Review : Terlalu Cinta

4

Terlalu Cinta

Terlalu Cinta

Penulis: Pelantan Lubuk

Editor: Tiara Purnamasari

Layout: Tiara Purnamasari

Desain Sampul: Roeman-Art

Penerbit: Mazaya Publishing House

ISBN: 978-602-72920-6-2

Cetakan: I (Desember 2015)

Harga:  Rp. 77.000,-

*

ᴥBlurb ᴥ

Berdentang sebuah puisi di benakku. Malang adalah kota di mana kita berjumpa, saling mencintai, dan tak berdaya meminta waktu agar sudi kembali.

Lirih puisi lain melambai. Malang adalah kota di mana kita berjumpa, saling mencintai, tak berdaya mengulang hari, tapi kita bisa berjani: janji berjumpa lagi.

Besok malam, waktu untuk menunaikan janji itu tiba. Tidak ada janjian apa pun, selain empat tahun yang lalu ketika jalan cerita lelaki itu menemui titik buntunya, dan mereka berdua putus asa dengan segalanya. Tidak ada janjian apa pun, selain empat tahun yang lalu, untuk bertemu di tempat pertama kali mereka menyudahi semuanya.

Jika mereka sama-sama bisa datang, berarti kisah telah memilih tetap pada lembaran yang sama. Tak perlu ada keraguan lagi. Tak perlu ada penegasan lagi.

Jika di antara mereka ada yang tak datang, berarti kisah telah memilih lembaran yang berbeda. Tak perlu ada kabar lagi. Tak perlu ada penegasan lagi.

Dan hari ini, aku memilih datang.

Aku memilih tetap pada lembaran yang sama.

*

“You must not lose faith in humanity. Humanity is like an ocean; if a few drops of the ocean are dirty, the ocean does not become dirty.”

-Mahatma Gandhi

Ikhlas menurut KBBI: ikhlas a bersih hati; tulus hati.

Ikhlas menurut sebagian netizen dewasa ini: tidak eksis, sekalipun eksis selalu ada kepentingan kaum-kaum tertentu di baliknya.

Peduli menurut KBBI: peduli v mengindahkan; memperhatikan; menghiraukan.

Peduli menurut sebagian netizen dewasa ini: perbuatan yang memiliki propaganda dalam setiap eksekusinya, selalu ada orang lain yang lebih pantas dihiraukan menurut komparasinya pribadi.

Begitulah, miris bukan?

Mungkin itu semua hanya sekadar terjemahan bebas yang sedikit berlebihan dari saya. Atau mungkin juga realita yang ada memang seperti itu, bahkan mungkin lebih parah lagi. Siapa yang tahu?

Baru saja beberapa hari menjalankan ibadah puasa, publik sudah dibuat gempar karena berita tentang seorang ibu pengelola Warteg (Warung Tegal) yang barang dagangannya habis diganyang Satpol PP. Hal ini dilakukan oleh pemerintah demi pengondusifan suasana Kota Serang selama bulan Ramadan.

Dan tenang saja, saya tidak akan mengeluarkan justifikasi apa pun tentang perkara ini. Karena, benar dan salahnya suatu perkara hanya terletak pada persepsi masing-masing bukan?

Telah banyak debat kusir dan opini-opini yang dikemukakan di berbagai portal berita, forum diskusi serta status-status di sosial media. Pun fakta-fakta dari tragedi penyitaan barang dagangan yang membuat netizen geram (dan sebagian lagi mengamini), muncul semakin banyak dan semakin tidak beretika.

Maksud saya, di mana letak pentingnya fakta bahwa pengusaha Warteg yang sukses mampu memiliki rumah di salah satu daerah yang terkenal eksklusif dalam perkara ini? ‘Pondok Indah’-nya Tegal, sebagian mengungkapkan.

Seorang wanita tua menangis demi mempertahankan dagangannya ketika dirazia. Menyedihkan? Tentu. Memancing belas kasihan? Pasti. Terlepas dari benar atau tidaknya sikap ibu tersebut terhadap peraturan yang ada, saya yakin banyak dari orang-orang di negara ini yang terketuk pintu hatinya, apalagi di bulan nan suci ini. Saya pribadi merasa teramat sedih ketika membayangkan jikalau ibunda sayalah yang berada di Serang sana, karena kebetulan ibunda saya juga seorang pedagang.

 Dan dari sebegitu banyak pintu hati yang terketuk, hanya beberapa yang mau dan peduli untuk ikhlas membantu. Salah satunya Dwika Putra (twitter: @dwikaputra).

“Karena jalan sunyi yang mulia ini, memang tak pernah ramai.”

-Izzat (hlmn 215)

Dengan rasa humanis yang tinggi, terlepas dari ada atau tidaknya tendensi lain, beliau dengan ‘Patungan Netizen’-nya mengadakan penggalangan dana yang bertujuan untuk membantu ibu pemilik Warteg tersebut. Donasi ini, ungkapnya, bukan tentang politik, agama, atau apa pun. Hanyalah semata-mata rasa kemanusiaan yang tergerak ketika melihat sesama kita yang sedang kesusahan.

“Kalian harus pastikan bahwa kalian sedang berbagi karena kalian mencintai mereka. Setulus hati. Mencintai manusia lain.”

-Eyang Tulip (hlmn 167)

Dan responnya ternyata amat sangat tak terduga. Donasi sejumlah lebih dari 265 juta rupiah telah terkumpul, membuat saya percaya kalau rasa peduli dan ikhlas belum benar-benar ranap di bumi nusantara ini. Membuat saya yakin tiap-tiap yang berhati masih menggunakannya, tiap-tiap yang berakal masih menggunakannya.

Namun sayangnya, hujatan dan ketidakpuasan yang terkumpul jua tak kalah banyaknya. Sebagian berseru bahwa banyak yang lebih membutuhkan donasi serupa seperti korban erupsi gunung Sinabung di Sumatera Utara. Padahal saya yakin, kesusahan itu tidak pantas untuk dibanding-bandingkan. Yang membedakan hanya urgensinya saja.

Sebagian lain menggunakan fakta yang menyatakan bahwa Ibu Saeni sudah cukup kaya hingga tidak lagi membutuhkan sumbangan. Padahal, semengerti saya, tak ada larangan untuk bersedekah kepada siapa saja, ataupun membantu siapa saja. Tahu kisah seorang dermawan yang menyedekahi orang kaya, pelacur dan pencuri?

“Maafkan dirimu sendiri. Pandanglah masa lalu sebagai masa lalu. Jangan sesali hal-hal buruk yang pernah terjadi dalam hidupmu. Setiap gerak di alam semesta ini punya rahasia sendiri-sendiri. Sebab akibat itu saling terkait. Mengagumkan jika kita mau memikirkan masak-masak, bahwa takdir seseorang sebagai pembunuh di kota ini ternyata bisa membuat taubat seorang pelacur di kota seberang lautan. Saling berantai, saling terkait. Maka jangan pernah sesali hidupmu.”

-Eyang Tulip (hlmn 99)

Rasa bangga saya atas masih banyaknya orang-orang yang tak lupa untuk memanusiakan manusia, mendadak remuk sebab membeludaknya respon skeptis dan nyinyir yang keluar dari mulut-mulut yang entah mengerti atau tidak konsep kepedulian.

Negara ini sedang sakit menurut saya. Dan negara ini amat, sangat membutuhkan lebih banyak lagi seseorang yang ringan tangan seperti saudara Dwika Putra. Dan saya harap, bukan hanya saya saja yang mendamba suatu tatanan kehidupan penuh cinta. Utopia untuk kita semua.

“Semua ingin hidup senang. Semua harus bercita-cita hidup senang. Menjalani hidup dengan riang. Tapi ketika keadaan sudah susah, jangan egois. Kita harus punya semangat kebersamaan yang besar.”

-Izzat (hlmn 125)

Sedikit berbeda dengan sosok Dwika Putra yang memilih membantu menyembuhkan negeri ini dengan cara membangun kembali karakter bangsa yang gemar tolong-menolong, Izzat dalam novel Terlalu Cinta yang akan saya ulas memilih jalan mendirikan sebuah komunitas mengajar yang bertujuan mengubah mentalitas-mentalitas tidak sehat pada anak-anak yang kurang beruntung agar mereka tak lagi terbelenggu oleh sistem.

“Kami belajar arti kepedulian dan pengabdian, dan biarkan anak-anak yang kurang beruntung itu belajar bahwa keadaan mereka bukanlah sebuah takdir yang tidak bisa diutak-atik, melainkan sebuah kondisi yang lahir dari mentalitas-mentalitas yang tidak sehat, sistem yang membelenggu, dan budaya yang tidak baik.”

-Izzat (hlmn 17)

Berkisah tentang Izzat Sanubari, mahasiswa asal Lombok yang menempuh perkuliahan di Kota Bunga yang dingin, Malang. Kehidupan perkuliahan Izzat amatlah jauh dari titel ‘mahasiswa kupu-kupu’. Bukan ‘kupu-kupu malam’ jika itu yang kalian tangkap, namun ‘kuliah pulang-kuliah pulang’.

“…lihatlah teman-teman kita yang tidak berorganisasi. Mereka cuma kuliah, lalu pulang. Tak ada pengalaman berharga, dan sekilas tak peduli pada idealisme mahasiswa yang harus aktif berbuat sesuatu untuk bangsa. Apakah kita sudah merangkul mereka?”

-Izzat (hlmn 34)

Izzat yang aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan, ditempa hingga menjadi pribadi yang kritis dan idealis, seseorang yang peduli juga kharismatik. Namun, hal itu tak serta-merta membuat sosok Izzat pantas dimahkotai gelar ‘sempurna’.

Hubungannya yang kandas di tengah jalan karena perkara jarak dengan Jannitha, kekasihnya sejak kelas 3 SMP, mampu menghasilkan impak yang sebegitu besar bagi seorang Izzat. Rasa takut yang dialami mantan kekasihnya itu menjelma sifat posesif dan ketidakyakinan, yang berujung menduanya salah satu hati. Pengkhianatan.

Sekali lagi saya tekankan kalau hal ini telah menjadi suatu impak yang amat, sangat besar. Pengkhianatan dari perempuan yang telah dikasihi lebih dari lima tahun mampu membuat Izzat yang bijaksana menjadi seorang penjahat wanita.

