Review : Mission D’Amour

5

Mission D'Amour

Mission D’Amour

Penulis : Francisca Todi

Editor : Ruth Priscilia Angelina

Desainer Kover : Orkha Creative

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 978-602-03-2487-6

Cetakan : I

Jumah Halaman : 368 hlmn

*

šBLURB›

Kehidupan Tara Asten sebagai asisten pribadi Putri Viola—Putri Mahkota Kerajaan Alerva yang supersibuk—selalu penuh tantangan. Namun, Tara tidak pernah menyangka Badan Intelijen Alerva (BIA) akan menjadikannya tersangka utama dalam rencana penyerangan keluarga kerajaan. Dia dimasukkan ke dalam masa percobaan tiga bulan, pekerjaannya terancam tamat!

BIA menugaskan salah satu agen rahasianya, Bastian von Staudt, alias Sebastian Marschall, untuk menyamar menjadi calon pengganti Tara dan menyelidiki wanita itu. Tapi di tengah perjalanan misinya, dia malah jatuh hati pada kepribadian lugu Tara. Bukannya mencari kesalahan Tara, Sebastian malah beberapa kali menolongnya.

Tara yang awalnya membenci pria itu, mulai bimbang dengan perasaannya. Sebastian pun mulai kesulitan mempertahankan penyamarannya.

Tapi, itu sebelum Sebastian mendengar percakapan mencurigakan Tara di telepon. Yang membawa Sebastian pada dua pilihan sulit : misi atau hatinya.

*

Tiga hari.

Hanya butuh tiga hari bagi saya untuk menggarap buku Mbae Cisca sampai habis. Namun, tepat di hari ketiga, keyboard rusak dan saya terpaksa harus menunda membuat review ini selama empat hari lagi. Heuheu. (Sebenarnya masih rusak, ini huruf ‘L’-nya mendem, untung masih bisa diakalin, ehe) : (

B-but… these are worth to wait!!! Ooowww!!! ‘Kay, nuff said, here goes nothin’…

Berkisah tentang Tara Asten yang hidupnya semakin ruwet semenjak kedatangan teman masa kecilnya, Danielle Laroche—bukan berarti hidup Tara sebelumnya aman tentram, apalagi setiap harinya ia harus berurusan dengan Putri Viola serta Dewan kerajaan, hehe. Kemudian, karena satu dan lain hal, jadilah ia tersangka nomor satu bagi BIA dan menjadikannya target untuk dimata-matai oleh Bastian von Staudt (a.k.a Sebastian Marschall).

Sebastian menyamar menjadi seorang event organizer pribadi Putri Viola, yang juga berarti ia hadir untuk mengancam karir Tara yang susah-payah ia pertahankan selama ini. Namun kebencian Tara makin hari makin sirna, sebab siapa sih yang bisa tahan sama pesona seorang Superman?

Dinding yang dibangun Tara untuk menghalangi Sebastian memasuki kehidupan pribadinya—apalagi masa lalu Tara yang begitu kelam membuat ia semakin tidak mau berurusan dengan Sebastian—sedikit demi sedikit runtuh. Mungkin karena senyumnya, atau kelembutannya, atau sikapnya yang seperti lelaki sejati, atau kencan mereka di restoran paling indah di Trioli atau mungkin karena Sebastian mampu menunjukkan impian yang ia sendiri takut untuk memimpikannya.

“Selama ini aku mengira manusia hanya terbagi menjadi dua golongan: peremuk impian dan penyemangat impian. Namun sejak aku mengenal Sebastian, aku menemukan golongan manusia ketiga. Pemberi impian kepada orang-orang tanpa impian.”

—(Tara Asten, 298)

Untuk desain kover bukunya… Qren beudht!!! Saya suka dengan warna merah yang dijadikan warna dominan untuk desain kover Mission D’Amour ini. Untuk perkara warna, saya merasa cukup hebat karena dapat mengenal banyak warna. Namun, kover buku ini mampu membuat saya merasa alay. Saya tahu warna merah biasa, merah hati, merah marun, bahkan merah cabe-cabean. Namun, merah yang digunakan untuk kover ini adalah hal baru bagi saya. Merah pastel kah?

Makanya, kalian semua harus dapatkan novel ini lalu tulis komentar kalian di bawah tentang warna merah yang digunakan desainer kovernya Mbae Cisca, ehe. Ditunggu!

