Review : Love, Rosie

Love, Rosie

—Di Ujung Pelangi—

Love, Rosie

Penulis: Cecelia Ahern

Alih bahasa: Monica Dwi Chresnayani

Desain dan ilustrasi sampul: Iwan Mangopang

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-602-03-1493-8

Cetakan: IV (Maret 2015)

Jumlah halaman: 632 hlmn

*

šBLURB›

Mulai dari anak-anak sampai menjelma remaja pemberontak, Rosie dan Alex selalu bersama. Sayangnya di tengah-tengah serunya masa remaja, mereka harus berpisah. Alex dan keluarganya pindah Amerika.

Rosie benar-benar tersesat tanpa Alex. Namun, pada malam sebelum dia berangkat untuk bersama kembali dengan Alex, Rosie mendapat kabar yang akan mengubah hidupnya selamanya, dan menahannya di tanah kelahirannya, Irlandia.

Meski demikian, ikatan batin mereka terbukti sanggup melewati suka-duka kehidupan masing-masing. Tetapi, keduanya tidak siap menghadapi perubahan lain yang terjadi di antara mereka: Cinta.

*

“…aku tidak ingin menjadi salah satu di antara sekian banyak orang yang begitu gampang dilupakan, yang dulu pernah begitu penting, begitu istimewa, begitu berpengaruh, dan begitu dihargai, namun beberapa tahun kemudian hanya berupa seraut wajah samar dan ingatan kabur. Aku ingin kita bersahabat selamanya, Alex.”

Rosie (hlmn 35)

Love, Rosie bercerita tentang lika-liku hidup seorang wanita Irlandia bernama Rosie Dunne. Rosie dan dengan satu-satunya sahabat yang ia miliki, Alex Stewart, menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja mereka dengan hal-hal menyenangkan seperti menunggu Sinterklas hingga larut malam, saling surat-menyurat di kelas sampai ketahuan lalu dihukum, bermain walkie-talkie, hingga membolos sekolah dan pergi ke bar demi memesan segelas tequila walau mereka masih di bawah umur.

“Setiap kali aku bangun pagi aku merasa seperti ada sesuatu yang hilang. Aku tahu ada sesuatu yang tidak beres, dan baru beberapa menit kemudian aku sadar… baru kemudian aku ingat. Sahabatku sudah pergi. Temanku satu-satunya.”

-Rosie (hlmn 45)

Semua kegembiraan itu seperti akan berlangsung selama-lamanya, masa muda yang bagaikan sebuah jalan keemasan penuh hari-hari bahagia. Karenanya, Rosie mempunyai impian untuk mengelola sebuah hotel, dengan Alex yang bekerja sebagai dokter hotelnya. Mimpi itu sejalan dengan impiannya yang lain, yaitu dapat berada di sisi Alex selamanya, tak kenal sudah.

Sayangnya, suatu hari Alex memutuskan untuk pergi.

“Bohong besar kalau ada yang bilang hidup ini mudah.”

-Rosie (hlmn 77)

Mr. Stewart memboyong seluruh keluarganya ke Boston, Amerika Serikat, termasuk Alex yang sama sekali tak ingin berpisah dengan Rosie. Rosie yang ditinggalkan sendirian di Dublin, Irlandia, merasa rindu dan sangat kesepian. Dirinya tak lagi memiliki keinginan apa-apa selain untuk kembali bersama Alex. Oleh sebab itu, Rosie memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Boston, agar dapat selalu berada dekat dengan Alex.

Namun, sebulan sebelum Rosie berangkat ke Boston untuk kembali bersama Alex, muncul seorang lelaki yang tiba-tiba saja mengubah seluruh hidup Rosie.

 “Kembali bersamamu rasanya sungguh tepat.”

-Alex (hlmn 69)

Tahukah kamu? Menurut data WHO dalam rentang waktu 2010-2014 tercatat lebih dari 32 ribu perempuan di Indonesia mengalami kehamilan yang tidak diinginkan (KTD). Jumlah tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang berprestasi di tingkat ASEAN. Berprestasi dalam hal itu, maksud saya.

