Review : Love, Rosie

2

Love, Rosie

—Di Ujung Pelangi—

Love, Rosie

Penulis: Cecelia Ahern

Alih bahasa: Monica Dwi Chresnayani

Desain dan ilustrasi sampul: Iwan Mangopang

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-602-03-1493-8

Cetakan: IV (Maret 2015)

Jumlah halaman: 632 hlmn

*

šBLURB›

Mulai dari anak-anak sampai menjelma remaja pemberontak, Rosie dan Alex selalu bersama. Sayangnya di tengah-tengah serunya masa remaja, mereka harus berpisah. Alex dan keluarganya pindah Amerika.

Rosie benar-benar tersesat tanpa Alex. Namun, pada malam sebelum dia berangkat untuk bersama kembali dengan Alex, Rosie mendapat kabar yang akan mengubah hidupnya selamanya, dan menahannya di tanah kelahirannya, Irlandia.

Meski demikian, ikatan batin mereka terbukti sanggup melewati suka-duka kehidupan masing-masing. Tetapi, keduanya tidak siap menghadapi perubahan lain yang terjadi di antara mereka: Cinta.

*

“…aku tidak ingin menjadi salah satu di antara sekian banyak orang yang begitu gampang dilupakan, yang dulu pernah begitu penting, begitu istimewa, begitu berpengaruh, dan begitu dihargai, namun beberapa tahun kemudian hanya berupa seraut wajah samar dan ingatan kabur. Aku ingin kita bersahabat selamanya, Alex.”

Rosie (hlmn 35)

Love, Rosie bercerita tentang lika-liku hidup seorang wanita Irlandia bernama Rosie Dunne. Rosie dan dengan satu-satunya sahabat yang ia miliki, Alex Stewart, menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja mereka dengan hal-hal menyenangkan seperti menunggu Sinterklas hingga larut malam, saling surat-menyurat di kelas sampai ketahuan lalu dihukum, bermain walkie-talkie, hingga membolos sekolah dan pergi ke bar demi memesan segelas tequila walau mereka masih di bawah umur.

“Setiap kali aku bangun pagi aku merasa seperti ada sesuatu yang hilang. Aku tahu ada sesuatu yang tidak beres, dan baru beberapa menit kemudian aku sadar… baru kemudian aku ingat. Sahabatku sudah pergi. Temanku satu-satunya.”

-Rosie (hlmn 45)

Semua kegembiraan itu seperti akan berlangsung selama-lamanya, masa muda yang bagaikan sebuah jalan keemasan penuh hari-hari bahagia. Karenanya, Rosie mempunyai impian untuk mengelola sebuah hotel, dengan Alex yang bekerja sebagai dokter hotelnya. Mimpi itu sejalan dengan impiannya yang lain, yaitu dapat berada di sisi Alex selamanya, tak kenal sudah.

Sayangnya, suatu hari Alex memutuskan untuk pergi.

“Bohong besar kalau ada yang bilang hidup ini mudah.”

-Rosie (hlmn 77)

Mr. Stewart memboyong seluruh keluarganya ke Boston, Amerika Serikat, termasuk Alex yang sama sekali tak ingin berpisah dengan Rosie. Rosie yang ditinggalkan sendirian di Dublin, Irlandia, merasa rindu dan sangat kesepian. Dirinya tak lagi memiliki keinginan apa-apa selain untuk kembali bersama Alex. Oleh sebab itu, Rosie memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Boston, agar dapat selalu berada dekat dengan Alex.

Namun, sebulan sebelum Rosie berangkat ke Boston untuk kembali bersama Alex, muncul seorang lelaki yang tiba-tiba saja mengubah seluruh hidup Rosie.

 “Kembali bersamamu rasanya sungguh tepat.”

-Alex (hlmn 69)

Tahukah kamu? Menurut data WHO dalam rentang waktu 2010-2014 tercatat lebih dari 32 ribu perempuan di Indonesia mengalami kehamilan yang tidak diinginkan (KTD). Jumlah tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang berprestasi di tingkat ASEAN. Berprestasi dalam hal itu, maksud saya.

Hal ini, kehamilan yang tidak diinginkan, juga harus dialami oleh seorang Rosie Dunne dalam novel karangan Cecelia Ahern: Love, Rosie (judul aslinya, Where Rainbows End, terbit di Irlandia pada tahun 2004). Kehamilan di usia yang sangat dini ini memaksa Rosie untuk membuat keputusan di antara dua pilihan yang sama-sama pelik, jua yang sama-sama memiliki risiko: mempertahankan janinnya, atau mengaborsinya.

Sebenarnya, keputusan apapun yang Rosie ambil maupun orang-orang yang mengalami nasib serupa adalah keputusan yang paling baik bagi mereka. Yang pastinya sudah dipikirkan secara matang-matang hingga berjuta kali oleh mereka. Kita tentunya sama sekali tak memiliki porsi untuk menghakimi, apalagi main hakim sendiri. Porsi kita adalah untuk menjaga mereka, mengawasi, dan juga untuk selalu mendukung apapun keputusan yang mereka ambil.

Dan keputusan yang diambil oleh sang tokoh utama kita, juga sebab-musabab yang menjadi akar permasalahan bagi segala konflik yang ada di dalam novel ini, adalah mempertahankan janinnya. Keputusan yang sangat, sangat baik menurut saya.

Dan saya tak pernah bermaksud untuk mengatakan bahwa aborsi itu tidak baik, pun sebaliknya. Hanya saja kita tak pernah tahu apakah yang kita ucapkan itu baik atau tidak untuk orang lain, bukan?

Untuk memperjelas maksud saya, boleh dilihat perumpamaan di bawah ini…

Abortion

Novel Love, Rosie ini mungkin bisa menjadi sebuah panduan hidup tersendiri bagi mereka yang tengah atau terlanjur mengalaminya. Sebab, di dalamnya berisi banyak sekali pandangan hidup sang tokoh utama terhadap keadaan yang harus dihadapinya dan juga nasihat-nasihat yang tak terkesan menggurui. Pun untuk sekedar melepas penat, novel ini adalah salah satu yang terbaik yang bisa saya rekomendasikan.

Sebelumnya, perkenankan saya menyampaikan rasa salut yang teramat sangat atas alih bahasa yang tak hanya tak bercela, namun juga mengalir dan amboi kerennya kepada Monica Dwi Chresnayani. Love, Rosie ini adalah novel hasil terjemahan Monica kedua yang pernah saya baca setelah novel all-American  Girl. Dan untuk kedua kalinya pula, saya dipuaskan. Salute!