Mbae Cisca mampu meramu unsur-unsur yang ada dalam sebuah novel dengan begitu apik dan cantik. Tema yang diangkatnya unik dan berbeda. Saya sendiri baru kali ini membaca karya penulis Indonesia yang menceritakan tentang mata-mata atau agen intelijen lalu di-mix dengan kisah-kisah kerajaan.

Kerajaan Alerva di sini adalah tempat yang benar-benar fiktif, begitu juga Carnot dan Trioli. Tetapi berkat kemampuan Mbae Cisca, saya dapat membayangkan kerajaan kecil itu berada tepat di tengah-tengah benua Eropa. Terrific!

Berbicara tentang sudut pandang, menulis sebuah novel dengan dua sudut pandang memang tak mudah, apalagi isi kepala keduanya benar-benar kompleks. Mungkin hal ini yang membuat Mbae Cisca sedikit keliru di dalam novelnya. Di halaman 300, tepat di bawah angka yang menunjukkan bab ke-27, tertulis Bastian, di mana paragraf demi paragraf selanjutnya sangat jelas menunjukkan bahwa sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang Tara.

Untuk cetakan selanjutnya, saya harap kesalahan kecil namun sangat mengganggu ini dapat diperbaiki.

Dua sudut pandang ini juga memiliki kelebihan, karenanya kita bisa tahu karakter masing-masing tokoh dari cara berpikirnya. Seperti Tara Asten yang baik hati, cerdas, lugu, penakut, selalu minder serta Bastian yang pintar, tegas, lembut juga pemberani.

Karakter setiap tokoh di novel ini digarap dengan cukup baik. Contohnya Tara yang dengan segala kebaikan yang ada pada dirinya, ternyata mempunyai masa lalu yang begitu kelam hingga membuatnya menjadi sosok yang minder serta susah membuka hatinya untuk lelaki yang mencintainya.

Danielle juga, walaupun memiliki latar belakang yang sama dengan Tara, ia tumbuh menjadi wanita urakan yang sangat berbeda dengan teman masa kecilnya itu. Semua dijabarkan dengan baik dan tidak terkesan terlalu mengada-ada ataupun ujug-ujug.

Hanya satu yang saya sayangkan, yaitu karakter Bastian. Menurut saya Mbae Cisca kurang memperkuat karakter bastian sebagaimana ia menciptakan karakter lainnya. Masa lalunya kurang nganu, hingga kebencian yang ia rasakan kepada keluarga kerajaan kurang cukup untuk dijadikan pergolakan batin baginya ketika bekerja di bawah sistem kerajaan. Namun untuk karakter lainnya disajikan dengan cukup yummy! Salute!

Ah, ya… Koreksi lagi untuk halaman 121, yang seharusnya ‘pantri’ menjadi ‘panti’, juga penggunaan kata ‘hipnosis’ yang harusnya ‘hipnotis’.

“Kelam matanya adalah sepasang black hole yang menghipnosis.”

(Tara Asten, 298)

Hipnosis : Keadaan seperti tidur karena sugesti.

Hipnotis : membuat atau menyebabkan seseorang berada dalam keadaan hipnosis

Saya sangat menikmati halaman demi halaman ketika membaca novel ini. Saya jatuh cinta dengan ceritanya, tokohnya, tempat-tempatnya, twist-nya, ahh… semuanya. Apalagi banyak sempilan-sempilan seperti ideologi komunisme yang disinggung, juga sedikit action, jenis-jenis makanan yang bikin baper. #typo #typosengaja #baperitukekinian #cintailahayahbunda

Over all, qreeenn!

This novel worth these stars

Bintang 4

Yay!!!

Advertisements

Review : Longing For Home

0

Longing For Home

LONGING FOR HOME

Penulis : Irfan Rizky, dkk

Editor : Tiara Purnamasari

Layout : Tiara Purnama Sari

Desain Sampul : Roeman-Art

ISBN : 978-602-73734-0-2

Penerbit : Mazaya Publishing House (2016)

*

Blurb

Aku akan selalu menemukanmu. Selalu. Bahkan pada debu yang berterbangan di bawah terik raja siang pukul satu. Pada kuap mulut-mulut mungil yang akan beranjak tidur. Pada gaduh acara gosip di televisi yang tak pernah kausuka.

Dan ketika aku menemukanmu, maka aku akan menemukan rumah sejati. Yang dibangun dari mimpi. Dikokohkan dengan cinta dalam hati. Cinta yang sejati. Cinta yang takkan pernah mati walau kau telah lama pergi.

