Blogtour : Aster untuk Gayatri

34

Aster untuk Gayatri

IMG_20170521_090449

Penulis: Irfan Rizky

Editor: Tiara Purnamasari

Layout: Tiara Purnamasari

Desain Sampul: @megapuspitap

Penerbit: Mazaya Publishing House

ISBN: 978-602-6362-35-3

Cetakan: I (April 2017)

Jumlah Halaman: 160 hlmn

*

ᴥBlurb ᴥ

Telah kularungkan

Kepada Gayatri

Tiap-tiap kesedihan

Jua

Perih-pedih masa lampau

 

 Dan telah kuwariskan

Kepada Giran

Cerita-cerita luka

Tentang rindu

Yang dipandanginya

Lama-lama

 

Pun telah kuhidangkan

Kepada kamu

Seorang

Kisah-kisah tentang

Apa-apa

Yang harusnya

Ada

Dan apa-apa

Yang mestinya

Tiada

*

“Agar jatuh cinta sedikit demi sedikit saja, karena siapa yang pernah tahu sakitnya seperti apa jika tergesa-gesa memberi segala?”

-Gayatri (hlmn 13)

Tak ada yang lebih menenangkan bagi Gayatri daripada hujan pukul delapan yang santun benar membasuh-bersihkan tabah tubuhnya. Di umurnya yang dua-delapan ini, dirinya masih harus berurusan dengan perkara-perkara yang tak begitu disukainya: kelakuan apaknya, kemauan mandenya, dan perhatian-perhatian Giran yang menyenangkan.

Untuk yang terakhir, dia tak benar-benar tak menyukainya. Hanya saja, Gayatri sudah pernah terluka. Dan tolol benar jika dirinya menyodorkan lebam yang sama pada Giran, mahasiswanya.

“Karena, bukankah jatuh cinta pada cinta itu sendiri adalah sesantun-santunnya cinta?”

-Giran (hlmn 19)

Yang luput dari perhatian Gayatri adalah Giran serupa dengannya. Telah lama dipeliharanya itu luka-duka, dijadikannya teman, dibuatnya nyaman. Kesakitan-kesakitan di masa lalu saling tarik-menarik di antara mereka, menambahkan rasa, menumbuhkan cinta.

Dan jika nanti Giran tahu dan mengerti akan kesukaran-kesukaran Gayatri, masih maukah dia menerimanya?

Dan bagaimana dengan Gayatri? Akankah ia tetap berpikir kalau wayangnya, meski sudah berbeda, namun berlakon sama?

Dan apakah semesta dan Tuhan kembali lancang untuk kesekian kali?

“Dan jika kita, kau dan aku, masih abai dan lancang pada kehendak masa lalu, maka hanya akan ada pahit yang membayang, menyambut ujung-ujung pilu yang menerjang.”

-Gayatri (hlmn 96)

***

Hai halo! Salam sejahtera! Bagaimana kabar? Semoga luar biasa selalu!

Sebelumnya, perkenankan saya berucap terima kasih kepada orang-orang yang sangat, sangat mendukung proses lahirnya novela perdana saya. Kepada Tuhan, orang tua, keluarga, dan sahabat-sahabat yang ucapan terima kasihnya telah saya tuangkan pada halaman pertama novela ini. Beli! Sehabis itu baca sendiri!

Lalu kepada teman-teman blogger buku: Mba Aya yang telah menghelat blogtour di minggu pertama; dan Miss Carra yang nanti dapat jatah mengulas buku saya yang tak seberapa di minggu terakhir. Kalian panutanqu.

Kemudian kepada teman-teman di Hello Author (saya akan mencoba lebih spesifik di sini): Mba Eka, Mba Rosyi, Mba Mia, terima kasih untuk ulasan-ulasannya. Mba Nurul, Mas Aji, Mas Tegar, Mba Dhamas, Mba Novi, Mbak Melly, Mas Beni, Mba Prima, Mba April, Mba April, Kang Dede, Daeng Ansar dan anggota lain yang superkece, terima kasih!

Kepada teman-teman Monday FlashFiction: Fajar ‘Ajay’, Sarif ‘Ranger’, Mba Vanda, Mas Iwann, Mas Wisnu dan teman-teman lain yang belum memiliki buku ini: plis beli.