Dikemas dengan gaya unik, kisah Rosie Dunne dan Alex Stewart disajikan dalam bentuk berupa kumpulan surat, kartu ucapan, print-out e-mail, print-out obrolan di chat room, faks, dan catatan-catatan kecil yang dibuat selama keduanya hidup. Hal ini tentu membawa angin segar bagi para pembaca yang terbiasa membaca novel berisi banyak paragraf deskripsi maupun narasi.

Penokohan yang diuraikan dengan sama uniknya ini terbukti berhasil melahirkan karakteristik para tokoh dengan kuat serta jelas. Karakter-karakternya begitu hidup, hingga terasa seperti membaca kumpulan surat yang benar-benar ada dan nyata, surat yang benar-benar dijadikan teman bagi tokoh utama, penggalan kisah hidup yang terangkum dalam kertas dan tinta.

“Dan aku duduk di sini, memikirkanmu.”

-Rosie (hlmn 239)

Rosie Dunne merupakan salah satu tokoh yang mampu mencuri hati saya dengan gaya berbicaranya yang penuh sarkasme. Dirinya digambarkan sebagai seorang ibu yang kuat, namun terkadang juga diimajikan sebagai sosok yang begitu rapuh. Keluh-kesah, kepenatan, juga kesedihan yang ia rasakan ketika menjadi seorang ibu di usia begitu muda, hingga harus membuang seluruh mimpi-mimpinya, disampaikan dengan begitu baik. Lelucon-lelucon yang ia lontarkan dalam surat-suratnya tak hanya membuat kedua bibir ini tersenyum simpul, namun juga mengundang gelak tawa membahana.

“Oh, yang benar saja! Kau malah senang sekali waktu akhirnya bercerai! Kau membeli sampanye paling mahal, kita minum sampai mabuk, pergi dugem, lalu kau mencium lelaki yang jeleknya minta ampun.”

-Rosie (hlmn 99)

Yang membuat saya kesal di novel ini adalah sosok Alex Stewart. Lelaki pintar namun bodoh dalam perkara rasa ini tak henti-henti membuat saya gemas setengah mati. Sikapnya yang effortless dan tidak peka tidak membuat hidup Rosie lebih baik. Kalau saja ia bertindak lebih cepat dan tanpa banyak berbasa-basi, mungkin tak membutuhkan lebih dari 600 halaman untuk mendapatkan akhir yang saya harapkan.

“Aku merasa sangat aneh waktu kau memunggungiku dan berjalan menyusuri lorong gereja bersama calon suamimu. Mungkinkah yang kurasakan itu cemburu?”

-Alex (hlmn 173)

Selain kedua tokoh utama di atas, Katie Dunne juga mendapat lampu sorot yang sempurna. Porsi kemunculannya begitu pas sebagai anak perempuan sang tokoh utama. Digambarkan sebagai Rosie generasi kedua, sifat yang dimiliki oleh Rosie menurun kepadanya. Nasibnya pun juga seperti itu. Katie hanya memiliki satu sahabat bernama Toby, persis seperti Rosie yang hanya punya Alex.

Katie adalah janin yang dulu dipertahankan oleh Rosie. Gadis kecil yang dulu sempat tak diinginkan olehnya, kini telah menjadi seluruh hidupnya. Katie telah menjadi semesta bagi ibunya, menjelma segala. Dan nantinya, ketika pertanyaan yang sama yang dipikirkan oleh ibunya terlontar dari kedua bibirnya, ia tak hanya menyelamatkan satu cinta, namun banyak cinta lainnya.

Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh yang nantinya hanya akan menjadi spoiler jika saya jabarkan satu-satu. Sebab, topik kehamilan yang tidak diinginkan yang dialami Rosie saja sudah bisa dibilang suatu kejahatan yang membuat saya patut meminta maaf kepada para pembaca review saya kali ini.

Namun para pembaca tenang saja. Kompleksitas jalan cerita yang dimiliki Love, Rosie ini aduhai kerennya. Dengan konflik, klimaks, dan post-klimaks yang beberapa kali berulang membuat saya yang membaca novel ini laksana menyusuri sebuah jalan cerita yang tak mengenal ujung. Lagi dan lagi saya dikagetkan dengan twist yang ada hingga menjadikan kisah Rosie dan Alex ini menjadi begitu menyenangkan dan tak tertebak.

Pendeskripsian latar yang tak terlalu njelimet dan penggunaan sudut pandang yang sederhana tak membuat rasa bingung hadir di kepala. Alur yang digunakan pun alur maju yang sama sederhananya walau terkesan melompat-lompat. Terang saja, perjalanan hidup Rosie Dunne semenjak berusia 5 hingga 50 dipampatkan hanya dalam 600 halaman.

Untuk perkara teknis, bisa dibilang novel Love, Rosie ini sempurna. Semua aspek disajikan dengan begitu apik dan ciamik. Sebut saja quotes-quotes yang biasanya jarang saya sertakan di review-review saya sebelumnya, tetapi kali ini bertebaran di merata pembaca.

Dan satu favorit saya:

“Seharusnya aku tidak membiarkan bibirmu meninggalkan bibirku sekian tahun lalu di Boston.”

-Alex (hlmn 201)

Dan atas segala pengalaman personal penuh kegembiraan yang saya dapatkan usai membaca novel ini, saya dengan senang hati memberikan…

Bintang 5

 “Hari ini aku mencintaimu lebih dari yang sudah-sudah; besok cintaku padamu akan lebih besar lagi.”

Advertisements

Review : Ready or Not

2

Ready Or Not

Ready or Not – —Siap atau Tidak—

Penulis: Meg Cabot

Alih bahasa: Alexandra Karina

Desain dan ilustrasi sampul: http://www.kittyfelicia.com

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 979-22-1783-5

Cetakan: II (April 2006)

Jumlah halaman: 264 hlmn

*

šBLURB›

SEPULUH HAL UTAMA YANG BELUM SIAP DIHADAPI SAMANTHA MADISON:

  • Menghabiskan Thanksgiving di Camp David
  • Dengan pacarnya, putra Presiden
  • Yang tampaknya ingin membawa hubungan mereka ke Level Berikutnya
  • Sesuatu yang dengan tanpa sengaja Sam umumkan pada siaran langsung di MTV
  • Saat seharusnya dia mendukung kebijakan Presiden tentang keutuhan keluarga, moral, dan ya, seks.
  • Juga, menyeimbangkan pekerjaan usai sekolah barunya di Potomac Video
  • Meskipun dia sudah mempunyai pekerjaan sebagai duta remaja untuk PBB (tapi tidak dibayar untuk itu)
  • Menaiki Metro dan dikenali karena dia “cewek berambut merah yang menyelamatkan nyawa Presiden”, meskipun sudah mewarnai rambutnya menjadi Midnight Ebony setengah permanen
  • Mengalami pertukaran peran besar-besaran dengan kakaknya yang populer, Lucy, yang sekali ini tidak bisa mendapatkan cowok yang diinginkannya

Dan hal nomor satu yang belum siap dihadapi Sam?