(Penggalan cerpen “Rumah Yang Berbeda” karya Irfan Rizky)

Kontributor

Adinda Amara – Afifah Dinda Mutia – Aisya – Devita Cahyaning Islami – Diah Avitaa – Fadlun Suweleh – Fairuz Annisa Pardania – Jihan Maymunah – Luhdiah Prihatin Umroh – Mahdalena – Mutiara Magdalena – Nur Rahmah AR – Pramodyah Ayu Laraswati – Radita Nilna Salsabila – Selta Utary – September V – Siti Syamsiyah – Terdevan –Wahyuning Utami Riyadi – Wardatul Aini – Yesi Matahari

*

Review

Buku kumpulan cerpen ini menyajikan sebanyak 22 cerita yang lahir dari tangan para penulis yang mempunyai latar belakang berbeda. Cerpen-cerpen ketje ini dipertemukan pada suatu kompetisi bertemakan ‘Home’ yang diadakan oleh salah satu penerbit indie.

Di tengah banyak pandangan meremehkan yang ditujukan pada ‘dedek-dedek gemes dunia kepenulisan’ (baca: penulis pemula, mengutip dari sebuah artikel oleh Adam Yudhistira di basabasi.co), maka saya harap buku ini mampu meluruskan pola pikir ‘om-om gemes dunia kepenulisan’ (baca: penulis sok ahli) yang berpikir menempuh jalur melalui penerbitan indie itu adalah ‘abal-abal’ atau sebuah ‘kedodolan’.

Dan saya teramat sangat tersanjung atas keputusan juri yang dengan berbaik hati membuat cerpen saya menyandang titel Juara 1. Yay! Kamsahamnida, arigatou, bonjour, xie-xie, terima kasih, wilujeng sumping.

Yap! Lanjut review-nya! Dari 22 cerpen yang ada, saya akan me-review sebanyak delapan cerpen yang menurut saya unik, manis, dan menarik hati. Cuma ada satu hal yang kurang dan ternyata sangat mengganggu yaitu, TYPO! Benar para hadirin, typo. Musuh para penulis yang begitu kuat dan tak mungkin bisa dikalahkan jika para penulis malas mengedit. Begitu banyak typo bertebaran hingga typophobia saya kumat. Untuk cetakan berikutnya akan lebih indah lagi jika editor mampu mengubah typo-typo tersebut. Dan satu lagi, kertas serta sampul saya rasa terlalu tipis, mungkin bisa menggunakan kertas yang lebih bagus lagi untuk cetakan berikutnya.

*

Rumah Untuk Pulang – Adinda Amara

Bukankah keluarga seharusnya menjadi surga kecil di dunia ini, di mana kehangatan selalu mengalir dan perlindungan akan selalu ada dan menjagamu?

Cerpen pertama ini sukses membuat saya hanyut dalam nuansa sendu yang penulis ciptakan. Penggunaan diksi yang sederhana namun mengikat membuat saya tak perlu susah-susah menempatkan diri saya sebagai Rizaldi yang mempunyai luka begitu dalam. Serius. Sama sekali nggak bermaksud untuk lebay. Lalu ketika Rizaldi memohon izin, hampir saja air mata saya menetes.

Kembali Ke Habitat – Fadlun Suweleh

Sejatinya rumah bukan hanya tempat yang nyaman dan menenangkan untuk kita. Rumah adalah tempat yang tepat untuk kita, tempat yang kita butuhkan, bukan sekadar tempat yang kita inginkan.

Setelah diajak bersedih-sedih ria, mari saya ajak kalian membaca cerpen yang sarat akan satire juga menggelitik. Sindiran-sindiran terhadap tikus-tikus pemerintah yang tersaji dengan cukup apik sanggup menyunggingkan senyum prihatin yang ditujukan spesial kepada negara kita tercinta

Ada satu yang mengganggu saya. Di hal. 49  ada kalimat “(Di ruang periksa)”. Mungkin penulis ingin memperjelas setting percakapan yang berlatar belakang ruang periksa di adegan berikutnya, yang menurut saya sangat tidak perlu. Kalau untuk naskah drama, mungkin bisa.

Tempat Untuk Kembali – Jihan Maymunah

Ibu bagaikan rumah tempat kita tinggal, juga bagaikan rumah yang selalu melindungi kita dari segala macam cuaca.