Hal ini, kehamilan yang tidak diinginkan, juga harus dialami oleh seorang Rosie Dunne dalam novel karangan Cecelia Ahern: Love, Rosie (judul aslinya, Where Rainbows End, terbit di Irlandia pada tahun 2004). Kehamilan di usia yang sangat dini ini memaksa Rosie untuk membuat keputusan di antara dua pilihan yang sama-sama pelik, jua yang sama-sama memiliki risiko: mempertahankan janinnya, atau mengaborsinya.

Sebenarnya, keputusan apapun yang Rosie ambil maupun orang-orang yang mengalami nasib serupa adalah keputusan yang paling baik bagi mereka. Yang pastinya sudah dipikirkan secara matang-matang hingga berjuta kali oleh mereka. Kita tentunya sama sekali tak memiliki porsi untuk menghakimi, apalagi main hakim sendiri. Porsi kita adalah untuk menjaga mereka, mengawasi, dan juga untuk selalu mendukung apapun keputusan yang mereka ambil.

Dan keputusan yang diambil oleh sang tokoh utama kita, juga sebab-musabab yang menjadi akar permasalahan bagi segala konflik yang ada di dalam novel ini, adalah mempertahankan janinnya. Keputusan yang sangat, sangat baik menurut saya.

Dan saya tak pernah bermaksud untuk mengatakan bahwa aborsi itu tidak baik, pun sebaliknya. Hanya saja kita tak pernah tahu apakah yang kita ucapkan itu baik atau tidak untuk orang lain, bukan?

Untuk memperjelas maksud saya, boleh dilihat perumpamaan di bawah ini…

Abortion

Novel Love, Rosie ini mungkin bisa menjadi sebuah panduan hidup tersendiri bagi mereka yang tengah atau terlanjur mengalaminya. Sebab, di dalamnya berisi banyak sekali pandangan hidup sang tokoh utama terhadap keadaan yang harus dihadapinya dan juga nasihat-nasihat yang tak terkesan menggurui. Pun untuk sekedar melepas penat, novel ini adalah salah satu yang terbaik yang bisa saya rekomendasikan.

Sebelumnya, perkenankan saya menyampaikan rasa salut yang teramat sangat atas alih bahasa yang tak hanya tak bercela, namun juga mengalir dan amboi kerennya kepada Monica Dwi Chresnayani. Love, Rosie ini adalah novel hasil terjemahan Monica kedua yang pernah saya baca setelah novel all-American  Girl. Dan untuk kedua kalinya pula, saya dipuaskan. Salute!

Dikemas dengan gaya unik, kisah Rosie Dunne dan Alex Stewart disajikan dalam bentuk berupa kumpulan surat, kartu ucapan, print-out e-mail, print-out obrolan di chat room, faks, dan catatan-catatan kecil yang dibuat selama keduanya hidup. Hal ini tentu membawa angin segar bagi para pembaca yang terbiasa membaca novel berisi banyak paragraf deskripsi maupun narasi.

Penokohan yang diuraikan dengan sama uniknya ini terbukti berhasil melahirkan karakteristik para tokoh dengan kuat serta jelas. Karakter-karakternya begitu hidup, hingga terasa seperti membaca kumpulan surat yang benar-benar ada dan nyata, surat yang benar-benar dijadikan teman bagi tokoh utama, penggalan kisah hidup yang terangkum dalam kertas dan tinta.

“Dan aku duduk di sini, memikirkanmu.”

-Rosie (hlmn 239)

Rosie Dunne merupakan salah satu tokoh yang mampu mencuri hati saya dengan gaya berbicaranya yang penuh sarkasme. Dirinya digambarkan sebagai seorang ibu yang kuat, namun terkadang juga diimajikan sebagai sosok yang begitu rapuh. Keluh-kesah, kepenatan, juga kesedihan yang ia rasakan ketika menjadi seorang ibu di usia begitu muda, hingga harus membuang seluruh mimpi-mimpinya, disampaikan dengan begitu baik. Lelucon-lelucon yang ia lontarkan dalam surat-suratnya tak hanya membuat kedua bibir ini tersenyum simpul, namun juga mengundang gelak tawa membahana.

