantumkan link post ini dengan hashtag #AsteruntukGayatri dan tandai minimal 3 temanmu
  • Jika di twitter: cantumkan link post ini dengan hashtag #AsteruntukGayatri. Jangan lupa mention 2 akun di atas dan satu akun temanmu
  • Jika di instagram: repost foto banner di atas yang sudah saya upload di akun instagram saya @irfansebs, lalu tinggal ikuti ketentuan di caption-nya.
  1. Jawab pertanyaan berikut:

Giran teramat membenci pantai dan malah menyukai aroma pinus di pegunungan.

Kalau kamu, lebih memilih pantai atau gunung?

Jawab dengan jawaban yang paling unik dan menarik ya!

  1. Untuk keperluan pendataan peserta, tuliskan di kolom komentar di bawah ini berisi nama kamu, ID sosmed yang digunakan atau e-mail aktif, domisili, dan link share/repost yang tadi.
  2. Pemenang akan saya umumkan secepatnya di twitter, instastory, dan di post ini juga.

Itu saja. Nggak susah kan? Kalau masih ada rules yang membingungkan, for fast response jangan sungkan tanya langsung ke saya lewat mention/DM di twitter atau instagram.

Nah, tunggu apa lagi? Jangan lupa berdoa yang banyak. Selamat ikutan dan good luck!

***

PENGUMUMAN PEMENANG

Sebelumnya saya haturkan teramat banyak terima kasih bagi teman-teman yang sudah mau bersenang-senang di blogtour kedua Aster untuk Gayatri ini (akuh pada klean!). Semoga yang beruntung dapat menikmati Aster untuk Gayatri ini dengan santun, dan yang belum beruntung masih tertarik untuk mendapatkan novela perdana saya ini.

Dan pemenang di blogtour kedua Aster untuk Gayatri adalah:

Nama: Baiq Cynthia

Twitter: @baiqverma

Domisili: Situbondo

Selamat ya, Mba Baiq. Untuk keperluan pengiriman hadiah, segera kirimkan data diri berupa nama, alamat lengkap, dan nomor telepon yang bisa dihubungi ke e-mail saya di irfan10215@gmail.com dengan subjek Pemenang Giveaway Aster untuk Gayatri. Saya tunggu e-mail konfirmasi dari Mba Baiq maksimal 2×24 jam. Apabila tidak ada kabar setelah batas waktu tersebut, maka saya akan pilih pemenang yang baru.

Untuk peserta lain yang belum beruntung, jangan sedih atau kecewa. Masih ada 1 kesempatan lagi buat menangin buku ini di blog selanjutnya (klik di sini).

Terakhir, bahagia selalu! Jumpa lagi di lain kesempatan!

***

PS: Jika ada yang berminat ingin membeli langsung buku ini, untuk pemesanan bisa kirim SMS/WA ke nomor 085-722-025-109 atau via BBM dengan add PIN D79DCD48.

 

Review : Melarin

3

C360_2017-03-30-08-29-23-484-01

Melarin

Penulis: Muftia Dinastri, Wardatul Aini, dkk

Editor: Tiara Purnamasari

Layout: Tiara Purnamasari

Desain sampul: Roeman-Art

Penerbit: Mazaya Publishing House

ISBN: 978-602-73734-6-4

Cetakan: I (April 2016)

Jumlah Halaman: 202 hlmn

*

ᴥBlurb ᴥ

Sudut-sudut dipenuhi oleh ribuan penduduk. Mereka mengukir setiap jengkal langkah menjadi sejarah yang tertata hingga tak pernah ada orang yang dapat menghancurkannya. Rumah-rumah kayu adalah sumber kekuatan karena di sanalah mereka menyembunyikan cikal bakal cahaya mereka. Namun, kau tahu, negeri ini tak bisa hidup tanpa satu hal. Puisi ajaib Sang Ratu bernama  melarin. Ya, puisi orang yang telah lama aku kenal.

-Penggalan cerpen juara 1 “Melarin” karya Muftia Dinastri

Gadis itu menghela napas. Kini rambutnya telah dikepang rapi. Cantik. Kemudian dia beranjak duduk di sebuah kursi tua lengkap dengan sebuah meja tua. Di sinilah A Ling menuliskan semua harapannya pada buku bewarna pink dengan sebuah pulpen ajaib yang bagian atasnya ada cermin bulat kecil.