  • Mengetahui di kelas menggambar, “life drawing” berarti “menggambar model telanjang”.

*

“Tidakkah kalian melihatnya? Tidakkah kalian mengerti? Cara menguatkan keluarga-keluarga bukan dengan menghancurkan hak-hak salah satu anggota, dan memberikan lebih banyak hak pada anggota yang lain. Ini bukan tentang BAGIAN-BAGIAN. Ini tentang KESELURUHANNYA. Harus SAMA RATA. Keluarga seperti… seperti rumah. Harus ada fondasi dulu sebelum kau bisa mulai mendekorasinya.”

-Samantha Madison (hlmn 193)

Jika ada seseorang yang kerap menggembar-gemborkan tentang betapa indahnya masa-masa remaja, maka bisa dipastikan orang itu belum pernah membaca buku-buku karangan Meg Cabot yang berjudul all-American Girl dan Ready or Not. Sama halnya dengan Chrismansyah Rahadi yang kelihatannya belum pernah berkenalan dengan Samantha Madison. Sebab, kalau almarhum sempat berkenalan dengannya, maka lagu Kisah Kasih Di Sekolah sepatutnya tidak akan pernah ada. Kenapa? Karena dunia remaja tak melulu sepicisan itu. Apalagi dunia Sam yang penuh dengan masalah-masalah remajanya yang khas.

Bercerita tentang Samantha Madison yang bingung berat atas ajakan David—pacarnya yang juga putra Presiden Amerika—untuk bersama-sama menghabiskan akhir pekan Thanksgiving di Camp David bersama dengan Pak Presiden dan istrinya. Bukan karena ke mana atau dengan siapanya, tapi tentang apa yang akan mereka berdua lakukan di sana. Apalagi David mengimplisitkan tujuannya yang sebenar-benarnya ketika mengajak Sam untuk ber-parcheesi ria, yang Sam artikan sebagai ajakan, mm… kau tahu…

Melakukan Itu.

Undangan David ini sungguh sangat tidak melegakan, apalagi Sam baru saja melihat kau-tahu-apa pertamanya beberapa jam sebelumnya di kelas menggambar “life drawing” di Susan Boone Art Studio. “Life drawing” yang berarti “menggambar model telanjang”.

Kecemasan ini semakin menjadi-jadi ketika ia mengingat bahwa ia telah gagal besar dalam pelajaran “life drawing” pertamanya. Ia sama sekali tak mengerti ocehan Susan tentang ia yang harusnya berhenti berkonsentrasi begitu keras pada bagian-bagiannya. Dan sebaliknya, mulai melihat gambarnya sebagai kesatuan. Maksudnya, bagaimana ia bahkan bisa berkonsentrasi pada hal-hal seperti itu, kalau dalam beberapa hari kedepan keperawanannya akan hilang di salah satu kamar di Camp David?

Belum lagi tentang kakaknya yang populer, Lucy, yang akhirnya putus dengan pacarnya dan kini tengah mengejar-ngejar—sangat aneh bagi Sam untuk mengatakannya—cowok yang sama sekali tidak populer.

Pun ada Kris Parks, teman masa kecil Sam yang kini telah menyeberang ke dunia hitam dan menjadi musuhnya di John Adams Preparatory Academy, dan teman-teman Right Way-nya yang acap kali mengatai Debra Mullins hanya karena selentingan tentang Debra yang Melakukan Itu bersama pacarnya di bawah tempat duduk stadion.

Dan bagian mana dari itu semua yang menggambarkan betapa ‘tiada masa paling indah/masa-masa disekolah’?

Satu lagi buku Meg Cabot yang membuat saya ketagihan untuk membacanya berulang-ulang. Buku yang menjadi sekuel dari buku all-American Girl ini (baca review-nya di sini) telah mendapatkan berbagai penghargaan seperti Publisher Weekly dan USA Today Best Seller. Juga tak ketinggalan dipilih oleh New York Public Library sebagai “Book for the Teen Age” di tahun 2006.

Dan bukan sesuatu yang mengherankan, mengingat kepiawaian Meg Cabot meramu pelbagai hal untuk menciptakan sebuah karya yang amat bagus macam Ready or Not ini.

Disuguhkan dengan karakteristik Sam yang complicated—seperti Sam yang ingin melawan paradigma yang ada di lingkungannya namun juga takut untuk melawannya, pengidap social anxiety disorder namun bersikeras mempertahankan cara berpikirnya yang unik, pemberani namun sekaligus penakut, dan lain sebagainya—membuat saya tak bosan-bosan menikmati konflik demi konflik yang dijabarkan dengan begitu apik oleh penulis. Meskipun sebagian besar konflik tersebut hanya terjadi di dalam kepala tokoh utama, namun hal itu membawa lebih banyak keseruan, ketegangan dan kelucuan dibanding jika diceritakan melalui sudut pandang orang ketiga.

Sam yang menolak untuk berpakaian Abercrombie & Fitch dari atas ke bawah dan lebih memilih berpakaian hitam-hitam demi rasa belasungkawa terhadap generasinya yang memprihatinkan—yang hanya peduli tentang apa yang terjadi di American Idol minggu ini juga siapa yang memakai apa di pestanya siapa—merupakan sosok yang patut diacungi jempol atas derasnya arus keapatisan yang melanda remaja Amerika.

Yang kini juga tengah dialami oleh remaja-remaja di Indonesia yang lebih peduli tentang si itu yang memposting anu ke media sosial ini. Atau lebih parahnya lagi, siapa yang menyerahkan keperawanannya kepada siapa. Padahal ada lebih banyak hal mendesak lain untuk dipikirkan seperti hampir 52% populasi penyu telah menelan sampah plastik yang dikiranya ubur-ubur daripada mengurusi keperawanan orang lain.

Selain Sam yang mampu mencuri hati saya, Lucy Madison yang telah mendapatkan porsi lebih banyak untuk tampil di buku ini juga membuat saya menaruh perhatian padanya. Seakan ingin mempertegas peribahasa ‘tak ada gading yang tak retak’, Lucy yang digambarkan oleh penulis di buku sebelumnya sebagai cewek yang sempurna—cantik, populer, mempunyai pacar tampan yang sempat ditaksir Sam mati-matian—kini harus rela putus dari pacarnya, Jack, dan gagal di ujian SAT-nya.

Itu saja, menurut Sam, sudah merupakan indikasi atas menurunnya superioritas kualitas hidup Lucy. Belum lagi perkara tentang Lucy yang menyukai tutor SAT-nya, namun, tak seperti cowok-cowok pada umumnya, tutornya itu tidak menyukainya balik. Menyukai namun tak disukai balik adalah hal yang teramat sangat jarang, bahkan hanya terjadi sekali sepanjang eksistensinya.