Ketika Izzat semakin tenggelam dalam rasa kecewa, Bandi menyelamatkannya. Peran Bandi di novel ini tak sekadar menjadi sahabat dekat Izzat, namun juga seseorang yang melengkapinya. Bukan… bukan… Lagi-lagi kalian salah. Tak pernah ada romantisme dalam hubungan Izzat-Bandi. Pun novel ini sama sekali tak menyinggung tentang homoseksual yang dewasa ini tengah viral isu-isunya.

“Izzat telah membaca banyak sekali buku dan piawai dalam perenungan. Bandi menyajikan pengalaman-pengalaman empiris dan tahu perkembangan situasi serta tempat-tempat yang unik. Izzat membutuhkan pengalaman beragam, Bandi mencari perenungan-perenungan. Mereka klop.”

(hlmn 156)

Seperti halnya sahabat sejati, Bandi tak pernah mau menggurui pun menceramahi. Ia hanya membawa Izzat ke sebuah panti asuhan dan memintanya untuk melampiaskan kekecewaannya dengan cara yang lebih arif, yang lebih tak menyakiti tiap-tiap yang berhati.

“Kamu seperti sandal hilang sebelah. Kamu kritis di berbagai diskusi, tapi mental kamu tak jauh berbeda dengan yang kamu kritik. Bukankah kamu bilang, seseorang yang tidak bisa konsisten untuk hal-hal kecil tak kan pernah bisa konsisten pada hal-hal yang besar?”

– Bandi (hlmn 40)

Dan dari sinilah segalanya bermula.

Izzat yang telah mendapatkan nuraninya kembali, memilih untuk terjun (lagi) ke dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan dan kepedulian yang sempat ia lupakan. Telah sejati bebas dirinya dari kungkungan kesumat atas terbitnya luka. Dan untuk kali ini, ia membawa hatinya.

Bersama Zaki dan Rustam, kawan berdiskusinya yang cenderung kiri, Izzat menggagaskan sebuah komunitas mengajar dengan konsep yang serba berbeda. Proyek akbar ini sebegitu menyita fokusnya, hingga mau tak mau Izzat sedikit lupa tentang rasa yang berdenyar-denyar sebab sesosok ‘wajah itu’.

‘Bahaya’ yang dirasa Izzat sebab ‘wajah itu’ menggiringnya kepada keputusan demi keputusan. Terus dan terus begitu. Hingga akhirnya, pada suatu titik, rasa keputusasaan menjejakkannya pada sebuah keadaan yang mengharuskan ia memutuskan segalanya; tentang rasa yang berdenyar-denyar sebab ‘wajah itu’.

“Kalau memang benar cinta. Walau berpisah. Pasti bertemu lagi.”

-Izzat (hlmn 312)

Tak pernah saya sebegini ingin membaca sebuah novel yang terbit melalui jalur indie. Semua karena testimonium yang keluar dari bibir (atau jari) Tiara Purnamasari, pemilik penerbitan indie Mazaya Publisihing House. Beliau banyak melukiskan bahwa novel Terlalu Cinta ini bagus sebagus-bagusnya, maka tak ayal saya pun penasaran; standar ‘bagus’ bagi sebuah penerbit indie itu seperti apa?

Dan ketika novel ini mendarat di gubuk saya yang tak seberapa, saya berusaha untuk tidak mematok pengharapan apa pun. Karena, siapa sih yang sedia tahan akan rasa kecewa? Namun, pada akhirnya, semua upaya saya untuk menahan segala dugaan dan pengharapan, hanya menjadi suatu kesia-siaan.

Sebab, novel ini aduhai kerennya.

Pada dasarnya, saya lebih memilih suatu konsep cerita yang sederhana namun eksekusinya bagus dan sempurna dibanding konsep yang sebegitu bagus dan menjanjikan namun eksekusinya amboi berantakan.

Dan Pelantan Lubuk, nama pena pengarang novel ini, memilih untuk sempurna dalam kesederhanaan.

Novel ini memperkenalkan saya dengan Izzat, lelaki yang menurut saya too good to be true. Saya diajak menyelami pemikiran-pemikiran Izzat yang kritis dan idealis, mengupas dari mana saja ia mendapatkan rasa peduli dan kasih sayang yang begitu besar, serta mengembara dalam seluk-beluk hatinya yang sedemikian kompleks ketika berhadapan dengan mukjizat tiap-tiap yang bernyawa; cinta.

Dan rasanya amat, sangat menyenangkan.

“Kalian tahu problem utama orang yang jatuh cinta? Mereka mendadak bego. Problem kedua orang yang jatuh cinta adalah, mereka mendadak rempong.”

(hlmn 56)

Diksi yang estestis serta nyastra membuat saya merasa kalau novel ini adalah novel yang ‘saya banget’. Kata demi kata dirangkai sebegitu rupa oleh penulis hingga terasa tebu dan nikmat dibaca. Pun alur campuran yang lebih banyak berisi kilas balik tentang jalan cerita Izzat dikemas seapik mungkin, serunut mungkin.

Tema yang diambil memang bukanlah hal yang baru; cinta. Namun, entah mengapa, mengurai satu hal yang sakral ini bagaikan mengupas kulit bawang. Seiring berjalannya waktu, lapisan demi lapisan itu mulai terbuka. Dan kau akan mengerti bahwa ada lebih banyak lapisan di dalamnya daripada yang kau kira.

Novel ini menyajikan cerita tentang cinta yang amat kurang ajar. Cinta yang hanya datang ketika tak ada yang menyambutnya. Cinta yang lalu pergi ketika sesiapa menginginkannya. Cinta yang ketika dikejar sekuat apa pun akan menjauh persis bayang-bayang.

Cinta yang traumatis.

Dan di tengah carut-marut kompleksitas tentang cinta, saya masih disuguhi kisah-kisah lain tentang persahabatan, persaingan, kepedulian, perjuangan, kasih sayang, kesungguhan hati, cita-cita, keikhlasan dan juga kepedihan.

Satu-satunya kekurangan yang ada dalam novel ini adalah penggunaan sudut pandang yang tidak konsisten dan banyaknya typo. Beberapa kali sudut pandang ketiga yang digunakan penulis tercampur dengan penggunaan kata ‘aku’ yang sejatinya digunakan untuk sudut pandang orang pertama. Pun typo serta penggunaan kata-kata yang tidak sesuai EYD (sekarang EBI) contohnya apapun yang seharusnya apa pun, handal yang seharusnya andal dan masih banyak lagi.

Namun tenang saja, pemilik Mazaya Publishing House yang juga selaku editor novel Terlalu Cinta ini telah menjanjikan adanya perbaikan di cetakan-cetakan mendatang. Hal yang sungguh menggembirakan.

Dan terakhir, jika penulis novel ini memilih gelar ’ciamik’ teruntuk mereka yang patut diberikan seratus jempol seperti Zaki dan Rustam, maka saya akan memilih gelar kebanggaan ala saya sendiri untuk penulis yang pantas diberikan seribu jempol atas keajaiban yang disuguhkan dalam novel ini; ‘aduhai’.

Dan novel yang ‘aduhai’ kerennya ini amatlah pantas mendapatkan…

Bintang 4

This book, somewhat somehow, amazingly fantastic.

Teruntuk Pelantan Lubuk, saya tunggu karya-karyamu selanjutnya, ya!

***

P.S.

Dikarenakan novel ini terbit secara indie, maka bagi kalian yang ingin memilikinya sila kunjungi laman Mazaya Publishing House di sini.

Advertisements

Review : Pacar Dunia Maya

0

Pacar Dunia Maya

Pacar Dunia Maya

Penulis: Yusi Kurniati

Editor: Tiara Purnamasari

Layout: Tiara Purnamasari

Desain Sampul: Roeman-Art

Penerbit: Mazaya Publishing House

ISBN: 978-602-73734-2-6

Cetakan: I (Januari 2016)

*

šBLURB›

Melda mengenal Adit lewat media sosial facebook. Sejak pertama mengenal Adit lewat media sosial tersebut, Melda langsung jatuh hati. Adit selalu berhasil membuat Melda percaya dengan kata-katanya, meski dalam lubuk hati Melda masih ragu tentang sosok Adit yang sebenarnya. Tapi ia sudah terlanjur jatuh cinta pada Adit. Apalagi ia mengenal Adit saat ia sedang terpuruk karena putus cinta dengan Rio, mantan kekasihnya yang posesif dan over protektif. Mereka pun memutuskan untuk pacaran meskipun sama sekali belum pernah bertemu secara langsung dan hanya berkomunikasi lewat media sosial dan handphone saja.

Sejak mengenal Adit, Melda makin sering aktif di media sosial. Dia dan Adit hampir setiap hari chatting sampai larut malam, sehingga tak jarang Melda terlambat datang ke kampus.

Kisah cinta Melda melalui berbagai prahara. Beberapa sosok lelaki sebelum Adit pun sempat hadir dalam hidupnya seperti Rio dan Yoga. Hubungan Melda dan Adit yang terjalin lewat media sosial mengalami pasang surut. Mulai dari kebohongan Adit yang mengirimkan foto pada Melda yang ternyata bukan dirinya. Sikap Adit serupa security yang selalu curiga dan mewajibkan Melda untuk laporan 24 jam. Yang akhirnya sering membuat mereka bertengkar.

Tapi kemudian, Adit berhasil membujuk Melda untuk kembali. Gea juga sering dimintai Adit untuk membujuk Melda ketika Melda ngambek. Sampai pada suatu saat, kebohongan terbesar Adit terungkap, yang membuat Melda benar-benar menyesal sudah begitu percaya pada Adit.

Apakah kebohongan terbesar yang Adit lakukan? Akankah hubungan Melda dan Adit berjalan lancar? Siapa sajakah yang terlibat dalam kebohongan besar Adit? Lalu, bagaimanakah kisah cinta Gea, sahabat sekaligus sepupu Melda?

*

“We don’t have a choice on whether we DO social media, the question is: how well we DO it.”

-Erik Qualman

 “NR memutuskan untuk menemui kenalan facebook-nya dan ia diajak ke Lapangan Turna, Cijantung. Menjelang malam hari, remaja perempuan berusia 15 tahun yang masih bersekolah kelas I SMK ini diperkosa oleh kenalannya tersebut bersama sekelompok remaja laki-laki lainnya di sebuah kebun kosong di Cijantung, Jakarta Timur .”