Cerpen kali ini terasa dekat sekali dengan kehidupan masyarakat sekarang, dengan saya, dan mungkin juga dengan kalian. Di cerpen ini penulis mampu dengan apik menceritakan kesederhanaan tersebut dengan begitu mengesankan. Ada suatu pesan yang amat sederhana namun menampar yang bisa kita ambil dari cerpen ini. Salute.

Hujan Di Tepi Senja – Mutiara Magdalena

Di sini juga damai seperti rumah saya.

Akhirnya, nemu juga cerpen yang bertemakan cinta-cintaan favorit saya. Ehe… ehe… Gak usah di-review deh, bagus banget! Penulis mampu mengisahkan cerita romantis yang endingnya ternyata ehem-ehem. Diksi yang digunakan keren juga indah. Menghanyutkan.

Pulang – September V

Rumah adalah tempat untuk kembali, bukan untuk ditinggalkan.

Cerpen yang satu ini juga terasa begitu dekat dengan realita. Tentang Annisa yang galau sehabis PHK juga tentang kasih sayang Ibu yang tak berupa, tak berujung, tak tertakar. Mengharukan.

Pasir Dan Mentari – Siti Syamsiyah

Tidak perlu gunung emas atau istana berlian, cukup pasir dan mentari kau bisa mencintai dan mempertahankan tanah airmu demi masa depannya yang gemilang.

Satu lagi cerpen yang bernuansa satire, namun kali ini tak dibalut dengan humor-humor jenaka. Penulis mampu mengangkat dan menyindir isu-isu eksploitasi alam yang kini tengah marak di negeri kita tercinta. Pesan yang terkandung di dalam cerpen ini begitu benar dan menampar. Duh, saya juga jadi ikutan malu.

My Front Door – Terdevan

If you ever feel like this whole world put you down to your own knees, just come back home…

Satu lagi cerpen romantis yang menjadi favorit saya. Penulis dengan gaya penulisan yang memikat, agak-agak nyastra gitu, mampu melukiskan betapa LDR (Lama Diboongin Relationship, ehe… boong deng) begitu menyesakkan bagi dua insan yang saling mencinta. Diksinya keren, penggambarannya apik, plotnya rapih. Manis.

Surga Menghadirkan Rindu – Wardatul Aini

Surga dunia adalah rumah. Sejauh apapun kaki melangkah dan sehebat apapun dirimu, pada akhirnya rindu akan membawamu untuk kembali.

Cerpen ini adalah cerpen terakhir yang akan saya review. Dan betapa puasnya saya, cerpen yang terakhir ini adalah juga cerpen sederhana yang memikat. Cerpen yang bernuansa religius ini bercerita tentang impian untuk memiliki rumah yang layak. Sederhana, namun berisi. Ada hal-hal yang bisa dipetik dari cerpen ini seperti ketabahan, sikap selalu merasa cukup dan lain-lain.

Cukup sekian dari saya, kurang lebihnya mohon maaf, wa billahi taufik wal hidayah. Untuk keseluruhan, saya akan memberikan buku ini tiga dari lima bintang.

Bintang 3

Saya merasa bangga terhadap diri saya dan teman-teman sesama penulis yang terhimpun dalam buku ini. Teruslah berkarya, dan jangan pernah merasa cukup. Dan saya akan setia menunggu endorse-an buku dari kalian. Ehe.

Review : The Golden Road

1

The Golden Road

THE GOLDEN ROAD – HARI-HARI BAHAGIA

Penulis : Lucy Maud Montgomery

Alih Bahasa : Tanti Lesmana

Desain Kover : Ratu Lakhsmita Indira

Tebal : 352 hlmn

ISBN : 978-979-22-5718-2

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, 2010

*

šBLURB›

Sara Stanley, si Gadis Pendongeng, kembali ke Carlisle untuk menghabiskan musim dingin bersama keluarga King. Untuk membantu melewatkan bulan-bulan musim dingin yang membosankan, dia mengusulkan kepada para sepupunya untuk membuat majalah. Beverly menjadi editornya, sedangkan dia, Felicity, Cecily, Dan, dan Felix bertanggung jawab terhadap kolom masing-masing.