Dan perjuangan Lucy untuk meyakinkan tutornya kalau ia itu bukanlah kebalikan dari sosok Hellboy, yang buruk rupa di luar namun baik hati di dalam, amat sangat menghibur.

Selain tokoh-tokoh protagonis di atas, tokoh antagonis seperti Kris Parks dan konco-konconya di kelompok Right Way juga menyumbang konflik yang teramat besar. Hipokrisi yang gila-gilaan, bullying, dan kesoksucian kaum-kaum yang harusnya benar-benar suci disajikan seperti sinisme atas keadaan yang dialami banyak remaja Post-Modern.

Yang paling menarik dan paling mencerahkan di buku ini adalah tentang betapa tidak bergunanya program Just Say No pada seks bebas dan obat-obatan terlarang. Karena yang diajarkan dalam program tersebut hanyalah Just Say No. Bukan ‘Inilah apa yang kaulakukan kalau-kalau say no tidak berhasil untukmu’. Di negara-negara tempat para orang dewasa terbuka dengan anak-anaknya tentang seks dan KB, dan para remaja diajarkan tak ada yang memalukan atau apa pun tentangnya, tingkat kehamilan yang tidak diinginkan juga penyakit menular seksual justru paling rendah.

Namun, entah kenapa fakta-fakta tersebut, juga ucapan Sam di tengah siaran langsung MTV, membuat Pak Presiden menjadi sangat murka. Akankah Sam kehilangan pekerjaannya sebagai Duta Remaja untuk PBB? Dan bagaimana tentang kesiapan Sam untuk menerima—atau menolak—ajakan David untuk ber-parcheesi?

It’s such a highly recommended book. Dan dengan semua hal-hal itu, kesalahan teknis seperti tanda kutip yang kurang setelah kata Ebony di halaman 34 dan setelah kata gila di halaman 118, juga penggunaan tanda tanya di akhir kalimat yang kurang saya mengerti fungsinya di halaman 123, 222 dan 224, menjadi tidak terlalu penting lagi. Namun saya tetap menganjurkan adanya proses penyuntingan untuk cetakan selanjutnya demi terciptanya kesempurnaan.

Dan karena itu semua, buku ini pantas mendapatkan rating sebanyak…

Bintang 4

Yay!

Kemudian coba beritahu saya di kolom komentar, hal-hal apa sih yang paling kalian ingat di masa remaja kalian?

Review : Critical Eleven

8

Critical Eleven

Critical Eleven

Penulis: Ika Natassa

Desain sampul: Ika Natassa

Editor: Rosi L. Simamora

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-602-03-1892-9

Cetakan: X (Februari 2016)

Jumlah halaman: 344 hlmn

*

šBLURB›

Dalam dunia penerbangan, dikenal dengan istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it’s kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada suatu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

*

Sungguh sangat merisaukan hati ketika melihat goodreads’ review tentang Critical Eleven ini yang, yah… ada beberapa yang sepertinya tidak mempunyai etika dalam me-review. Mungkin beliau-beliau ini tidak pernah membaca ‘Cara Me-review Yang Baik’ oleh Mbae Evi Sri Rejeki atau Mbae Peri Hutan.

Well, setelah saya mengeluhkesahkan hal ini di twitter dan dengan sengaja mencolek sang penulis langsung, Mbae Ika, her answer is such a relieving.

“Tidak apa-apa. Menikmati karya itu pengalaman personal, dan cara masing-masing orang berbagi pengalaman personal itu berbeda-beda :p :p

Paling tidak dia sudah menghargai dengan membeli bukunya, daripada cari bajakan.”

Begitulah.

Dan jika penulisnya sendiri selow, lha mbok saya nggak perlu ceriwis-ceriwis lagi tho? Ehe.

Uh, oh! Kalau begitu saya harap review saya kali ini semoga menjadi ajang berbagi pengalaman personal yang bukan hanya tidak menyakiti sesiapa, juga mencerahkan.

#walauakubukannabiakuinginmencerahkan #meesterzenauntukDKI2017 #bodoamat

Berkisah tentang Ale dan Anya yang pisah ranjang setelah empat tahun menjalani biduk rumah tangga. Penyebabnya adalah suatu tragedi besar yang menyakiti hati keduanya. Tak ada yang salah sebenarnya. Menyalahkan Tuhan pun percuma. Bukankah kitab-kitab itu menyatakan kalau Tuhan Maha Benar Atas Segala?

Untuk menghadapi tragedi tersebut, keduanya memilih untuk merayakannya dengan cara masing-masing. Dalam diam, dalam tangis, dalam benci, dalam rindu yang terbantahkan, dalam doa yang tak usai-usai terujar, dalam gumul tubuh setelah dahaga satu kemarau.

Ale hampir putus asa. Segala cara telah ia lakukan agar Anya tetap di sisinya. Berhasil, namun Anya yang tinggal adalah Anya yang berbeda. Yang pasif, yang menganggapnya ada namun tiada, yang masih memakai cincin perkawinannya namun tak lagi sudi seranjang.

Lalu, apa yang harus Ale lakukan ketika suatu hari ia pulang dengan post-it tertempel di pintu lemari Anya yang sudah setengah kosong?

#OOOWWW

Ucet-ucet-uceeet!!! Critical Eleven really, really broke my heart : (

Ika Natassa mampu membuat saya cekikikan macam perawan, trenyuh, dan meneteskan air mata ketika membaca buku yang spektakuler ini. Critical Eleven adalah buku ketiga Mbae Ika yang saya baca setelah Divortiare (yang bacanya dulu waktu saya masih SMP) dan Antologi Rasa.

Dengan sudut pandang yang berganti-ganti antara Anya dan Ale, juga cara penulisan berbeda yang digunakan atas keduanya, membuat saya tak kesulitan mengikuti isi pikiran mereka. Anya yang ber-aku dan Ale yang ber-gue sama sekali tak membuat saya pusing ataupun siwer (mengutip kosakata kenalan saya yang kapok setelah membaca Antologi Rasa. Katanya, “Too good to be true. LOL. Man, puhlease.)

Untuk kamu yang sama sekali buta bahasa Inggris, saya tak merekomendasikan buku ini. Kecuali kamu memiliki kamus bahasa Inggris, atau yang lebih canggih, Google Translate, untuk menerjemahkan beberapa penggalan kalimat bahasa Inggris yang tak difasilitasi footnote.

Dan bagi saya sendiri, novel dengan dwibahasa seperti ini selain menambah khazanah pengetahuan, juga memiliki sensasi tersendiri yang sulit saya jabarkan. Mewah, lux, berkelas, entahlah. Sulit. Dan saya tidak bermaksud meremehkan mereka yang seketika menolak membaca buku ini hanya karena matanya siwer oleh banyaknya kalimat-kalimat italic di dalamnya. Sungguh.

