Review : Pacar Dunia Maya

0

Pacar Dunia Maya

Pacar Dunia Maya

Penulis: Yusi Kurniati

Editor: Tiara Purnamasari

Layout: Tiara Purnamasari

Desain Sampul: Roeman-Art

Penerbit: Mazaya Publishing House

ISBN: 978-602-73734-2-6

Cetakan: I (Januari 2016)

*

šBLURB›

Melda mengenal Adit lewat media sosial facebook. Sejak pertama mengenal Adit lewat media sosial tersebut, Melda langsung jatuh hati. Adit selalu berhasil membuat Melda percaya dengan kata-katanya, meski dalam lubuk hati Melda masih ragu tentang sosok Adit yang sebenarnya. Tapi ia sudah terlanjur jatuh cinta pada Adit. Apalagi ia mengenal Adit saat ia sedang terpuruk karena putus cinta dengan Rio, mantan kekasihnya yang posesif dan over protektif. Mereka pun memutuskan untuk pacaran meskipun sama sekali belum pernah bertemu secara langsung dan hanya berkomunikasi lewat media sosial dan handphone saja.

Sejak mengenal Adit, Melda makin sering aktif di media sosial. Dia dan Adit hampir setiap hari chatting sampai larut malam, sehingga tak jarang Melda terlambat datang ke kampus.

Kisah cinta Melda melalui berbagai prahara. Beberapa sosok lelaki sebelum Adit pun sempat hadir dalam hidupnya seperti Rio dan Yoga. Hubungan Melda dan Adit yang terjalin lewat media sosial mengalami pasang surut. Mulai dari kebohongan Adit yang mengirimkan foto pada Melda yang ternyata bukan dirinya. Sikap Adit serupa security yang selalu curiga dan mewajibkan Melda untuk laporan 24 jam. Yang akhirnya sering membuat mereka bertengkar.

Tapi kemudian, Adit berhasil membujuk Melda untuk kembali. Gea juga sering dimintai Adit untuk membujuk Melda ketika Melda ngambek. Sampai pada suatu saat, kebohongan terbesar Adit terungkap, yang membuat Melda benar-benar menyesal sudah begitu percaya pada Adit.

Apakah kebohongan terbesar yang Adit lakukan? Akankah hubungan Melda dan Adit berjalan lancar? Siapa sajakah yang terlibat dalam kebohongan besar Adit? Lalu, bagaimanakah kisah cinta Gea, sahabat sekaligus sepupu Melda?

*

“We don’t have a choice on whether we DO social media, the question is: how well we DO it.”

-Erik Qualman

 “NR memutuskan untuk menemui kenalan facebook-nya dan ia diajak ke Lapangan Turna, Cijantung. Menjelang malam hari, remaja perempuan berusia 15 tahun yang masih bersekolah kelas I SMK ini diperkosa oleh kenalannya tersebut bersama sekelompok remaja laki-laki lainnya di sebuah kebun kosong di Cijantung, Jakarta Timur .”

Mengerikan, bukan? Tetapi tenang saja, paragraf di atas sama sekali tidak tercantum di dalam buku Pacar Dunia Maya yang kali ini akan saya review. Namun, paragraf tersebut nyatanya benar terjadi di kehidupan ini, di kehidupan yang saya dan kamu jalani.

Lalu saya dan kamu, entah harus tetap tenang atau tidak karenanya.

“Kejahatan yang terimplikasi media sosial dan media online memang terus meningkat., terutama yang mengakses ke facebook dan twitter. Ada sekitar 74% dari kejahatan tersebut yang menggunakan facebook dan 24% lainnya menggunakan twitter,” papar Dimitri Mahayana, pakar IT dari Sharing Vision.

Saat ini kejahatan terkait facebook dilaporkan ke polisi setiap 40 menit. Bahkan pada tahun 2013 ada sekitar 12.300 kasus yang diduga melibatkan facebook. Sehingga facebook pun telah dirujuk dalam penyelidikan pembunuhan, pemerkosaan, pelanggaran seksual anak, penyerangan, penculikan, ancaman pembunuhan dan penipuan.

Dampak perkembangan teknologi saat ini memang cukup besar, baik dari sisi positif dan sisi negatifnya. Bahkan dari hasil survei, 29% kejahatan seksual via internet diawali lewat situs jejaring sosial. Pun peluang adanya kejahatan akan semakin bertambah jika ditindaklanjuti dengan kopi darat. Sebab, pelaku bisa saja menggunakan anonim dengan identitas yang tidak jelas yang sudah sepatutnya kita curigai.