Majalah itu juga akan memuat berbagai peristiwa menarik di Carlisle. Majalah Kita dengan cepat menjadi sumber hiburan yang menyenangkan bagi mereka, di samping berbagai peristiwa yang terjadi pada musim itu. Namun tak ada yang abadi. Ketika ayah si Gadis Pendongeng datang menjemput, dengan berat hati dia harus meninggalkan sahabatnya di Pulau Prince Edward.

***

  • Kesan yang Zen harapkan saat ingin membaca buku ini.

“Ini buku apa? kok tiba-tiba da di dalam lemari? Wah, maybe Santa was real. And so did unicorn.”

Buku pemberian entah siapa ini sudah ada sedari dulu di lemari buku milik Keluarga Bustami. Entah siapa—atau apa—yang memberi, Zen mengucapkan terima kasih yang teramat sangat. Dulu sekali, butuh tiga kali pikir-pikir untuk membaca buku ini. Kenapa? Sebab buku terjemahan, apalagi terjemahan klasik, cuma bikin pusing di awal dan baru ketemu benang merahnya di tengah dan bahkan di akhir (ex: Harry Potter).

Awal Februari ini saya memutuskan untuk membaca ulang buku karangan L.M. Montgomery ini. Dan dengan ilmu yang telah bertambah seiring berjalannya waktu, Zen harap dapat lebih mampu mengerti isi dari novel yang pastinya tersebut.

Oh, iya, kovernya bagus banget. Sukaaak.

  • Kesan yang Zen dapatkan setelah membaca buku ini.

“You know you’ve read a good book when you turn the last page and feel a little as if you have lost a friend.” —Paul Sweeney

Novel ini luar biasa bagusnya. Ampuuunnnnn. Jadi makin cinta sama literatur klasik kayak begini. Cara penulis merangkai kata demi kata, frasa demi frasa, kalimat demi kalimat benar-benar menunjukkan kualitasnya sebagai penulis hebat di masanya. Keren. Kalo punya jempol sejuta, sudah Zen acungin deh. Oh iya, jumlah jempol yang sama buat alih bahasanya, keren abis, seperti benar-benar ditulis dalam bahasa ibu.

Majas personifikasi dan metafora sangat dominan di novel ini. Walaupun begitu, tidak berlebihan dan malah mempercantik pendeskripsian yang sukses dilakukan oleh penulis. Begitu indah tutur katanya. Jadi kebayang betapa cantiknya bentangan alam di pulau Prince Edward.

“Akan tetapi pada malam berbulan, kebun buah itu tampak seperti negeri dongeng, lorong-lorongnya yang bersalju berkilauan bagaikan jalan-jalan dari gading dan kristal, dan pohon-pohon gundul tak berdaun memancarkan kemerlip pendar-pendar bak cahaya peri. Jalan Setapak Paman Stephen yang tertutup salju halus seolah-olah diselubungi pesona sihir putih. Indah tak bernoda, seperti jalanan dari mutiara di Yerusalem yang baru.”

Sekali lagi jempol yang teramat banyak buat penulis dan alih bahasa.

  • Intisari dari buku ini adalah…

Daripada disebut novel, saya kok merasa buku The Golden Road ini sedikit berbeda. Lebih mirip ke buku harian atau mungkin kumpulan dongeng.

Buku ini bercerita tentang kehidupan anak-anak Keluarga King dan sepupu-sepupu mereka, termasuk si Gadis Pendongeng. Sudut pandang yang dipakai adalah sudut pandang orang pertama, aku. Sang aku yang bernama Beverly mempunyai sudut pandang yang unik, berkali-kali saya kebingungan antara ini pikiran Beverly atau Gadis Pendongeng, sih? Sebab fokus Beverly lebih dominan ke Gadis Pendongeng.

Lebih mirip ke kumpulan dongeng atau diary sebab banyak kisah-kisah yang didongengkan si Gadis Pendongeng kepada teman-temannya. Dongeng-dongengnya begitu khas dan orisinal. Jadi seperti ada cerita dalam cerita. Lagi-lagi jempol sing akeh.