Sedari awal pun saya sudah jelaskan kalau saya hanya ingin berbagi tentang pengalaman personal saya.

Ehe.

Jika saja saya wanita, maka saya tanpa perlu bermalu-malu, tanpa perlu berpikir dua kali, tanpa perlu bertendensi apa pun, akan menyatakan kalau saya jatuh cinta dengan Aldebaran Risjad.

Sangat-sangat jatuh cinta.

Cara Ika membuat Ale mendeskripsikan cintanya kepada Anya, begitu… begitu… manis.

Tak ada yang tak akan jatuh cinta kepada Ale. Jamin.

Pun begitu dengan Tanya Laetitia Baskoro (well, jadi ngerti susahnya usaha Ale menghafal nama tengah Anya sebelum ijab). Merasakan perasaan Anya ketika menjabarkan betapa dia rindu setengah mati, juga benci setengah mati kepada Ale membuat saya bingung sendiri. Plis deh, Nya! Sebegitu susahnya kah?

: (

Kalau kamu sempat bingung di awal-awal membaca buku ini, maka kamu tidak sendiri. Namun percayalah, puzzle-puzzle kebingunganmu itu satu-satu akan terpecahkan, dan membuat kamu merasa takjub karena telah membaca novel yang aduhai kerennya ini.

Dan kalau sampai di sini kamu masih ragu buat membacanya, maka saya merasa gagal sebagai reviewer. Plis atuhlaaah! Buku bagus banget ieu teh : (

Saya suka kovernya, flashback-nya, konsepnya, jalan ceritanya, temanya, karakternya. Saya suka Si Jeki, Risjad’s Family, naskah yang typo-nya nihil, filsafat-filsafatnya, Jakarta, konfliknya. Saya suka ibu-ibu di commuterline, abang-abang fotokopi, mbak-mbak Frank and Co., Nino, ketoprak Ciragil.

Saya suka semuanya.

Semuanya.

And because of that, this book deserves these stars…

Bintang 5

Saya menunggu buku Mbae Ika selanjutnya! xoxo

Review : all-American girl

2

All-American Girl

all-American girl – —Pahlawan Amerika—

Penulis: Meg Cabot

Alih bahasa: Monica Dwi Chresnayani

Desain dan ilustrasi sampul: Kitty

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 979-22-0982-4

Cetakan: III (Mei 2005)

Jumlah halaman: 328 hlmn

*

šBLURB›

Sepuluh alasan Samantha Madison bingung berat:

  • Kakaknya cewek paling gaul di sekolah.
  • Adiknya cewek paling cerdas di sekolah.
  • Dia naksir pacar kakaknya.
  • Dia tertangkap basah menjual gambar selebritis yang dibuatnya di sekolah.
  • Dan karena itu dia terpaksa ikut les menggambar.
  • Dia menyelamatkan Presiden Amerika Serikat dari percobaan pembunuhan.
  • Dan karena itu seluruh dunia menganggapnya pahlawan.
  • Padahal Samantha tahu pasti dia sama sekali bukan pahlawan.
  • Sekarang dia ditunjuk jadi duta remaja untuk PBB.

Dan alasan nomor satu kenapa Samantha bingung berat:

  • Kayaknya putra presiden naksir dirinya

*

“Kau memang mendengar kata-katanya, tapi tidak mendengarkan. Ada perbedaan antara mendengar dan mendengarkan, sama halnya seperti melihat dan mengetahui.”

-Susan Boone (hlmn 295)

Actually, sudah kesekian kalinya (tujuh atau delapan atau lebih? entah) saya menamatkan novel karangan Mbae Meg yang bergenre teenlit ini. Dan tujuan saya membaca ulang, selain untuk menyegarkan pikiran, juga sebagai bahan referensi dalam proyek novel yang saya dan partner saya, Terdevan, kerjakan sejak awal Maret ini. B-but, sadly, it didn’t work. And i felt like i still have to complete it first, tho. So here i am, bringing you my review about this coolest book ever. Yasss!!!

Berkisah tentang Samantha Madison—anak tengah, kidal, yang merasa apatis terhadap generasinya sendiri, tukang pilih-pilih makanan, culun, penyuka ska dan murid paling dibenci di SMU—yang jatuh cinta kepada Jack Ryder, pacar kakak kandungnya sendiri, Lucy Madison.

Samantha yakin kalau Jack adalah belahan jiwanya—ia bahkan mampu menyebutkan ‘10 alasan mengapa Samantha lebih pantas menjadi cewek Jack dibanding kakaknya, Lucy’. Samantha juga yakin kalau tiap-tiap yang dilakukan Jack—mulai dari menembaki laboratorium ayahnya yang digunakan untuk mengujicobakan obat-obatan, berenang telanjang pada malam hari karena peraturan tentang baju renang yang terlalu ketat, hingga seringnya selisih paham antara Jack dan kepala sekolah—adalah suatu tindakan radikal yang menurutnya benar dan pantas untuk didukung. Karena dia tahu, orang-orang seperti Jack dan dirinya sendiri, yang tidak hanya tertarik pada video apa yang menduduki puncak tangga lagu sekarang ini, memiliki keprihatinan terhadap apa-apa yang terjadi di negara yang mereka cintai ini.

Namun semua berubah ketika negara api menyerang.

Lame joke, huh? Ehe.

Namun semua berubah ketika Sam ketahuan menjual gambar-gambar selebritis saat pelajaran bahasa Jerman. Mr. dan Mrs. Madison marah besar ketika tahu hal ini. Dan esoknya, tanpa persetujuan yang bersangkutan, Samantha diwajibkan ikut kursus menggambar di Susan Boone Art Studio dua kali seminggu, masing-masing selama dua jam.

Sam yang merasa sebal kepada Susan karena ocehannya tentang ‘menggambar apa yang kaulihat, bukan yang kauketahui’, memutuskan untuk memberontak pada jadwal kursus selanjutnya, seperti yang Jack anjurkan, karena merasa telah dipermalukan pada pertemuan pertama mereka.

Pertemuan pertama yang juga terasa manis antara Sam dan David, cowok keren yang satu kelas dengannya.

Namun ketika Sam membolos, sebagai upaya pemberontakan terhadap Susan Boone sang diktator seni, ia berakhir dengan menyelamatkan nyawa Presiden Amerika Serikat dari percobaan pembunuhan oleh maniak lagu Uptown Girl di depan toko kue Capitol Cookie yang seketika membuat hidupnya berubah total.

Apakah Sam mampu mendapatkan hati Jack?

Lalu apakah makna atas senyuman David yang misterius?

Dan bagaimana ia tetap bertahan hidup setelah begitu banyak hal yang berubah di dalam hidupnya?