Statistik jua menunjukkan bahwa kasus anak hilang yang melibatkan facebook pada tahun 2011 ada 18 orang, dan pada tahun 2012 ada 27 orang. Angka ini tentunya akan terus meningkat jika tidak adanya tindakan-tindakan yang diambil oleh pihak-pihak terkait.

Platform media sosial karya Mark Zuckerberg ini memang banyak melahirkan angka-angka fantastis yang membuat kita miris ketika membacanya. Namun, entah kenapa, seorang Yusi Kurniati malah mengangkat sebuah tema tentang hubungan yang terjalin via platform tersebut dan menyajikannya dengan manis dan sederhana.

Dan melalui buku ini, mungkin pelajaran hidup yang sederhana namun penuh makna bisa sama-sama saya dan kamu petik.

“Jatuh cinta itu dapat terjadi pada sepersekian detik, ketika dua mata saling bertemu tatap.”

-Pacar Dunia Maya (hlmn 120)

Novel ini bercerita tentang Melda dan Adit yang awalnya tak saling mengenal, hingga akhirnya mereka menjalin hubungan lewat dunia maya. Mereka berkomunikasi hanya dengan chatting, SMS, serta telepon. Meski tak pernah satu kali pun bertemu secara langsung, Melda memutuskan untuk percaya saja kepada Adit dan menerima cintanya.

Hal yang menurut Gea sangat, sangat tidak bijak.

Mungkin Melda tak pernah mengenal istilah ‘bibit, bebet dan bobot’ ketika akan memilih pasangan karena ia tinggal jauh di Sintang, Kalimantan Barat, dan bukan di Jawa. Padahal, tiga hal tersebut sangat krusial dan merupakan hal paling utama dalam menentukan dengan siapa kita akan menghabiskan sisa umur kita

Atau mungkin hanya karena sekelumit rasa yang gagal diartikan sebagai cinta mati yang meledak-ledak, yang gaduhnya bingar, yang harus, yang tak mampu digugat oleh sesiapa yang menjadikan Melda seyakin itu dengan Adit.

Entah yang mana satu.

Berulang kali Gea mewanti-wanti, persis Ibu Kos menghadapi anak-anaknya yang telat bayar tiga bulan, namun berulang kali juga Melda menepis kenyataan yang disodorkan di depan hidupnya. Membuat saya sekali lagi sadar, cinta benar buta ternyata.

Dan nantinya, ketika bau busuk dusta mulai tercium, akankah Melda bertahan?

Novel ringan nan menyenangkan ini habis dalam dua malam. Tak perlu susah-susah mencerna, tipikal novel-novel teenlit yang pernah saya baca. Meki seperti itu, novel ini tetap sarat inspirasi dan nilai-nilai moral yang terlihat sepele namun berdampak besar jika diimplementasikan.

Salah satu contohnya bisa dilihat dari cara Gea yang memperlakukan pembantu rumah tangganya dengan sederajat, tanpa sedikit pun merasa lebih atau superior. Dan seandainya tiap-tiap yang berhati melakukan persis seperti apa yang dilakukan oleh Gea, maka utopia bukanlah cerita dongeng belaka.

Pun novel ini mengajari kita untuk selalu waspada terhadap apa-apa yang mendekat, yang ditawarkan, yang tidak kita ketahui betul asal-usulnya, persis nasihat orang-orang zaman dulu untuk ‘tidak membeli kucing dalam karung’.

Berpusat pada kisah cinta Melda, seorang mahasiswi Universitas Swasta Sintang, yang benar-benar bagaikan cerminan remaja masa kini. Hidupnya terisi penuh dengan gejolak-gejolak masa muda yang menggelora. Jika senang, senang sangat. Sedih pun begitu. Keteguhan dan konsistensinya terhadap sesuatu adalah daya tarik yang paling menonjol dari dirinya.

Berbeda jauh dengan Gea, sepupu Melda, yang bersifat dewasa serta mampu berpikir dengan kepala dingin. Ialah yang berusaha keras menjaga sepupu kesayangannya itu agar terhindar dari yang namanya rasa kecewa pun sakit hati. Gea juga yang banyak mencari-cari informasi tentang Adit hingga mengungkap tabir kebenaran yang selama ini membayangi kisah percintaan sepupu sekaligus sahabat sejatinya itu.