Dan terakhir kepada kamu yang  sudah mau repot-repot ngikutin persyaratan-persyaratan di bawah; aku padamu. Seandainya saya sekaya itu, sudah saya berikan gratis untuk kamu sekalian. Heuheu.

Saya sempat disangsikan oleh Mba Aya, perkara menjadi host blogtour novela ini padahal saya pengarangnya. Memang lucu. “Budget terbatas, Mbae,” canda saya, sedikit meringis. Maka dari itu, saya ndak akan melakukan tindakan konyol dengan mengulas novela saya sendiri, ehe ehe ehe.

Namun, sebagai gantinya, saya akan menyediakan tautan-tautan dari ulasan-ulasan mereka atas novela Aster untuk Gayatri ini.

*

“Aster untuk Gayatri”, laiknya kisah cinta pada umumnya, menggetarkan dengan percikan asmara. Tema yang umum, topik yang ramai dibahas—luka, kepedihan, masa lalu, kekecewaan, kesengsem, jatuh cinta, sakit hati, jatuh cinta lagi—namun, bukankah kita selalu menyambut kisah-kisah demikian untuk menghibur diri?

Ya, kali ini, “Aster untuk Gayatri” pun secara umum mengangkat cerita dengan bait-bait esensi di atas. Tetapi, mengapa membacanya begitu nikmat?

Karena, eksekusi penulis dalam membumbui yang akan membedakan dan gaya sastra pada novella ini, membuat saya abai pada jenuh. Sebaliknya, malah bikin tangan gatal untuk membalik halaman tiap halamannya.”

-Nofrianti Eka P. (Founder Hello Author)

“Jujur, saya merasa kaget sama penggunaan bahasa yang dipakai penulis. Belum pernah ada yang seperti ini. Kosakata yang dipilih penulis, seakan-akan buat saya merasa sedang membaca sebuah puisi. Saya kebingungan meyakinkan diri sendiri, apa ini sebuah novel atau sebuah buku puisi tapi berbentuk novel. Pemilihan bahasa baku juga jadi daya tarik tersendiri buat baca buku ini. Terlalu banyak pemilihan kata baru, yang mau nggak mau bikin saya jadi rajin buka KBBI buat cari artinya satu per satu.

Sekali dua muncul percakapan berbahasa Minang, baik dari cerita Gayatri maupun Giran. Pemilihan bahasa daerah yang sempat bikin saya curiga kalau penulis juga orang Minang. Sama sekali nggak akan merasa kebingungan baca bahasa Minang, lewat bantuan catatan kaki yang menjelaskan baik itu arti percakapan, maupun arti dari sebuah istilah yang ditulis.

Yang sangat disayangkan dari karangan ini, terlalu banyak narasi yang bertele-tele, sampai akhirnya agak keteteran di beberapa hal yang justru perlu ditulis detail. Begitu tahu kalau Giran ternyata juga punya konflik batin dari masa lalu yang nggak kalah hebat dibanding Gayatri, terus terang saya agak kecewa kenapa konflik batin ini cuma diangkat sekali. Itu pun hanya sekilas. Padahal cerita soal kehidupan Giran sehari-hari cukup banyak dijabarkan, tapi konflik batin (yang buat saya juga cukup mengguncang) ini seakan sama sekali nggak ada pengaruh berarti di kehidupannya.”

-Vanda Kemala (Admin Buku panutan saya di mondayflashfiction.com)

“Sebuah cerita yang dituturkan dengan apik. Penulis sebagai pengamat di sini menumpahkan kalimat dan kosa kata yang hampir mirip seorang pujangga penyair. Padahal kalau untuk konflik yang dipilih penulis cukup sederhana dan bukan lagi hal baru. Tetapi gaya bahasa yang digunakan oleh si penulis ini berbeda dari cerita roman kebanyakan. Dibanding menikmati konfliknya, saya justru lebih menikmati permainan kata yang penulis racik dengan baik meski semuanya menggunakan bahasa yang baku.

Saat membaca buku ini, saya merasa seperti masih miskin kosa kata karena saya menemukan beberapa kata yang agaknya masih asing di telinga dan jarang ditemui di buku fiksi kebanyakan. Salah satu kata yang paling sering ditemui di buku adalah “alahai”, sebuah kata yang mungkin lebih familiar jika disandingkan dengan saudaranya “aduh”. Perumpamaan serta majas apalah-apalah yang digunakan juga terasa sangat pas.