Mengerikan, bukan? Tetapi tenang saja, paragraf di atas sama sekali tidak tercantum di dalam buku Pacar Dunia Maya yang kali ini akan saya review. Namun, paragraf tersebut nyatanya benar terjadi di kehidupan ini, di kehidupan yang saya dan kamu jalani.

Lalu saya dan kamu, entah harus tetap tenang atau tidak karenanya.

“Kejahatan yang terimplikasi media sosial dan media online memang terus meningkat., terutama yang mengakses ke facebook dan twitter. Ada sekitar 74% dari kejahatan tersebut yang menggunakan facebook dan 24% lainnya menggunakan twitter,” papar Dimitri Mahayana, pakar IT dari Sharing Vision.

Saat ini kejahatan terkait facebook dilaporkan ke polisi setiap 40 menit. Bahkan pada tahun 2013 ada sekitar 12.300 kasus yang diduga melibatkan facebook. Sehingga facebook pun telah dirujuk dalam penyelidikan pembunuhan, pemerkosaan, pelanggaran seksual anak, penyerangan, penculikan, ancaman pembunuhan dan penipuan.

Dampak perkembangan teknologi saat ini memang cukup besar, baik dari sisi positif dan sisi negatifnya. Bahkan dari hasil survei, 29% kejahatan seksual via internet diawali lewat situs jejaring sosial. Pun peluang adanya kejahatan akan semakin bertambah jika ditindaklanjuti dengan kopi darat. Sebab, pelaku bisa saja menggunakan anonim dengan identitas yang tidak jelas yang sudah sepatutnya kita curigai.

Statistik jua menunjukkan bahwa kasus anak hilang yang melibatkan facebook pada tahun 2011 ada 18 orang, dan pada tahun 2012 ada 27 orang. Angka ini tentunya akan terus meningkat jika tidak adanya tindakan-tindakan yang diambil oleh pihak-pihak terkait.

Platform media sosial karya Mark Zuckerberg ini memang banyak melahirkan angka-angka fantastis yang membuat kita miris ketika membacanya. Namun, entah kenapa, seorang Yusi Kurniati malah mengangkat sebuah tema tentang hubungan yang terjalin via platform tersebut dan menyajikannya dengan manis dan sederhana.

Dan melalui buku ini, mungkin pelajaran hidup yang sederhana namun penuh makna bisa sama-sama saya dan kamu petik.

“Jatuh cinta itu dapat terjadi pada sepersekian detik, ketika dua mata saling bertemu tatap.”

-Pacar Dunia Maya (hlmn 120)

Novel ini bercerita tentang Melda dan Adit yang awalnya tak saling mengenal, hingga akhirnya mereka menjalin hubungan lewat dunia maya. Mereka berkomunikasi hanya dengan chatting, SMS, serta telepon. Meski tak pernah satu kali pun bertemu secara langsung, Melda memutuskan untuk percaya saja kepada Adit dan menerima cintanya.

Hal yang menurut Gea sangat, sangat tidak bijak.

Mungkin Melda tak pernah mengenal istilah ‘bibit, bebet dan bobot’ ketika akan memilih pasangan karena ia tinggal jauh di Sintang, Kalimantan Barat, dan bukan di Jawa. Padahal, tiga hal tersebut sangat krusial dan merupakan hal paling utama dalam menentukan dengan siapa kita akan menghabiskan sisa umur kita

Atau mungkin hanya karena sekelumit rasa yang gagal diartikan sebagai cinta mati yang meledak-ledak, yang gaduhnya bingar, yang harus, yang tak mampu digugat oleh sesiapa yang menjadikan Melda seyakin itu dengan Adit.

Entah yang mana satu.

Berulang kali Gea mewanti-wanti, persis Ibu Kos menghadapi anak-anaknya yang telat bayar tiga bulan, namun berulang kali juga Melda menepis kenyataan yang disodorkan di depan hidupnya. Membuat saya sekali lagi sadar, cinta benar buta ternyata.

Dan nantinya, ketika bau busuk dusta mulai tercium, akankah Melda bertahan?

Novel ringan nan menyenangkan ini habis dalam dua malam. Tak perlu susah-susah mencerna, tipikal novel-novel teenlit yang pernah saya baca. Meki seperti itu, novel ini tetap sarat inspirasi dan nilai-nilai moral yang terlihat sepele namun berdampak besar jika diimplementasikan.

Salah satu contohnya bisa dilihat dari cara Gea yang memperlakukan pembantu rumah tangganya dengan sederajat, tanpa sedikit pun merasa lebih atau superior. Dan seandainya tiap-tiap yang berhati melakukan persis seperti apa yang dilakukan oleh Gea, maka utopia bukanlah cerita dongeng belaka.

Pun novel ini mengajari kita untuk selalu waspada terhadap apa-apa yang mendekat, yang ditawarkan, yang tidak kita ketahui betul asal-usulnya, persis nasihat orang-orang zaman dulu untuk ‘tidak membeli kucing dalam karung’.

Berpusat pada kisah cinta Melda, seorang mahasiswi Universitas Swasta Sintang, yang benar-benar bagaikan cerminan remaja masa kini. Hidupnya terisi penuh dengan gejolak-gejolak masa muda yang menggelora. Jika senang, senang sangat. Sedih pun begitu. Keteguhan dan konsistensinya terhadap sesuatu adalah daya tarik yang paling menonjol dari dirinya.

Berbeda jauh dengan Gea, sepupu Melda, yang bersifat dewasa serta mampu berpikir dengan kepala dingin. Ialah yang berusaha keras menjaga sepupu kesayangannya itu agar terhindar dari yang namanya rasa kecewa pun sakit hati. Gea juga yang banyak mencari-cari informasi tentang Adit hingga mengungkap tabir kebenaran yang selama ini membayangi kisah percintaan sepupu sekaligus sahabat sejatinya itu.

Dan yang terakhir, juga karakter yang paling mengesalkan, Adit. Tak perlu kiranya saya menuliskan banyak tentang dirinya. Adit ini tipikal-tipikal netizen yang terlalu sering share berita-berita berjudul sensasional yang isinya tak lebih dari omong kosong belaka. Well, ini hanyalah pikiran sekilas yang terlintas ketika mengenal sosok Adit lewat novel ini, heuheu.

Sebenarnya masih banyak karakter lain seperti Rio, Yoga, Tama, Arian, dan Irna yang ikut andil dalam membangun cerita. Namun karena porsi kemunculan yang tak terlalu banyak, membuat saya agak sulit untuk menentukan karakteristik tiap-tiap dari mereka.

Ketika memulai membaca novel ini, saya dijamu dengan sebuah flashback yang cukup apik tentang bagaimana Melda pertama kali berkenalan dengan Adit, hingga saat Melda menjemput Adit di Bandara Tebelian Sintang untuk kopi darat yang pertama kalinya. Alur maju-mundur serta sudut pandang orang ketiga yang sama apiknya membuat novel ini mudah dimengerti. Apalagi ditambah dengan penggunaan diksi yang luwes, yang anak muda banget, serta penceritaan yang mengalir membuat saya sama sekali tak merasa bosan ketika membaca novel Pacar Dunia Maya ini.

Namun, diksi serta kegramatikalan yang terlalu luwes menurut saya juga tak selalu baik. Saya teramat mengerti jikalau penulis ingin pembacanya merasa dekat dengan tokoh-tokoh yang ada di dalam novel ini. Namun, ketika memutuskan untuk menggunakan bahasa-bahasa prokem serta bahasa asing yang pastinya akrab di telinga para pembaca, penulis harusnya tahu dan mengerti kaidah penerapannya.

Saya selalu ingat, bahwa salah satu kesalahan penulis pemula adalah betapa malasnya mereka melakukan self-editing. Padahal, self-editing itu penting demi memudahkan editor dalam bekerja, pun demi memperoleh hasil paling maksimal dari suatu naskah. Karena, siapa yang lebih kenal suatu naskah daripada penulisnya sendiri?

Dan berikut ini adalah kekeliruan-kekeliruan yang saya temukan dalam buku ini:

  • perpectionist yang seharusnya perfectionist (terjadi beberapa kali)
  • under estimate yang harusnya underestimate (terjadi beberapa kali)
  • atau pun yang seharusnya ataupun (hlmn 6)
  • twitternya yang seharusnya twitter-nya (hlmn 6)
  • Penggunaan kata ‘Maag-nya’ di halaman 44. Awalnya saya kira kesalahan ada di penggunaan huruf kapital di awal kata yang seharusnya adalah huruf kecil. Namun, setelah saya telusuri lebih dalam, kata ‘maag’ tidak ada di KBBI. Yang ada hanyalah kata mag yang artinya (cak) lambung. Tentu ini tidak sinkron dengan arti ‘maag’ menurut wikipedia yaitu radang lambung atau tukak lambung. Jika ternyata ini adalah istilah asing (medis), maka menurut tata bahasa, penulisan yang benar adalah maag-nya (contoh lain twitter-nya dan facebook-nya)
  • “… Melda satu selera kok sama Gea,” sahut Gea…, di sini terjadi kesalahan penyebutan nama tokoh. Yang seharusnya ‘sahut Melda’, malah ‘sahut Gea’. Kalimat-kalimat sebelumnya dapat dijadikan bukti atas poin ini (hlmn 45)
  • paranoid yang seharusnya tidak ditulis miring (hlmn 57)
  • karna yang seharusnya karena (hlmn 57)
  • Let see yang seharusnya Let’s see (hlmn 59)
  • Tata letak yang sedikit berantakan di halaman 71 dan 82
  • bongsai yang seharusnya bonsai (hlmn 118)
  • signal yang seharusnya Atau mungkin dengan bahasa ibu saja, sinyal (hlmn 128)
  • Perpect yang seharusnya perfect (hlmn 129)
  • inbok yang seharusnya inbox (hlmn 134)
  • merekapun yang seharusnya mereka pun (hlmn 136)
  • ‘“… Aku nggak bisa tanpa dia.” Adit melemas.’ Mungkin terjadi kesalahan penulisan di sini. Yang seharusnya ‘memelas, malah ‘melemas’ (hlmn 138)
  • cleanning yang seharusnya cleaning (hlmn 144)
  • ‘ga’ pada kata-kata ‘ga suka, ga peduli dan ga beres’ yang seharusnya nggak atau tak atau tidak (hlmn 150)
  • Iapun yang seharusnya Ia pun (hlmn 162)
  • Tehrnya yang seharusnya tehnya (hlmn 172)
  • taxy yang seharusnya taxi (hlmn 184)
  • stobery yang seharusnya stroberi (hlmn 187)

Novel ini memang memiliki beberapa kesalahan yang bersifat teknis, namun dari segi plot, jalan cerita, eksekusi konflik, klimaks, serta ending yang tak diduga-duga, bisa dibilang novel ini layak dibaca dan sukses membuat saya jatuh suka.