-Penggalan cerpen juara 2 “Cermin Pink Ajaib” karya Wardatul Aini

*

Yang paling sulit dari mengulas sebuah buku, baik itu novel maupun kumpulan cerpen, adalah menciptakan paragraf pembuka yang wow bin mencengangkan bin menakjubkan bin tiada-duanya-sampai-sampai-pengulas-merasa-lebih-baik-modol-daripada-begadang-memikirkan-membuat-suatu-kalimat-pembuka-dalam-ulasan-yang-ciamik-bin-menyenangkan. Sebab tanpa modal paragraf pembuka yang wow dan sebagainya, dan sebagainya, apa bedanya ulasan-ulasan saya dengan ulasan-ulasan mereka?

Aih. Mari lupakan saja apa-apa tentang saya, barang beberapa jenak.

Melarin lahir dari kegelisahan suatu penerbit yang heran mengapa rak-rak fiksi fantasi di toko-toko buku di Indonesia masih didominasi oleh karya-karya terjemahan milik penulis-penulis asing yang tahu nasi padang saja dari lagu. (Tiba-tiba terbayang, J.K. Rowling makan dengan tangan, kaki diangkat sebelah, sibuk menggigiti tulang ayam.)

Kumpulan cerpen ini memuat dua-delapan buah cerita pendek yang ditulis dengan gaya dan kekhasan masing-masing, membuat Melarin ini semakin kaya akan cerita-cerita. Salah satu cerpen saya ada di dalamnya.

Dan di dalam kesempatan yang baik ini, saya akan mengulas beberapa—tentu tidak semua—cerita yang menurut saya layak untuk dikupas dan dibahas.

Tom Si Jempol – Alfa Ulfatihah NE

Cerita ini mempunyai eksplorasi ide dan imajinasi yang tinggi terhadap tema: fantasi. Campur baur dongeng-dongeng macam Jack dan Pohon Kacang, Cinderella, dan Gadis Bertudung Merah dengan inti cerita Thumbelina membuat kisah ini tak membosankan dari awal sampai akhir. Pun meski tak halus benar, penulis terlihat matang dalam membuat cerita hingga membuat satu kesatuan yang utuh.

Salut.

Lima bintang/lima bintang

Dua Kepala – Eka Sumantri Samosir

Eka Sumantri berani mengangkat hal baru nan unik di dalam kumpulan cerpen ini: politik. Sentilan-sentilan yang nyata benar mengkritik sesiapa membuat saya terhibur jua bertanya-bertanya; benarkah pemerintah sekarang memiliki ‘dua kepala’?

Terlepas dari kurang gregetnya karakter yang dibentuk, juga hal-hal tidak terlalu orisinal macam “Pelahap Waktu” (siapalah saya yang lancang benar mengkritik ketulenan karya seseorang), cerpen ini adalah salah satu cerpen terbaik di dalam buku ini.

Empat bintang/lima bintang

Kutukan Misty – Fanny Christina Hadiyanto

Satu hal yang langsung muncul dalam kepala kala membaca cerpen berlatar sekolah menengah ini adalah: yaampun teenlit binggow. Perkara-perkara remaja seperti bulliying, pencarian perhatian dan jati diri, dikemas unik juga ringan.

Penulis punya bakat, baik-baik saja mengasahnya.

(Masih bingung mau dikasih tiga-setengah atau) Empat bintang/lima bintang

Di Balik Cahaya – Irfan Juhari

Membaca cerpen ini seperti menonton film Jumanji ataupun apa-itu-yang-ada-boardgame-luar-angkasa-nya-persis-Jumanji-maaf-malas-googling-haft.

Dulu, dulu sekali, pernah saya berandai-andai memiliki mesin waktu demi memperbaiki apa-apa yang perlu diperbaiki dari masa lalu; kebodohan-kebodohan, perpisahan, ketidaktahuan yang masif dan sebagainya. Sekarang pun masih getol mengumpamakan, memisalkan.

Alah.

Judul cerpen milik Mas Irfan ini menurut saya agak ndak nyambung dan terkesan mengecoh. Tapi apalah arti dari sebuah judul, bukan? Dan terlepas dari itu, cerpen ini memiliki makna yang sangat nyata dan umum adanya.

Apik.

Empat bintang/lima bintang

Jerit Generasi di Abad 99 – Lailatur Rahmah

Astaghfirullah al adzhim.

Entah mau dibawa ke mana cerpen ini. Sureal bukan, fantasi bukan. Satire bukan, sindiran bukan. Salah ketik di mana-mana. Alur hancur. Inti cerita ndak ada. Ending gantung.

Astaghfirullah al adzhim.

Satu bintang/ima bintang

Vendeta – M. Sanjaya

Bisa dibilang, cerpen ini mempunyai ide/premis cerita yang paling baik, paling fantasi. Berkisah tentang perang dunia kesekian antara Bangsa Athnas (penamaannya kreatif!) dan pasukan langit (sayangnya kurang kreatif). Kedua bangsa ini telah berselisih dan berkesumat secara terus menerus di Bumi, hingga perseteruan mereka, suka tidak suka, ikut menyeret penduduk bumi.

