Review: Petunia yang Berguguran di Hati Senja

0

wp-1502376509426.

Petunia yang Berguguran di Hati Senja

Penulis: Ansar Siri

Editor: Tiara Purnamasari

Layout: Tiara Purnamasari

Desain Sampul: Roeman-Art

Penerbit: Mazaya Publishing House

ISBN: 978-602-6362-36-0

Cetakan: I (April 2017)

Jumlah Halaman: 123 hlmn

*

ᴥBlurb ᴥ

Kau pernah tidak percaya dengan sesuatu yang nyata-nyata terpatri di depan mata? Berharap semua itu hanya mimpi dan kau akan segera terbangun? Aku pernah membaca hal semacam ini di sebuah novel, juga menemukan tokoh beberapa film mengucapkannya. Dan sekarang, aku mengalaminya.

Mama berdiri di depan pintu, bergelayut manja di lengan seorang lelaki. Ia berusaha memberikan senyum terbaik. Kemudian mama memperkenalkan lelaki tadi sebagai pacar barunya. Aku tersentak. Selama sekian detik kesulitan menarik napas. Bukan lantaran mama berganti pasangan lagi, bukan pula karena lelaki yang dipilihnya kini tampak sebaya denganku. Lebih dari itu, lelaki yang kini sedang mengulurkan tangan dan baru saja menyebutkan nama adalah Ruwanta, orang yang kucari selama ini demi pengakuan untuk bakal malaikat kecil di rahimku.

*

“Ini tentang hati yang merapuh oleh kenangan.”

Berkisah tentang Senja yang sangat menggilai Ruwanta, teman sekampusnya di salah satu universitas di Bandung. Cinta itu begitu besar, begitu akbar, hingga cinta-cinta yang lain, yang entah kualitas dan kuantitasnya, tersamarkan oleh cinta tersebut. Termasuk cinta dari teman sedari kecilnya; Yudit.

Mungkin rasa itu bisa sebegitu agung sebab perhatian-perhatian kecil seperti yang selama ini Ruwanta berikan, yang manis dan menghangatkan, tak lagi bisa diterima Senja di rumahnya. Segala tercipta karena mamanya berubah semenjak ditinggal mati oleh suaminya, papa Senja. Sedari sana, hanya tersisa sudut-sudut rumah yang dingin, botol-botol bir, serta kebencian-kebencian yang nyata di pelupuk mata.

Mungkin sebab itulah yang menjadikan Ruwanta semestanya Senja.

Namun, masihkah Ruwanta menjadi segala Senja setelah apa-apa yang terjadi di antara mereka? Setelah ditinggalkannya Senja seorang diri berteman rasa takut dan kekecewaan? Setelah apa-apa yang dia lakukan pada mama?

Dan bagaimana dengan cinta Yudit yang entah itu?

*

“Menurutku senja berarti sesaat. Apa yang bisa dibanggakan dari sesaat?”

-Senja (hlmn 3)

Membaca novela yang kurang dari seratus lima puluh halaman ini adalah sebuah guilty pleasure bagi saya; ingin baca terus, tetapi di sisi lain tak ingin cepat-cepat menyelesaikan kisah-kisahnya. Apalagi pada novela jawara milik Daeng Ansar ini.

Mengambil semesta anak kuliahan, buku bersampul lembut dengan bunga petunia berwarna ungu ini mampu mengajak saya berpetualang di dalam kepala Senja, tokoh utama wanita kesayangan kita. Senja diimajikan sebagai seorang mahasiswi di salah satu universitas di Bandung yang tengah asyik menikmati hubungan-entah-apa yang dia jalin dengan Ruwanta. Istilah gawulnya, Hubungan Tanpa Status (HTS). Bukan tanpa sebab; Ruwanta kerap memberikan perhatian-perhatian yang menyiratkan sesuatu kepada Senja, membuat Senja berharap dan terus berharap tanpa kepastian.

Padahal di sana ada Yudit, lho, Senja! Yudit! Yang kamu diamkan tiap kali dirinya memulai obrolan! Yang tak kamu acuhkan setiap dirinya memberikan perhatian! Yang kamu balas dengan kekecewaan-kekecewaan atas semua dia punya ketulusan-ketulusan!