Dan atas segala pengalaman personal yang saya dapatkan usai membaca novel ini, saya dengan senang hati memberikan…

Bintang 3

Ditunggu karya-karya Mbae Yusi selanjutnya ya!

*

Ref: (sharingvision.com/2014/05/setiap-40-menit-terjadi-12-300-laporan-kasus/)

Review : Love, Rosie

2

Love, Rosie

—Di Ujung Pelangi—

Love, Rosie

Penulis: Cecelia Ahern

Alih bahasa: Monica Dwi Chresnayani

Desain dan ilustrasi sampul: Iwan Mangopang

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-602-03-1493-8

Cetakan: IV (Maret 2015)

Jumlah halaman: 632 hlmn

*

šBLURB›

Mulai dari anak-anak sampai menjelma remaja pemberontak, Rosie dan Alex selalu bersama. Sayangnya di tengah-tengah serunya masa remaja, mereka harus berpisah. Alex dan keluarganya pindah Amerika.

Rosie benar-benar tersesat tanpa Alex. Namun, pada malam sebelum dia berangkat untuk bersama kembali dengan Alex, Rosie mendapat kabar yang akan mengubah hidupnya selamanya, dan menahannya di tanah kelahirannya, Irlandia.

Meski demikian, ikatan batin mereka terbukti sanggup melewati suka-duka kehidupan masing-masing. Tetapi, keduanya tidak siap menghadapi perubahan lain yang terjadi di antara mereka: Cinta.

*

“…aku tidak ingin menjadi salah satu di antara sekian banyak orang yang begitu gampang dilupakan, yang dulu pernah begitu penting, begitu istimewa, begitu berpengaruh, dan begitu dihargai, namun beberapa tahun kemudian hanya berupa seraut wajah samar dan ingatan kabur. Aku ingin kita bersahabat selamanya, Alex.”

Rosie (hlmn 35)

Love, Rosie bercerita tentang lika-liku hidup seorang wanita Irlandia bernama Rosie Dunne. Rosie dan dengan satu-satunya sahabat yang ia miliki, Alex Stewart, menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja mereka dengan hal-hal menyenangkan seperti menunggu Sinterklas hingga larut malam, saling surat-menyurat di kelas sampai ketahuan lalu dihukum, bermain walkie-talkie, hingga membolos sekolah dan pergi ke bar demi memesan segelas tequila walau mereka masih di bawah umur.

“Setiap kali aku bangun pagi aku merasa seperti ada sesuatu yang hilang. Aku tahu ada sesuatu yang tidak beres, dan baru beberapa menit kemudian aku sadar… baru kemudian aku ingat. Sahabatku sudah pergi. Temanku satu-satunya.”

-Rosie (hlmn 45)

Semua kegembiraan itu seperti akan berlangsung selama-lamanya, masa muda yang bagaikan sebuah jalan keemasan penuh hari-hari bahagia. Karenanya, Rosie mempunyai impian untuk mengelola sebuah hotel, dengan Alex yang bekerja sebagai dokter hotelnya. Mimpi itu sejalan dengan impiannya yang lain, yaitu dapat berada di sisi Alex selamanya, tak kenal sudah.

Sayangnya, suatu hari Alex memutuskan untuk pergi.

“Bohong besar kalau ada yang bilang hidup ini mudah.”

-Rosie (hlmn 77)

Mr. Stewart memboyong seluruh keluarganya ke Boston, Amerika Serikat, termasuk Alex yang sama sekali tak ingin berpisah dengan Rosie. Rosie yang ditinggalkan sendirian di Dublin, Irlandia, merasa rindu dan sangat kesepian. Dirinya tak lagi memiliki keinginan apa-apa selain untuk kembali bersama Alex. Oleh sebab itu, Rosie memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Boston, agar dapat selalu berada dekat dengan Alex.

Namun, sebulan sebelum Rosie berangkat ke Boston untuk kembali bersama Alex, muncul seorang lelaki yang tiba-tiba saja mengubah seluruh hidup Rosie.

 “Kembali bersamamu rasanya sungguh tepat.”

-Alex (hlmn 69)

Tahukah kamu? Menurut data WHO dalam rentang waktu 2010-2014 tercatat lebih dari 32 ribu perempuan di Indonesia mengalami kehamilan yang tidak diinginkan (KTD). Jumlah tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang berprestasi di tingkat ASEAN. Berprestasi dalam hal itu, maksud saya.

Hal ini, kehamilan yang tidak diinginkan, juga harus dialami oleh seorang Rosie Dunne dalam novel karangan Cecelia Ahern: Love, Rosie (judul aslinya, Where Rainbows End, terbit di Irlandia pada tahun 2004). Kehamilan di usia yang sangat dini ini memaksa Rosie untuk membuat keputusan di antara dua pilihan yang sama-sama pelik, jua yang sama-sama memiliki risiko: mempertahankan janinnya, atau mengaborsinya.

Sebenarnya, keputusan apapun yang Rosie ambil maupun orang-orang yang mengalami nasib serupa adalah keputusan yang paling baik bagi mereka. Yang pastinya sudah dipikirkan secara matang-matang hingga berjuta kali oleh mereka. Kita tentunya sama sekali tak memiliki porsi untuk menghakimi, apalagi main hakim sendiri. Porsi kita adalah untuk menjaga mereka, mengawasi, dan juga untuk selalu mendukung apapun keputusan yang mereka ambil.

Dan keputusan yang diambil oleh sang tokoh utama kita, juga sebab-musabab yang menjadi akar permasalahan bagi segala konflik yang ada di dalam novel ini, adalah mempertahankan janinnya. Keputusan yang sangat, sangat baik menurut saya.

Dan saya tak pernah bermaksud untuk mengatakan bahwa aborsi itu tidak baik, pun sebaliknya. Hanya saja kita tak pernah tahu apakah yang kita ucapkan itu baik atau tidak untuk orang lain, bukan?

Untuk memperjelas maksud saya, boleh dilihat perumpamaan di bawah ini…

Abortion

Novel Love, Rosie ini mungkin bisa menjadi sebuah panduan hidup tersendiri bagi mereka yang tengah atau terlanjur mengalaminya. Sebab, di dalamnya berisi banyak sekali pandangan hidup sang tokoh utama terhadap keadaan yang harus dihadapinya dan juga nasihat-nasihat yang tak terkesan menggurui. Pun untuk sekedar melepas penat, novel ini adalah salah satu yang terbaik yang bisa saya rekomendasikan.

Sebelumnya, perkenankan saya menyampaikan rasa salut yang teramat sangat atas alih bahasa yang tak hanya tak bercela, namun juga mengalir dan amboi kerennya kepada Monica Dwi Chresnayani. Love, Rosie ini adalah novel hasil terjemahan Monica kedua yang pernah saya baca setelah novel all-American  Girl. Dan untuk kedua kalinya pula, saya dipuaskan. Salute!

Dikemas dengan gaya unik, kisah Rosie Dunne dan Alex Stewart disajikan dalam bentuk berupa kumpulan surat, kartu ucapan, print-out e-mail, print-out obrolan di chat room, faks, dan catatan-catatan kecil yang dibuat selama keduanya hidup. Hal ini tentu membawa angin segar bagi para pembaca yang terbiasa membaca novel berisi banyak paragraf deskripsi maupun narasi.

Penokohan yang diuraikan dengan sama uniknya ini terbukti berhasil melahirkan karakteristik para tokoh dengan kuat serta jelas. Karakter-karakternya begitu hidup, hingga terasa seperti membaca kumpulan surat yang benar-benar ada dan nyata, surat yang benar-benar dijadikan teman bagi tokoh utama, penggalan kisah hidup yang terangkum dalam kertas dan tinta.

“Dan aku duduk di sini, memikirkanmu.”

-Rosie (hlmn 239)

Rosie Dunne merupakan salah satu tokoh yang mampu mencuri hati saya dengan gaya berbicaranya yang penuh sarkasme. Dirinya digambarkan sebagai seorang ibu yang kuat, namun terkadang juga diimajikan sebagai sosok yang begitu rapuh. Keluh-kesah, kepenatan, juga kesedihan yang ia rasakan ketika menjadi seorang ibu di usia begitu muda, hingga harus membuang seluruh mimpi-mimpinya, disampaikan dengan begitu baik. Lelucon-lelucon yang ia lontarkan dalam surat-suratnya tak hanya membuat kedua bibir ini tersenyum simpul, namun juga mengundang gelak tawa membahana.

“Oh, yang benar saja! Kau malah senang sekali waktu akhirnya bercerai! Kau membeli sampanye paling mahal, kita minum sampai mabuk, pergi dugem, lalu kau mencium lelaki yang jeleknya minta ampun.”

-Rosie (hlmn 99)

Yang membuat saya kesal di novel ini adalah sosok Alex Stewart. Lelaki pintar namun bodoh dalam perkara rasa ini tak henti-henti membuat saya gemas setengah mati. Sikapnya yang effortless dan tidak peka tidak membuat hidup Rosie lebih baik. Kalau saja ia bertindak lebih cepat dan tanpa banyak berbasa-basi, mungkin tak membutuhkan lebih dari 600 halaman untuk mendapatkan akhir yang saya harapkan.

“Aku merasa sangat aneh waktu kau memunggungiku dan berjalan menyusuri lorong gereja bersama calon suamimu. Mungkinkah yang kurasakan itu cemburu?”

-Alex (hlmn 173)

Selain kedua tokoh utama di atas, Katie Dunne juga mendapat lampu sorot yang sempurna. Porsi kemunculannya begitu pas sebagai anak perempuan sang tokoh utama. Digambarkan sebagai Rosie generasi kedua, sifat yang dimiliki oleh Rosie menurun kepadanya. Nasibnya pun juga seperti itu. Katie hanya memiliki satu sahabat bernama Toby, persis seperti Rosie yang hanya punya Alex.