Diceritakan dari sudut pandang seorang manusia bumi, yang adalah korban perang, membuat saya penasaran tentang apa-apa yang terjadi sesudahnya.

Teramat ciamik. Masih sangat bisa dikembangkan. Saya tunggu ya novel utuh tentang Bangsa Athnas ini, Mas Sanjaya!

Empat bintang/lima bintang

Melarin – Muftia Dinastri

Saya memilih buku Melarin untuk diulas karena saya tak menjadi juara pertama pun kedua dalam kategori ini. Memang pongah, betul, tetapi selain itu karena rasa penasaran jua ikut andil.

Dan saya merasa cerpen saya di buku ini tidak ada apa-apanya dibanding Melarin :’)

Meski lebih doyong ke sureal daripada fantasi, Melarin mampu membuat saya teramat terhibur. Diksinya istimewa, premisnya matang,  deskripsinya wow binggow. Lengkap. Hampir sempurna.

Lima bintang/lima bintang

Think All About People – Pratiwi Nur Zamzani

Astaghfirullah.

Idem.

Astaghfitullah.

Satu bintang/lima bintang

Pemberi Ide dan Perpustakaan Ajaib – Salwidyah

Cerpen ini satu-satunya yang membuat hati saya… hangat.

Berkisah tentang Gadis Pemberi Ide yang tiba-tiba menghilang dari suatu negeri bernama Jordein. Dia lelah pada manusia-manusia yang menggantungkan harapan mereka kepada dia. Dia merasa itu tak baik, oleh karena itu ia tinggalkan kepada mereka sebuah perpustakaan ajaib.

Dengan keterbatasan saya terhadap kata-kata, meski teknik bercerita di cerpen ini biasa benar, entah kenapa karya Mbak Salwidyah ini mampu mendapatkan…

Lima bintang/lima bintang

*

~Trivia~

Lagu yang cocok dengan kumcer ini Alligator Sky-nya Owl City :)))

Kesan yang diharapkan: Siapa ini yang punya cerpen lebi bagus dari ue~

Kesan yang didapatkan: Anjay bagus banget :(((

Tokoh favoritkuh Arina di Pemberi Ide dan Perpustakaan Ajaib.

Kumcer Melarin yang kaya ini adalah novel kedua saya yang saya baca di tahun 2017. Selain untuk menuntaskan tantangan yang saya janjikan kepada diri sendiri, ulasan kumcer ini juga diikutsertakan dalam Monday FlashFiction Reading Challenge yang akan dihelat selama setahun kedepan.

Dan berdasarkan akumulasih, kumcer ini pantas mendapatkan…

Bintang 3

Selamat!

Sampai ketemu di ulasan selanjutnya!

Review : 3 Luka 4 Wanita 1 Cerita

3

 c360_2017-02-16-08-07-30-153

3 Luka 4 Wanita 1 Cerita

Penulis: Nofrianti Eka P.

Editor: Nerin Richa

Layout: Nerin Richa

Design: Rahmi Intan

Penerbit: Nerin Media

ISBN: 978-602-73049-5-6

Cetakan: I (Januari 2016)

Jumlah Halaman: 152 hlmn

*

ᴥBlurb ᴥ

 “Kau makin membuatku merasa ngeri untuk menikah.” -Kara-

“Bukankah cinta bisa dipelajari?” -Aning-

“Aku rindu gombalmu itu sekarang.” -Ayu-

“Aku mencintainya dan aku yakin dia juga mencintaiku.” -Dea-

*

“Rindu selalu mencari jalan pulang

Tak peduli

Seberapa jauhnya…”

-Nofrianti Eka P.

“Ayu, wanita muda berparas cantik yang harus kehilangan suami yang dicintainya karena leukimia. Ia berjuang untuk bangkit, berjuang untuk merelakan suami yang memanjakan dan menyayanginya sepenuh hati. Merelakan seseorang untuk pergi selamanya. Ikhlas itu… tidak mudah.

Dea, seorang istri yang mendapat perlakuan kasar dari suami dan sindiran tajam dari mertua karena tak kunjung hamil. Ada rahasia besar yang ia simpan. Alasannya, ia terlalu mencintai suaminya.

Kara, yang mendapat trauma melihat kegagalan pernikahan ibunya dan menjauh dari ayah kandungnya. Trauma ini menjadikannya enggan menjalin hubungan dengan pria sementara ada lelaki yang sedang gigih mendekatinya. Kara harus menghadapi kenyataan bahwa tumbuh rasa suka di hatinya namun di sisi hati yang lain, ia takut bahwa pemikiran negatifnya tentang lelaki adalah benar.

