Review : Melarin

3

C360_2017-03-30-08-29-23-484-01

Melarin

Penulis: Muftia Dinastri, Wardatul Aini, dkk

Editor: Tiara Purnamasari

Layout: Tiara Purnamasari

Desain sampul: Roeman-Art

Penerbit: Mazaya Publishing House

ISBN: 978-602-73734-6-4

Cetakan: I (April 2016)

Jumlah Halaman: 202 hlmn

*

ᴥBlurb ᴥ

Sudut-sudut dipenuhi oleh ribuan penduduk. Mereka mengukir setiap jengkal langkah menjadi sejarah yang tertata hingga tak pernah ada orang yang dapat menghancurkannya. Rumah-rumah kayu adalah sumber kekuatan karena di sanalah mereka menyembunyikan cikal bakal cahaya mereka. Namun, kau tahu, negeri ini tak bisa hidup tanpa satu hal. Puisi ajaib Sang Ratu bernama  melarin. Ya, puisi orang yang telah lama aku kenal.

-Penggalan cerpen juara 1 “Melarin” karya Muftia Dinastri

Gadis itu menghela napas. Kini rambutnya telah dikepang rapi. Cantik. Kemudian dia beranjak duduk di sebuah kursi tua lengkap dengan sebuah meja tua. Di sinilah A Ling menuliskan semua harapannya pada buku bewarna pink dengan sebuah pulpen ajaib yang bagian atasnya ada cermin bulat kecil.

-Penggalan cerpen juara 2 “Cermin Pink Ajaib” karya Wardatul Aini

*

Yang paling sulit dari mengulas sebuah buku, baik itu novel maupun kumpulan cerpen, adalah menciptakan paragraf pembuka yang wow bin mencengangkan bin menakjubkan bin tiada-duanya-sampai-sampai-pengulas-merasa-lebih-baik-modol-daripada-begadang-memikirkan-membuat-suatu-kalimat-pembuka-dalam-ulasan-yang-ciamik-bin-menyenangkan. Sebab tanpa modal paragraf pembuka yang wow dan sebagainya, dan sebagainya, apa bedanya ulasan-ulasan saya dengan ulasan-ulasan mereka?

Aih. Mari lupakan saja apa-apa tentang saya, barang beberapa jenak.

Melarin lahir dari kegelisahan suatu penerbit yang heran mengapa rak-rak fiksi fantasi di toko-toko buku di Indonesia masih didominasi oleh karya-karya terjemahan milik penulis-penulis asing yang tahu nasi padang saja dari lagu. (Tiba-tiba terbayang, J.K. Rowling makan dengan tangan, kaki diangkat sebelah, sibuk menggigiti tulang ayam.)

Kumpulan cerpen ini memuat dua-delapan buah cerita pendek yang ditulis dengan gaya dan kekhasan masing-masing, membuat Melarin ini semakin kaya akan cerita-cerita. Salah satu cerpen saya ada di dalamnya.

Dan di dalam kesempatan yang baik ini, saya akan mengulas beberapa—tentu tidak semua—cerita yang menurut saya layak untuk dikupas dan dibahas.

Tom Si Jempol – Alfa Ulfatihah NE

Cerita ini mempunyai eksplorasi ide dan imajinasi yang tinggi terhadap tema: fantasi. Campur baur dongeng-dongeng macam Jack dan Pohon Kacang, Cinderella, dan Gadis Bertudung Merah dengan inti cerita Thumbelina membuat kisah ini tak membosankan dari awal sampai akhir. Pun meski tak halus benar, penulis terlihat matang dalam membuat cerita hingga membuat satu kesatuan yang utuh.

Salut.

Lima bintang/lima bintang

Dua Kepala – Eka Sumantri Samosir

Eka Sumantri berani mengangkat hal baru nan unik di dalam kumpulan cerpen ini: politik. Sentilan-sentilan yang nyata benar mengkritik sesiapa membuat saya terhibur jua bertanya-bertanya; benarkah pemerintah sekarang memiliki ‘dua kepala’?

Terlepas dari kurang gregetnya karakter yang dibentuk, juga hal-hal tidak terlalu orisinal macam “Pelahap Waktu” (siapalah saya yang lancang benar mengkritik ketulenan karya seseorang), cerpen ini adalah salah satu cerpen terbaik di dalam buku ini.

Empat bintang/lima bintang

Kutukan Misty – Fanny Christina Hadiyanto

Satu hal yang langsung muncul dalam kepala kala membaca cerpen berlatar sekolah menengah ini adalah: yaampun teenlit binggow. Perkara-perkara remaja seperti bulliying, pencarian perhatian dan jati diri, dikemas unik juga ringan.

Penulis punya bakat, baik-baik saja mengasahnya.

(Masih bingung mau dikasih tiga-setengah atau) Empat bintang/lima bintang

Di Balik Cahaya – Irfan Juhari

Membaca cerpen ini seperti menonton film Jumanji ataupun apa-itu-yang-ada-boardgame-luar-angkasa-nya-persis-Jumanji-maaf-malas-googling-haft.

Dulu, dulu sekali, pernah saya berandai-andai memiliki mesin waktu demi memperbaiki apa-apa yang perlu diperbaiki dari masa lalu; kebodohan-kebodohan, perpisahan, ketidaktahuan yang masif dan sebagainya. Sekarang pun masih getol mengumpamakan, memisalkan.

Alah.

Judul cerpen milik Mas Irfan ini menurut saya agak ndak nyambung dan terkesan mengecoh. Tapi apalah arti dari sebuah judul, bukan? Dan terlepas dari itu, cerpen ini memiliki makna yang sangat nyata dan umum adanya.

Apik.

Empat bintang/lima bintang

Jerit Generasi di Abad 99 – Lailatur Rahmah

Astaghfirullah al adzhim.

Entah mau dibawa ke mana cerpen ini. Sureal bukan, fantasi bukan. Satire bukan, sindiran bukan. Salah ketik di mana-mana. Alur hancur. Inti cerita ndak ada. Ending gantung.

Astaghfirullah al adzhim.

Satu bintang/ima bintang

Vendeta – M. Sanjaya

Bisa dibilang, cerpen ini mempunyai ide/premis cerita yang paling baik, paling fantasi. Berkisah tentang perang dunia kesekian antara Bangsa Athnas (penamaannya kreatif!) dan pasukan langit (sayangnya kurang kreatif). Kedua bangsa ini telah berselisih dan berkesumat secara terus menerus di Bumi, hingga perseteruan mereka, suka tidak suka, ikut menyeret penduduk bumi.

Diceritakan dari sudut pandang seorang manusia bumi, yang adalah korban perang, membuat saya penasaran tentang apa-apa yang terjadi sesudahnya.

Teramat ciamik. Masih sangat bisa dikembangkan. Saya tunggu ya novel utuh tentang Bangsa Athnas ini, Mas Sanjaya!

Empat bintang/lima bintang

Melarin – Muftia Dinastri

Saya memilih buku Melarin untuk diulas karena saya tak menjadi juara pertama pun kedua dalam kategori ini. Memang pongah, betul, tetapi selain itu karena rasa penasaran jua ikut andil.

Dan saya merasa cerpen saya di buku ini tidak ada apa-apanya dibanding Melarin :’)

Meski lebih doyong ke sureal daripada fantasi, Melarin mampu membuat saya teramat terhibur. Diksinya istimewa, premisnya matang,  deskripsinya wow binggow. Lengkap. Hampir sempurna.

Lima bintang/lima bintang

Think All About People – Pratiwi Nur Zamzani

Astaghfirullah.

Idem.

Astaghfitullah.

Satu bintang/lima bintang

Pemberi Ide dan Perpustakaan Ajaib – Salwidyah

Cerpen ini satu-satunya yang membuat hati saya… hangat.

Berkisah tentang Gadis Pemberi Ide yang tiba-tiba menghilang dari suatu negeri bernama Jordein. Dia lelah pada manusia-manusia yang menggantungkan harapan mereka kepada dia. Dia merasa itu tak baik, oleh karena itu ia tinggalkan kepada mereka sebuah perpustakaan ajaib.

Dengan keterbatasan saya terhadap kata-kata, meski teknik bercerita di cerpen ini biasa benar, entah kenapa karya Mbak Salwidyah ini mampu mendapatkan…

Lima bintang/lima bintang

*

~Trivia~

Lagu yang cocok dengan kumcer ini Alligator Sky-nya Owl City :)))

Kesan yang diharapkan: Siapa ini yang punya cerpen lebi bagus dari ue~

Kesan yang didapatkan: Anjay bagus banget :(((

Tokoh favoritkuh Arina di Pemberi Ide dan Perpustakaan Ajaib.

Kumcer Melarin yang kaya ini adalah novel kedua saya yang saya baca di tahun 2017. Selain untuk menuntaskan tantangan yang saya janjikan kepada diri sendiri, ulasan kumcer ini juga diikutsertakan dalam Monday FlashFiction Reading Challenge yang akan dihelat selama setahun kedepan.

Dan berdasarkan akumulasih, kumcer ini pantas mendapatkan…

Bintang 3

Selamat!

Sampai ketemu di ulasan selanjutnya!

Advertisements

Review : 3 Luka 4 Wanita 1 Cerita

3

 c360_2017-02-16-08-07-30-153

3 Luka 4 Wanita 1 Cerita

Penulis: Nofrianti Eka P.