Katie adalah janin yang dulu dipertahankan oleh Rosie. Gadis kecil yang dulu sempat tak diinginkan olehnya, kini telah menjadi seluruh hidupnya. Katie telah menjadi semesta bagi ibunya, menjelma segala. Dan nantinya, ketika pertanyaan yang sama yang dipikirkan oleh ibunya terlontar dari kedua bibirnya, ia tak hanya menyelamatkan satu cinta, namun banyak cinta lainnya.

Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh yang nantinya hanya akan menjadi spoiler jika saya jabarkan satu-satu. Sebab, topik kehamilan yang tidak diinginkan yang dialami Rosie saja sudah bisa dibilang suatu kejahatan yang membuat saya patut meminta maaf kepada para pembaca review saya kali ini.

Namun para pembaca tenang saja. Kompleksitas jalan cerita yang dimiliki Love, Rosie ini aduhai kerennya. Dengan konflik, klimaks, dan post-klimaks yang beberapa kali berulang membuat saya yang membaca novel ini laksana menyusuri sebuah jalan cerita yang tak mengenal ujung. Lagi dan lagi saya dikagetkan dengan twist yang ada hingga menjadikan kisah Rosie dan Alex ini menjadi begitu menyenangkan dan tak tertebak.

Pendeskripsian latar yang tak terlalu njelimet dan penggunaan sudut pandang yang sederhana tak membuat rasa bingung hadir di kepala. Alur yang digunakan pun alur maju yang sama sederhananya walau terkesan melompat-lompat. Terang saja, perjalanan hidup Rosie Dunne semenjak berusia 5 hingga 50 dipampatkan hanya dalam 600 halaman.

Untuk perkara teknis, bisa dibilang novel Love, Rosie ini sempurna. Semua aspek disajikan dengan begitu apik dan ciamik. Sebut saja quotes-quotes yang biasanya jarang saya sertakan di review-review saya sebelumnya, tetapi kali ini bertebaran di merata pembaca.

Dan satu favorit saya:

“Seharusnya aku tidak membiarkan bibirmu meninggalkan bibirku sekian tahun lalu di Boston.”

-Alex (hlmn 201)

Dan atas segala pengalaman personal penuh kegembiraan yang saya dapatkan usai membaca novel ini, saya dengan senang hati memberikan…

Bintang 5

 “Hari ini aku mencintaimu lebih dari yang sudah-sudah; besok cintaku padamu akan lebih besar lagi.”

Review : Cinder

4

Cinder

Cinder

The Lunar Chronicles

Penulis: Marissa Meyer

Penerjemah: Yudith Listriandri

Penyunting: Selsa Chintya

Proofreader: Titish A. K.

Penerbit: Penerbit Spring

ISBN: 978-602-71505-4-6

Cetakan: I (Januari 2016)

Jumlah halaman: 384 hlmn

*

šBLURB›

Wabah baru tiba-tiba muncul dan mengecam populasi penduduk Bumi yang dipenuhi oleh manusia, cyborg, dan android. Sementara itu, di luar angkasa, orang-orang Bulan mengamati mereka, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.

Cinder, seorang cyborg, adalah mekanik ternama di New Beijing. Gadis itu memiliki masa lalu yang misterius, diangkat anak dan tinggal bersama ibu dan dua orang saudari tirinya. Suatu saat, dia bertemu dengan Pangeran Kai yang tampan. Dia tidak mengira bahwa pertemuannya dengan sang Pangeran akan membawanya terjebak dalam perseteruan antara Bumi dan Bulan. Dapatkah Cinder menyelamatkan sang Pangeran dan Bumi?

*

“She believed in dreams, all right, but she also believed in doing something about them. When Prince charming didn’t come along, she went over to the palace and got him.”

-Walt Disney

Kisah dongeng Cinderella bak legenda yang tak habis-habis diceritakan. Disebarkan dari mulut ke mulut, ditularkan lewat lembaran kertas, buku-buku, hingga berbentuk audio-visual dari generasi ke generasi.

Mulai dari (yang diduga) kisah aslinya yang ada jauh sebelum masehi, tentang Rhodopis sang budak wanita dari Yunani yang menikahi Raja Mesir. Lalu kisah Ye Xian dari negeri Tirai Bambu, Bawang Merah Bawang Putih dari Indonesia, Mary The Crab (Mariang Alimango) dari Filipina, Tam Cam dari Vietnam, serta Kongjwi And Patjwi dari Korea yang semuanya memiliki kesamaan plot dengan kisah Cinderella.

Kisah Cinderella sendiri pertama kali ditulis oleh Giambattista Basile yang memakai nama Cenerentola sebagai nama tokoh utama. Tulisan Basile inilah yang pertama kali menyertakan ibu dan saudari tiri yang kejam, make-over sihir, sepatu yang hilang, dan kerajaan yang kemudian mencari pemilik sepatu tersebut.

Setelah Basile, kemudian ada Perrault dengan Cendrillion-nya, Brothers Grimm dengan Aschenputtel-nya, Confessions Of An Ugly Stepsister-nya Gregory Maguire, dan masih banyak lagi penulis-penulis berbakat yang me-remake dongeng masterpiece ini.

Termasuk Marissa Meyer yang menambahkan beberapa sentuhan distopia, scifi, juga fantasi yang memberikan wajah baru bagi dongeng Cinderella tersebut.

Berkisah tentang kehidupan Linh Cinder sebagai cyborg (Cybernetic Organism, makhluk hidup yang memiliki bagian-bagian tubuh robot) di tengah hiruk pikuk kota New Beijing, ibu kota Persemakmuran Timur. Cinder yang juga seorang mekanik terkenal di kotanya memiliki masa lalu yang misterius. Almarhum walinya yang juga ilmuwan, Linh Garan, mengangkatnya sebagai anak setelah melakukan operasi kepada tubuh Cinder usai kecelakan hover yang mengakibatkan hilangnya satu tangan, satu kaki, dan juga ingatannya.

Cinder yang tak mengetahui asal-usulnya, terpaksa hidup serumah bersama dengan ibu tirinya, Adri, juga kedua orang saudari tirinya, Pearl dan Peony. Kehidupan Cinder sangatlah menyedihkan, apalagi sebuah hukum diciptakan khusus untuk para cyborg yang mengakibatkan adanya kesenjangan sosial antara manusia dengan cyborg.

Kesenjangan sosial itulah yang menjadi aral bagi Cinder kala Pangeran Kai datang ke kiosnya di pasar mingguan New Beijing pada suatu hari. Cinder dengan sengaja menyembunyikan fakta bahwa ia adalah seorang cyborg saat Pangeran memintanya untuk membetulkan android kesayangannya. Karena jika Pangeran Kai sampai tahu, maka Cinder yakin kalau yang nantinya ia terima hanyalah pandangan jijik dan merendahkan dari sang Pangeran.

Namun, ia akhirnya menyesal karena telah menyembunyikan jati dirinya. Sebab menurut sahabatnya yang berwujud android, Iko, Pangeran Kai sepertinya menyukainya. Yang mana hal itu tak boleh sampai terjadi. Karena pangeran adalah Pangeran, dan Cinder adalah… yah… cyborg.

Euforia karena telah bertemu Pangeran Kai yang tampan dan digilai seluruh wanita lajang di seluruh Persemakmuran Timur, lesap begitu mengetahui Peony, adik tiri Cinder yang ia sayangi, divonis tertular wabah Letumosis. Wabah yang kini menjadi epidemi dan telah merenggut banyak nyawa di Bumi.

Adri dan Pearl menyalahkan Cinder atas kejadian yang menimpa Peony. Dan karenanya, ia dipaksa menjadi relawan untuk penelitian yang tengah dilakukan para ilmuwan demi menemukan vaksin Letumosis tersebut. Cinder menolak, sebab ia selalu tahu kalau nasib para relawan sebelumnya berakhir mengenaskan.

Mereka mati.

Di tengah kekacauan hidup Cinder saat itu, Ratu Levana, pemimpin koloni Bulan yang terkenal kejam dan selalu mengkonfrontasi Bumi, memutuskan untuk berkunjung ke New Beijing demi membahas perjanjian perdamaian yang baru, tepat setelah kematian Kaisar Rikan, ayah Pangeran Kai.

Meski Persemakmuran Timur tengah berduka atas kepergian kaisar mereka, namun pesta dansa tahunan tetap akan dilaksanakan. Tetapi akankah ibu dan saudara tirinya mengizinkan Cinder untuk menghadiri pesta dansa yang diadakan kerajaan? Sebab, dengar-dengar Pangeran Kai akan mencari calon permaisurinya di pesta itu.

 “She was a cyborg, and she would never go to a ball.”

-Marissa Meyer

Cinder mampu membuai saya untuk ikut merasakan bagaimana sensasinya hidup di Bumi setelah perang dunia keempat. Di mana Bumi hanya terbagi menjadi beberapa negara besar yaitu: Persemakmuran Timur, Kerajaan Inggris, Federasi Eropa, Uni Afrika, Republik Amerika, dan Australia. Di mana kemajuan teknologi telah begitu pesat, hingga android dan cyborg mampu membaur dengan kehidupan masyarakatnya. Di mana Bulan mampu dihuni oleh manusia yang telah berevolusi.

Dan di mana kesetaraan begitu saru hingga patut ditanyakan.

Menjadi tidak seratus persen manusia otomatis mencap para cyborg ini sebagai warga kelas dua. Hal ini serupa dengan realitas yang ada pada masyarakat post-modern kita, di mana kaum inferior banyak ditindas kaum superior, ataupun minoritas yang dipukul telak oleh mayoritas.

Hal ini tercermin atas program ‘Regulasi Cyborg’ yang diadakan kerajaan untuk mencari relawan bagi pengujian vaksin Letumosis. Mengapa harus cyborg? Mengapa bukan manusia? Sebab tatanan masyarakat di buku Cinder ini menganggap bahwa nyawa manusia lebih berharga dibanding cyborg, dan juga sebagai balas budi yang harus diberikan oleh cyborg kepada para ilmuwan yang telah memberikan mereka kesempatan kedua untuk hidup.

Penindasan karena ketidaksetaraan ini juga dilakukan oleh Adri dan Pearl, mirip dengan ibu dan saudari tiri Cinderella dalam kisah aslinya.