Aning, perempuan belia yang impiannya seketika runtuh saat ia diperkosa dan mendapati dirinya hamil. Bingung, kalut, dan takut, ia memutuskan diri untuk menceburkan dirinya di sebuah danau. Ia takut menghadapi manusia yang mungkin akan membuat hidupnya semakin berat.

Ketiga wanita dewasa, bertemu dengan seorang gadis yang sedang putus asa dalam hidupnya. Saat mereka bertemu, mereka mendapati bahwa di dunia ini, tidak ada orang yang menjalani hidupnya dengan mudah. Semua perempuan memiliki masalah. Semua perempuan mungkin memiliki masa lalu yang menyedihkan. Semua perempuan mungkin pernah merasakan kehilangan. Semua perempuan mengalami kekecewaan.

Keempat wanita yang bertemu secara tak sengaja ini akhirnya membuka hati mereka, mencoba untuk menguatkan satu sama lain, saling merangkul dan memberi rasa sayang agar mereka tidak merasa sendiri. Mencoba untuk memaafkan orang-orang yang meninggalkan mereka, mencoba menutup pintu trauma dan memersilakan mempersilakan kebahagiaan masuk kembali ke dalam diri mereka.”

Dan tanpa embel-embel ‘prolog’, saya langsung disuguhkan penjelasan tentang siapa-siapa dan apa-apa yang akan terjadi dalam ini novel. Jujur saja, tulisan di atas sangat membantu saya di bagian-bagian awal untuk mengerti jalan cerita novel yang memiliki banyak tokoh utama ini.

Yep, banyak tokoh utama. Ayu, Dea, Kara, dan Aning yang begitu pandai menyembunyikan rahasia demi rahasia.

“Biar bagaimana pun, seorang istri harus bersikap baik pada suaminya.”

-Dea (hlmn 17)

Awal-awal proses membaca yang menyenangkan ini, saya sempat dibuat sangsi akan kualitas dari novel perdana Mba Eka. Tiga bab pertama masih terasa kaku, typo di mana-mana, dan satu yang membuat saya sampai saat ini masih merasa heran: penulis berlama-lama menggunakan ‘si istri’, ‘si suami’, ‘teman si istri’ untuk menarasikan isi cerita yang menurut saya terlalu berlebihan. Apalagi tidak berhenti-henti sepanjang satu bab penuh.

Tetapi, di tiga belas bab sisanya, Mba Eka dengan sangat sukses menunjukkan kualitas tulisannya yang apik tenan!

Sudah hampir dua tahun saya mengenal penulis juga karya-karyanya, dan beberapa kali berdiskusi seru tentang hal-hal yang berkaitan dengan literasi. Dan satu yang saya tangkap dan mengerti benar adalah kemampuan beliau dalam membangun cerita yang utuh dan membuai.

Di novel 3 Luka, 4 Wanita, 1 Cerita ini, penulis mampu membangun karakter tokoh per tokoh dengan elok. Ayu yang bijak menghadapi masa depan yang menjanjikan kesendirian. Dea yang rapuh di luar, tabah di dalam kala menghadapi suaminya yang ringan tangan. Kara yang ceplas-ceplos, yang membangun dinding tinggi demi melindungi hati. Aning yang polos, yang suci betul, yang tengah belajar mengerti apa arti kehidupan.

“Lelaki memang biang masalah.”

-Kara (hlmn 42)

Membaca novel ini seperti menyelami diri sendiri. ‘Sudahkah pantas saya mengeluh?’ ‘Sudahkah bijak saya menghadapi masalah-masalah yang ada di pelupuk mata?’ ‘Sudahkah tepat kepada siapa saya meminta pertolongan?’ dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sama peliknya, sama sulitnya, kerap hadir di tiap-tiap halaman.

Dan novel ini memiliki satu-dua jawabannya.

“Jangan khawatir, jangan bersedih! Kamu sudah berusaha melakukan hal yang tepat. Jangan pedulikan pendapat orang yang bahkan tidak mengenalmu dengan baik. Tidak ada hal yang mudah di dunia ini dan mungkin masalah yang kita alami sungguh kecil dibanding orang lain di luar sana.”

-Ayu (hlmn 55)

Romansa memang salah satu tema yang tak habis-habis diangkat, tak usai-usai dikulik. Beberapa buku bergenre tersebut yang pernah saya baca memiliki ide yang sederhana dengan eksekusi yang rapi juga istimewa. Dan 3 Luka, 4 Wanita, 1 Cerita ini adalah salah satunya.