Editor: Nerin Richa

Layout: Nerin Richa

Design: Rahmi Intan

Penerbit: Nerin Media

ISBN: 978-602-73049-5-6

Cetakan: I (Januari 2016)

Jumlah Halaman: 152 hlmn

*

ᴥBlurb ᴥ

 “Kau makin membuatku merasa ngeri untuk menikah.” -Kara-

“Bukankah cinta bisa dipelajari?” -Aning-

“Aku rindu gombalmu itu sekarang.” -Ayu-

“Aku mencintainya dan aku yakin dia juga mencintaiku.” -Dea-

*

“Rindu selalu mencari jalan pulang

Tak peduli

Seberapa jauhnya…”

-Nofrianti Eka P.

“Ayu, wanita muda berparas cantik yang harus kehilangan suami yang dicintainya karena leukimia. Ia berjuang untuk bangkit, berjuang untuk merelakan suami yang memanjakan dan menyayanginya sepenuh hati. Merelakan seseorang untuk pergi selamanya. Ikhlas itu… tidak mudah.

Dea, seorang istri yang mendapat perlakuan kasar dari suami dan sindiran tajam dari mertua karena tak kunjung hamil. Ada rahasia besar yang ia simpan. Alasannya, ia terlalu mencintai suaminya.

Kara, yang mendapat trauma melihat kegagalan pernikahan ibunya dan menjauh dari ayah kandungnya. Trauma ini menjadikannya enggan menjalin hubungan dengan pria sementara ada lelaki yang sedang gigih mendekatinya. Kara harus menghadapi kenyataan bahwa tumbuh rasa suka di hatinya namun di sisi hati yang lain, ia takut bahwa pemikiran negatifnya tentang lelaki adalah benar.

Aning, perempuan belia yang impiannya seketika runtuh saat ia diperkosa dan mendapati dirinya hamil. Bingung, kalut, dan takut, ia memutuskan diri untuk menceburkan dirinya di sebuah danau. Ia takut menghadapi manusia yang mungkin akan membuat hidupnya semakin berat.

Ketiga wanita dewasa, bertemu dengan seorang gadis yang sedang putus asa dalam hidupnya. Saat mereka bertemu, mereka mendapati bahwa di dunia ini, tidak ada orang yang menjalani hidupnya dengan mudah. Semua perempuan memiliki masalah. Semua perempuan mungkin memiliki masa lalu yang menyedihkan. Semua perempuan mungkin pernah merasakan kehilangan. Semua perempuan mengalami kekecewaan.

Keempat wanita yang bertemu secara tak sengaja ini akhirnya membuka hati mereka, mencoba untuk menguatkan satu sama lain, saling merangkul dan memberi rasa sayang agar mereka tidak merasa sendiri. Mencoba untuk memaafkan orang-orang yang meninggalkan mereka, mencoba menutup pintu trauma dan memersilakan mempersilakan kebahagiaan masuk kembali ke dalam diri mereka.”

Dan tanpa embel-embel ‘prolog’, saya langsung disuguhkan penjelasan tentang siapa-siapa dan apa-apa yang akan terjadi dalam ini novel. Jujur saja, tulisan di atas sangat membantu saya di bagian-bagian awal untuk mengerti jalan cerita novel yang memiliki banyak tokoh utama ini.

Yep, banyak tokoh utama. Ayu, Dea, Kara, dan Aning yang begitu pandai menyembunyikan rahasia demi rahasia.

“Biar bagaimana pun, seorang istri harus bersikap baik pada suaminya.”

-Dea (hlmn 17)

Awal-awal proses membaca yang menyenangkan ini, saya sempat dibuat sangsi akan kualitas dari novel perdana Mba Eka. Tiga bab pertama masih terasa kaku, typo di mana-mana, dan satu yang membuat saya sampai saat ini masih merasa heran: penulis berlama-lama menggunakan ‘si istri’, ‘si suami’, ‘teman si istri’ untuk menarasikan isi cerita yang menurut saya terlalu berlebihan. Apalagi tidak berhenti-henti sepanjang satu bab penuh.

Tetapi, di tiga belas bab sisanya, Mba Eka dengan sangat sukses menunjukkan kualitas tulisannya yang apik tenan!

Sudah hampir dua tahun saya mengenal penulis juga karya-karyanya, dan beberapa kali berdiskusi seru tentang hal-hal yang berkaitan dengan literasi. Dan satu yang saya tangkap dan mengerti benar adalah kemampuan beliau dalam membangun cerita yang utuh dan membuai.

Di novel 3 Luka, 4 Wanita, 1 Cerita ini, penulis mampu membangun karakter tokoh per tokoh dengan elok. Ayu yang bijak menghadapi masa depan yang menjanjikan kesendirian. Dea yang rapuh di luar, tabah di dalam kala menghadapi suaminya yang ringan tangan. Kara yang ceplas-ceplos, yang membangun dinding tinggi demi melindungi hati. Aning yang polos, yang suci betul, yang tengah belajar mengerti apa arti kehidupan.

“Lelaki memang biang masalah.”

-Kara (hlmn 42)

Membaca novel ini seperti menyelami diri sendiri. ‘Sudahkah pantas saya mengeluh?’ ‘Sudahkah bijak saya menghadapi masalah-masalah yang ada di pelupuk mata?’ ‘Sudahkah tepat kepada siapa saya meminta pertolongan?’ dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sama peliknya, sama sulitnya, kerap hadir di tiap-tiap halaman.

Dan novel ini memiliki satu-dua jawabannya.

“Jangan khawatir, jangan bersedih! Kamu sudah berusaha melakukan hal yang tepat. Jangan pedulikan pendapat orang yang bahkan tidak mengenalmu dengan baik. Tidak ada hal yang mudah di dunia ini dan mungkin masalah yang kita alami sungguh kecil dibanding orang lain di luar sana.”

-Ayu (hlmn 55)

Romansa memang salah satu tema yang tak habis-habis diangkat, tak usai-usai dikulik. Beberapa buku bergenre tersebut yang pernah saya baca memiliki ide yang sederhana dengan eksekusi yang rapi juga istimewa. Dan 3 Luka, 4 Wanita, 1 Cerita ini adalah salah satunya.

Premis-premis seperti kekerasan dalam rumah tangga dan ditinggal mati suami tercinta, bukankah sering kita dengar dan/atau baca? Baik di cerpen-cerpen yang diunggah pada laman-laman sastra, maupun novel-novel daring jua luring?

Tetapi di kisah 3 Luka, 4 Wanita, 1 Cerita ini, hal-hal biasa tersebut dikemas dengan berbeda.

Penulis pandai menyimpan rahasia-rahasia yang ada pada setiap ceritanya dengan legit, tanpa bermaksud mengecoh pun membodohi pembaca. Sebut saja rahasia dibalik kemandulan Dea dan masa lalu Kara. Sekali lagi, apik tenan!

“Bukankah teman itu saling menguatkan?”

-Aning (hlmn 148)

Dari empat kisah yang disatupadukan, saya pribadi menyukai cerita Kara dan Aleks (dengan ‘K’ dan ‘S’. Bukan dengan ‘X’). Mungkin karena premis yang disuguhkan begitu pelik, juga adanya kejutan-kejutan yang tak sempat saya harapkan. Awalnya saya kira jalan ceritanya hanya lurus-lurus saja. Memang seharusnya hidup tak payah mengira-ngira, bukan?

Dan yang saya sukai paling buntut adalah kisah Aning. Terlalu sedikit porsi Aning di dalam buku ini. Kapan dan bagaimana dia sampai diperkosa tak dijabarkan. Lalu mengapa ketika hamil tiga bulan beliau baru memutuskan untuk bunuh diri? Kalau sebegitu depresinya, bukankah akan lebih masuk akal jika perbuatan yang tak boleh jadi itu dilakukan usai diperkosa?

Eits! Ingat, ‘bunuh diri kan tidak seperti rekreasi ke suatu pulau misterius, di mana bila ternyata pulau tersebut ‘basi’, kita bisa pulang atau pergi ke tempat lain’.

“Aku hanya berpikir, kamu tidak bisa lari terus-terusan dari kenyataan.”

-Aleks (hlmn 87)

Novel ini (terlepas dari runutnya jalan cerita, rapinya konflik, dan apiknya penututuran kisah-kisah), memiliki kekurangan yang bersifat teknis. Seperti penulisan brukat yang harusnya brokat, handal yang harusnya andal, puteri-putri, wudhu-wudu, setoples-stoples, shampoo-sampo, penggunaan partikel –pun, dan peleburan (hanya kata dasar yang berawalan huruf ‘p’-lah yang lebur jika diberi imbuhan. Contoh: peduli-memedulikan. Salah: persilakan-memersilakan, pertemukan-memertemukan).

Sayangnya, kesalahan-kesalahan ini ada di hampir seluruh bab. Mungkin penulis bisa lebih concern lagi untuk hal-hal yang bersifat teknis seperti ini di kemudian hari. Memang kalau sekadar mengerti, saya yakin pembaca mana pun akan mengerti. Tapi itu bukan satu-satunya hal yang penting dalam sebuah tulisan. Eh…

Menurut kalian, kebenaran tata bahasa dan gramatika itu penting gak sih?

“The very essence of romance is uncertainty.”

-Oscar Wilde, the Importance of being Earnest and Other Plays

Novel 3 Luka, 4 Wanita, 1 Cerita yang beralur maju-mundur ini adalah novel pertama yang saya baca di tahun 2017. Selain untuk menuntaskan tantangan yang saya janjikan kepada diri saya sendiri, ulasan novel ini juga diikutsertakan dalam Monday FlashFiction Reading Challenge yang akan dihelat selama setahun kedepan. Dan sebagai novel pembuka tahun, karya Mba Eka ini sangat sukses menghibur dan mendidik tanpa terkesan menggurui.