Kalau kalian sempat merendahkan karakter Cinderella yang naif dan lemah di kisah aslinya, mungkin Cinder di buku ini akan memberi angin segar bagi kalian. Jauh dari kata lemah dan naif, Cinder di buku ini dibuat lebih realistis dan juga kuat. Ia yang sadar siapa dirinya, menolak untuk berhubungan dengan Pangeran Kai lebih jauh. Dan ketika ia dipaksa oleh beberapa android untuk menjadi relawan, ia tidak langsung ikut dengan patuh. Dan hasilnya, satu android hancur karena perlawanannya.

Berlawanan dengan karakter Cinder di atas, Pangeran Kai di buku ini terkesan lemah. Ada beberapa faktor yang menurut saya mempengaruhinya. Pertama, kekaisaran yang tiba-tiba saja harus ia kelola di usia semuda itu, usai kematian Kaisar Rikan yang juga adalah ayahnya. Kedua, posisinya sebagai pemimpin persemakmuran membuatnya harus berpikir sejuta kali atas nama kesejahteraan dan keselamatan rakyatnya. Ketiga, tekanan dan ancaman terselubung dari koloni Bulan yang mengharuskan Pangeran Kai untuk bersikap ‘cari aman’.

Namun, di atas segalanya, Pangeran Kai adalah juga sosok yang rendah hati, lucu, penyayang, dan bijaksana. Berbagai kesan ini dapat dengan mudah ditangkap di setiap dialog-dialognya yang digambarkan secara baik oleh penulis.

Ibu dan saudari-saudari tiri Cinderella yang mempunyai peran cukup penting dan sangat signifikan di kisah aslinya, di buku ini malah seperti tak cukup banyak memiliki panggung. Oh, kecuali Peony, saudari tiri yang bersikap baik pada Cinder.

Adri dan Pearl kurang terkesan keji (well, honestly, i really wished some gruesome scenes in this book) kepada Cinder. Cinder hanya disuruh bekerja di pasar (yang nyatanya hanya duduk-duduk saja), mencari barang-barang rongsok untuk memperbaiki peralatan elektronik di rumah mereka, mencuci hover (mobil terbang) dan hal-hal remeh lain.

Tak ada lentils yang harus ia pungut dan bersihkan satu-satu selama semalaman atau hal-hal keji lainnya yang biasanya dilakukan oleh ibu tiri. Kecuali menjual Cinder kepada para ilmuwan demi uang bisa dibilang keji, maka mereka cukup keji kalau begitu.

Dan yang mendapatkan banyak lampu sorot dalam perkara kekejian adalah, tak lain dan tak bukan, Ratu Levana dan konco-konconya.

Romansa yang hadir di antara Cinder dan Pangeran Kai amatlah berharga untuk dinikmati. Bagaimana cara Pangeran Kai yang mati-matian membujuk Cinder hingga mengundang rasa iba bagi saya, juga cara Cinder yang berkali-kali menolak setiap bujukan pangeran layaknya seorang wanita mandiri sangatlah menghibur di tengah keseriusan dan ketegangan terhadap ancaman meletusnya perang antara Bumi dan Bulan. Humor-humor segar dan menggelitik nan pas.

Dengan alur yang terang serta penceritaan dan sudut pandang yang jelas, seharusnya tidak ada kesulitan untuk memahami isi buku ini. Namun di dua puluh tiga halaman pertama, saya mengakui sangat sulit untuk mengerti jalan ceritanya. Saran saya, baca perlahan, dan kalau ada yang tak dimengerti, ada baiknya untuk dibaca ulang.

Perkara teknis tak banyak yang bisa saya koreksi.

  • Penggunaan kata memelesat yang saya rasa kurang cocok dalam cerita -> “…Iko menyeruak keluar dari kerumunan dan memelesat ke meja kerja…” ->sebab menurut KBBI, memelesat = memental; terlepas dengan cepat.
  • Penggunaan kata mencangkung yang tidak biasa dan menurut saya keren.
  • Penggunan kata diagnostis yang harusnya diagnosis di halaman 195 dan 231
  • Penggunan titik yang salah di halaman 214
  • Dan kata ‘Perintah’ yang seharusnya tak dikapitalkan

Membaca buku ini bagaikan berfantasi dalam realitas. Banyak nilai-nilai realis yang tersirat dan dapat kita jadikan alasan untuk duduk bersama, lengkap dengan kopi pekat yang mengepul serta pisang goreng di sisinya, seraya menekan ego untuk kemudian membicarakan apa yang baik dan benar bagi masyarakat yang harusnya penuh cinta.

Sekuel pertama dari The Lunar Chronicles ini pantas mendapatkan rating sebanyak…

Bintang 4

Tak sabar untuk sekuel selanjutnya, Scarlet, Cress, dan Winter! Yay!

Review : Ready or Not

2

Ready Or Not

Ready or Not – —Siap atau Tidak—

Penulis: Meg Cabot

Alih bahasa: Alexandra Karina

Desain dan ilustrasi sampul: http://www.kittyfelicia.com

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 979-22-1783-5

Cetakan: II (April 2006)

Jumlah halaman: 264 hlmn

*

šBLURB›

SEPULUH HAL UTAMA YANG BELUM SIAP DIHADAPI SAMANTHA MADISON:

  • Menghabiskan Thanksgiving di Camp David
  • Dengan pacarnya, putra Presiden
  • Yang tampaknya ingin membawa hubungan mereka ke Level Berikutnya
  • Sesuatu yang dengan tanpa sengaja Sam umumkan pada siaran langsung di MTV
  • Saat seharusnya dia mendukung kebijakan Presiden tentang keutuhan keluarga, moral, dan ya, seks.
  • Juga, menyeimbangkan pekerjaan usai sekolah barunya di Potomac Video
  • Meskipun dia sudah mempunyai pekerjaan sebagai duta remaja untuk PBB (tapi tidak dibayar untuk itu)
  • Menaiki Metro dan dikenali karena dia “cewek berambut merah yang menyelamatkan nyawa Presiden”, meskipun sudah mewarnai rambutnya menjadi Midnight Ebony setengah permanen
  • Mengalami pertukaran peran besar-besaran dengan kakaknya yang populer, Lucy, yang sekali ini tidak bisa mendapatkan cowok yang diinginkannya

Dan hal nomor satu yang belum siap dihadapi Sam?

  • Mengetahui di kelas menggambar, “life drawing” berarti “menggambar model telanjang”.

*

“Tidakkah kalian melihatnya? Tidakkah kalian mengerti? Cara menguatkan keluarga-keluarga bukan dengan menghancurkan hak-hak salah satu anggota, dan memberikan lebih banyak hak pada anggota yang lain. Ini bukan tentang BAGIAN-BAGIAN. Ini tentang KESELURUHANNYA. Harus SAMA RATA. Keluarga seperti… seperti rumah. Harus ada fondasi dulu sebelum kau bisa mulai mendekorasinya.”

-Samantha Madison (hlmn 193)

Jika ada seseorang yang kerap menggembar-gemborkan tentang betapa indahnya masa-masa remaja, maka bisa dipastikan orang itu belum pernah membaca buku-buku karangan Meg Cabot yang berjudul all-American Girl dan Ready or Not. Sama halnya dengan Chrismansyah Rahadi yang kelihatannya belum pernah berkenalan dengan Samantha Madison. Sebab, kalau almarhum sempat berkenalan dengannya, maka lagu Kisah Kasih Di Sekolah sepatutnya tidak akan pernah ada. Kenapa? Karena dunia remaja tak melulu sepicisan itu. Apalagi dunia Sam yang penuh dengan masalah-masalah remajanya yang khas.

Bercerita tentang Samantha Madison yang bingung berat atas ajakan David—pacarnya yang juga putra Presiden Amerika—untuk bersama-sama menghabiskan akhir pekan Thanksgiving di Camp David bersama dengan Pak Presiden dan istrinya. Bukan karena ke mana atau dengan siapanya, tapi tentang apa yang akan mereka berdua lakukan di sana. Apalagi David mengimplisitkan tujuannya yang sebenar-benarnya ketika mengajak Sam untuk ber-parcheesi ria, yang Sam artikan sebagai ajakan, mm… kau tahu…

Melakukan Itu.

Undangan David ini sungguh sangat tidak melegakan, apalagi Sam baru saja melihat kau-tahu-apa pertamanya beberapa jam sebelumnya di kelas menggambar “life drawing” di Susan Boone Art Studio. “Life drawing” yang berarti “menggambar model telanjang”.

Kecemasan ini semakin menjadi-jadi ketika ia mengingat bahwa ia telah gagal besar dalam pelajaran “life drawing” pertamanya. Ia sama sekali tak mengerti ocehan Susan tentang ia yang harusnya berhenti berkonsentrasi begitu keras pada bagian-bagiannya. Dan sebaliknya, mulai melihat gambarnya sebagai kesatuan. Maksudnya, bagaimana ia bahkan bisa berkonsentrasi pada hal-hal seperti itu, kalau dalam beberapa hari kedepan keperawanannya akan hilang di salah satu kamar di Camp David?

Belum lagi tentang kakaknya yang populer, Lucy, yang akhirnya putus dengan pacarnya dan kini tengah mengejar-ngejar—sangat aneh bagi Sam untuk mengatakannya—cowok yang sama sekali tidak populer.

Pun ada Kris Parks, teman masa kecil Sam yang kini telah menyeberang ke dunia hitam dan menjadi musuhnya di John Adams Preparatory Academy, dan teman-teman Right Way-nya yang acap kali mengatai Debra Mullins hanya karena selentingan tentang Debra yang Melakukan Itu bersama pacarnya di bawah tempat duduk stadion.

Dan bagian mana dari itu semua yang menggambarkan betapa ‘tiada masa paling indah/masa-masa disekolah’?

Satu lagi buku Meg Cabot yang membuat saya ketagihan untuk membacanya berulang-ulang. Buku yang menjadi sekuel dari buku all-American Girl ini (baca review-nya di sini) telah mendapatkan berbagai penghargaan seperti Publisher Weekly dan USA Today Best Seller. Juga tak ketinggalan dipilih oleh New York Public Library sebagai “Book for the Teen Age” di tahun 2006.

Dan bukan sesuatu yang mengherankan, mengingat kepiawaian Meg Cabot meramu pelbagai hal untuk menciptakan sebuah karya yang amat bagus macam Ready or Not ini.