Dan yang terakhir, juga karakter yang paling mengesalkan, Adit. Tak perlu kiranya saya menuliskan banyak tentang dirinya. Adit ini tipikal-tipikal netizen yang terlalu sering share berita-berita berjudul sensasional yang isinya tak lebih dari omong kosong belaka. Well, ini hanyalah pikiran sekilas yang terlintas ketika mengenal sosok Adit lewat novel ini, heuheu.

Sebenarnya masih banyak karakter lain seperti Rio, Yoga, Tama, Arian, dan Irna yang ikut andil dalam membangun cerita. Namun karena porsi kemunculan yang tak terlalu banyak, membuat saya agak sulit untuk menentukan karakteristik tiap-tiap dari mereka.

Ketika memulai membaca novel ini, saya dijamu dengan sebuah flashback yang cukup apik tentang bagaimana Melda pertama kali berkenalan dengan Adit, hingga saat Melda menjemput Adit di Bandara Tebelian Sintang untuk kopi darat yang pertama kalinya. Alur maju-mundur serta sudut pandang orang ketiga yang sama apiknya membuat novel ini mudah dimengerti. Apalagi ditambah dengan penggunaan diksi yang luwes, yang anak muda banget, serta penceritaan yang mengalir membuat saya sama sekali tak merasa bosan ketika membaca novel Pacar Dunia Maya ini.

Namun, diksi serta kegramatikalan yang terlalu luwes menurut saya juga tak selalu baik. Saya teramat mengerti jikalau penulis ingin pembacanya merasa dekat dengan tokoh-tokoh yang ada di dalam novel ini. Namun, ketika memutuskan untuk menggunakan bahasa-bahasa prokem serta bahasa asing yang pastinya akrab di telinga para pembaca, penulis harusnya tahu dan mengerti kaidah penerapannya.

Saya selalu ingat, bahwa salah satu kesalahan penulis pemula adalah betapa malasnya mereka melakukan self-editing. Padahal, self-editing itu penting demi memudahkan editor dalam bekerja, pun demi memperoleh hasil paling maksimal dari suatu naskah. Karena, siapa yang lebih kenal suatu naskah daripada penulisnya sendiri?

Dan berikut ini adalah kekeliruan-kekeliruan yang saya temukan dalam buku ini:

  • perpectionist yang seharusnya perfectionist (terjadi beberapa kali)
  • under estimate yang harusnya underestimate (terjadi beberapa kali)
  • atau pun yang seharusnya ataupun (hlmn 6)
  • twitternya yang seharusnya twitter-nya (hlmn 6)
  • Penggunaan kata ‘Maag-nya’ di halaman 44. Awalnya saya kira kesalahan ada di penggunaan huruf kapital di awal kata yang seharusnya adalah huruf kecil. Namun, setelah saya telusuri lebih dalam, kata ‘maag’ tidak ada di KBBI. Yang ada hanyalah kata mag yang artinya (cak) lambung. Tentu ini tidak sinkron dengan arti ‘maag’ menurut wikipedia yaitu radang lambung atau tukak lambung. Jika ternyata ini adalah istilah asing (medis), maka menurut tata bahasa, penulisan yang benar adalah maag-nya (contoh lain twitter-nya dan facebook-nya)
  • “… Melda satu selera kok sama Gea,” sahut Gea…, di sini terjadi kesalahan penyebutan nama tokoh. Yang seharusnya ‘sahut Melda’, malah ‘sahut Gea’. Kalimat-kalimat sebelumnya dapat dijadikan bukti atas poin ini (hlmn 45)
  • paranoid yang seharusnya tidak ditulis miring (hlmn 57)
  • karna yang seharusnya karena (hlmn 57)
  • Let see yang seharusnya Let’s see (hlmn 59)
  • Tata letak yang sedikit berantakan di halaman 71 dan 82
  • bongsai yang seharusnya bonsai (hlmn 118)
  • signal yang seharusnya Atau mungkin dengan bahasa ibu saja, sinyal (hlmn 128)
  • Perpect yang seharusnya perfect (hlmn 129)
  • inbok yang seharusnya inbox (hlmn 134)
  • merekapun yang seharusnya mereka pun (hlmn 136)
  • ‘“… Aku nggak bisa tanpa dia.” Adit melemas.’ Mungkin terjadi kesalahan penulisan di sini. Yang seharusnya ‘memelas, malah ‘melemas’ (hlmn 138)
  • cleanning yang seharusnya cleaning (hlmn 144)
  • ‘ga’ pada kata-kata ‘ga suka, ga peduli dan ga beres’ yang seharusnya nggak atau tak atau tidak (hlmn 150)
  • Iapun yang seharusnya Ia pun (hlmn 162)
  • Tehrnya yang seharusnya tehnya (hlmn 172)
  • taxy yang seharusnya taxi (hlmn 184)
  • stobery yang seharusnya stroberi (hlmn 187)