Oh, ya, Majalah Kita mempunyai peran yang cukup penting di buku ini, dan dijamin kalian bakal senyam-senyum sendiri kalo baca kolom-kolom di dalamnya. Ehe… ehe…

  • Tokoh-tokoh yang ditonjolkan dalam buku ini beserta karakternya yaitu sebagai berikut :
    • Beverly, mungkinkah dia menyukai si Gadis Pendongeng? Tapi, kok…
    • Si Gadis Pendongeng, pencerita yang baik, punya daya magis yang mampu memikat orang-orang di sekitarnya.
    • Cecily, mempunyai hati paling baik dibanding anak-anak yang lain, : )
    • Felicity, judes di awal, tapi kamu pasti bakal jatuh cinta di akhir. Ehe…
    • Felix, tak terlalu menonjol, namun kolom humor asuhannya sukses membuat Zen… #AyoIsiSesukamu
    • Dan, favorit Zen. Ternyata sejak tahun 1900-an sarkasme sudah ada dan teramat menggelitik.
    • Peter, sepertinya tergila-gila dengan Felicity, dan ia sangat menyukai ramalan yang dibuat oleh si Gadis Pendongeng. Zen juga suka semua ramalan yang dibuatnya, walaupun entah kenapa ada rasa sedih yang purba ketika mendengar kata-kata terakhir lamaran tersebut : (
    • Sara Ray, cengeng, hampir semua anak lelaki Keluarga King tidak suka kepadanya.
    • Masih ada si Lelaki Canggung, Istri Gubernur, Peg Bowen, Paman Blair, Paddy dan banyak lagi yang harus kamu selidiki sendiri nantinya. Dan mungkin, setelah membaca buku ini, Zen dan kamu akan memiliki kesan yang berbeda. Siapa tahu?
  • Alur ceritanya…

Maju mundur. Maju, mundur, maju mundur. Duh, kompliketet banget, bang : ( Zen sampai lelah meraba-raba. Ada yang diceritakan seratus tahun silam, empat puluh tahun kemudian, ketika aku sudah begitu tua, pokoknya kompliketet. But, once again, it’s worth to read.

  • Endingnya…

Puasshhhhh. Bener-bener seperti kehilangan seorang teman ketika halaman terakhir usai dibaca : ( Oh sad. Yha, sad ending. Serius lho, endingnya bikin baper.

  • Manfaat yang Zen peroleh…

Dapet ilmu kepenulisan lebih dan lebih lagi. Lebih ingin belajar menikmati hidup. Dan ternyata ungkapan “Don’t grow up, it’s a trap,” itu bener banget.

  • Kalau Zen bertemu dengan sang penulis…

“Ayo bikin lanjutannyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa :  (“

  • Rating

Bintang 4

Pengennya sih ngasih lima, tapi belum baca yang sekuel pertama, The Story Girl, ehe ehe…

Review : The Chef

0

The Chef

The Chef – “Secarik resep kenangan yang hilang.”

Penulis : Hanna Enka

Editor : Ainini

Penata Isi : Violet V

Desain Kover : Ann_Retiree

Tebal : 288 hlmn

ISBN : 978-602-255-689-3

Penerbit : MAZOLA, 2015

***

“Apa kau baik-baik saja?”

“Apa yang kau lakukan sendirian di sini?”

“Sepertinya perasaanmu sedang tidak baik.”

“Jangan bersedih. Segala sesuatunya di dunia ini bisa datang dan pergi sesuka hati. Terkadang kita harus merelakan. Karena tidak ada yang abadi. Manusia tidak boleh hidup dalam kelam. Mereka harus melangkah maju, mencari arah cahaya yang mampu menopang mereka kembali melihat dunia.”

“Kau lihat langit itu, bukan? Cerah. Jadi, semangatlah! Seperti langit. Jangan membuatnya berawan, apalagi mendung.”

Feba tak mengeluarkan sepatah kata pun sampai lelaki itu berdiri dari tempatnya duduk, menepuk pelan pundaknya seolah memberikan pesan, Semua akan baik-baik saja, lalu berlalu bersama angin musim semi.

***

  • Kesan yang Zen harapkan saat ingin membaca buku ini.

Kesan, ya? Kesan? Hmmm… Setelah melihat kover novel tersebut yang ada dipikiran Zen yaitu: “Wah, another cooking stories! Kira-kira lebih bagus ‘gak ya daripada novel Resep Cinta dan Resep Cherry-nya Primadona Angela.” Dan, voila, langsung pusing di halaman pertama. Ehe.

  • Kesan yang Zen dapatkan setelah membaca buku ini.

Kesan, ya? Kesan? Hmmm… Setelah melahap habis bab demi bab, sampailah Zen pada keputusan hati: “Wah… Qrend ntap banget ini novel. Bahasanya mengalir begitu saja. Hanyut-hanyut enak. Coba daku bisa bikin novel sehebat ini.”