Disuguhkan dengan karakteristik Sam yang complicated—seperti Sam yang ingin melawan paradigma yang ada di lingkungannya namun juga takut untuk melawannya, pengidap social anxiety disorder namun bersikeras mempertahankan cara berpikirnya yang unik, pemberani namun sekaligus penakut, dan lain sebagainya—membuat saya tak bosan-bosan menikmati konflik demi konflik yang dijabarkan dengan begitu apik oleh penulis. Meskipun sebagian besar konflik tersebut hanya terjadi di dalam kepala tokoh utama, namun hal itu membawa lebih banyak keseruan, ketegangan dan kelucuan dibanding jika diceritakan melalui sudut pandang orang ketiga.

Sam yang menolak untuk berpakaian Abercrombie & Fitch dari atas ke bawah dan lebih memilih berpakaian hitam-hitam demi rasa belasungkawa terhadap generasinya yang memprihatinkan—yang hanya peduli tentang apa yang terjadi di American Idol minggu ini juga siapa yang memakai apa di pestanya siapa—merupakan sosok yang patut diacungi jempol atas derasnya arus keapatisan yang melanda remaja Amerika.

Yang kini juga tengah dialami oleh remaja-remaja di Indonesia yang lebih peduli tentang si itu yang memposting anu ke media sosial ini. Atau lebih parahnya lagi, siapa yang menyerahkan keperawanannya kepada siapa. Padahal ada lebih banyak hal mendesak lain untuk dipikirkan seperti hampir 52% populasi penyu telah menelan sampah plastik yang dikiranya ubur-ubur daripada mengurusi keperawanan orang lain.

Selain Sam yang mampu mencuri hati saya, Lucy Madison yang telah mendapatkan porsi lebih banyak untuk tampil di buku ini juga membuat saya menaruh perhatian padanya. Seakan ingin mempertegas peribahasa ‘tak ada gading yang tak retak’, Lucy yang digambarkan oleh penulis di buku sebelumnya sebagai cewek yang sempurna—cantik, populer, mempunyai pacar tampan yang sempat ditaksir Sam mati-matian—kini harus rela putus dari pacarnya, Jack, dan gagal di ujian SAT-nya.

Itu saja, menurut Sam, sudah merupakan indikasi atas menurunnya superioritas kualitas hidup Lucy. Belum lagi perkara tentang Lucy yang menyukai tutor SAT-nya, namun, tak seperti cowok-cowok pada umumnya, tutornya itu tidak menyukainya balik. Menyukai namun tak disukai balik adalah hal yang teramat sangat jarang, bahkan hanya terjadi sekali sepanjang eksistensinya.

Dan perjuangan Lucy untuk meyakinkan tutornya kalau ia itu bukanlah kebalikan dari sosok Hellboy, yang buruk rupa di luar namun baik hati di dalam, amat sangat menghibur.

Selain tokoh-tokoh protagonis di atas, tokoh antagonis seperti Kris Parks dan konco-konconya di kelompok Right Way juga menyumbang konflik yang teramat besar. Hipokrisi yang gila-gilaan, bullying, dan kesoksucian kaum-kaum yang harusnya benar-benar suci disajikan seperti sinisme atas keadaan yang dialami banyak remaja Post-Modern.

Yang paling menarik dan paling mencerahkan di buku ini adalah tentang betapa tidak bergunanya program Just Say No pada seks bebas dan obat-obatan terlarang. Karena yang diajarkan dalam program tersebut hanyalah Just Say No. Bukan ‘Inilah apa yang kaulakukan kalau-kalau say no tidak berhasil untukmu’. Di negara-negara tempat para orang dewasa terbuka dengan anak-anaknya tentang seks dan KB, dan para remaja diajarkan tak ada yang memalukan atau apa pun tentangnya, tingkat kehamilan yang tidak diinginkan juga penyakit menular seksual justru paling rendah.

Namun, entah kenapa fakta-fakta tersebut, juga ucapan Sam di tengah siaran langsung MTV, membuat Pak Presiden menjadi sangat murka. Akankah Sam kehilangan pekerjaannya sebagai Duta Remaja untuk PBB? Dan bagaimana tentang kesiapan Sam untuk menerima—atau menolak—ajakan David untuk ber-parcheesi?

It’s such a highly recommended book. Dan dengan semua hal-hal itu, kesalahan teknis seperti tanda kutip yang kurang setelah kata Ebony di halaman 34 dan setelah kata gila di halaman 118, juga penggunaan tanda tanya di akhir kalimat yang kurang saya mengerti fungsinya di halaman 123, 222 dan 224, menjadi tidak terlalu penting lagi. Namun saya tetap menganjurkan adanya proses penyuntingan untuk cetakan selanjutnya demi terciptanya kesempurnaan.

Dan karena itu semua, buku ini pantas mendapatkan rating sebanyak…

Bintang 4

Yay!

Kemudian coba beritahu saya di kolom komentar, hal-hal apa sih yang paling kalian ingat di masa remaja kalian?

Review : Critical Eleven

8

Critical Eleven

Critical Eleven

Penulis: Ika Natassa

Desain sampul: Ika Natassa

Editor: Rosi L. Simamora

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-602-03-1892-9

Cetakan: X (Februari 2016)

Jumlah halaman: 344 hlmn

*

šBLURB›

Dalam dunia penerbangan, dikenal dengan istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it’s kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada suatu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

*

Sungguh sangat merisaukan hati ketika melihat goodreads’ review tentang Critical Eleven ini yang, yah… ada beberapa yang sepertinya tidak mempunyai etika dalam me-review. Mungkin beliau-beliau ini tidak pernah membaca ‘Cara Me-review Yang Baik’ oleh Mbae Evi Sri Rejeki atau Mbae Peri Hutan.

Well, setelah saya mengeluhkesahkan hal ini di twitter dan dengan sengaja mencolek sang penulis langsung, Mbae Ika, her answer is such a relieving.

“Tidak apa-apa. Menikmati karya itu pengalaman personal, dan cara masing-masing orang berbagi pengalaman personal itu berbeda-beda :p :p

Paling tidak dia sudah menghargai dengan membeli bukunya, daripada cari bajakan.”

Begitulah.

Dan jika penulisnya sendiri selow, lha mbok saya nggak perlu ceriwis-ceriwis lagi tho? Ehe.

Uh, oh! Kalau begitu saya harap review saya kali ini semoga menjadi ajang berbagi pengalaman personal yang bukan hanya tidak menyakiti sesiapa, juga mencerahkan.

#walauakubukannabiakuinginmencerahkan #meesterzenauntukDKI2017 #bodoamat

Berkisah tentang Ale dan Anya yang pisah ranjang setelah empat tahun menjalani biduk rumah tangga. Penyebabnya adalah suatu tragedi besar yang menyakiti hati keduanya. Tak ada yang salah sebenarnya. Menyalahkan Tuhan pun percuma. Bukankah kitab-kitab itu menyatakan kalau Tuhan Maha Benar Atas Segala?

Untuk menghadapi tragedi tersebut, keduanya memilih untuk merayakannya dengan cara masing-masing. Dalam diam, dalam tangis, dalam benci, dalam rindu yang terbantahkan, dalam doa yang tak usai-usai terujar, dalam gumul tubuh setelah dahaga satu kemarau.

Ale hampir putus asa. Segala cara telah ia lakukan agar Anya tetap di sisinya. Berhasil, namun Anya yang tinggal adalah Anya yang berbeda. Yang pasif, yang menganggapnya ada namun tiada, yang masih memakai cincin perkawinannya namun tak lagi sudi seranjang.

Lalu, apa yang harus Ale lakukan ketika suatu hari ia pulang dengan post-it tertempel di pintu lemari Anya yang sudah setengah kosong?

#OOOWWW

Ucet-ucet-uceeet!!! Critical Eleven really, really broke my heart : (

Ika Natassa mampu membuat saya cekikikan macam perawan, trenyuh, dan meneteskan air mata ketika membaca buku yang spektakuler ini. Critical Eleven adalah buku ketiga Mbae Ika yang saya baca setelah Divortiare (yang bacanya dulu waktu saya masih SMP) dan Antologi Rasa.

Dengan sudut pandang yang berganti-ganti antara Anya dan Ale, juga cara penulisan berbeda yang digunakan atas keduanya, membuat saya tak kesulitan mengikuti isi pikiran mereka. Anya yang ber-aku dan Ale yang ber-gue sama sekali tak membuat saya pusing ataupun siwer (mengutip kosakata kenalan saya yang kapok setelah membaca Antologi Rasa. Katanya, “Too good to be true. LOL. Man, puhlease.)

Untuk kamu yang sama sekali buta bahasa Inggris, saya tak merekomendasikan buku ini. Kecuali kamu memiliki kamus bahasa Inggris, atau yang lebih canggih, Google Translate, untuk menerjemahkan beberapa penggalan kalimat bahasa Inggris yang tak difasilitasi footnote.

Dan bagi saya sendiri, novel dengan dwibahasa seperti ini selain menambah khazanah pengetahuan, juga memiliki sensasi tersendiri yang sulit saya jabarkan. Mewah, lux, berkelas, entahlah. Sulit. Dan saya tidak bermaksud meremehkan mereka yang seketika menolak membaca buku ini hanya karena matanya siwer oleh banyaknya kalimat-kalimat italic di dalamnya. Sungguh.

Sedari awal pun saya sudah jelaskan kalau saya hanya ingin berbagi tentang pengalaman personal saya.

Ehe.

Jika saja saya wanita, maka saya tanpa perlu bermalu-malu, tanpa perlu berpikir dua kali, tanpa perlu bertendensi apa pun, akan menyatakan kalau saya jatuh cinta dengan Aldebaran Risjad.

Sangat-sangat jatuh cinta.

Cara Ika membuat Ale mendeskripsikan cintanya kepada Anya, begitu… begitu… manis.

Tak ada yang tak akan jatuh cinta kepada Ale. Jamin.

Pun begitu dengan Tanya Laetitia Baskoro (well, jadi ngerti susahnya usaha Ale menghafal nama tengah Anya sebelum ijab). Merasakan perasaan Anya ketika menjabarkan betapa dia rindu setengah mati, juga benci setengah mati kepada Ale membuat saya bingung sendiri. Plis deh, Nya! Sebegitu susahnya kah?