Saksikan episode Uttaran berikutnya!

#WOOO!!! Walaupun sudah berkali-kali membaca novel Mbae Meg ini, namun tak secuil pun bosan terasa di dalam sukma renjana. Karena gimana, ya? Menurut saya membaca sebuah novel berulang kali itu mempunyai sensasi tersendiri. Hal-hal yang luput saat membaca untuk pertama kalinya, ditemukan saat baca ulang kedua kali, dan begitu seterusnya.

Dan bukankah menyenangkan, mengetahui ada beberapa hal yang tak akan pernah berubah di dalam hidup ini?

Ehe.

Sebelumnya, berikan saya waktu dan kesempatan untuk melayangkan standing ovation kepada Mbae Monica sebagai alih bahasa (yang saya asumsikan jua sebagai editor) yang mampu men-translate-kan seluruh isi buku dengan… duh, gimana ya jelasinnya. Kalau cuma emejing, keren atau apalah, kok kayak melecehkan.

Karena hasil translate-nya, jauh dari sekadar bagus.

Amazingly wonderful!

Nggak ngerti lagi belajar dari mana mbaknya.

Dan mungkin standing ovation yang lebih gempita untuk sang penulis sendiri, Mbae Meg, yang mengantarkan saya ke dalam dunia Sam yang lebih dari sekadar amazingly wonderful!

*speechless*

Uh, oh. Sekali standing ovation lagi untuk Mbae Kitty atas desain sampul yang aduhai kerennya. Jujur, lebih suka versi Indonesianya daripada versi asli, ehe.

Duh gimana ya, kalau begini terus yang ada bukan review jatuhnya, tetapi ajang muji-muji, ehe. Karena ketika saya membaca buku ini, tidak ada typo, cerita bagus, alur baik, konsep mengagumkan, dan lain sebagainya yang pasti bakal membuat kalian terkagum-kagum ketika membaca buku ini.

Overall, teknisnya tak memiliki cela. Perfect.

Jadi mari, kita ke ranah subjektif saja.

Dilihat dari blurb di atas, hal-hal seperti; sepuluh alasan Samantha Madison bingung berat sepuluh alasan kenapa Sam membenci Lucy, sepuluh fakta tentang Dolley Madison, hingga sepuluh hal yang memungkinkan Sam akan mati muda, akan dapat kalian temukan di dalam buku ini.

Dan menurut saya, hal itulah yang membuat buku ini memiliki konsep yang sangat unik dan mengagumkan. Karena kalau kalian membacanya, maka kalian akan menemukan benang merah antara sepuluh hal-sepuluh hal itu dengan cerita intinya. So, jangan malas untuk membaca selingan-selingannya yang tak hanya lucu, namun juga sangat mengedukasi.

Bukankah dewasa ini sangat sulit menemukan buku fiksi yang selain bagus juga mengedukasi?

Tema serta ceritanya juga benar-benar berbeda. Coba beritahu saya buku apa, selain buku ini, yang menceritakan tentang remaja yang menggagalkan percobaan pembunuhan terhadap Presiden Amerika Serikat? Jarang, kan? Atau malah tidak ada? Itulah yang membuat buku ini terasa berbeda dari buku-buku teenlit lainnya.

Kekhasan buku ini, dan juga buku-buku karangan Mbae Meg lainnya, adalah porsi dialog dan porsi paragraf deskripsi-narasi yang sangat berbeda. Jadi jangan heran kalau Sam bilang “A” kepada Jack, maka akan disela jeda panjang berisi paragraf deskripsi-narasi berhalaman-halaman, baru kemudian Jack merespon “B” kepada Sam.

Pokoknya dijamin keren, deh!

Oh, iya! Biar review saya terlihat lebih unik, maka saya akan memberikan kalian sepuluh alasan kenapa buku ini bagus banget:

  • Kalian nggak akan pernah nemu novel terjemahan yang bahasanya se-asoy
  • Kalian nggak akan nggak jatuh cinta sama Sam.
  • Juga cara berpikirnya dia.
  • Mungkin kalian akan bingung, pada klimaksnya, namun nikmati saja. It’s so worthy.
  • Saya bingung, saya menikmati, saya puas. Terima kasih OnClinic.
  • Banyak fakta tentang seni di dalam buku ini.
  • Juga vagina.
  • Sudahkah saya bilang kalau nanti saya bakal tulis review sekuelnya, Ready Or Not?.
  • Tenang saja, cuma ada dua sekuel.

Dan, alasan paling utama mengapa menurut saya buku ini bagus banget:

  • Umur saya bertambah bulan ini, dan buku ini membuat saya merasa kalau saya ternyata masih sangat, sangat muda. Yay! Forever young, forever happy!

Uh, oh! And here goes rating!

Bintang 5

Review : Mission D’Amour

5

Mission D'Amour

Mission D’Amour

Penulis : Francisca Todi

Editor : Ruth Priscilia Angelina

Desainer Kover : Orkha Creative

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 978-602-03-2487-6

Cetakan : I

Jumah Halaman : 368 hlmn

*

šBLURB›

Kehidupan Tara Asten sebagai asisten pribadi Putri Viola—Putri Mahkota Kerajaan Alerva yang supersibuk—selalu penuh tantangan. Namun, Tara tidak pernah menyangka Badan Intelijen Alerva (BIA) akan menjadikannya tersangka utama dalam rencana penyerangan keluarga kerajaan. Dia dimasukkan ke dalam masa percobaan tiga bulan, pekerjaannya terancam tamat!

BIA menugaskan salah satu agen rahasianya, Bastian von Staudt, alias Sebastian Marschall, untuk menyamar menjadi calon pengganti Tara dan menyelidiki wanita itu. Tapi di tengah perjalanan misinya, dia malah jatuh hati pada kepribadian lugu Tara. Bukannya mencari kesalahan Tara, Sebastian malah beberapa kali menolongnya.

Tara yang awalnya membenci pria itu, mulai bimbang dengan perasaannya. Sebastian pun mulai kesulitan mempertahankan penyamarannya.

Tapi, itu sebelum Sebastian mendengar percakapan mencurigakan Tara di telepon. Yang membawa Sebastian pada dua pilihan sulit : misi atau hatinya.

*

Tiga hari.

Hanya butuh tiga hari bagi saya untuk menggarap buku Mbae Cisca sampai habis. Namun, tepat di hari ketiga, keyboard rusak dan saya terpaksa harus menunda membuat review ini selama empat hari lagi. Heuheu. (Sebenarnya masih rusak, ini huruf ‘L’-nya mendem, untung masih bisa diakalin, ehe) : (

B-but… these are worth to wait!!! Ooowww!!! ‘Kay, nuff said, here goes nothin’…

Berkisah tentang Tara Asten yang hidupnya semakin ruwet semenjak kedatangan teman masa kecilnya, Danielle Laroche—bukan berarti hidup Tara sebelumnya aman tentram, apalagi setiap harinya ia harus berurusan dengan Putri Viola serta Dewan kerajaan, hehe. Kemudian, karena satu dan lain hal, jadilah ia tersangka nomor satu bagi BIA dan menjadikannya target untuk dimata-matai oleh Bastian von Staudt (a.k.a Sebastian Marschall).