Oleh sebab itu, bintang-bintang ini pantas untuknya…

Bintang 4

YAY!!!

Uh, oh… Ada pertanyaan dari Monday FlashFiction; “Kalau ditakdirkan bertemu langsung dengan penulisnya, apa yang kamu ingin sampaikan padanya, berkaitan dengan bukunya yang telah kamu baca?”

Gampang sih, tinggal whatsapp aja tanpa perlu capek-capek lagi nunggu takdir. Ehe. Paling yang saya mau tanyakan; kenapa judulnya 3 Luka, 4 Wanita, 1 Cerita? Bukannya semua wanita (empat) mempunyai lukanya masing-masing?

Sampai ketemu di ulasan selanjutnya!

P.S.

Karena novel ini diterbitkan secara indie, maka kalian bisa memesannya langsung kepada Mba Eka atau Penerbit Nerin Media.

Review : Kabut di Bulan Madu

0

img_20161130_074344_hdr-01

Kabut di Bulan Madu

Penulis: Zainul DK

Penyunting: Nisaul Lauziah Safitri

Penata Letak: Yuniar Retno Wulandari

Pendesain Sampul: Hanung Norenza Putra

Penerbit: Ellunar Publisher

ISBN: 978-602-0805-73-3

Cetakan: I (Agustus 2016)

Jumlah Halaman: 249 hlmn

*

ᴥBlurb ᴥ

Tersangka kasus penembakan di sebuah kafe yang menewaskan seorang preman adalah Roby. Ia melakukan penembakan itu karena tak terima kekasihnya, Linda, diganggu. Ia pun berhasil ditangkap oleh Inspektur Ariel untuk menjalani hukuman penjara. Tidak sanggup melihat sang kekasih bersedih mengetahui dirinya dijebloskan ke penjara, Roby menyuruh Linda untuk berlibur menaiki kapal pesiar mewah.

Di sisi lain, ada pasangan yang baru menikah hendak berbulan madu: seorang penyiar berita bahasa Jepang, Helena Lizzana, dan pria keturunan Jepang-Timur Tengah, Ihdina Shirota. Mereka berencana menikmati momen indah itu dengan naik kapal pesiar.

Pasangan muda tersebut berada dalam satu kapal pesiar yang sama dengan Linda. Tak disangka terjadi musibah: kapal pesiar itu menabrak karang dan karam. Dari hasil evakuasi, dinyatakan bahwa hanya ada satu korban jiwa meninggal, yaitu LINDA!

Memperoleh berita nahas ini, Roby tentu saja tidak terima. Menurutnya, ada keanehan yang menyebabkan kekasihnya saja yang menjadi korban. Ia percaya seseorang sengaja membunuh Linda. Ia pun menyusun rencana untuk kabur dari penjara, dan mencari tahu siapa pembunuh sang kekasih. Inspektur Ariel mesti mati-matian mencegahnya.

*

“Bukanlah setiap yang bekilau itu emas.”

-Ihdina Shirota (hlmn 86)

Berkisah tentang pengabdian seorang inspektur di kepolisian daerah Jeyakarta, Ariel Stallone. Inspektur Ariel yang tengah sibuk mengurusi kasus pembunuhan di Kafe Expose mesti juga menghadapi kerewelan Roby—tersangka kasus pembunuhan di atas—yang kerap menerornya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kewajaran kematian belahan jiwanya, Linda.

Linda yang meninggal tersebab kecelakaan kapal pesiar mewah—yang dijadikannya tempat pelarian atas rasa sedih hatinya kerana Roby terancam dipenjara—meninggalkan seribu tanda tanya di kepala Roby. Siapa yang membunuh Linda? Mengapa dia atau mereka membunuh Linda? Dan jika benar kecelakaan dan tiada siapa membunuh siapa, kenapa hanya Linda satu-satunya yang mati di antara semua?

DI lain tempat, sepasang suami-istri yang tengah menikmati umur-umur jagung dalam pernikahan mereka, memutuskan untuk mereguk nikmatnya berbulan madu di atas kapal pesiar mewah. Ihdina Shirota, pengusaha minuman kesehatan bermerek “KULT”, rela memberikan segalanya kepada Helena Lizzana, sang kekasih hati.

Namun, bulan madu yang mereka sangka akan terasa teramat madu, sekonyong-konyong berubah menjadi mimpi buruk. Kapal megah itu menabrak karang, kalang kabut para penumpang dibuatnya. Tak terkecuali Ihdina dan Helena yang tengah berada di atasnya.

Ketika kegemparan itu terjadi, Helena terpisah dari genggaman Ihdina. Sejak saat itu, dia seorang diri berlomba-lomba menyelamatkan nyawa, saling bersikut-sikutan dengan penumpang lain. Tetapi, mengapa di akhir cerita Helena menjadi berubah? Ada yang disembunyikankah?

Apakah ada hubungannya dengan kematian Linda?

“Tergelincir kaki lebih baik daripada tergelincir lidah.”

-Ihdina Shirota (hlmn 86)

Kabut di Bulan Madu adalah novel pertama yang saya baca setelah hiatus lama sejak… entahlah. Lupa. Dan sebagai novel perdana—yang saya baca, juga novel perdana sang penulis, Zainul DK—saya merasa cukup terpuaskan. Betapa proses menikmati novel ini aduhai menyenangkan.

Meski tak berprofesi sebagai seorang polisi, penulis cukup sukses membawakan tema ini kepada saya selaku penikmat cerita. Mungkin keberhasilan ini jua ditunjang oleh latar belakang beliau yang seorang Magister Hukum dan ayah-kakeknya yang seorang purnawirawan. Membaca novel ini sedikit-banyak memberikan gambaran kepada saya tentang apa-apa yang ada dan terjadi di kepolisian.

Namun, saya rasa penulis terlalu ‘menguasai’ tema ini, hingga ada kebijakan—atau kesilapan, saya tak tahu—yang bagi saya cukup mengganggu kenikmatan saya. Kebijakan itu ialah ada beberapa istilah kepolisian yang tidak dilengkapi dengan catatan kaki hingga saya perlu berpayah-payah mencari apa artinya. Seperti pamapta, reserse, briptu, bripda, bripka, aipda, dan sebagainya.

Akan tetapi hal ini tak selalu buruk. Dengan penguasaan yang sebegitu hebat, Zainul DK dalam novel ini banyak memberikan pengetahuan-pengetahuan baru yang sangat tidak umum dan saya teramat menyukainya. Seperti istilah lain dari Tempat Kejadian Perkara (TKP) adalah locus delicti, entah dari bahasa mana. Juga arti dari istilah visum et refertum dan juga post mortem.

“Penyesalan tak pernah di depan.”

-Ihdina Shirota (hlmn 113)

Kisah para tokoh di ini novel menitikberatkan pada satu hal: usaha Roby mencari kebenaran atas kematian Linda juga membalaskan dendamnya. Dan demi menuju pusat badai tersebut, pembaca akan disuguhkan dengan cerita-cerita ringan yang diolah sederhana oleh sang penulis. Seperti kisah kasih Ihdina dan Helena, cerita Inspektur Ariel dan aktivitasnya di kepolisian Jeyakarta, hingga diskusi demi diskusi Roby dan pengacaranya kala mencoba menguak tabir yang membayang-bayangi kematian kekasihnya.

Kover novel ini pun seolah menjabarkan apa yang sebenarnya menjadi inti dari Kabut di Bulan Madu: Kesuraman yang datang tiba-tiba pada hidup sepasang belahan jiwa. Dan jangan lupa, kalung emas berinisial ‘H’ yang menjelma segalanya di dalam kisah ini.

“Sekali melihat lebih baik daripada seratus kali mendengar.”

-Ihdina Shirota (hlmn 113)

Dengan alur yang konstan maju juga gaya bercerita yang lincah dan menurut saya enak dibaca, menambah poin tersendiri pada keapikkan novel ini. Diksi dan pengolahan kalimat yang penulis terapkan di novel ini sedikit berbeda dengan novel-novel lain yang pernah saya baca. Agak-agak nyastra kalau bisa saya bilang.

Meski penulis mengklaim genre novel Kabut di Bulan Madu ini adalah thriller, saya berpendapat lain. Unsur thriller di novel ini saya rasa tak lebih dari 25%. Dan yang lebih mendominasi adalah rasa romansa dan komedinya.

Oleh karena itu, setelah jalan seperempat saya membaca—dan agak-agak tertekan karena saya mengharapkan kisah yang benar serius namun tak kunjung saya temukan—saya coba mengubah persepsi saya. Dan benar saja, saya lebih menikmati novel ini sebagai novel romansa-komedi dengan cukup action dari tokoh utama daripada novel thriller-romance.

“Obatilah amarahmu dengan diam.”

-Ihdina Shirota (hlmn 199)

Satu hal lain yang membuat saya menyukai novel ini adalah: saya harus menjalani love-hate relationship dengan tiap-tiap tokohnya. Hal ini teramat menyenangkan sekaligus mengesalkan. Mari saya jabarkan satu per satu.

  1. Inspektur Ariel Stallone
  • Love: Polisi muda yang diimajikan pintar, gagah, mainly manly, humoris, dan bijaksana. Namun, entah mengapa rupa inspektur tidak dijabarkan sedikit pun di dalam kisah ini (atau saya yang melewatkannya?)
  • Hate: Ariel dibuat berbeda dengan kekhasannya mengganti ‘kau/kamu’ dengan ‘you’. Awalnya saya pikir ini adalah salah satu dari sekian banyak kekreatifan penulis: membuat tokoh utama yang gampang diingat. Namun inkosistensi terjadi beberapa kali. Singkatnya, penulis hanya mengubah kata ‘kau/kamu’ yang seharusnya diucapkan Ariel dengan ‘you’ tanpa ada pengembangan lagi. Padahal ada beberapa kata yang sebenarnya bisa dikreasikan lagi seperti ‘lukamu’ menjadi ‘luka you’. Atau ‘kalian’ menjadi ‘you semua’.