Satu hal yang agak saya sayangkan dari cerita di buku ini, yaitu penulis tidak menyebutkan secara spesifik nama tempat yang dimaksud di cerita. Misalnya Gayatri mengajar di universitas mana dan di bidang apa? Giran bekerja di perpustakaan apa dan seperti apa? Gayatri kerja sebagai guru apa setelah ia pindah? Meski ini hanya hal kecil, namun bagi saya jadi agak mengganggu karena detil yang hilang ini menimbulkan tanya di sepanjang saya membaca kisah tokohnya.”

-Aya Murning (Blogger Buku)

***

GIVEAWAY!

Nebulus

Blogtour ini berlangsung sampai dengan tanggal 17 Juni 2017, waktu indonesia bagian Meester!

Mau dapetin novel ini secara cuma-cuma? Penulis sudah menyiapkan 1 eksemplar novela Aster untuk Gayatri bagi 1 peserta yang beruntung. Simak syarat dan ketentuannya berikut ini:

  1. Punya alamat kirim di wilayah Indonesia.
  2. Follow blog ini lewat akun WordPress atau via e-mail. Klik tombol follow yang ada di sidebar pojok kanan bawah.
  3. Follow akun berikut ini dari sosmed yang kamu punya:
  1. Share info giveaway ini di sosial media punyamu, bebas di mana saja (boleh semuanya atau pilih salah satu).
  • Jika di facebook: cantumkan link post ini dengan hashtag #AsteruntukGayatri dan tandai minimal 3 temanmu
  • Jika di twitter: cantumkan link post ini dengan hashtag #AsteruntukGayatri. Jangan lupa mention 2 akun di atas dan satu akun temanmu
  • Jika di instagram: repost foto banner di atas yang sudah saya upload di akun instagram saya @irfansebs, lalu tinggal ikuti ketentuan di caption-nya.
  1. Jawab pertanyaan berikut:

Giran teramat membenci pantai dan malah menyukai aroma pinus di pegunungan.

Kalau kamu, lebih memilih pantai atau gunung?

Jawab dengan jawaban yang paling unik dan menarik ya!

  1. Untuk keperluan pendataan peserta, tuliskan di kolom komentar di bawah ini berisi nama kamu, ID sosmed yang digunakan atau e-mail aktif, domisili, dan link share/repost yang tadi.
  2. Pemenang akan saya umumkan secepatnya di twitter, instastory, dan di post ini juga.

Itu saja. Nggak susah kan? Kalau masih ada rules yang membingungkan, for fast response jangan sungkan tanya langsung ke saya lewat mention/DM di twitter atau instagram.

Nah, tunggu apa lagi? Jangan lupa berdoa yang banyak. Selamat ikutan dan good luck!

***

PENGUMUMAN PEMENANG

Sebelumnya saya haturkan teramat banyak terima kasih bagi teman-teman yang sudah mau bersenang-senang di blogtour kedua Aster untuk Gayatri ini (akuh pada klean!). Semoga yang beruntung dapat menikmati Aster untuk Gayatri ini dengan santun, dan yang belum beruntung masih tertarik untuk mendapatkan novela perdana saya ini.

Dan pemenang di blogtour kedua Aster untuk Gayatri adalah:

Nama: Baiq Cynthia

Twitter: @baiqverma

Domisili: Situbondo

Selamat ya, Mba Baiq. Untuk keperluan pengiriman hadiah, segera kirimkan data diri berupa nama, alamat lengkap, dan nomor telepon yang bisa dihubungi ke e-mail saya di irfan10215@gmail.com dengan subjek Pemenang Giveaway Aster untuk Gayatri. Saya tunggu e-mail konfirmasi dari Mba Baiq maksimal 2×24 jam. Apabila tidak ada kabar setelah batas waktu tersebut, maka saya akan pilih pemenang yang baru.

Untuk peserta lain yang belum beruntung, jangan sedih atau kecewa. Masih ada 1 kesempatan lagi buat menangin buku ini di blog selanjutnya (klik di sini).

Terakhir, bahagia selalu! Jumpa lagi di lain kesempatan!

***

PS: Jika ada yang berminat ingin membeli langsung buku ini, untuk pemesanan bisa kirim SMS/WA ke nomor 085-722-025-109 atau via BBM dengan add PIN D79DCD48.