Samar-samar novel ini mengingatkan Zen tentang cerita sebuah komik Jepang, dan ketika sampai pada klimaksnya, kecurigaan Zen terbukti benar. The Kitchen Princess mungkin menjadi sumber inspirasi Mbae Hanna Enka untuk menulis novel ini.

Menurut Zen, novel ini memiliki beberapa kekurangan. Salah satunya yaitu ada beberapa kalimat yang harus bisa dibaca dengan satu tarikan napas. Contohnya, “Feba merasa masa lalunya seolah-olah kembali berjalan menghampiri begitu ia menginjakkan kaki di Bandara Internasional Miami setelah memakan waktu sekitar dua puluh enam jam dari Bandara Soekarno Hatta.”

Bukankah bisa dipersingkat dengan, “Feba merasa masa lalunya kembali menghampiri, tepat ketika kakinya menginjak Bandara Internasional Miami setelah dua puluh enam jam mengangkasa dari Bandara Soekarnoe Hatta.”

Ya, ‘kan?

  • Intisari dari buku ini adalah…

Tentang seorang Feba—mahasiswi jurusan kuliner di salah satu universitas di Miami, Amerika Serikat—yang kembali ke Miami untuk meniti karir sekaligus mencari “Pangeran Puding” setelah lima tahun di Indonesia. “Pangeran Puding” adalah lelaki yang pernah satu jurusan dengannya dulu di bangku universitas.

Banyak hal manis, menggigit serta berwarna-warni persis Rainbow Soda kreasinya yang ia alami di bawah langit Miami. Kebaikan hati, perjuangan untuk mendapatkan cinta sang pangeran, kebimbangan, hadirnya cinta yang lain, pedihnya kompetisi, serta perihnya jiwa ketika mengetahui orang yang paling ia sayangi kini berada di ambang hidup dan mati mampu dikemas dengan apik di dalam novel ini.

  • Tokoh-tokoh yang ditonjolkan dalam buku ini beserta karakternya yaitu sebagai berikut :
    • Feba, gadis keturunan Indonesia-Prancis yang berhati baik dan tidak mengenal kata menyerah.
    • Demian, pemuda berdarah Inggris yang mampu membuat Feba menangis. Kebaikan hatinya sering tertutupi oleh gengsi. Ehe.
    • Rein, kakaknya Demian. Matanya yang berwarna pirus sangat mirip dengan ciri-ciri “Pangeran Puding” yang Feba ingat. Mungkinkah…?
    • Sienna, model yang juga teman sejak kecil Demian dan Rein. Ia membenci Feba teramat sangat karena Feba menyukai salah satu dari teman masa kecilnya.
    • Jane, teman satu hotel Feba yang juga seorang fashion designer. Baik hati dan usil, selalu mengolok-olok Feba tentang “Pangeran Puding”-nya.
    • Henry dan Ody sebagai bos dan partner Feba. Henry yang kebapakan dan Ody yang sudah Feba anggap saudara lelakinya sendiri telah banyak membantu Feba di Miami.
    • Nenek Sarah, orang yang mengasuh Feba sejak orang tuanya meninggal. Mencintai Feba seperti mencintai anaknya sendiri. Nenek Sarah juga pengelola sebuah panti asuhan bernama Serumia.
  • Alur ceritanya…

Maju mundur. Maju mundur cantik ulala kamu sih julit maksimal makanya Allah murka. Hestekapasih.

  • Ending-nya…

Happy ending, yay! Emang novel-novel happy ending itu kayak ada manis-manisnya gitu.

  • Manfaat yang Zen peroleh…

Alhamdulillah jadi lebih tahu Miami seperti apa, kayak bagaimana. Alhamdulillah cita-cita jadi chef makin membara, merona, mengangkasa. Alhamdulillah keinginan untuk berkarya makin kuat. Alhamdulillah.

  • Kalau Zen bertemu dengan sang penulis…

Ingin mastiin aja, bener ‘gak sih novelnya terinpirasi sama komik yang udah diberi tahu di atas. Mastiin good. Ehe.

Sukses terus buat Mbae-nya!

  • Rating

Bintang 2

Selamat atas dua bintangnya : )))))

  • Perjuangan

Untuk mendapatkan novel ini Zen harus mengikuti kuis yang diadakan oleh Penerbit Divapress. Ehe. Alhamdulillah gratisan. Terima kasih Divapress.