Dan serius nih, selera humor inspektur kita ini receh banget~

  1. Roby
  • Love: Porsi Roby di kisah ini keren banget!
  • Hate: Perubahan emosi Roby di kisah ini amatlah berantakan. Ndak ada smooth-smooth-nya. Padahal, jika penulis mampu mengeksplorasi lebih lagi si Roby ini, maka saya yakin akan lahir seorang antagonis hebat yang akan selalu diingat.
  1. Ihdina Shirota
  • Love: Nama Ihdina yang kreatif dan saya suka sekali. Karakternya yang bijaksana dan penyayang, mungkin agak dibuat mirip seperti karakter-karakter yang ada pada Nabi Muhammad SAW. Pengusaha keturunan Jepang-Timur Tengah ini juga banyak memberikan pengetahuan baru seputar quotes berbahasa Jepang dan Arab.
  • Hate: Lagi-lagi selera humor yang menurut saya perlu ditingkatkan.
  1. Helena Lizzana
  • Love: News anchor di Jeya TV ini diimajikan cerdas, rupawan, manja, serta bertanggung jawab. Benar-benar istri idaman.
  • Hate: Kok saya agak-agak terkejut ya kalau Helena ini tega melakukan itu

“Katakan yang benar walau pahit.”

-Ihdina Shirota (hlmn 199)

Dari sebegitu hebatnya gaya menulis Zainul DK dalam merangkai kata, mencipta cerita, bagi saya masih ada beberapa hal yang membuat saya kurang sreg, di antaranya seperti:

  1. Ada kalimat yang diucapkan oleh kekasih Roby, Linda, yang menurut logika saya tak pada tempatnya.
  2. Pemakaian onomatope yang berlebihan seperti Ceet… Ceet… Tiiit…, Kleeekk, Wkwkwkwk, Mmuuaacch, Hohoho, Yups. Entah hanya saya saja atau bagaimana, hal ini teramat menyebalkan dan tidak memiliki nilai estetika.
  3. Begitu juga pemakaian huruf kapital atau capslock yang berlebihan. Menggunakan tanda seru jua sebenarnya sudah cukup bijak dan cukup mewakili emosi yang terkandung dalam suatu kalimat.
  4. Pemilihan nama-nama tempat dan tokoh yang terkesan tak serius.
  5. Typo (meski saya senang sekali karena teramat jarang saya temukan typo pun kata-kata yang tidak baku, tetapi masih ada sedikit, sedikiiiittt sekali, yang bisalah diberikan pengampunan,):
  • Cobra yang seharusnya kobra saja
  • Mr X yang seharusnya Mr. X
  • Pemakaian tanda kutip yang salah di hlmn 19
  • Tata make-up bukannya tata rias atau make-up saja
  • Mapolres yang seharusnya Mapolres. Sebab, akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital
  • Full English yang seharusnya di-italic sebab merupakan kata asing
  • Wandi rekzen yang seharusnya Wandi Rekzen

“Tak meladeni orang bego itulah jawabannya.”

-Ihdina Shirota (hlmn 199)

Terlepas dari kesilapan-kesilapan tersebut, novel ini memiliki ‘something’ yang membuatnya layak untuk dibaca khalayak ramai. Saya pribadi amat menikmati prosesnya, namun alangkah lebih baik jika penulis mau berlapang dada dan berbesar hati menerima kritik saran yang telah saya jabarkan di atas, semata-mata demi kesempurnaan penulis sendiri di masa yang akan datang.

Pun, saya harap dengan teramat-amat-amat-amat sangat agar kisah Inspektur Ariel Stallone mampu dibuatkan kelanjutannya dengan penulisan yang lebih matang lagi, konflik yang lebih cerdas lagi, dan twist yang lebih alahai lagi!

Ah, iya! Tentang twist, sejuta kata kampret pun takkan mampu menggambarkan kekampretan twist di Kabut di Bulan Madu ini. Kampret banget! The best twist ever in 2016! Mas Zainul kampret bener!

Dan terakhir, novel ini pantas untuk mendapatkan…

Bintang 3

Plis plis plis dibuatin sekuelnya!

P.S.

Tahukah kamu kalau ada bonus CD berisi 6 trek yang tiga di antaranya adalah lagu ciptaan penulis sediri?

P.S.S.

Baca juga Bookkeeper’s React di sini.

P.S.S.S.

Berhubung buku ini diterbitkan dengan jalur indie, maka teman-teman dapat menghubungi pihak Ellunar Publisher di twitter @EllunarPublish_

http://www.ellunarpublisher.com/2016/08/kabut-di-bulan-madu.html

Review : Pacar Dunia Maya

0

Pacar Dunia Maya

Pacar Dunia Maya

Penulis: Yusi Kurniati

Editor: Tiara Purnamasari

Layout: Tiara Purnamasari

Desain Sampul: Roeman-Art

Penerbit: Mazaya Publishing House

ISBN: 978-602-73734-2-6

Cetakan: I (Januari 2016)

*

šBLURB›

Melda mengenal Adit lewat media sosial facebook. Sejak pertama mengenal Adit lewat media sosial tersebut, Melda langsung jatuh hati. Adit selalu berhasil membuat Melda percaya dengan kata-katanya, meski dalam lubuk hati Melda masih ragu tentang sosok Adit yang sebenarnya. Tapi ia sudah terlanjur jatuh cinta pada Adit. Apalagi ia mengenal Adit saat ia sedang terpuruk karena putus cinta dengan Rio, mantan kekasihnya yang posesif dan over protektif. Mereka pun memutuskan untuk pacaran meskipun sama sekali belum pernah bertemu secara langsung dan hanya berkomunikasi lewat media sosial dan handphone saja.

Sejak mengenal Adit, Melda makin sering aktif di media sosial. Dia dan Adit hampir setiap hari chatting sampai larut malam, sehingga tak jarang Melda terlambat datang ke kampus.

Kisah cinta Melda melalui berbagai prahara. Beberapa sosok lelaki sebelum Adit pun sempat hadir dalam hidupnya seperti Rio dan Yoga. Hubungan Melda dan Adit yang terjalin lewat media sosial mengalami pasang surut. Mulai dari kebohongan Adit yang mengirimkan foto pada Melda yang ternyata bukan dirinya. Sikap Adit serupa security yang selalu curiga dan mewajibkan Melda untuk laporan 24 jam. Yang akhirnya sering membuat mereka bertengkar.

Tapi kemudian, Adit berhasil membujuk Melda untuk kembali. Gea juga sering dimintai Adit untuk membujuk Melda ketika Melda ngambek. Sampai pada suatu saat, kebohongan terbesar Adit terungkap, yang membuat Melda benar-benar menyesal sudah begitu percaya pada Adit.

Apakah kebohongan terbesar yang Adit lakukan? Akankah hubungan Melda dan Adit berjalan lancar? Siapa sajakah yang terlibat dalam kebohongan besar Adit? Lalu, bagaimanakah kisah cinta Gea, sahabat sekaligus sepupu Melda?

*

“We don’t have a choice on whether we DO social media, the question is: how well we DO it.”

-Erik Qualman

 “NR memutuskan untuk menemui kenalan facebook-nya dan ia diajak ke Lapangan Turna, Cijantung. Menjelang malam hari, remaja perempuan berusia 15 tahun yang masih bersekolah kelas I SMK ini diperkosa oleh kenalannya tersebut bersama sekelompok remaja laki-laki lainnya di sebuah kebun kosong di Cijantung, Jakarta Timur .”

Mengerikan, bukan? Tetapi tenang saja, paragraf di atas sama sekali tidak tercantum di dalam buku Pacar Dunia Maya yang kali ini akan saya review. Namun, paragraf tersebut nyatanya benar terjadi di kehidupan ini, di kehidupan yang saya dan kamu jalani.

Lalu saya dan kamu, entah harus tetap tenang atau tidak karenanya.

“Kejahatan yang terimplikasi media sosial dan media online memang terus meningkat., terutama yang mengakses ke facebook dan twitter. Ada sekitar 74% dari kejahatan tersebut yang menggunakan facebook dan 24% lainnya menggunakan twitter,” papar Dimitri Mahayana, pakar IT dari Sharing Vision.

Saat ini kejahatan terkait facebook dilaporkan ke polisi setiap 40 menit. Bahkan pada tahun 2013 ada sekitar 12.300 kasus yang diduga melibatkan facebook. Sehingga facebook pun telah dirujuk dalam penyelidikan pembunuhan, pemerkosaan, pelanggaran seksual anak, penyerangan, penculikan, ancaman pembunuhan dan penipuan.

Dampak perkembangan teknologi saat ini memang cukup besar, baik dari sisi positif dan sisi negatifnya. Bahkan dari hasil survei, 29% kejahatan seksual via internet diawali lewat situs jejaring sosial. Pun peluang adanya kejahatan akan semakin bertambah jika ditindaklanjuti dengan kopi darat. Sebab, pelaku bisa saja menggunakan anonim dengan identitas yang tidak jelas yang sudah sepatutnya kita curigai.

Statistik jua menunjukkan bahwa kasus anak hilang yang melibatkan facebook pada tahun 2011 ada 18 orang, dan pada tahun 2012 ada 27 orang. Angka ini tentunya akan terus meningkat jika tidak adanya tindakan-tindakan yang diambil oleh pihak-pihak terkait.