Eh, maap, esmosi.

Begitulah, manusia memang kerap mengejar-ngejar apa yang buruk namun nikmat bagi mereka, lalu tak mengindahkan apa yang baik bagi mereka.

Semakin ke belakang, saya dibuat semakin mangkel oleh Senja dan Ruwanta. Betapa bodohnya, betapa betapa mengesalkannya. Dan untuk kesekian kalinya, saya dibuat sebegini jengkel oleh tokoh rekaan Daeng Ansar.

Beruntung, Senja memiliki Nila di hidupnya yang hampir carut-marut; seorang sahabat yang selalu ada bahkan di saat kita melakukan hal-hal paling bodoh. Seorang sahabat sejati.

“Selebihnya, ia hanya pemilik pesona, sedang aku tawanannya.”

-Senja (hlmn 65)

wp-1502376531714.

Kemampuan Daeng Ansar bercerita memang sudah tak diragukan lagi. Dengan tema yang sederhana juga konflik yang lumayan rumit, kisah Senja sukses dibuat seapik ini, seciamik ini. Kemudian, yang paling saya perhatikan benar, penggunaan sudut pandang orang pertama yang teramat pas untuk gaya tulis Daeng Ansar yang alahai nian untuk dinikmati.

Dengan POV seperti ini, juga penuturan yang lembut dan manis, yang baku dan begitu mendayu-dayu, membuat saya sebagai pembaca asyik-asyik saja berpetualang dalam pikiran-pikiran Senja.

Saya diajak untuk lebih menikmati lika-liku hidup Senja.

Namun, tak bisa dibilang novela seciamik ini sudah sempurna dan tak lepas dari satu-dua kekurangan. Saltik menjadi salah satunya. Tetapi, sudah sejauh ini, saya nda akan bahas saltik-saltikan ah~ ehe ehe~

Salah duanya, risiko menggunakan cara bertutur yang manis-puitis seperti itu adalah kekurangdinamisan dalam bercerita. Daeng Ansar perlu tahu kalau tak semua isi novelanya dapat dituturkan dengan manis. Ada adegan-adegan yang mana memerlukan pompaan adrenalin agar pacu itu jantung, agar semakin nikmat apa yang dibaca.

Ingat pola ‘awalan-perkenalan masalah-puncak konflik-penyelesaian masalah-akhiran’ dalam teori Gustav Freytag? Nah, Daeng Ansar, menurut saya yang lancang ini, kurang asyique dalam mengeksekusi adegan di rel kereta api. Kami butuh pompaan adrenalin, keringat dingin, jantung yang kempat-kempot saking sibuknya memompa darah lebih cepat.

“Pernah terlintas pikiran untuk menjauh, pergi tanpa ambil pusing. Tapi sesuatu yang kubangun selama bertahun-tahun, kembali memanggil, meminta disempurnakan wujudnya di bawah payung ketulusan.”

-Yudit (hlmn 105)

Dan satu hal lain yang saya teramat jatuh hatikan dari novela ini adalah ending-nya. O, Daeng, kau pintar sekali memberikan apa yang teramat aku butuhkan dalam novela penuh luka-duka begini.

“Saya diperlihatkannya betapa pilu dan menyedihkan petunia-petunia yang berguguran. Semua kekecewaan-kekecewaan dan kelegaan-kelegaan baur jadi satu, jadi padu. Dan apa-apa yang telah terjadi dan tengah menanti, disampaikannya dengan tebu.”

-Meesterzena (IG: @meesterzena)

Dan perkenankanlah saya mengangkat topi, mengacungkan ibu jari, menyelamatkan sang empunya cerita yang telah dengan sukses menghibur saya dengan kisah-kisah di buku jawara ini. Pun, saya takkan ragu-ragu untuk memberikan…

Bintang 4

Sampai ketemu di ulasan selanjutnya!

wp-1502377657666.