Premis-premis seperti kekerasan dalam rumah tangga dan ditinggal mati suami tercinta, bukankah sering kita dengar dan/atau baca? Baik di cerpen-cerpen yang diunggah pada laman-laman sastra, maupun novel-novel daring jua luring?

Tetapi di kisah 3 Luka, 4 Wanita, 1 Cerita ini, hal-hal biasa tersebut dikemas dengan berbeda.

Penulis pandai menyimpan rahasia-rahasia yang ada pada setiap ceritanya dengan legit, tanpa bermaksud mengecoh pun membodohi pembaca. Sebut saja rahasia dibalik kemandulan Dea dan masa lalu Kara. Sekali lagi, apik tenan!

“Bukankah teman itu saling menguatkan?”

-Aning (hlmn 148)

Dari empat kisah yang disatupadukan, saya pribadi menyukai cerita Kara dan Aleks (dengan ‘K’ dan ‘S’. Bukan dengan ‘X’). Mungkin karena premis yang disuguhkan begitu pelik, juga adanya kejutan-kejutan yang tak sempat saya harapkan. Awalnya saya kira jalan ceritanya hanya lurus-lurus saja. Memang seharusnya hidup tak payah mengira-ngira, bukan?

Dan yang saya sukai paling buntut adalah kisah Aning. Terlalu sedikit porsi Aning di dalam buku ini. Kapan dan bagaimana dia sampai diperkosa tak dijabarkan. Lalu mengapa ketika hamil tiga bulan beliau baru memutuskan untuk bunuh diri? Kalau sebegitu depresinya, bukankah akan lebih masuk akal jika perbuatan yang tak boleh jadi itu dilakukan usai diperkosa?

Eits! Ingat, ‘bunuh diri kan tidak seperti rekreasi ke suatu pulau misterius, di mana bila ternyata pulau tersebut ‘basi’, kita bisa pulang atau pergi ke tempat lain’.

“Aku hanya berpikir, kamu tidak bisa lari terus-terusan dari kenyataan.”

-Aleks (hlmn 87)

Novel ini (terlepas dari runutnya jalan cerita, rapinya konflik, dan apiknya penututuran kisah-kisah), memiliki kekurangan yang bersifat teknis. Seperti penulisan brukat yang harusnya brokat, handal yang harusnya andal, puteri-putri, wudhu-wudu, setoples-stoples, shampoo-sampo, penggunaan partikel –pun, dan peleburan (hanya kata dasar yang berawalan huruf ‘p’-lah yang lebur jika diberi imbuhan. Contoh: peduli-memedulikan. Salah: persilakan-memersilakan, pertemukan-memertemukan).

Sayangnya, kesalahan-kesalahan ini ada di hampir seluruh bab. Mungkin penulis bisa lebih concern lagi untuk hal-hal yang bersifat teknis seperti ini di kemudian hari. Memang kalau sekadar mengerti, saya yakin pembaca mana pun akan mengerti. Tapi itu bukan satu-satunya hal yang penting dalam sebuah tulisan. Eh…

Menurut kalian, kebenaran tata bahasa dan gramatika itu penting gak sih?

“The very essence of romance is uncertainty.”

-Oscar Wilde, the Importance of being Earnest and Other Plays

Novel 3 Luka, 4 Wanita, 1 Cerita yang beralur maju-mundur ini adalah novel pertama yang saya baca di tahun 2017. Selain untuk menuntaskan tantangan yang saya janjikan kepada diri saya sendiri, ulasan novel ini juga diikutsertakan dalam Monday FlashFiction Reading Challenge yang akan dihelat selama setahun kedepan. Dan sebagai novel pembuka tahun, karya Mba Eka ini sangat sukses menghibur dan mendidik tanpa terkesan menggurui.

Oleh sebab itu, bintang-bintang ini pantas untuknya…

Bintang 4

YAY!!!

Uh, oh… Ada pertanyaan dari Monday FlashFiction; “Kalau ditakdirkan bertemu langsung dengan penulisnya, apa yang kamu ingin sampaikan padanya, berkaitan dengan bukunya yang telah kamu baca?”

Gampang sih, tinggal whatsapp aja tanpa perlu capek-capek lagi nunggu takdir. Ehe. Paling yang saya mau tanyakan; kenapa judulnya 3 Luka, 4 Wanita, 1 Cerita? Bukannya semua wanita (empat) mempunyai lukanya masing-masing?

Sampai ketemu di ulasan selanjutnya!

P.S.

Karena novel ini diterbitkan secara indie, maka kalian bisa memesannya langsung kepada Mba Eka atau Penerbit Nerin Media.