Platform media sosial karya Mark Zuckerberg ini memang banyak melahirkan angka-angka fantastis yang membuat kita miris ketika membacanya. Namun, entah kenapa, seorang Yusi Kurniati malah mengangkat sebuah tema tentang hubungan yang terjalin via platform tersebut dan menyajikannya dengan manis dan sederhana.

Dan melalui buku ini, mungkin pelajaran hidup yang sederhana namun penuh makna bisa sama-sama saya dan kamu petik.

“Jatuh cinta itu dapat terjadi pada sepersekian detik, ketika dua mata saling bertemu tatap.”

-Pacar Dunia Maya (hlmn 120)

Novel ini bercerita tentang Melda dan Adit yang awalnya tak saling mengenal, hingga akhirnya mereka menjalin hubungan lewat dunia maya. Mereka berkomunikasi hanya dengan chatting, SMS, serta telepon. Meski tak pernah satu kali pun bertemu secara langsung, Melda memutuskan untuk percaya saja kepada Adit dan menerima cintanya.

Hal yang menurut Gea sangat, sangat tidak bijak.

Mungkin Melda tak pernah mengenal istilah ‘bibit, bebet dan bobot’ ketika akan memilih pasangan karena ia tinggal jauh di Sintang, Kalimantan Barat, dan bukan di Jawa. Padahal, tiga hal tersebut sangat krusial dan merupakan hal paling utama dalam menentukan dengan siapa kita akan menghabiskan sisa umur kita

Atau mungkin hanya karena sekelumit rasa yang gagal diartikan sebagai cinta mati yang meledak-ledak, yang gaduhnya bingar, yang harus, yang tak mampu digugat oleh sesiapa yang menjadikan Melda seyakin itu dengan Adit.

Entah yang mana satu.

Berulang kali Gea mewanti-wanti, persis Ibu Kos menghadapi anak-anaknya yang telat bayar tiga bulan, namun berulang kali juga Melda menepis kenyataan yang disodorkan di depan hidupnya. Membuat saya sekali lagi sadar, cinta benar buta ternyata.

Dan nantinya, ketika bau busuk dusta mulai tercium, akankah Melda bertahan?

Novel ringan nan menyenangkan ini habis dalam dua malam. Tak perlu susah-susah mencerna, tipikal novel-novel teenlit yang pernah saya baca. Meki seperti itu, novel ini tetap sarat inspirasi dan nilai-nilai moral yang terlihat sepele namun berdampak besar jika diimplementasikan.

Salah satu contohnya bisa dilihat dari cara Gea yang memperlakukan pembantu rumah tangganya dengan sederajat, tanpa sedikit pun merasa lebih atau superior. Dan seandainya tiap-tiap yang berhati melakukan persis seperti apa yang dilakukan oleh Gea, maka utopia bukanlah cerita dongeng belaka.

Pun novel ini mengajari kita untuk selalu waspada terhadap apa-apa yang mendekat, yang ditawarkan, yang tidak kita ketahui betul asal-usulnya, persis nasihat orang-orang zaman dulu untuk ‘tidak membeli kucing dalam karung’.

Berpusat pada kisah cinta Melda, seorang mahasiswi Universitas Swasta Sintang, yang benar-benar bagaikan cerminan remaja masa kini. Hidupnya terisi penuh dengan gejolak-gejolak masa muda yang menggelora. Jika senang, senang sangat. Sedih pun begitu. Keteguhan dan konsistensinya terhadap sesuatu adalah daya tarik yang paling menonjol dari dirinya.

Berbeda jauh dengan Gea, sepupu Melda, yang bersifat dewasa serta mampu berpikir dengan kepala dingin. Ialah yang berusaha keras menjaga sepupu kesayangannya itu agar terhindar dari yang namanya rasa kecewa pun sakit hati. Gea juga yang banyak mencari-cari informasi tentang Adit hingga mengungkap tabir kebenaran yang selama ini membayangi kisah percintaan sepupu sekaligus sahabat sejatinya itu.

Dan yang terakhir, juga karakter yang paling mengesalkan, Adit. Tak perlu kiranya saya menuliskan banyak tentang dirinya. Adit ini tipikal-tipikal netizen yang terlalu sering share berita-berita berjudul sensasional yang isinya tak lebih dari omong kosong belaka. Well, ini hanyalah pikiran sekilas yang terlintas ketika mengenal sosok Adit lewat novel ini, heuheu.

Sebenarnya masih banyak karakter lain seperti Rio, Yoga, Tama, Arian, dan Irna yang ikut andil dalam membangun cerita. Namun karena porsi kemunculan yang tak terlalu banyak, membuat saya agak sulit untuk menentukan karakteristik tiap-tiap dari mereka.

Ketika memulai membaca novel ini, saya dijamu dengan sebuah flashback yang cukup apik tentang bagaimana Melda pertama kali berkenalan dengan Adit, hingga saat Melda menjemput Adit di Bandara Tebelian Sintang untuk kopi darat yang pertama kalinya. Alur maju-mundur serta sudut pandang orang ketiga yang sama apiknya membuat novel ini mudah dimengerti. Apalagi ditambah dengan penggunaan diksi yang luwes, yang anak muda banget, serta penceritaan yang mengalir membuat saya sama sekali tak merasa bosan ketika membaca novel Pacar Dunia Maya ini.

Namun, diksi serta kegramatikalan yang terlalu luwes menurut saya juga tak selalu baik. Saya teramat mengerti jikalau penulis ingin pembacanya merasa dekat dengan tokoh-tokoh yang ada di dalam novel ini. Namun, ketika memutuskan untuk menggunakan bahasa-bahasa prokem serta bahasa asing yang pastinya akrab di telinga para pembaca, penulis harusnya tahu dan mengerti kaidah penerapannya.

Saya selalu ingat, bahwa salah satu kesalahan penulis pemula adalah betapa malasnya mereka melakukan self-editing. Padahal, self-editing itu penting demi memudahkan editor dalam bekerja, pun demi memperoleh hasil paling maksimal dari suatu naskah. Karena, siapa yang lebih kenal suatu naskah daripada penulisnya sendiri?

Dan berikut ini adalah kekeliruan-kekeliruan yang saya temukan dalam buku ini:

  • perpectionist yang seharusnya perfectionist (terjadi beberapa kali)
  • under estimate yang harusnya underestimate (terjadi beberapa kali)
  • atau pun yang seharusnya ataupun (hlmn 6)
  • twitternya yang seharusnya twitter-nya (hlmn 6)
  • Penggunaan kata ‘Maag-nya’ di halaman 44. Awalnya saya kira kesalahan ada di penggunaan huruf kapital di awal kata yang seharusnya adalah huruf kecil. Namun, setelah saya telusuri lebih dalam, kata ‘maag’ tidak ada di KBBI. Yang ada hanyalah kata mag yang artinya (cak) lambung. Tentu ini tidak sinkron dengan arti ‘maag’ menurut wikipedia yaitu radang lambung atau tukak lambung. Jika ternyata ini adalah istilah asing (medis), maka menurut tata bahasa, penulisan yang benar adalah maag-nya (contoh lain twitter-nya dan facebook-nya)
  • “… Melda satu selera kok sama Gea,” sahut Gea…, di sini terjadi kesalahan penyebutan nama tokoh. Yang seharusnya ‘sahut Melda’, malah ‘sahut Gea’. Kalimat-kalimat sebelumnya dapat dijadikan bukti atas poin ini (hlmn 45)
  • paranoid yang seharusnya tidak ditulis miring (hlmn 57)
  • karna yang seharusnya karena (hlmn 57)
  • Let see yang seharusnya Let’s see (hlmn 59)
  • Tata letak yang sedikit berantakan di halaman 71 dan 82
  • bongsai yang seharusnya bonsai (hlmn 118)
  • signal yang seharusnya Atau mungkin dengan bahasa ibu saja, sinyal (hlmn 128)
  • Perpect yang seharusnya perfect (hlmn 129)
  • inbok yang seharusnya inbox (hlmn 134)
  • merekapun yang seharusnya mereka pun (hlmn 136)
  • ‘“… Aku nggak bisa tanpa dia.” Adit melemas.’ Mungkin terjadi kesalahan penulisan di sini. Yang seharusnya ‘memelas, malah ‘melemas’ (hlmn 138)
  • cleanning yang seharusnya cleaning (hlmn 144)
  • ‘ga’ pada kata-kata ‘ga suka, ga peduli dan ga beres’ yang seharusnya nggak atau tak atau tidak (hlmn 150)
  • Iapun yang seharusnya Ia pun (hlmn 162)
  • Tehrnya yang seharusnya tehnya (hlmn 172)
  • taxy yang seharusnya taxi (hlmn 184)
  • stobery yang seharusnya stroberi (hlmn 187)

Novel ini memang memiliki beberapa kesalahan yang bersifat teknis, namun dari segi plot, jalan cerita, eksekusi konflik, klimaks, serta ending yang tak diduga-duga, bisa dibilang novel ini layak dibaca dan sukses membuat saya jatuh suka.

Dan atas segala pengalaman personal yang saya dapatkan usai membaca novel ini, saya dengan senang hati memberikan…

Bintang 3

Ditunggu karya-karya Mbae Yusi selanjutnya ya!

*

Ref: (sharingvision.com/2014/05/setiap-40-menit-terjadi-12-300-laporan-kasus/)

Review : Cinder

4

Cinder

Cinder

The Lunar Chronicles

Penulis: Marissa Meyer

Penerjemah: Yudith Listriandri

Penyunting: Selsa Chintya

Proofreader: Titish A. K.