: (

Kalau kamu sempat bingung di awal-awal membaca buku ini, maka kamu tidak sendiri. Namun percayalah, puzzle-puzzle kebingunganmu itu satu-satu akan terpecahkan, dan membuat kamu merasa takjub karena telah membaca novel yang aduhai kerennya ini.

Dan kalau sampai di sini kamu masih ragu buat membacanya, maka saya merasa gagal sebagai reviewer. Plis atuhlaaah! Buku bagus banget ieu teh : (

Saya suka kovernya, flashback-nya, konsepnya, jalan ceritanya, temanya, karakternya. Saya suka Si Jeki, Risjad’s Family, naskah yang typo-nya nihil, filsafat-filsafatnya, Jakarta, konfliknya. Saya suka ibu-ibu di commuterline, abang-abang fotokopi, mbak-mbak Frank and Co., Nino, ketoprak Ciragil.

Saya suka semuanya.

Semuanya.

And because of that, this book deserves these stars…

Bintang 5

Saya menunggu buku Mbae Ika selanjutnya! xoxo

Review : all-American girl

2

All-American Girl

all-American girl – —Pahlawan Amerika—

Penulis: Meg Cabot

Alih bahasa: Monica Dwi Chresnayani

Desain dan ilustrasi sampul: Kitty

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 979-22-0982-4

Cetakan: III (Mei 2005)

Jumlah halaman: 328 hlmn

*

šBLURB›

Sepuluh alasan Samantha Madison bingung berat:

  • Kakaknya cewek paling gaul di sekolah.
  • Adiknya cewek paling cerdas di sekolah.
  • Dia naksir pacar kakaknya.
  • Dia tertangkap basah menjual gambar selebritis yang dibuatnya di sekolah.
  • Dan karena itu dia terpaksa ikut les menggambar.
  • Dia menyelamatkan Presiden Amerika Serikat dari percobaan pembunuhan.
  • Dan karena itu seluruh dunia menganggapnya pahlawan.
  • Padahal Samantha tahu pasti dia sama sekali bukan pahlawan.
  • Sekarang dia ditunjuk jadi duta remaja untuk PBB.

Dan alasan nomor satu kenapa Samantha bingung berat:

  • Kayaknya putra presiden naksir dirinya

*

“Kau memang mendengar kata-katanya, tapi tidak mendengarkan. Ada perbedaan antara mendengar dan mendengarkan, sama halnya seperti melihat dan mengetahui.”

-Susan Boone (hlmn 295)

Actually, sudah kesekian kalinya (tujuh atau delapan atau lebih? entah) saya menamatkan novel karangan Mbae Meg yang bergenre teenlit ini. Dan tujuan saya membaca ulang, selain untuk menyegarkan pikiran, juga sebagai bahan referensi dalam proyek novel yang saya dan partner saya, Terdevan, kerjakan sejak awal Maret ini. B-but, sadly, it didn’t work. And i felt like i still have to complete it first, tho. So here i am, bringing you my review about this coolest book ever. Yasss!!!

Berkisah tentang Samantha Madison—anak tengah, kidal, yang merasa apatis terhadap generasinya sendiri, tukang pilih-pilih makanan, culun, penyuka ska dan murid paling dibenci di SMU—yang jatuh cinta kepada Jack Ryder, pacar kakak kandungnya sendiri, Lucy Madison.

Samantha yakin kalau Jack adalah belahan jiwanya—ia bahkan mampu menyebutkan ‘10 alasan mengapa Samantha lebih pantas menjadi cewek Jack dibanding kakaknya, Lucy’. Samantha juga yakin kalau tiap-tiap yang dilakukan Jack—mulai dari menembaki laboratorium ayahnya yang digunakan untuk mengujicobakan obat-obatan, berenang telanjang pada malam hari karena peraturan tentang baju renang yang terlalu ketat, hingga seringnya selisih paham antara Jack dan kepala sekolah—adalah suatu tindakan radikal yang menurutnya benar dan pantas untuk didukung. Karena dia tahu, orang-orang seperti Jack dan dirinya sendiri, yang tidak hanya tertarik pada video apa yang menduduki puncak tangga lagu sekarang ini, memiliki keprihatinan terhadap apa-apa yang terjadi di negara yang mereka cintai ini.

Namun semua berubah ketika negara api menyerang.

Lame joke, huh? Ehe.

Namun semua berubah ketika Sam ketahuan menjual gambar-gambar selebritis saat pelajaran bahasa Jerman. Mr. dan Mrs. Madison marah besar ketika tahu hal ini. Dan esoknya, tanpa persetujuan yang bersangkutan, Samantha diwajibkan ikut kursus menggambar di Susan Boone Art Studio dua kali seminggu, masing-masing selama dua jam.

Sam yang merasa sebal kepada Susan karena ocehannya tentang ‘menggambar apa yang kaulihat, bukan yang kauketahui’, memutuskan untuk memberontak pada jadwal kursus selanjutnya, seperti yang Jack anjurkan, karena merasa telah dipermalukan pada pertemuan pertama mereka.

Pertemuan pertama yang juga terasa manis antara Sam dan David, cowok keren yang satu kelas dengannya.

Namun ketika Sam membolos, sebagai upaya pemberontakan terhadap Susan Boone sang diktator seni, ia berakhir dengan menyelamatkan nyawa Presiden Amerika Serikat dari percobaan pembunuhan oleh maniak lagu Uptown Girl di depan toko kue Capitol Cookie yang seketika membuat hidupnya berubah total.

Apakah Sam mampu mendapatkan hati Jack?

Lalu apakah makna atas senyuman David yang misterius?

Dan bagaimana ia tetap bertahan hidup setelah begitu banyak hal yang berubah di dalam hidupnya?

Saksikan episode Uttaran berikutnya!

#WOOO!!! Walaupun sudah berkali-kali membaca novel Mbae Meg ini, namun tak secuil pun bosan terasa di dalam sukma renjana. Karena gimana, ya? Menurut saya membaca sebuah novel berulang kali itu mempunyai sensasi tersendiri. Hal-hal yang luput saat membaca untuk pertama kalinya, ditemukan saat baca ulang kedua kali, dan begitu seterusnya.

Dan bukankah menyenangkan, mengetahui ada beberapa hal yang tak akan pernah berubah di dalam hidup ini?

Ehe.

Sebelumnya, berikan saya waktu dan kesempatan untuk melayangkan standing ovation kepada Mbae Monica sebagai alih bahasa (yang saya asumsikan jua sebagai editor) yang mampu men-translate-kan seluruh isi buku dengan… duh, gimana ya jelasinnya. Kalau cuma emejing, keren atau apalah, kok kayak melecehkan.

Karena hasil translate-nya, jauh dari sekadar bagus.

Amazingly wonderful!

Nggak ngerti lagi belajar dari mana mbaknya.

Dan mungkin standing ovation yang lebih gempita untuk sang penulis sendiri, Mbae Meg, yang mengantarkan saya ke dalam dunia Sam yang lebih dari sekadar amazingly wonderful!

*speechless*

Uh, oh. Sekali standing ovation lagi untuk Mbae Kitty atas desain sampul yang aduhai kerennya. Jujur, lebih suka versi Indonesianya daripada versi asli, ehe.

Duh gimana ya, kalau begini terus yang ada bukan review jatuhnya, tetapi ajang muji-muji, ehe. Karena ketika saya membaca buku ini, tidak ada typo, cerita bagus, alur baik, konsep mengagumkan, dan lain sebagainya yang pasti bakal membuat kalian terkagum-kagum ketika membaca buku ini.

Overall, teknisnya tak memiliki cela. Perfect.

Jadi mari, kita ke ranah subjektif saja.

Dilihat dari blurb di atas, hal-hal seperti; sepuluh alasan Samantha Madison bingung berat sepuluh alasan kenapa Sam membenci Lucy, sepuluh fakta tentang Dolley Madison, hingga sepuluh hal yang memungkinkan Sam akan mati muda, akan dapat kalian temukan di dalam buku ini.

Dan menurut saya, hal itulah yang membuat buku ini memiliki konsep yang sangat unik dan mengagumkan. Karena kalau kalian membacanya, maka kalian akan menemukan benang merah antara sepuluh hal-sepuluh hal itu dengan cerita intinya. So, jangan malas untuk membaca selingan-selingannya yang tak hanya lucu, namun juga sangat mengedukasi.

Bukankah dewasa ini sangat sulit menemukan buku fiksi yang selain bagus juga mengedukasi?

Tema serta ceritanya juga benar-benar berbeda. Coba beritahu saya buku apa, selain buku ini, yang menceritakan tentang remaja yang menggagalkan percobaan pembunuhan terhadap Presiden Amerika Serikat? Jarang, kan? Atau malah tidak ada? Itulah yang membuat buku ini terasa berbeda dari buku-buku teenlit lainnya.

Kekhasan buku ini, dan juga buku-buku karangan Mbae Meg lainnya, adalah porsi dialog dan porsi paragraf deskripsi-narasi yang sangat berbeda. Jadi jangan heran kalau Sam bilang “A” kepada Jack, maka akan disela jeda panjang berisi paragraf deskripsi-narasi berhalaman-halaman, baru kemudian Jack merespon “B” kepada Sam.

Pokoknya dijamin keren, deh!

Oh, iya! Biar review saya terlihat lebih unik, maka saya akan memberikan kalian sepuluh alasan kenapa buku ini bagus banget:

  • Kalian nggak akan pernah nemu novel terjemahan yang bahasanya se-asoy
  • Kalian nggak akan nggak jatuh cinta sama Sam.
  • Juga cara berpikirnya dia.
  • Mungkin kalian akan bingung, pada klimaksnya, namun nikmati saja. It’s so worthy.
  • Saya bingung, saya menikmati, saya puas. Terima kasih OnClinic.
  • Banyak fakta tentang seni di dalam buku ini.
  • Juga vagina.
  • Sudahkah saya bilang kalau nanti saya bakal tulis review sekuelnya, Ready Or Not?.
  • Tenang saja, cuma ada dua sekuel.

Dan, alasan paling utama mengapa menurut saya buku ini bagus banget:

  • Umur saya bertambah bulan ini, dan buku ini membuat saya merasa kalau saya ternyata masih sangat, sangat muda. Yay! Forever young, forever happy!

Uh, oh! And here goes rating!

Bintang 5