 

Review : Longing For Home

0

Longing For Home

LONGING FOR HOME

Penulis : Irfan Rizky, dkk

Editor : Tiara Purnamasari

Layout : Tiara Purnama Sari

Desain Sampul : Roeman-Art

ISBN : 978-602-73734-0-2

Penerbit : Mazaya Publishing House (2016)

*

Blurb

Aku akan selalu menemukanmu. Selalu. Bahkan pada debu yang berterbangan di bawah terik raja siang pukul satu. Pada kuap mulut-mulut mungil yang akan beranjak tidur. Pada gaduh acara gosip di televisi yang tak pernah kausuka.

Dan ketika aku menemukanmu, maka aku akan menemukan rumah sejati. Yang dibangun dari mimpi. Dikokohkan dengan cinta dalam hati. Cinta yang sejati. Cinta yang takkan pernah mati walau kau telah lama pergi.

(Penggalan cerpen “Rumah Yang Berbeda” karya Irfan Rizky)

Kontributor

Adinda Amara – Afifah Dinda Mutia – Aisya – Devita Cahyaning Islami – Diah Avitaa – Fadlun Suweleh – Fairuz Annisa Pardania – Jihan Maymunah – Luhdiah Prihatin Umroh – Mahdalena – Mutiara Magdalena – Nur Rahmah AR – Pramodyah Ayu Laraswati – Radita Nilna Salsabila – Selta Utary – September V – Siti Syamsiyah – Terdevan –Wahyuning Utami Riyadi – Wardatul Aini – Yesi Matahari

*

Review

Buku kumpulan cerpen ini menyajikan sebanyak 22 cerita yang lahir dari tangan para penulis yang mempunyai latar belakang berbeda. Cerpen-cerpen ketje ini dipertemukan pada suatu kompetisi bertemakan ‘Home’ yang diadakan oleh salah satu penerbit indie.

Di tengah banyak pandangan meremehkan yang ditujukan pada ‘dedek-dedek gemes dunia kepenulisan’ (baca: penulis pemula, mengutip dari sebuah artikel oleh Adam Yudhistira di basabasi.co), maka saya harap buku ini mampu meluruskan pola pikir ‘om-om gemes dunia kepenulisan’ (baca: penulis sok ahli) yang berpikir menempuh jalur melalui penerbitan indie itu adalah ‘abal-abal’ atau sebuah ‘kedodolan’.

Dan saya teramat sangat tersanjung atas keputusan juri yang dengan berbaik hati membuat cerpen saya menyandang titel Juara 1. Yay! Kamsahamnida, arigatou, bonjour, xie-xie, terima kasih, wilujeng sumping.

Yap! Lanjut review-nya! Dari 22 cerpen yang ada, saya akan me-review sebanyak delapan cerpen yang menurut saya unik, manis, dan menarik hati. Cuma ada satu hal yang kurang dan ternyata sangat mengganggu yaitu, TYPO! Benar para hadirin, typo. Musuh para penulis yang begitu kuat dan tak mungkin bisa dikalahkan jika para penulis malas mengedit. Begitu banyak typo bertebaran hingga typophobia saya kumat. Untuk cetakan berikutnya akan lebih indah lagi jika editor mampu mengubah typo-typo tersebut. Dan satu lagi, kertas serta sampul saya rasa terlalu tipis, mungkin bisa menggunakan kertas yang lebih bagus lagi untuk cetakan berikutnya.

*

Rumah Untuk Pulang – Adinda Amara

Bukankah keluarga seharusnya menjadi surga kecil di dunia ini, di mana kehangatan selalu mengalir dan perlindungan akan selalu ada dan menjagamu?

Cerpen pertama ini sukses membuat saya hanyut dalam nuansa sendu yang penulis ciptakan. Penggunaan diksi yang sederhana namun mengikat membuat saya tak perlu susah-susah menempatkan diri saya sebagai Rizaldi yang mempunyai luka begitu dalam. Serius. Sama sekali nggak bermaksud untuk lebay. Lalu ketika Rizaldi memohon izin, hampir saja air mata saya menetes.

Kembali Ke Habitat – Fadlun Suweleh

Sejatinya rumah bukan hanya tempat yang nyaman dan menenangkan untuk kita. Rumah adalah tempat yang tepat untuk kita, tempat yang kita butuhkan, bukan sekadar tempat yang kita inginkan.