Novel ini memang memiliki beberapa kesalahan yang bersifat teknis, namun dari segi plot, jalan cerita, eksekusi konflik, klimaks, serta ending yang tak diduga-duga, bisa dibilang novel ini layak dibaca dan sukses membuat saya jatuh suka.

Dan atas segala pengalaman personal yang saya dapatkan usai membaca novel ini, saya dengan senang hati memberikan…

Bintang 3

Ditunggu karya-karya Mbae Yusi selanjutnya ya!

*

Ref: (sharingvision.com/2014/05/setiap-40-menit-terjadi-12-300-laporan-kasus/)

Advertisements

Review : Love, Rosie

2

Love, Rosie

—Di Ujung Pelangi—

Love, Rosie

Penulis: Cecelia Ahern

Alih bahasa: Monica Dwi Chresnayani

Desain dan ilustrasi sampul: Iwan Mangopang

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-602-03-1493-8

Cetakan: IV (Maret 2015)

Jumlah halaman: 632 hlmn

*

šBLURB›

Mulai dari anak-anak sampai menjelma remaja pemberontak, Rosie dan Alex selalu bersama. Sayangnya di tengah-tengah serunya masa remaja, mereka harus berpisah. Alex dan keluarganya pindah Amerika.

Rosie benar-benar tersesat tanpa Alex. Namun, pada malam sebelum dia berangkat untuk bersama kembali dengan Alex, Rosie mendapat kabar yang akan mengubah hidupnya selamanya, dan menahannya di tanah kelahirannya, Irlandia.

Meski demikian, ikatan batin mereka terbukti sanggup melewati suka-duka kehidupan masing-masing. Tetapi, keduanya tidak siap menghadapi perubahan lain yang terjadi di antara mereka: Cinta.

*

“…aku tidak ingin menjadi salah satu di antara sekian banyak orang yang begitu gampang dilupakan, yang dulu pernah begitu penting, begitu istimewa, begitu berpengaruh, dan begitu dihargai, namun beberapa tahun kemudian hanya berupa seraut wajah samar dan ingatan kabur. Aku ingin kita bersahabat selamanya, Alex.”

Rosie (hlmn 35)

Love, Rosie bercerita tentang lika-liku hidup seorang wanita Irlandia bernama Rosie Dunne. Rosie dan dengan satu-satunya sahabat yang ia miliki, Alex Stewart, menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja mereka dengan hal-hal menyenangkan seperti menunggu Sinterklas hingga larut malam, saling surat-menyurat di kelas sampai ketahuan lalu dihukum, bermain walkie-talkie, hingga membolos sekolah dan pergi ke bar demi memesan segelas tequila walau mereka masih di bawah umur.

“Setiap kali aku bangun pagi aku merasa seperti ada sesuatu yang hilang. Aku tahu ada sesuatu yang tidak beres, dan baru beberapa menit kemudian aku sadar… baru kemudian aku ingat. Sahabatku sudah pergi. Temanku satu-satunya.”

-Rosie (hlmn 45)

Semua kegembiraan itu seperti akan berlangsung selama-lamanya, masa muda yang bagaikan sebuah jalan keemasan penuh hari-hari bahagia. Karenanya, Rosie mempunyai impian untuk mengelola sebuah hotel, dengan Alex yang bekerja sebagai dokter hotelnya. Mimpi itu sejalan dengan impiannya yang lain, yaitu dapat berada di sisi Alex selamanya, tak kenal sudah.

Sayangnya, suatu hari Alex memutuskan untuk pergi.

“Bohong besar kalau ada yang bilang hidup ini mudah.”

-Rosie (hlmn 77)

Mr. Stewart memboyong seluruh keluarganya ke Boston, Amerika Serikat, termasuk Alex yang sama sekali tak ingin berpisah dengan Rosie. Rosie yang ditinggalkan sendirian di Dublin, Irlandia, merasa rindu dan sangat kesepian. Dirinya tak lagi memiliki keinginan apa-apa selain untuk kembali bersama Alex. Oleh sebab itu, Rosie memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Boston, agar dapat selalu berada dekat dengan Alex.