Review : Kabut di Bulan Madu

0

img_20161130_074344_hdr-01

Kabut di Bulan Madu

Penulis: Zainul DK

Penyunting: Nisaul Lauziah Safitri

Penata Letak: Yuniar Retno Wulandari

Pendesain Sampul: Hanung Norenza Putra

Penerbit: Ellunar Publisher

ISBN: 978-602-0805-73-3

Cetakan: I (Agustus 2016)

Jumlah Halaman: 249 hlmn

*

ᴥBlurb ᴥ

Tersangka kasus penembakan di sebuah kafe yang menewaskan seorang preman adalah Roby. Ia melakukan penembakan itu karena tak terima kekasihnya, Linda, diganggu. Ia pun berhasil ditangkap oleh Inspektur Ariel untuk menjalani hukuman penjara. Tidak sanggup melihat sang kekasih bersedih mengetahui dirinya dijebloskan ke penjara, Roby menyuruh Linda untuk berlibur menaiki kapal pesiar mewah.

Di sisi lain, ada pasangan yang baru menikah hendak berbulan madu: seorang penyiar berita bahasa Jepang, Helena Lizzana, dan pria keturunan Jepang-Timur Tengah, Ihdina Shirota. Mereka berencana menikmati momen indah itu dengan naik kapal pesiar.

Pasangan muda tersebut berada dalam satu kapal pesiar yang sama dengan Linda. Tak disangka terjadi musibah: kapal pesiar itu menabrak karang dan karam. Dari hasil evakuasi, dinyatakan bahwa hanya ada satu korban jiwa meninggal, yaitu LINDA!

Memperoleh berita nahas ini, Roby tentu saja tidak terima. Menurutnya, ada keanehan yang menyebabkan kekasihnya saja yang menjadi korban. Ia percaya seseorang sengaja membunuh Linda. Ia pun menyusun rencana untuk kabur dari penjara, dan mencari tahu siapa pembunuh sang kekasih. Inspektur Ariel mesti mati-matian mencegahnya.

*

“Bukanlah setiap yang bekilau itu emas.”

-Ihdina Shirota (hlmn 86)

Berkisah tentang pengabdian seorang inspektur di kepolisian daerah Jeyakarta, Ariel Stallone. Inspektur Ariel yang tengah sibuk mengurusi kasus pembunuhan di Kafe Expose mesti juga menghadapi kerewelan Roby—tersangka kasus pembunuhan di atas—yang kerap menerornya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kewajaran kematian belahan jiwanya, Linda.

Linda yang meninggal tersebab kecelakaan kapal pesiar mewah—yang dijadikannya tempat pelarian atas rasa sedih hatinya kerana Roby terancam dipenjara—meninggalkan seribu tanda tanya di kepala Roby. Siapa yang membunuh Linda? Mengapa dia atau mereka membunuh Linda? Dan jika benar kecelakaan dan tiada siapa membunuh siapa, kenapa hanya Linda satu-satunya yang mati di antara semua?

DI lain tempat, sepasang suami-istri yang tengah menikmati umur-umur jagung dalam pernikahan mereka, memutuskan untuk mereguk nikmatnya berbulan madu di atas kapal pesiar mewah. Ihdina Shirota, pengusaha minuman kesehatan bermerek “KULT”, rela memberikan segalanya kepada Helena Lizzana, sang kekasih hati.

Namun, bulan madu yang mereka sangka akan terasa teramat madu, sekonyong-konyong berubah menjadi mimpi buruk. Kapal megah itu menabrak karang, kalang kabut para penumpang dibuatnya. Tak terkecuali Ihdina dan Helena yang tengah berada di atasnya.

Ketika kegemparan itu terjadi, Helena terpisah dari genggaman Ihdina. Sejak saat itu, dia seorang diri berlomba-lomba menyelamatkan nyawa, saling bersikut-sikutan dengan penumpang lain. Tetapi, mengapa di akhir cerita Helena menjadi berubah? Ada yang disembunyikankah?

Apakah ada hubungannya dengan kematian Linda?

“Tergelincir kaki lebih baik daripada tergelincir lidah.”

-Ihdina Shirota (hlmn 86)

Kabut di Bulan Madu adalah novel pertama yang saya baca setelah hiatus lama sejak… entahlah. Lupa. Dan sebagai novel perdana—yang saya baca, juga novel perdana sang penulis, Zainul DK—saya merasa cukup terpuaskan. Betapa proses menikmati novel ini aduhai menyenangkan.