Review: Semua Ikan di Langit

0

Processed with VSCO with c3 preset

Semua Ikan di Langit

Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Penyunting: Septi Ws

Ilustrator isi: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Desainer sampul: Tim Desain Broccoli

Penerbit: Penerbit Grasindo

ISBN: 978-602-37580-6-7

Cetakan: I (Februari 2017)

Jumlah Halaman: 259 hlmn

*

ᴥBlurb ᴥ

Pekerjaan saya memang kedengaran membosankan—mengelilingi tempat yang itu-itu saja, diisi kaki-kaki berkeringat dan orang-orang berisik, diusik cicak-cicak kurang ajar, mendengar lagu aneh tentang tahu berbentuk bulat dan digoreng tanpa persiapan sebelumnya—tapi saya menggemarinya. Saya senang mengetahui cerita manusia dan kecoa dan tikus dan serangga yang mampir. Saya senang melihat-lihat isi tas yang terbuka, membaca buku yang dibalik-balik di kursi belakang, turut mendengarkan musik yang dinyanyikan di kepala seorang penumpang… bahkan kadang-kadang menyaksikan aksi pencurian.

Trayek saya memang hanya melewati Dipatiukur-Leuwipanjang, sebelum akhirnya bertemu Beliau, dan memulai trayek baru: mengelilingi angkasa, melintasi dimensi ruang dan waktu.

*

“Inilah kenapa perut orang menjadi gendut kalau makan terlalu banyak: karena mereka perlahan-lahan menjadi planet, dimulai dari perut yang menyimpan begitu banyak konstelasi bintang.”

Saya yang tak pernah bosan menjalankan pekerjaannya sebagai bus Damri, pada suatu hari diajak oleh ikan julung-julung kepunyaan Beliau untuk menemani Beliau berjalan-jalan. Mulai dari bandung zaman sekarang, hingga awal mula dan akhir suatu dunia.

Dengan trayek baru yang benar-benar dari ujung ke ujung—ujung masa dan ujung ruang—Saya telah melampaui pengetahuan-pengetahuan bus seusianya. Namun, hanya satu yang kerap mengusik ketenangan busi dan radiator Saya; bagaimana cara paling baik untuk mencintai Beliau?

Dibantu seorang kecoak, banyak ikan julung-julung, pohon-pohon pengisah, dan kisah-kisah, Saya akan terus mencari tahu. Sampai hancur tubuhnya, lebur raganya.

*

IMG_20170709_205009

“Menyayangi itu adalah kegiatan yang menakutkan.”

-Saya (hlmn 64)

Membaca Semua Ikan di Langit berarti menyerahkan diri pada semesta Mba Ziggy dan mengharuskan kerelaan dari diri sendiri untuk sekadar menjadi debu di antara planet-planet.  Novel jawara ini membuat saya terheran-heran akan bentuk imajinasi yang dimiliki penulisnya; seabsurd dan semegah apakah?

Yang saya temui pada awal-awal proses menelaah diri sendiri dengan membaca Semua Ikan di Langit ini adalah: 1. Ide-ide yang fresh dan sama sekali tidak banal; 2. Pengemasan plot yang sedemikian apik; 3. Penceriteraan yang sebegini ulung.

Tak heran, Laporan Pertanggungjawaban Dewan Juri Sayembara Novel DKJ 2016 berbunyi seperti ini:

“’Semua Ikan di Langit’ ditulis dengan keterampilan bahasa yang berada di atas rata-rata para peserta Sayembara kali ini. Novel ini mampu merekahkan miris dan manis pada saat bersamaan. Dan perbedaan mutu yang tajam antara Pemenang Pertama dan naskah-naskah lainnya, membuat dewan juri tidak memilih pemenang-pemenang di bawahnya.”

See? Bahkan naskah-naskah penulis sekaliber Arafat Nur, Benny Arnas, Asef Saeful Anwar diberi label ‘memiliki perbedaan mutu yang tajam’. Alahai kampret…

Rahasia yang menyenangkan lainnya, jika kau sudah mengunyah buku ini tiga sampai lima bab, maka kau akan menemukan kenyataan kalau novel ini tak benar-benar sama dengan novel-novel lainnya dalam bentuk struktur/isinya.