Sebastian menyamar menjadi seorang event organizer pribadi Putri Viola, yang juga berarti ia hadir untuk mengancam karir Tara yang susah-payah ia pertahankan selama ini. Namun kebencian Tara makin hari makin sirna, sebab siapa sih yang bisa tahan sama pesona seorang Superman?

Dinding yang dibangun Tara untuk menghalangi Sebastian memasuki kehidupan pribadinya—apalagi masa lalu Tara yang begitu kelam membuat ia semakin tidak mau berurusan dengan Sebastian—sedikit demi sedikit runtuh. Mungkin karena senyumnya, atau kelembutannya, atau sikapnya yang seperti lelaki sejati, atau kencan mereka di restoran paling indah di Trioli atau mungkin karena Sebastian mampu menunjukkan impian yang ia sendiri takut untuk memimpikannya.

“Selama ini aku mengira manusia hanya terbagi menjadi dua golongan: peremuk impian dan penyemangat impian. Namun sejak aku mengenal Sebastian, aku menemukan golongan manusia ketiga. Pemberi impian kepada orang-orang tanpa impian.”

—(Tara Asten, 298)

Untuk desain kover bukunya… Qren beudht!!! Saya suka dengan warna merah yang dijadikan warna dominan untuk desain kover Mission D’Amour ini. Untuk perkara warna, saya merasa cukup hebat karena dapat mengenal banyak warna. Namun, kover buku ini mampu membuat saya merasa alay. Saya tahu warna merah biasa, merah hati, merah marun, bahkan merah cabe-cabean. Namun, merah yang digunakan untuk kover ini adalah hal baru bagi saya. Merah pastel kah?

Makanya, kalian semua harus dapatkan novel ini lalu tulis komentar kalian di bawah tentang warna merah yang digunakan desainer kovernya Mbae Cisca, ehe. Ditunggu!

Mbae Cisca mampu meramu unsur-unsur yang ada dalam sebuah novel dengan begitu apik dan cantik. Tema yang diangkatnya unik dan berbeda. Saya sendiri baru kali ini membaca karya penulis Indonesia yang menceritakan tentang mata-mata atau agen intelijen lalu di-mix dengan kisah-kisah kerajaan.

Kerajaan Alerva di sini adalah tempat yang benar-benar fiktif, begitu juga Carnot dan Trioli. Tetapi berkat kemampuan Mbae Cisca, saya dapat membayangkan kerajaan kecil itu berada tepat di tengah-tengah benua Eropa. Terrific!

Berbicara tentang sudut pandang, menulis sebuah novel dengan dua sudut pandang memang tak mudah, apalagi isi kepala keduanya benar-benar kompleks. Mungkin hal ini yang membuat Mbae Cisca sedikit keliru di dalam novelnya. Di halaman 300, tepat di bawah angka yang menunjukkan bab ke-27, tertulis Bastian, di mana paragraf demi paragraf selanjutnya sangat jelas menunjukkan bahwa sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang Tara.

Untuk cetakan selanjutnya, saya harap kesalahan kecil namun sangat mengganggu ini dapat diperbaiki.

Dua sudut pandang ini juga memiliki kelebihan, karenanya kita bisa tahu karakter masing-masing tokoh dari cara berpikirnya. Seperti Tara Asten yang baik hati, cerdas, lugu, penakut, selalu minder serta Bastian yang pintar, tegas, lembut juga pemberani.

Karakter setiap tokoh di novel ini digarap dengan cukup baik. Contohnya Tara yang dengan segala kebaikan yang ada pada dirinya, ternyata mempunyai masa lalu yang begitu kelam hingga membuatnya menjadi sosok yang minder serta susah membuka hatinya untuk lelaki yang mencintainya.

Danielle juga, walaupun memiliki latar belakang yang sama dengan Tara, ia tumbuh menjadi wanita urakan yang sangat berbeda dengan teman masa kecilnya itu. Semua dijabarkan dengan baik dan tidak terkesan terlalu mengada-ada ataupun ujug-ujug.

Hanya satu yang saya sayangkan, yaitu karakter Bastian. Menurut saya Mbae Cisca kurang memperkuat karakter bastian sebagaimana ia menciptakan karakter lainnya. Masa lalunya kurang nganu, hingga kebencian yang ia rasakan kepada keluarga kerajaan kurang cukup untuk dijadikan pergolakan batin baginya ketika bekerja di bawah sistem kerajaan. Namun untuk karakter lainnya disajikan dengan cukup yummy! Salute!

Ah, ya… Koreksi lagi untuk halaman 121, yang seharusnya ‘pantri’ menjadi ‘panti’, juga penggunaan kata ‘hipnosis’ yang harusnya ‘hipnotis’.

“Kelam matanya adalah sepasang black hole yang menghipnosis.”

(Tara Asten, 298)

Hipnosis : Keadaan seperti tidur karena sugesti.

Hipnotis : membuat atau menyebabkan seseorang berada dalam keadaan hipnosis

Saya sangat menikmati halaman demi halaman ketika membaca novel ini. Saya jatuh cinta dengan ceritanya, tokohnya, tempat-tempatnya, twist-nya, ahh… semuanya. Apalagi banyak sempilan-sempilan seperti ideologi komunisme yang disinggung, juga sedikit action, jenis-jenis makanan yang bikin baper. #typo #typosengaja #baperitukekinian #cintailahayahbunda

Over all, qreeenn!

This novel worth these stars

Bintang 4

Yay!!!

Review : The Golden Road

1

The Golden Road

THE GOLDEN ROAD – HARI-HARI BAHAGIA

Penulis : Lucy Maud Montgomery

Alih Bahasa : Tanti Lesmana

Desain Kover : Ratu Lakhsmita Indira

Tebal : 352 hlmn

ISBN : 978-979-22-5718-2

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, 2010

*

šBLURB›

Sara Stanley, si Gadis Pendongeng, kembali ke Carlisle untuk menghabiskan musim dingin bersama keluarga King. Untuk membantu melewatkan bulan-bulan musim dingin yang membosankan, dia mengusulkan kepada para sepupunya untuk membuat majalah. Beverly menjadi editornya, sedangkan dia, Felicity, Cecily, Dan, dan Felix bertanggung jawab terhadap kolom masing-masing.