Namun, sebulan sebelum Rosie berangkat ke Boston untuk kembali bersama Alex, muncul seorang lelaki yang tiba-tiba saja mengubah seluruh hidup Rosie.

 “Kembali bersamamu rasanya sungguh tepat.”

-Alex (hlmn 69)

Tahukah kamu? Menurut data WHO dalam rentang waktu 2010-2014 tercatat lebih dari 32 ribu perempuan di Indonesia mengalami kehamilan yang tidak diinginkan (KTD). Jumlah tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang berprestasi di tingkat ASEAN. Berprestasi dalam hal itu, maksud saya.

Hal ini, kehamilan yang tidak diinginkan, juga harus dialami oleh seorang Rosie Dunne dalam novel karangan Cecelia Ahern: Love, Rosie (judul aslinya, Where Rainbows End, terbit di Irlandia pada tahun 2004). Kehamilan di usia yang sangat dini ini memaksa Rosie untuk membuat keputusan di antara dua pilihan yang sama-sama pelik, jua yang sama-sama memiliki risiko: mempertahankan janinnya, atau mengaborsinya.

Sebenarnya, keputusan apapun yang Rosie ambil maupun orang-orang yang mengalami nasib serupa adalah keputusan yang paling baik bagi mereka. Yang pastinya sudah dipikirkan secara matang-matang hingga berjuta kali oleh mereka. Kita tentunya sama sekali tak memiliki porsi untuk menghakimi, apalagi main hakim sendiri. Porsi kita adalah untuk menjaga mereka, mengawasi, dan juga untuk selalu mendukung apapun keputusan yang mereka ambil.

Dan keputusan yang diambil oleh sang tokoh utama kita, juga sebab-musabab yang menjadi akar permasalahan bagi segala konflik yang ada di dalam novel ini, adalah mempertahankan janinnya. Keputusan yang sangat, sangat baik menurut saya.

Dan saya tak pernah bermaksud untuk mengatakan bahwa aborsi itu tidak baik, pun sebaliknya. Hanya saja kita tak pernah tahu apakah yang kita ucapkan itu baik atau tidak untuk orang lain, bukan?

Untuk memperjelas maksud saya, boleh dilihat perumpamaan di bawah ini…

Abortion

Novel Love, Rosie ini mungkin bisa menjadi sebuah panduan hidup tersendiri bagi mereka yang tengah atau terlanjur mengalaminya. Sebab, di dalamnya berisi banyak sekali pandangan hidup sang tokoh utama terhadap keadaan yang harus dihadapinya dan juga nasihat-nasihat yang tak terkesan menggurui. Pun untuk sekedar melepas penat, novel ini adalah salah satu yang terbaik yang bisa saya rekomendasikan.

Sebelumnya, perkenankan saya menyampaikan rasa salut yang teramat sangat atas alih bahasa yang tak hanya tak bercela, namun juga mengalir dan amboi kerennya kepada Monica Dwi Chresnayani. Love, Rosie ini adalah novel hasil terjemahan Monica kedua yang pernah saya baca setelah novel all-American  Girl. Dan untuk kedua kalinya pula, saya dipuaskan. Salute!

Dikemas dengan gaya unik, kisah Rosie Dunne dan Alex Stewart disajikan dalam bentuk berupa kumpulan surat, kartu ucapan, print-out e-mail, print-out obrolan di chat room, faks, dan catatan-catatan kecil yang dibuat selama keduanya hidup. Hal ini tentu membawa angin segar bagi para pembaca yang terbiasa membaca novel berisi banyak paragraf deskripsi maupun narasi.

Penokohan yang diuraikan dengan sama uniknya ini terbukti berhasil melahirkan karakteristik para tokoh dengan kuat serta jelas. Karakter-karakternya begitu hidup, hingga terasa seperti membaca kumpulan surat yang benar-benar ada dan nyata, surat yang benar-benar dijadikan teman bagi tokoh utama, penggalan kisah hidup yang terangkum dalam kertas dan tinta.

“Dan aku duduk di sini, memikirkanmu.”