Setelah diajak bersedih-sedih ria, mari saya ajak kalian membaca cerpen yang sarat akan satire juga menggelitik. Sindiran-sindiran terhadap tikus-tikus pemerintah yang tersaji dengan cukup apik sanggup menyunggingkan senyum prihatin yang ditujukan spesial kepada negara kita tercinta

Ada satu yang mengganggu saya. Di hal. 49  ada kalimat “(Di ruang periksa)”. Mungkin penulis ingin memperjelas setting percakapan yang berlatar belakang ruang periksa di adegan berikutnya, yang menurut saya sangat tidak perlu. Kalau untuk naskah drama, mungkin bisa.

Tempat Untuk Kembali – Jihan Maymunah

Ibu bagaikan rumah tempat kita tinggal, juga bagaikan rumah yang selalu melindungi kita dari segala macam cuaca.

Cerpen kali ini terasa dekat sekali dengan kehidupan masyarakat sekarang, dengan saya, dan mungkin juga dengan kalian. Di cerpen ini penulis mampu dengan apik menceritakan kesederhanaan tersebut dengan begitu mengesankan. Ada suatu pesan yang amat sederhana namun menampar yang bisa kita ambil dari cerpen ini. Salute.

Hujan Di Tepi Senja – Mutiara Magdalena

Di sini juga damai seperti rumah saya.

Akhirnya, nemu juga cerpen yang bertemakan cinta-cintaan favorit saya. Ehe… ehe… Gak usah di-review deh, bagus banget! Penulis mampu mengisahkan cerita romantis yang endingnya ternyata ehem-ehem. Diksi yang digunakan keren juga indah. Menghanyutkan.

Pulang – September V

Rumah adalah tempat untuk kembali, bukan untuk ditinggalkan.

Cerpen yang satu ini juga terasa begitu dekat dengan realita. Tentang Annisa yang galau sehabis PHK juga tentang kasih sayang Ibu yang tak berupa, tak berujung, tak tertakar. Mengharukan.

Pasir Dan Mentari – Siti Syamsiyah

Tidak perlu gunung emas atau istana berlian, cukup pasir dan mentari kau bisa mencintai dan mempertahankan tanah airmu demi masa depannya yang gemilang.

Satu lagi cerpen yang bernuansa satire, namun kali ini tak dibalut dengan humor-humor jenaka. Penulis mampu mengangkat dan menyindir isu-isu eksploitasi alam yang kini tengah marak di negeri kita tercinta. Pesan yang terkandung di dalam cerpen ini begitu benar dan menampar. Duh, saya juga jadi ikutan malu.

My Front Door – Terdevan

If you ever feel like this whole world put you down to your own knees, just come back home…

Satu lagi cerpen romantis yang menjadi favorit saya. Penulis dengan gaya penulisan yang memikat, agak-agak nyastra gitu, mampu melukiskan betapa LDR (Lama Diboongin Relationship, ehe… boong deng) begitu menyesakkan bagi dua insan yang saling mencinta. Diksinya keren, penggambarannya apik, plotnya rapih. Manis.

Surga Menghadirkan Rindu – Wardatul Aini

Surga dunia adalah rumah. Sejauh apapun kaki melangkah dan sehebat apapun dirimu, pada akhirnya rindu akan membawamu untuk kembali.

Cerpen ini adalah cerpen terakhir yang akan saya review. Dan betapa puasnya saya, cerpen yang terakhir ini adalah juga cerpen sederhana yang memikat. Cerpen yang bernuansa religius ini bercerita tentang impian untuk memiliki rumah yang layak. Sederhana, namun berisi. Ada hal-hal yang bisa dipetik dari cerpen ini seperti ketabahan, sikap selalu merasa cukup dan lain-lain.

Cukup sekian dari saya, kurang lebihnya mohon maaf, wa billahi taufik wal hidayah. Untuk keseluruhan, saya akan memberikan buku ini tiga dari lima bintang.

Bintang 3

Saya merasa bangga terhadap diri saya dan teman-teman sesama penulis yang terhimpun dalam buku ini. Teruslah berkarya, dan jangan pernah merasa cukup. Dan saya akan setia menunggu endorse-an buku dari kalian. Ehe.