Penerbit: Penerbit Spring

ISBN: 978-602-71505-4-6

Cetakan: I (Januari 2016)

Jumlah halaman: 384 hlmn

*

šBLURB›

Wabah baru tiba-tiba muncul dan mengecam populasi penduduk Bumi yang dipenuhi oleh manusia, cyborg, dan android. Sementara itu, di luar angkasa, orang-orang Bulan mengamati mereka, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.

Cinder, seorang cyborg, adalah mekanik ternama di New Beijing. Gadis itu memiliki masa lalu yang misterius, diangkat anak dan tinggal bersama ibu dan dua orang saudari tirinya. Suatu saat, dia bertemu dengan Pangeran Kai yang tampan. Dia tidak mengira bahwa pertemuannya dengan sang Pangeran akan membawanya terjebak dalam perseteruan antara Bumi dan Bulan. Dapatkah Cinder menyelamatkan sang Pangeran dan Bumi?

*

“She believed in dreams, all right, but she also believed in doing something about them. When Prince charming didn’t come along, she went over to the palace and got him.”

-Walt Disney

Kisah dongeng Cinderella bak legenda yang tak habis-habis diceritakan. Disebarkan dari mulut ke mulut, ditularkan lewat lembaran kertas, buku-buku, hingga berbentuk audio-visual dari generasi ke generasi.

Mulai dari (yang diduga) kisah aslinya yang ada jauh sebelum masehi, tentang Rhodopis sang budak wanita dari Yunani yang menikahi Raja Mesir. Lalu kisah Ye Xian dari negeri Tirai Bambu, Bawang Merah Bawang Putih dari Indonesia, Mary The Crab (Mariang Alimango) dari Filipina, Tam Cam dari Vietnam, serta Kongjwi And Patjwi dari Korea yang semuanya memiliki kesamaan plot dengan kisah Cinderella.

Kisah Cinderella sendiri pertama kali ditulis oleh Giambattista Basile yang memakai nama Cenerentola sebagai nama tokoh utama. Tulisan Basile inilah yang pertama kali menyertakan ibu dan saudari tiri yang kejam, make-over sihir, sepatu yang hilang, dan kerajaan yang kemudian mencari pemilik sepatu tersebut.

Setelah Basile, kemudian ada Perrault dengan Cendrillion-nya, Brothers Grimm dengan Aschenputtel-nya, Confessions Of An Ugly Stepsister-nya Gregory Maguire, dan masih banyak lagi penulis-penulis berbakat yang me-remake dongeng masterpiece ini.

Termasuk Marissa Meyer yang menambahkan beberapa sentuhan distopia, scifi, juga fantasi yang memberikan wajah baru bagi dongeng Cinderella tersebut.

Berkisah tentang kehidupan Linh Cinder sebagai cyborg (Cybernetic Organism, makhluk hidup yang memiliki bagian-bagian tubuh robot) di tengah hiruk pikuk kota New Beijing, ibu kota Persemakmuran Timur. Cinder yang juga seorang mekanik terkenal di kotanya memiliki masa lalu yang misterius. Almarhum walinya yang juga ilmuwan, Linh Garan, mengangkatnya sebagai anak setelah melakukan operasi kepada tubuh Cinder usai kecelakan hover yang mengakibatkan hilangnya satu tangan, satu kaki, dan juga ingatannya.

Cinder yang tak mengetahui asal-usulnya, terpaksa hidup serumah bersama dengan ibu tirinya, Adri, juga kedua orang saudari tirinya, Pearl dan Peony. Kehidupan Cinder sangatlah menyedihkan, apalagi sebuah hukum diciptakan khusus untuk para cyborg yang mengakibatkan adanya kesenjangan sosial antara manusia dengan cyborg.

Kesenjangan sosial itulah yang menjadi aral bagi Cinder kala Pangeran Kai datang ke kiosnya di pasar mingguan New Beijing pada suatu hari. Cinder dengan sengaja menyembunyikan fakta bahwa ia adalah seorang cyborg saat Pangeran memintanya untuk membetulkan android kesayangannya. Karena jika Pangeran Kai sampai tahu, maka Cinder yakin kalau yang nantinya ia terima hanyalah pandangan jijik dan merendahkan dari sang Pangeran.

Namun, ia akhirnya menyesal karena telah menyembunyikan jati dirinya. Sebab menurut sahabatnya yang berwujud android, Iko, Pangeran Kai sepertinya menyukainya. Yang mana hal itu tak boleh sampai terjadi. Karena pangeran adalah Pangeran, dan Cinder adalah… yah… cyborg.

Euforia karena telah bertemu Pangeran Kai yang tampan dan digilai seluruh wanita lajang di seluruh Persemakmuran Timur, lesap begitu mengetahui Peony, adik tiri Cinder yang ia sayangi, divonis tertular wabah Letumosis. Wabah yang kini menjadi epidemi dan telah merenggut banyak nyawa di Bumi.

Adri dan Pearl menyalahkan Cinder atas kejadian yang menimpa Peony. Dan karenanya, ia dipaksa menjadi relawan untuk penelitian yang tengah dilakukan para ilmuwan demi menemukan vaksin Letumosis tersebut. Cinder menolak, sebab ia selalu tahu kalau nasib para relawan sebelumnya berakhir mengenaskan.

Mereka mati.

Di tengah kekacauan hidup Cinder saat itu, Ratu Levana, pemimpin koloni Bulan yang terkenal kejam dan selalu mengkonfrontasi Bumi, memutuskan untuk berkunjung ke New Beijing demi membahas perjanjian perdamaian yang baru, tepat setelah kematian Kaisar Rikan, ayah Pangeran Kai.

Meski Persemakmuran Timur tengah berduka atas kepergian kaisar mereka, namun pesta dansa tahunan tetap akan dilaksanakan. Tetapi akankah ibu dan saudara tirinya mengizinkan Cinder untuk menghadiri pesta dansa yang diadakan kerajaan? Sebab, dengar-dengar Pangeran Kai akan mencari calon permaisurinya di pesta itu.

 “She was a cyborg, and she would never go to a ball.”

-Marissa Meyer

Cinder mampu membuai saya untuk ikut merasakan bagaimana sensasinya hidup di Bumi setelah perang dunia keempat. Di mana Bumi hanya terbagi menjadi beberapa negara besar yaitu: Persemakmuran Timur, Kerajaan Inggris, Federasi Eropa, Uni Afrika, Republik Amerika, dan Australia. Di mana kemajuan teknologi telah begitu pesat, hingga android dan cyborg mampu membaur dengan kehidupan masyarakatnya. Di mana Bulan mampu dihuni oleh manusia yang telah berevolusi.

Dan di mana kesetaraan begitu saru hingga patut ditanyakan.

Menjadi tidak seratus persen manusia otomatis mencap para cyborg ini sebagai warga kelas dua. Hal ini serupa dengan realitas yang ada pada masyarakat post-modern kita, di mana kaum inferior banyak ditindas kaum superior, ataupun minoritas yang dipukul telak oleh mayoritas.

Hal ini tercermin atas program ‘Regulasi Cyborg’ yang diadakan kerajaan untuk mencari relawan bagi pengujian vaksin Letumosis. Mengapa harus cyborg? Mengapa bukan manusia? Sebab tatanan masyarakat di buku Cinder ini menganggap bahwa nyawa manusia lebih berharga dibanding cyborg, dan juga sebagai balas budi yang harus diberikan oleh cyborg kepada para ilmuwan yang telah memberikan mereka kesempatan kedua untuk hidup.

Penindasan karena ketidaksetaraan ini juga dilakukan oleh Adri dan Pearl, mirip dengan ibu dan saudari tiri Cinderella dalam kisah aslinya.

Kalau kalian sempat merendahkan karakter Cinderella yang naif dan lemah di kisah aslinya, mungkin Cinder di buku ini akan memberi angin segar bagi kalian. Jauh dari kata lemah dan naif, Cinder di buku ini dibuat lebih realistis dan juga kuat. Ia yang sadar siapa dirinya, menolak untuk berhubungan dengan Pangeran Kai lebih jauh. Dan ketika ia dipaksa oleh beberapa android untuk menjadi relawan, ia tidak langsung ikut dengan patuh. Dan hasilnya, satu android hancur karena perlawanannya.

Berlawanan dengan karakter Cinder di atas, Pangeran Kai di buku ini terkesan lemah. Ada beberapa faktor yang menurut saya mempengaruhinya. Pertama, kekaisaran yang tiba-tiba saja harus ia kelola di usia semuda itu, usai kematian Kaisar Rikan yang juga adalah ayahnya. Kedua, posisinya sebagai pemimpin persemakmuran membuatnya harus berpikir sejuta kali atas nama kesejahteraan dan keselamatan rakyatnya. Ketiga, tekanan dan ancaman terselubung dari koloni Bulan yang mengharuskan Pangeran Kai untuk bersikap ‘cari aman’.

Namun, di atas segalanya, Pangeran Kai adalah juga sosok yang rendah hati, lucu, penyayang, dan bijaksana. Berbagai kesan ini dapat dengan mudah ditangkap di setiap dialog-dialognya yang digambarkan secara baik oleh penulis.

Ibu dan saudari-saudari tiri Cinderella yang mempunyai peran cukup penting dan sangat signifikan di kisah aslinya, di buku ini malah seperti tak cukup banyak memiliki panggung. Oh, kecuali Peony, saudari tiri yang bersikap baik pada Cinder.