Meski tak berprofesi sebagai seorang polisi, penulis cukup sukses membawakan tema ini kepada saya selaku penikmat cerita. Mungkin keberhasilan ini jua ditunjang oleh latar belakang beliau yang seorang Magister Hukum dan ayah-kakeknya yang seorang purnawirawan. Membaca novel ini sedikit-banyak memberikan gambaran kepada saya tentang apa-apa yang ada dan terjadi di kepolisian.

Namun, saya rasa penulis terlalu ‘menguasai’ tema ini, hingga ada kebijakan—atau kesilapan, saya tak tahu—yang bagi saya cukup mengganggu kenikmatan saya. Kebijakan itu ialah ada beberapa istilah kepolisian yang tidak dilengkapi dengan catatan kaki hingga saya perlu berpayah-payah mencari apa artinya. Seperti pamapta, reserse, briptu, bripda, bripka, aipda, dan sebagainya.

Akan tetapi hal ini tak selalu buruk. Dengan penguasaan yang sebegitu hebat, Zainul DK dalam novel ini banyak memberikan pengetahuan-pengetahuan baru yang sangat tidak umum dan saya teramat menyukainya. Seperti istilah lain dari Tempat Kejadian Perkara (TKP) adalah locus delicti, entah dari bahasa mana. Juga arti dari istilah visum et refertum dan juga post mortem.

“Penyesalan tak pernah di depan.”

-Ihdina Shirota (hlmn 113)

Kisah para tokoh di ini novel menitikberatkan pada satu hal: usaha Roby mencari kebenaran atas kematian Linda juga membalaskan dendamnya. Dan demi menuju pusat badai tersebut, pembaca akan disuguhkan dengan cerita-cerita ringan yang diolah sederhana oleh sang penulis. Seperti kisah kasih Ihdina dan Helena, cerita Inspektur Ariel dan aktivitasnya di kepolisian Jeyakarta, hingga diskusi demi diskusi Roby dan pengacaranya kala mencoba menguak tabir yang membayang-bayangi kematian kekasihnya.

Kover novel ini pun seolah menjabarkan apa yang sebenarnya menjadi inti dari Kabut di Bulan Madu: Kesuraman yang datang tiba-tiba pada hidup sepasang belahan jiwa. Dan jangan lupa, kalung emas berinisial ‘H’ yang menjelma segalanya di dalam kisah ini.

“Sekali melihat lebih baik daripada seratus kali mendengar.”

-Ihdina Shirota (hlmn 113)

Dengan alur yang konstan maju juga gaya bercerita yang lincah dan menurut saya enak dibaca, menambah poin tersendiri pada keapikkan novel ini. Diksi dan pengolahan kalimat yang penulis terapkan di novel ini sedikit berbeda dengan novel-novel lain yang pernah saya baca. Agak-agak nyastra kalau bisa saya bilang.

Meski penulis mengklaim genre novel Kabut di Bulan Madu ini adalah thriller, saya berpendapat lain. Unsur thriller di novel ini saya rasa tak lebih dari 25%. Dan yang lebih mendominasi adalah rasa romansa dan komedinya.

Oleh karena itu, setelah jalan seperempat saya membaca—dan agak-agak tertekan karena saya mengharapkan kisah yang benar serius namun tak kunjung saya temukan—saya coba mengubah persepsi saya. Dan benar saja, saya lebih menikmati novel ini sebagai novel romansa-komedi dengan cukup action dari tokoh utama daripada novel thriller-romance.

“Obatilah amarahmu dengan diam.”

-Ihdina Shirota (hlmn 199)

Satu hal lain yang membuat saya menyukai novel ini adalah: saya harus menjalani love-hate relationship dengan tiap-tiap tokohnya. Hal ini teramat menyenangkan sekaligus mengesalkan. Mari saya jabarkan satu per satu.

  1. Inspektur Ariel Stallone
  • Love: Polisi muda yang diimajikan pintar, gagah, mainly manly, humoris, dan bijaksana. Namun, entah mengapa rupa inspektur tidak dijabarkan sedikit pun di dalam kisah ini (atau saya yang melewatkannya?)
  • Hate: Ariel dibuat berbeda dengan kekhasannya mengganti ‘kau/kamu’ dengan ‘you’. Awalnya saya pikir ini adalah salah satu dari sekian banyak kekreatifan penulis: membuat tokoh utama yang gampang diingat. Namun inkosistensi terjadi beberapa kali. Singkatnya, penulis hanya mengubah kata ‘kau/kamu’ yang seharusnya diucapkan Ariel dengan ‘you’ tanpa ada pengembangan lagi. Padahal ada beberapa kata yang sebenarnya bisa dikreasikan lagi seperti ‘lukamu’ menjadi ‘luka you’. Atau ‘kalian’ menjadi ‘you semua’.