Sebut saja Harry Potter, Twilight, all-American Girls, Love Rosie, atau novel-novel dalam negeri seperti Ayat-Ayat Cinta, Sunshine Becomes You, Critical Eleven, Kubah, yang pasti memiliki satu plot besar, jalan cerita yang akbar tentang protagonisnya. Berbeda dengan Semua Ikan di Langit, yang menurut saya lebih menyerupai kumpulan kisah tentang Beliau, kumpulan cerita pendek.

Atau lebih mengejutkannya lagi, jurnal pengamatan tentang Beliau—anak kecil yang teramat ajaib, oleh Saya.

Meski tak sekaku laporan/jurnal ilmiah, pengamatan yang Saya lakukan ini terkesan begitu polos dan kekanak-kanakkan, padahal umur Saya sudah 30 tahunan.

Balik lagi, struktur cerita yang seperti ini mungkin bagi orang-orang seperti saya (dan ini saya rasakan benar), akan menjadi pedang bermata dua. Kebaikannya; cerita-cerita di dalamnya akan benar-benar berwarna, dan semestanya akan semakin luas tak terkira. Ketidakbaikannya; tiadanya perasaan-perasaan penasaran untuk terus membalik-balik halaman demi halaman.

“Semua makhluk punya cara bersedih dan cara menunjukkan kesedihan yang berbeda-beda. Tapi, saya rasa, manusia mempunyai cara yang paling baik.”

-Saya (hlmn 168)

Namun ketidakbaikan-ketidakbaikan itu (mohon maafkan kelancangan ini, heuheu), tak terlalu mengganggu saya selama saya disuguhkan oleh karakter Saya dan Beliau yang alamak membuat saya jatuh hati!

Saya terus diajak mengamat-kenali Beliau (lewat pikiran-pikiran Saya yang akhirnya membuat saya memiliki kedekatan batin dengannya, ceilah) seperti; keajaiban-keajaiban yang Beliau ciptakan ketika senang hati, kegundahan-kegundahanNya, petaka-petaka yang terjadi kala Beliau murka, nama yang pantas untukNya, kesukaan-kesukaanNya… banyak. Tak habis-habis, tak bosan-bosan.

Dan sama seperti Saya, saya ikut jatuh hati pada Beliau. Apalagi ketika beliau bermain-main di toko sepatu.

“Ah, manusia memang kebanyakan kaget. Itu karena mereka punya terlalu banyak perkiraan. Jadi, kalau perkiraannya salah, kagetlah mereka. Tapi, saya tidak.”

-Saya (hlmn 35)

Alur yang maju mundur dan sudut pandang yang konsisten jua plot cerita yang tak terlalu saling menyambung (seperti sudah dibahas di atas), membuat buku ini (mungkin saja, ya, da aku belum pernah nyoba) bisa dibaca dari mana saja. Dari tengah kebelakang. Dari belakang ke depan, dan sebagainya.

Mungkin loh, ya. Ehe.

Lalu, usai diturunkannya saya di halte terakhir, di halaman terakhir buku Semua Ikan di Langit ini, saya sedikit banyak dipengaruhi oleh pandangan Saya atas segala cintanya kepada Beliau. Mungkinkah… mungkinkah saya bisa mencintai Beliau yang lain itu, di dunia ini, sepolos dan se-tak-membutuhkan-alasan-balasan itu?

“Tapi, rindu itu tidak bisa disuruh-suruh. Kalau sudah datang, dia maunya malas-malasan saja, sampai bosan sendiri dan pergi sendiri.”

-Saya (hlmn 80)

Saya takkan ragu-ragu memberikan…

Bintang 5

Asal, dengan syarat, jawaban Mbak Ziggy dan penyunting buku ini (yang pastinya hebat sangat karena hanya ada satu salah ketik, tertwa yang seharusnya tertawa di hlmn 251) untuk memilih menggunakan cicak daripada cecak, dan kecoa daripada kecoak.

Tapi, kalau sampai meniadakan juara dua dan tiga, kok (sekali lagi) kampret, yha?

Sampai ketemu di ulasan selanjutnya!

1500009269373