“Oh, yang benar saja! Kau malah senang sekali waktu akhirnya bercerai! Kau membeli sampanye paling mahal, kita minum sampai mabuk, pergi dugem, lalu kau mencium lelaki yang jeleknya minta ampun.”

-Rosie (hlmn 99)

Yang membuat saya kesal di novel ini adalah sosok Alex Stewart. Lelaki pintar namun bodoh dalam perkara rasa ini tak henti-henti membuat saya gemas setengah mati. Sikapnya yang effortless dan tidak peka tidak membuat hidup Rosie lebih baik. Kalau saja ia bertindak lebih cepat dan tanpa banyak berbasa-basi, mungkin tak membutuhkan lebih dari 600 halaman untuk mendapatkan akhir yang saya harapkan.

“Aku merasa sangat aneh waktu kau memunggungiku dan berjalan menyusuri lorong gereja bersama calon suamimu. Mungkinkah yang kurasakan itu cemburu?”

-Alex (hlmn 173)

Selain kedua tokoh utama di atas, Katie Dunne juga mendapat lampu sorot yang sempurna. Porsi kemunculannya begitu pas sebagai anak perempuan sang tokoh utama. Digambarkan sebagai Rosie generasi kedua, sifat yang dimiliki oleh Rosie menurun kepadanya. Nasibnya pun juga seperti itu. Katie hanya memiliki satu sahabat bernama Toby, persis seperti Rosie yang hanya punya Alex.

Katie adalah janin yang dulu dipertahankan oleh Rosie. Gadis kecil yang dulu sempat tak diinginkan olehnya, kini telah menjadi seluruh hidupnya. Katie telah menjadi semesta bagi ibunya, menjelma segala. Dan nantinya, ketika pertanyaan yang sama yang dipikirkan oleh ibunya terlontar dari kedua bibirnya, ia tak hanya menyelamatkan satu cinta, namun banyak cinta lainnya.

Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh yang nantinya hanya akan menjadi spoiler jika saya jabarkan satu-satu. Sebab, topik kehamilan yang tidak diinginkan yang dialami Rosie saja sudah bisa dibilang suatu kejahatan yang membuat saya patut meminta maaf kepada para pembaca review saya kali ini.

Namun para pembaca tenang saja. Kompleksitas jalan cerita yang dimiliki Love, Rosie ini aduhai kerennya. Dengan konflik, klimaks, dan post-klimaks yang beberapa kali berulang membuat saya yang membaca novel ini laksana menyusuri sebuah jalan cerita yang tak mengenal ujung. Lagi dan lagi saya dikagetkan dengan twist yang ada hingga menjadikan kisah Rosie dan Alex ini menjadi begitu menyenangkan dan tak tertebak.

Pendeskripsian latar yang tak terlalu njelimet dan penggunaan sudut pandang yang sederhana tak membuat rasa bingung hadir di kepala. Alur yang digunakan pun alur maju yang sama sederhananya walau terkesan melompat-lompat. Terang saja, perjalanan hidup Rosie Dunne semenjak berusia 5 hingga 50 dipampatkan hanya dalam 600 halaman.

Untuk perkara teknis, bisa dibilang novel Love, Rosie ini sempurna. Semua aspek disajikan dengan begitu apik dan ciamik. Sebut saja quotes-quotes yang biasanya jarang saya sertakan di review-review saya sebelumnya, tetapi kali ini bertebaran di merata pembaca.

Dan satu favorit saya:

“Seharusnya aku tidak membiarkan bibirmu meninggalkan bibirku sekian tahun lalu di Boston.”

-Alex (hlmn 201)

Dan atas segala pengalaman personal penuh kegembiraan yang saya dapatkan usai membaca novel ini, saya dengan senang hati memberikan…

Bintang 5

 “Hari ini aku mencintaimu lebih dari yang sudah-sudah; besok cintaku padamu akan lebih besar lagi.”

Advertisements

2 thoughts on “Review : Love, Rosie

  1. this is epic! tho i havent read neither watch love, rosie (honestly i got another spoiler too so..) but the way you review this book is awesome. you make the reader want to go to the store book as really soon as possible just to buh the aduhai book that youve been reviewing!
    by the way i knew this web from ask.fm. and… sorry for my mistaken grammar. im still learning tho teehee

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s