Dan serius nih, selera humor inspektur kita ini receh banget~

  1. Roby
  • Love: Porsi Roby di kisah ini keren banget!
  • Hate: Perubahan emosi Roby di kisah ini amatlah berantakan. Ndak ada smooth-smooth-nya. Padahal, jika penulis mampu mengeksplorasi lebih lagi si Roby ini, maka saya yakin akan lahir seorang antagonis hebat yang akan selalu diingat.
  1. Ihdina Shirota
  • Love: Nama Ihdina yang kreatif dan saya suka sekali. Karakternya yang bijaksana dan penyayang, mungkin agak dibuat mirip seperti karakter-karakter yang ada pada Nabi Muhammad SAW. Pengusaha keturunan Jepang-Timur Tengah ini juga banyak memberikan pengetahuan baru seputar quotes berbahasa Jepang dan Arab.
  • Hate: Lagi-lagi selera humor yang menurut saya perlu ditingkatkan.
  1. Helena Lizzana
  • Love: News anchor di Jeya TV ini diimajikan cerdas, rupawan, manja, serta bertanggung jawab. Benar-benar istri idaman.
  • Hate: Kok saya agak-agak terkejut ya kalau Helena ini tega melakukan itu

“Katakan yang benar walau pahit.”

-Ihdina Shirota (hlmn 199)

Dari sebegitu hebatnya gaya menulis Zainul DK dalam merangkai kata, mencipta cerita, bagi saya masih ada beberapa hal yang membuat saya kurang sreg, di antaranya seperti:

  1. Ada kalimat yang diucapkan oleh kekasih Roby, Linda, yang menurut logika saya tak pada tempatnya.
  2. Pemakaian onomatope yang berlebihan seperti Ceet… Ceet… Tiiit…, Kleeekk, Wkwkwkwk, Mmuuaacch, Hohoho, Yups. Entah hanya saya saja atau bagaimana, hal ini teramat menyebalkan dan tidak memiliki nilai estetika.
  3. Begitu juga pemakaian huruf kapital atau capslock yang berlebihan. Menggunakan tanda seru jua sebenarnya sudah cukup bijak dan cukup mewakili emosi yang terkandung dalam suatu kalimat.
  4. Pemilihan nama-nama tempat dan tokoh yang terkesan tak serius.
  5. Typo (meski saya senang sekali karena teramat jarang saya temukan typo pun kata-kata yang tidak baku, tetapi masih ada sedikit, sedikiiiittt sekali, yang bisalah diberikan pengampunan,):
  • Cobra yang seharusnya kobra saja
  • Mr X yang seharusnya Mr. X
  • Pemakaian tanda kutip yang salah di hlmn 19
  • Tata make-up bukannya tata rias atau make-up saja
  • Mapolres yang seharusnya Mapolres. Sebab, akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital
  • Full English yang seharusnya di-italic sebab merupakan kata asing
  • Wandi rekzen yang seharusnya Wandi Rekzen

“Tak meladeni orang bego itulah jawabannya.”

-Ihdina Shirota (hlmn 199)

Terlepas dari kesilapan-kesilapan tersebut, novel ini memiliki ‘something’ yang membuatnya layak untuk dibaca khalayak ramai. Saya pribadi amat menikmati prosesnya, namun alangkah lebih baik jika penulis mau berlapang dada dan berbesar hati menerima kritik saran yang telah saya jabarkan di atas, semata-mata demi kesempurnaan penulis sendiri di masa yang akan datang.

Pun, saya harap dengan teramat-amat-amat-amat sangat agar kisah Inspektur Ariel Stallone mampu dibuatkan kelanjutannya dengan penulisan yang lebih matang lagi, konflik yang lebih cerdas lagi, dan twist yang lebih alahai lagi!

Ah, iya! Tentang twist, sejuta kata kampret pun takkan mampu menggambarkan kekampretan twist di Kabut di Bulan Madu ini. Kampret banget! The best twist ever in 2016! Mas Zainul kampret bener!

Dan terakhir, novel ini pantas untuk mendapatkan…

Bintang 3

Plis plis plis dibuatin sekuelnya!

P.S.

Tahukah kamu kalau ada bonus CD berisi 6 trek yang tiga di antaranya adalah lagu ciptaan penulis sediri?

P.S.S.

Baca juga Bookkeeper’s React di sini.

P.S.S.S.

Berhubung buku ini diterbitkan dengan jalur indie, maka teman-teman dapat menghubungi pihak Ellunar Publisher di twitter @EllunarPublish_

http://www.ellunarpublisher.com/2016/08/kabut-di-bulan-madu.html