-Rosie (hlmn 239)

Rosie Dunne merupakan salah satu tokoh yang mampu mencuri hati saya dengan gaya berbicaranya yang penuh sarkasme. Dirinya digambarkan sebagai seorang ibu yang kuat, namun terkadang juga diimajikan sebagai sosok yang begitu rapuh. Keluh-kesah, kepenatan, juga kesedihan yang ia rasakan ketika menjadi seorang ibu di usia begitu muda, hingga harus membuang seluruh mimpi-mimpinya, disampaikan dengan begitu baik. Lelucon-lelucon yang ia lontarkan dalam surat-suratnya tak hanya membuat kedua bibir ini tersenyum simpul, namun juga mengundang gelak tawa membahana.

“Oh, yang benar saja! Kau malah senang sekali waktu akhirnya bercerai! Kau membeli sampanye paling mahal, kita minum sampai mabuk, pergi dugem, lalu kau mencium lelaki yang jeleknya minta ampun.”

-Rosie (hlmn 99)

Yang membuat saya kesal di novel ini adalah sosok Alex Stewart. Lelaki pintar namun bodoh dalam perkara rasa ini tak henti-henti membuat saya gemas setengah mati. Sikapnya yang effortless dan tidak peka tidak membuat hidup Rosie lebih baik. Kalau saja ia bertindak lebih cepat dan tanpa banyak berbasa-basi, mungkin tak membutuhkan lebih dari 600 halaman untuk mendapatkan akhir yang saya harapkan.

“Aku merasa sangat aneh waktu kau memunggungiku dan berjalan menyusuri lorong gereja bersama calon suamimu. Mungkinkah yang kurasakan itu cemburu?”

-Alex (hlmn 173)

Selain kedua tokoh utama di atas, Katie Dunne juga mendapat lampu sorot yang sempurna. Porsi kemunculannya begitu pas sebagai anak perempuan sang tokoh utama. Digambarkan sebagai Rosie generasi kedua, sifat yang dimiliki oleh Rosie menurun kepadanya. Nasibnya pun juga seperti itu. Katie hanya memiliki satu sahabat bernama Toby, persis seperti Rosie yang hanya punya Alex.

Katie adalah janin yang dulu dipertahankan oleh Rosie. Gadis kecil yang dulu sempat tak diinginkan olehnya, kini telah menjadi seluruh hidupnya. Katie telah menjadi semesta bagi ibunya, menjelma segala. Dan nantinya, ketika pertanyaan yang sama yang dipikirkan oleh ibunya terlontar dari kedua bibirnya, ia tak hanya menyelamatkan satu cinta, namun banyak cinta lainnya.

Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh yang nantinya hanya akan menjadi spoiler jika saya jabarkan satu-satu. Sebab, topik kehamilan yang tidak diinginkan yang dialami Rosie saja sudah bisa dibilang suatu kejahatan yang membuat saya patut meminta maaf kepada para pembaca review saya kali ini.

Namun para pembaca tenang saja. Kompleksitas jalan cerita yang dimiliki Love, Rosie ini aduhai kerennya. Dengan konflik, klimaks, dan post-klimaks yang beberapa kali berulang membuat saya yang membaca novel ini laksana menyusuri sebuah jalan cerita yang tak mengenal ujung. Lagi dan lagi saya dikagetkan dengan twist yang ada hingga menjadikan kisah Rosie dan Alex ini menjadi begitu menyenangkan dan tak tertebak.

Pendeskripsian latar yang tak terlalu njelimet dan penggunaan sudut pandang yang sederhana tak membuat rasa bingung hadir di kepala. Alur yang digunakan pun alur maju yang sama sederhananya walau terkesan melompat-lompat. Terang saja, perjalanan hidup Rosie Dunne semenjak berusia 5 hingga 50 dipampatkan hanya dalam 600 halaman.

Untuk perkara teknis, bisa dibilang novel Love, Rosie ini sempurna. Semua aspek disajikan dengan begitu apik dan ciamik. Sebut saja quotes-quotes yang biasanya jarang saya sertakan di review-review saya sebelumnya, tetapi kali ini bertebaran di merata pembaca.

Dan satu favorit saya:

“Seharusnya aku tidak membiarkan bibirmu meninggalkan bibirku sekian tahun lalu di Boston.”

-Alex (hlmn 201)

Dan atas segala pengalaman personal penuh kegembiraan yang saya dapatkan usai membaca novel ini, saya dengan senang hati memberikan…

Bintang 5

 “Hari ini aku mencintaimu lebih dari yang sudah-sudah; besok cintaku padamu akan lebih besar lagi.”