Adri dan Pearl kurang terkesan keji (well, honestly, i really wished some gruesome scenes in this book) kepada Cinder. Cinder hanya disuruh bekerja di pasar (yang nyatanya hanya duduk-duduk saja), mencari barang-barang rongsok untuk memperbaiki peralatan elektronik di rumah mereka, mencuci hover (mobil terbang) dan hal-hal remeh lain.

Tak ada lentils yang harus ia pungut dan bersihkan satu-satu selama semalaman atau hal-hal keji lainnya yang biasanya dilakukan oleh ibu tiri. Kecuali menjual Cinder kepada para ilmuwan demi uang bisa dibilang keji, maka mereka cukup keji kalau begitu.

Dan yang mendapatkan banyak lampu sorot dalam perkara kekejian adalah, tak lain dan tak bukan, Ratu Levana dan konco-konconya.

Romansa yang hadir di antara Cinder dan Pangeran Kai amatlah berharga untuk dinikmati. Bagaimana cara Pangeran Kai yang mati-matian membujuk Cinder hingga mengundang rasa iba bagi saya, juga cara Cinder yang berkali-kali menolak setiap bujukan pangeran layaknya seorang wanita mandiri sangatlah menghibur di tengah keseriusan dan ketegangan terhadap ancaman meletusnya perang antara Bumi dan Bulan. Humor-humor segar dan menggelitik nan pas.

Dengan alur yang terang serta penceritaan dan sudut pandang yang jelas, seharusnya tidak ada kesulitan untuk memahami isi buku ini. Namun di dua puluh tiga halaman pertama, saya mengakui sangat sulit untuk mengerti jalan ceritanya. Saran saya, baca perlahan, dan kalau ada yang tak dimengerti, ada baiknya untuk dibaca ulang.

Perkara teknis tak banyak yang bisa saya koreksi.

  • Penggunaan kata memelesat yang saya rasa kurang cocok dalam cerita -> “…Iko menyeruak keluar dari kerumunan dan memelesat ke meja kerja…” ->sebab menurut KBBI, memelesat = memental; terlepas dengan cepat.
  • Penggunaan kata mencangkung yang tidak biasa dan menurut saya keren.
  • Penggunan kata diagnostis yang harusnya diagnosis di halaman 195 dan 231
  • Penggunan titik yang salah di halaman 214
  • Dan kata ‘Perintah’ yang seharusnya tak dikapitalkan

Membaca buku ini bagaikan berfantasi dalam realitas. Banyak nilai-nilai realis yang tersirat dan dapat kita jadikan alasan untuk duduk bersama, lengkap dengan kopi pekat yang mengepul serta pisang goreng di sisinya, seraya menekan ego untuk kemudian membicarakan apa yang baik dan benar bagi masyarakat yang harusnya penuh cinta.

Sekuel pertama dari The Lunar Chronicles ini pantas mendapatkan rating sebanyak…

Bintang 4

Tak sabar untuk sekuel selanjutnya, Scarlet, Cress, dan Winter! Yay!

Review : Mission D’Amour

5

Mission D'Amour

Mission D’Amour

Penulis : Francisca Todi

Editor : Ruth Priscilia Angelina

Desainer Kover : Orkha Creative

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 978-602-03-2487-6

Cetakan : I

Jumah Halaman : 368 hlmn

*

šBLURB›

Kehidupan Tara Asten sebagai asisten pribadi Putri Viola—Putri Mahkota Kerajaan Alerva yang supersibuk—selalu penuh tantangan. Namun, Tara tidak pernah menyangka Badan Intelijen Alerva (BIA) akan menjadikannya tersangka utama dalam rencana penyerangan keluarga kerajaan. Dia dimasukkan ke dalam masa percobaan tiga bulan, pekerjaannya terancam tamat!

BIA menugaskan salah satu agen rahasianya, Bastian von Staudt, alias Sebastian Marschall, untuk menyamar menjadi calon pengganti Tara dan menyelidiki wanita itu. Tapi di tengah perjalanan misinya, dia malah jatuh hati pada kepribadian lugu Tara. Bukannya mencari kesalahan Tara, Sebastian malah beberapa kali menolongnya.

Tara yang awalnya membenci pria itu, mulai bimbang dengan perasaannya. Sebastian pun mulai kesulitan mempertahankan penyamarannya.

Tapi, itu sebelum Sebastian mendengar percakapan mencurigakan Tara di telepon. Yang membawa Sebastian pada dua pilihan sulit : misi atau hatinya.

*

Tiga hari.

Hanya butuh tiga hari bagi saya untuk menggarap buku Mbae Cisca sampai habis. Namun, tepat di hari ketiga, keyboard rusak dan saya terpaksa harus menunda membuat review ini selama empat hari lagi. Heuheu. (Sebenarnya masih rusak, ini huruf ‘L’-nya mendem, untung masih bisa diakalin, ehe) : (

B-but… these are worth to wait!!! Ooowww!!! ‘Kay, nuff said, here goes nothin’…

Berkisah tentang Tara Asten yang hidupnya semakin ruwet semenjak kedatangan teman masa kecilnya, Danielle Laroche—bukan berarti hidup Tara sebelumnya aman tentram, apalagi setiap harinya ia harus berurusan dengan Putri Viola serta Dewan kerajaan, hehe. Kemudian, karena satu dan lain hal, jadilah ia tersangka nomor satu bagi BIA dan menjadikannya target untuk dimata-matai oleh Bastian von Staudt (a.k.a Sebastian Marschall).

Sebastian menyamar menjadi seorang event organizer pribadi Putri Viola, yang juga berarti ia hadir untuk mengancam karir Tara yang susah-payah ia pertahankan selama ini. Namun kebencian Tara makin hari makin sirna, sebab siapa sih yang bisa tahan sama pesona seorang Superman?

Dinding yang dibangun Tara untuk menghalangi Sebastian memasuki kehidupan pribadinya—apalagi masa lalu Tara yang begitu kelam membuat ia semakin tidak mau berurusan dengan Sebastian—sedikit demi sedikit runtuh. Mungkin karena senyumnya, atau kelembutannya, atau sikapnya yang seperti lelaki sejati, atau kencan mereka di restoran paling indah di Trioli atau mungkin karena Sebastian mampu menunjukkan impian yang ia sendiri takut untuk memimpikannya.

“Selama ini aku mengira manusia hanya terbagi menjadi dua golongan: peremuk impian dan penyemangat impian. Namun sejak aku mengenal Sebastian, aku menemukan golongan manusia ketiga. Pemberi impian kepada orang-orang tanpa impian.”

—(Tara Asten, 298)

Untuk desain kover bukunya… Qren beudht!!! Saya suka dengan warna merah yang dijadikan warna dominan untuk desain kover Mission D’Amour ini. Untuk perkara warna, saya merasa cukup hebat karena dapat mengenal banyak warna. Namun, kover buku ini mampu membuat saya merasa alay. Saya tahu warna merah biasa, merah hati, merah marun, bahkan merah cabe-cabean. Namun, merah yang digunakan untuk kover ini adalah hal baru bagi saya. Merah pastel kah?

Makanya, kalian semua harus dapatkan novel ini lalu tulis komentar kalian di bawah tentang warna merah yang digunakan desainer kovernya Mbae Cisca, ehe. Ditunggu!

Mbae Cisca mampu meramu unsur-unsur yang ada dalam sebuah novel dengan begitu apik dan cantik. Tema yang diangkatnya unik dan berbeda. Saya sendiri baru kali ini membaca karya penulis Indonesia yang menceritakan tentang mata-mata atau agen intelijen lalu di-mix dengan kisah-kisah kerajaan.

Kerajaan Alerva di sini adalah tempat yang benar-benar fiktif, begitu juga Carnot dan Trioli. Tetapi berkat kemampuan Mbae Cisca, saya dapat membayangkan kerajaan kecil itu berada tepat di tengah-tengah benua Eropa. Terrific!

Berbicara tentang sudut pandang, menulis sebuah novel dengan dua sudut pandang memang tak mudah, apalagi isi kepala keduanya benar-benar kompleks. Mungkin hal ini yang membuat Mbae Cisca sedikit keliru di dalam novelnya. Di halaman 300, tepat di bawah angka yang menunjukkan bab ke-27, tertulis Bastian, di mana paragraf demi paragraf selanjutnya sangat jelas menunjukkan bahwa sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang Tara.

Untuk cetakan selanjutnya, saya harap kesalahan kecil namun sangat mengganggu ini dapat diperbaiki.

Dua sudut pandang ini juga memiliki kelebihan, karenanya kita bisa tahu karakter masing-masing tokoh dari cara berpikirnya. Seperti Tara Asten yang baik hati, cerdas, lugu, penakut, selalu minder serta Bastian yang pintar, tegas, lembut juga pemberani.

Karakter setiap tokoh di novel ini digarap dengan cukup baik. Contohnya Tara yang dengan segala kebaikan yang ada pada dirinya, ternyata mempunyai masa lalu yang begitu kelam hingga membuatnya menjadi sosok yang minder serta susah membuka hatinya untuk lelaki yang mencintainya.

Danielle juga, walaupun memiliki latar belakang yang sama dengan Tara, ia tumbuh menjadi wanita urakan yang sangat berbeda dengan teman masa kecilnya itu. Semua dijabarkan dengan baik dan tidak terkesan terlalu mengada-ada ataupun ujug-ujug.

Hanya satu yang saya sayangkan, yaitu karakter Bastian. Menurut saya Mbae Cisca kurang memperkuat karakter bastian sebagaimana ia menciptakan karakter lainnya. Masa lalunya kurang nganu, hingga kebencian yang ia rasakan kepada keluarga kerajaan kurang cukup untuk dijadikan pergolakan batin baginya ketika bekerja di bawah sistem kerajaan. Namun untuk karakter lainnya disajikan dengan cukup yummy! Salute!