Majalah itu juga akan memuat berbagai peristiwa menarik di Carlisle. Majalah Kita dengan cepat menjadi sumber hiburan yang menyenangkan bagi mereka, di samping berbagai peristiwa yang terjadi pada musim itu. Namun tak ada yang abadi. Ketika ayah si Gadis Pendongeng datang menjemput, dengan berat hati dia harus meninggalkan sahabatnya di Pulau Prince Edward.

***

  • Kesan yang Zen harapkan saat ingin membaca buku ini.

“Ini buku apa? kok tiba-tiba da di dalam lemari? Wah, maybe Santa was real. And so did unicorn.”

Buku pemberian entah siapa ini sudah ada sedari dulu di lemari buku milik Keluarga Bustami. Entah siapa—atau apa—yang memberi, Zen mengucapkan terima kasih yang teramat sangat. Dulu sekali, butuh tiga kali pikir-pikir untuk membaca buku ini. Kenapa? Sebab buku terjemahan, apalagi terjemahan klasik, cuma bikin pusing di awal dan baru ketemu benang merahnya di tengah dan bahkan di akhir (ex: Harry Potter).

Awal Februari ini saya memutuskan untuk membaca ulang buku karangan L.M. Montgomery ini. Dan dengan ilmu yang telah bertambah seiring berjalannya waktu, Zen harap dapat lebih mampu mengerti isi dari novel yang pastinya tersebut.

Oh, iya, kovernya bagus banget. Sukaaak.

  • Kesan yang Zen dapatkan setelah membaca buku ini.

“You know you’ve read a good book when you turn the last page and feel a little as if you have lost a friend.” —Paul Sweeney

Novel ini luar biasa bagusnya. Ampuuunnnnn. Jadi makin cinta sama literatur klasik kayak begini. Cara penulis merangkai kata demi kata, frasa demi frasa, kalimat demi kalimat benar-benar menunjukkan kualitasnya sebagai penulis hebat di masanya. Keren. Kalo punya jempol sejuta, sudah Zen acungin deh. Oh iya, jumlah jempol yang sama buat alih bahasanya, keren abis, seperti benar-benar ditulis dalam bahasa ibu.

Majas personifikasi dan metafora sangat dominan di novel ini. Walaupun begitu, tidak berlebihan dan malah mempercantik pendeskripsian yang sukses dilakukan oleh penulis. Begitu indah tutur katanya. Jadi kebayang betapa cantiknya bentangan alam di pulau Prince Edward.

“Akan tetapi pada malam berbulan, kebun buah itu tampak seperti negeri dongeng, lorong-lorongnya yang bersalju berkilauan bagaikan jalan-jalan dari gading dan kristal, dan pohon-pohon gundul tak berdaun memancarkan kemerlip pendar-pendar bak cahaya peri. Jalan Setapak Paman Stephen yang tertutup salju halus seolah-olah diselubungi pesona sihir putih. Indah tak bernoda, seperti jalanan dari mutiara di Yerusalem yang baru.”

Sekali lagi jempol yang teramat banyak buat penulis dan alih bahasa.

  • Intisari dari buku ini adalah…

Daripada disebut novel, saya kok merasa buku The Golden Road ini sedikit berbeda. Lebih mirip ke buku harian atau mungkin kumpulan dongeng.

Buku ini bercerita tentang kehidupan anak-anak Keluarga King dan sepupu-sepupu mereka, termasuk si Gadis Pendongeng. Sudut pandang yang dipakai adalah sudut pandang orang pertama, aku. Sang aku yang bernama Beverly mempunyai sudut pandang yang unik, berkali-kali saya kebingungan antara ini pikiran Beverly atau Gadis Pendongeng, sih? Sebab fokus Beverly lebih dominan ke Gadis Pendongeng.

Lebih mirip ke kumpulan dongeng atau diary sebab banyak kisah-kisah yang didongengkan si Gadis Pendongeng kepada teman-temannya. Dongeng-dongengnya begitu khas dan orisinal. Jadi seperti ada cerita dalam cerita. Lagi-lagi jempol sing akeh.

Oh, ya, Majalah Kita mempunyai peran yang cukup penting di buku ini, dan dijamin kalian bakal senyam-senyum sendiri kalo baca kolom-kolom di dalamnya. Ehe… ehe…

  • Tokoh-tokoh yang ditonjolkan dalam buku ini beserta karakternya yaitu sebagai berikut :
    • Beverly, mungkinkah dia menyukai si Gadis Pendongeng? Tapi, kok…
    • Si Gadis Pendongeng, pencerita yang baik, punya daya magis yang mampu memikat orang-orang di sekitarnya.
    • Cecily, mempunyai hati paling baik dibanding anak-anak yang lain, : )
    • Felicity, judes di awal, tapi kamu pasti bakal jatuh cinta di akhir. Ehe…
    • Felix, tak terlalu menonjol, namun kolom humor asuhannya sukses membuat Zen… #AyoIsiSesukamu
    • Dan, favorit Zen. Ternyata sejak tahun 1900-an sarkasme sudah ada dan teramat menggelitik.
    • Peter, sepertinya tergila-gila dengan Felicity, dan ia sangat menyukai ramalan yang dibuat oleh si Gadis Pendongeng. Zen juga suka semua ramalan yang dibuatnya, walaupun entah kenapa ada rasa sedih yang purba ketika mendengar kata-kata terakhir lamaran tersebut : (
    • Sara Ray, cengeng, hampir semua anak lelaki Keluarga King tidak suka kepadanya.
    • Masih ada si Lelaki Canggung, Istri Gubernur, Peg Bowen, Paman Blair, Paddy dan banyak lagi yang harus kamu selidiki sendiri nantinya. Dan mungkin, setelah membaca buku ini, Zen dan kamu akan memiliki kesan yang berbeda. Siapa tahu?
  • Alur ceritanya…

Maju mundur. Maju, mundur, maju mundur. Duh, kompliketet banget, bang : ( Zen sampai lelah meraba-raba. Ada yang diceritakan seratus tahun silam, empat puluh tahun kemudian, ketika aku sudah begitu tua, pokoknya kompliketet. But, once again, it’s worth to read.

  • Endingnya…

Puasshhhhh. Bener-bener seperti kehilangan seorang teman ketika halaman terakhir usai dibaca : ( Oh sad. Yha, sad ending. Serius lho, endingnya bikin baper.

  • Manfaat yang Zen peroleh…

Dapet ilmu kepenulisan lebih dan lebih lagi. Lebih ingin belajar menikmati hidup. Dan ternyata ungkapan “Don’t grow up, it’s a trap,” itu bener banget.

  • Kalau Zen bertemu dengan sang penulis…

“Ayo bikin lanjutannyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa :  (“

  • Rating

Bintang 4

Pengennya sih ngasih lima, tapi belum baca yang sekuel pertama, The Story Girl, ehe ehe…