Ah, ya… Koreksi lagi untuk halaman 121, yang seharusnya ‘pantri’ menjadi ‘panti’, juga penggunaan kata ‘hipnosis’ yang harusnya ‘hipnotis’.

“Kelam matanya adalah sepasang black hole yang menghipnosis.”

(Tara Asten, 298)

Hipnosis : Keadaan seperti tidur karena sugesti.

Hipnotis : membuat atau menyebabkan seseorang berada dalam keadaan hipnosis

Saya sangat menikmati halaman demi halaman ketika membaca novel ini. Saya jatuh cinta dengan ceritanya, tokohnya, tempat-tempatnya, twist-nya, ahh… semuanya. Apalagi banyak sempilan-sempilan seperti ideologi komunisme yang disinggung, juga sedikit action, jenis-jenis makanan yang bikin baper. #typo #typosengaja #baperitukekinian #cintailahayahbunda

Over all, qreeenn!

This novel worth these stars

Bintang 4

Yay!!!

Review : Longing For Home

0

Longing For Home

LONGING FOR HOME

Penulis : Irfan Rizky, dkk

Editor : Tiara Purnamasari

Layout : Tiara Purnama Sari

Desain Sampul : Roeman-Art

ISBN : 978-602-73734-0-2

Penerbit : Mazaya Publishing House (2016)

*

Blurb

Aku akan selalu menemukanmu. Selalu. Bahkan pada debu yang berterbangan di bawah terik raja siang pukul satu. Pada kuap mulut-mulut mungil yang akan beranjak tidur. Pada gaduh acara gosip di televisi yang tak pernah kausuka.

Dan ketika aku menemukanmu, maka aku akan menemukan rumah sejati. Yang dibangun dari mimpi. Dikokohkan dengan cinta dalam hati. Cinta yang sejati. Cinta yang takkan pernah mati walau kau telah lama pergi.

(Penggalan cerpen “Rumah Yang Berbeda” karya Irfan Rizky)

Kontributor

Adinda Amara – Afifah Dinda Mutia – Aisya – Devita Cahyaning Islami – Diah Avitaa – Fadlun Suweleh – Fairuz Annisa Pardania – Jihan Maymunah – Luhdiah Prihatin Umroh – Mahdalena – Mutiara Magdalena – Nur Rahmah AR – Pramodyah Ayu Laraswati – Radita Nilna Salsabila – Selta Utary – September V – Siti Syamsiyah – Terdevan –Wahyuning Utami Riyadi – Wardatul Aini – Yesi Matahari

*

Review

Buku kumpulan cerpen ini menyajikan sebanyak 22 cerita yang lahir dari tangan para penulis yang mempunyai latar belakang berbeda. Cerpen-cerpen ketje ini dipertemukan pada suatu kompetisi bertemakan ‘Home’ yang diadakan oleh salah satu penerbit indie.

Di tengah banyak pandangan meremehkan yang ditujukan pada ‘dedek-dedek gemes dunia kepenulisan’ (baca: penulis pemula, mengutip dari sebuah artikel oleh Adam Yudhistira di basabasi.co), maka saya harap buku ini mampu meluruskan pola pikir ‘om-om gemes dunia kepenulisan’ (baca: penulis sok ahli) yang berpikir menempuh jalur melalui penerbitan indie itu adalah ‘abal-abal’ atau sebuah ‘kedodolan’.

Dan saya teramat sangat tersanjung atas keputusan juri yang dengan berbaik hati membuat cerpen saya menyandang titel Juara 1. Yay! Kamsahamnida, arigatou, bonjour, xie-xie, terima kasih, wilujeng sumping.

Yap! Lanjut review-nya! Dari 22 cerpen yang ada, saya akan me-review sebanyak delapan cerpen yang menurut saya unik, manis, dan menarik hati. Cuma ada satu hal yang kurang dan ternyata sangat mengganggu yaitu, TYPO! Benar para hadirin, typo. Musuh para penulis yang begitu kuat dan tak mungkin bisa dikalahkan jika para penulis malas mengedit. Begitu banyak typo bertebaran hingga typophobia saya kumat. Untuk cetakan berikutnya akan lebih indah lagi jika editor mampu mengubah typo-typo tersebut. Dan satu lagi, kertas serta sampul saya rasa terlalu tipis, mungkin bisa menggunakan kertas yang lebih bagus lagi untuk cetakan berikutnya.

*

Rumah Untuk Pulang – Adinda Amara

Bukankah keluarga seharusnya menjadi surga kecil di dunia ini, di mana kehangatan selalu mengalir dan perlindungan akan selalu ada dan menjagamu?

Cerpen pertama ini sukses membuat saya hanyut dalam nuansa sendu yang penulis ciptakan. Penggunaan diksi yang sederhana namun mengikat membuat saya tak perlu susah-susah menempatkan diri saya sebagai Rizaldi yang mempunyai luka begitu dalam. Serius. Sama sekali nggak bermaksud untuk lebay. Lalu ketika Rizaldi memohon izin, hampir saja air mata saya menetes.

Kembali Ke Habitat – Fadlun Suweleh

Sejatinya rumah bukan hanya tempat yang nyaman dan menenangkan untuk kita. Rumah adalah tempat yang tepat untuk kita, tempat yang kita butuhkan, bukan sekadar tempat yang kita inginkan.

Setelah diajak bersedih-sedih ria, mari saya ajak kalian membaca cerpen yang sarat akan satire juga menggelitik. Sindiran-sindiran terhadap tikus-tikus pemerintah yang tersaji dengan cukup apik sanggup menyunggingkan senyum prihatin yang ditujukan spesial kepada negara kita tercinta

Ada satu yang mengganggu saya. Di hal. 49  ada kalimat “(Di ruang periksa)”. Mungkin penulis ingin memperjelas setting percakapan yang berlatar belakang ruang periksa di adegan berikutnya, yang menurut saya sangat tidak perlu. Kalau untuk naskah drama, mungkin bisa.

Tempat Untuk Kembali – Jihan Maymunah

Ibu bagaikan rumah tempat kita tinggal, juga bagaikan rumah yang selalu melindungi kita dari segala macam cuaca.

Cerpen kali ini terasa dekat sekali dengan kehidupan masyarakat sekarang, dengan saya, dan mungkin juga dengan kalian. Di cerpen ini penulis mampu dengan apik menceritakan kesederhanaan tersebut dengan begitu mengesankan. Ada suatu pesan yang amat sederhana namun menampar yang bisa kita ambil dari cerpen ini. Salute.

Hujan Di Tepi Senja – Mutiara Magdalena

Di sini juga damai seperti rumah saya.

Akhirnya, nemu juga cerpen yang bertemakan cinta-cintaan favorit saya. Ehe… ehe… Gak usah di-review deh, bagus banget! Penulis mampu mengisahkan cerita romantis yang endingnya ternyata ehem-ehem. Diksi yang digunakan keren juga indah. Menghanyutkan.

Pulang – September V

Rumah adalah tempat untuk kembali, bukan untuk ditinggalkan.

Cerpen yang satu ini juga terasa begitu dekat dengan realita. Tentang Annisa yang galau sehabis PHK juga tentang kasih sayang Ibu yang tak berupa, tak berujung, tak tertakar. Mengharukan.

Pasir Dan Mentari – Siti Syamsiyah

Tidak perlu gunung emas atau istana berlian, cukup pasir dan mentari kau bisa mencintai dan mempertahankan tanah airmu demi masa depannya yang gemilang.

Satu lagi cerpen yang bernuansa satire, namun kali ini tak dibalut dengan humor-humor jenaka. Penulis mampu mengangkat dan menyindir isu-isu eksploitasi alam yang kini tengah marak di negeri kita tercinta. Pesan yang terkandung di dalam cerpen ini begitu benar dan menampar. Duh, saya juga jadi ikutan malu.

My Front Door – Terdevan

If you ever feel like this whole world put you down to your own knees, just come back home…

Satu lagi cerpen romantis yang menjadi favorit saya. Penulis dengan gaya penulisan yang memikat, agak-agak nyastra gitu, mampu melukiskan betapa LDR (Lama Diboongin Relationship, ehe… boong deng) begitu menyesakkan bagi dua insan yang saling mencinta. Diksinya keren, penggambarannya apik, plotnya rapih. Manis.

Surga Menghadirkan Rindu – Wardatul Aini

Surga dunia adalah rumah. Sejauh apapun kaki melangkah dan sehebat apapun dirimu, pada akhirnya rindu akan membawamu untuk kembali.

Cerpen ini adalah cerpen terakhir yang akan saya review. Dan betapa puasnya saya, cerpen yang terakhir ini adalah juga cerpen sederhana yang memikat. Cerpen yang bernuansa religius ini bercerita tentang impian untuk memiliki rumah yang layak. Sederhana, namun berisi. Ada hal-hal yang bisa dipetik dari cerpen ini seperti ketabahan, sikap selalu merasa cukup dan lain-lain.

Cukup sekian dari saya, kurang lebihnya mohon maaf, wa billahi taufik wal hidayah. Untuk keseluruhan, saya akan memberikan buku ini tiga dari lima bintang.

Bintang 3

Saya merasa bangga terhadap diri saya dan teman-teman sesama penulis yang terhimpun dalam buku ini. Teruslah berkarya, dan jangan pernah merasa cukup. Dan saya akan setia menunggu endorse-an buku dari kalian. Ehe.