Review : Longing For Home

Longing For Home

LONGING FOR HOME

Penulis : Irfan Rizky, dkk

Editor : Tiara Purnamasari

Layout : Tiara Purnama Sari

Desain Sampul : Roeman-Art

ISBN : 978-602-73734-0-2

Penerbit : Mazaya Publishing House (2016)

*

Blurb

Aku akan selalu menemukanmu. Selalu. Bahkan pada debu yang berterbangan di bawah terik raja siang pukul satu. Pada kuap mulut-mulut mungil yang akan beranjak tidur. Pada gaduh acara gosip di televisi yang tak pernah kausuka.

Dan ketika aku menemukanmu, maka aku akan menemukan rumah sejati. Yang dibangun dari mimpi. Dikokohkan dengan cinta dalam hati. Cinta yang sejati. Cinta yang takkan pernah mati walau kau telah lama pergi.

(Penggalan cerpen “Rumah Yang Berbeda” karya Irfan Rizky)

Kontributor

Adinda Amara – Afifah Dinda Mutia – Aisya – Devita Cahyaning Islami – Diah Avitaa – Fadlun Suweleh – Fairuz Annisa Pardania – Jihan Maymunah – Luhdiah Prihatin Umroh – Mahdalena – Mutiara Magdalena – Nur Rahmah AR – Pramodyah Ayu Laraswati – Radita Nilna Salsabila – Selta Utary – September V – Siti Syamsiyah – Terdevan –Wahyuning Utami Riyadi – Wardatul Aini – Yesi Matahari

*

Review

Buku kumpulan cerpen ini menyajikan sebanyak 22 cerita yang lahir dari tangan para penulis yang mempunyai latar belakang berbeda. Cerpen-cerpen ketje ini dipertemukan pada suatu kompetisi bertemakan ‘Home’ yang diadakan oleh salah satu penerbit indie.

Di tengah banyak pandangan meremehkan yang ditujukan pada ‘dedek-dedek gemes dunia kepenulisan’ (baca: penulis pemula, mengutip dari sebuah artikel oleh Adam Yudhistira di basabasi.co), maka saya harap buku ini mampu meluruskan pola pikir ‘om-om gemes dunia kepenulisan’ (baca: penulis sok ahli) yang berpikir menempuh jalur melalui penerbitan indie itu adalah ‘abal-abal’ atau sebuah ‘kedodolan’.

Dan saya teramat sangat tersanjung atas keputusan juri yang dengan berbaik hati membuat cerpen saya menyandang titel Juara 1. Yay! Kamsahamnida, arigatou, bonjour, xie-xie, terima kasih, wilujeng sumping.

Yap! Lanjut review-nya! Dari 22 cerpen yang ada, saya akan me-review sebanyak delapan cerpen yang menurut saya unik, manis, dan menarik hati. Cuma ada satu hal yang kurang dan ternyata sangat mengganggu yaitu, TYPO! Benar para hadirin, typo. Musuh para penulis yang begitu kuat dan tak mungkin bisa dikalahkan jika para penulis malas mengedit. Begitu banyak typo bertebaran hingga typophobia saya kumat. Untuk cetakan berikutnya akan lebih indah lagi jika editor mampu mengubah typo-typo tersebut. Dan satu lagi, kertas serta sampul saya rasa terlalu tipis, mungkin bisa menggunakan kertas yang lebih bagus lagi untuk cetakan berikutnya.

*

Rumah Untuk Pulang – Adinda Amara

Bukankah keluarga seharusnya menjadi surga kecil di dunia ini, di mana kehangatan selalu mengalir dan perlindungan akan selalu ada dan menjagamu?

Cerpen pertama ini sukses membuat saya hanyut dalam nuansa sendu yang penulis ciptakan. Penggunaan diksi yang sederhana namun mengikat membuat saya tak perlu susah-susah menempatkan diri saya sebagai Rizaldi yang mempunyai luka begitu dalam. Serius. Sama sekali nggak bermaksud untuk lebay. Lalu ketika Rizaldi memohon izin, hampir saja air mata saya menetes.

Kembali Ke Habitat – Fadlun Suweleh

Sejatinya rumah bukan hanya tempat yang nyaman dan menenangkan untuk kita. Rumah adalah tempat yang tepat untuk kita, tempat yang kita butuhkan, bukan sekadar tempat yang kita inginkan.

Setelah diajak bersedih-sedih ria, mari saya ajak kalian membaca cerpen yang sarat akan satire juga menggelitik. Sindiran-sindiran terhadap tikus-tikus pemerintah yang tersaji dengan cukup apik sanggup menyunggingkan senyum prihatin yang ditujukan spesial kepada negara kita tercinta

Ada satu yang mengganggu saya. Di hal. 49  ada kalimat “(Di ruang periksa)”. Mungkin penulis ingin memperjelas setting percakapan yang berlatar belakang ruang periksa di adegan berikutnya, yang menurut saya sangat tidak perlu. Kalau untuk naskah drama, mungkin bisa.

Tempat Untuk Kembali – Jihan Maymunah

Ibu bagaikan rumah tempat kita tinggal, juga bagaikan rumah yang selalu melindungi kita dari segala macam cuaca.

Cerpen kali ini terasa dekat sekali dengan kehidupan masyarakat sekarang, dengan saya, dan mungkin juga dengan kalian. Di cerpen ini penulis mampu dengan apik menceritakan kesederhanaan tersebut dengan begitu mengesankan. Ada suatu pesan yang amat sederhana namun menampar yang bisa kita ambil dari cerpen ini. Salute.

Hujan Di Tepi Senja – Mutiara Magdalena

Di sini juga damai seperti rumah saya.

Akhirnya, nemu juga cerpen yang bertemakan cinta-cintaan favorit saya. Ehe… ehe… Gak usah di-review deh, bagus banget! Penulis mampu mengisahkan cerita romantis yang endingnya ternyata ehem-ehem. Diksi yang digunakan keren juga indah. Menghanyutkan.

Pulang – September V

Rumah adalah tempat untuk kembali, bukan untuk ditinggalkan.

Cerpen yang satu ini juga terasa begitu dekat dengan realita. Tentang Annisa yang galau sehabis PHK juga tentang kasih sayang Ibu yang tak berupa, tak berujung, tak tertakar. Mengharukan.

Pasir Dan Mentari – Siti Syamsiyah

Tidak perlu gunung emas atau istana berlian, cukup pasir dan mentari kau bisa mencintai dan mempertahankan tanah airmu demi masa depannya yang gemilang.

Satu lagi cerpen yang bernuansa satire, namun kali ini tak dibalut dengan humor-humor jenaka. Penulis mampu mengangkat dan menyindir isu-isu eksploitasi alam yang kini tengah marak di negeri kita tercinta. Pesan yang terkandung di dalam cerpen ini begitu benar dan menampar. Duh, saya juga jadi ikutan malu.

My Front Door – Terdevan

If you ever feel like this whole world put you down to your own knees, just come back home…

Satu lagi cerpen romantis yang menjadi favorit saya. Penulis dengan gaya penulisan yang memikat, agak-agak nyastra gitu, mampu melukiskan betapa LDR (Lama Diboongin Relationship, ehe… boong deng) begitu menyesakkan bagi dua insan yang saling mencinta. Diksinya keren, penggambarannya apik, plotnya rapih. Manis.

Surga Menghadirkan Rindu – Wardatul Aini

Surga dunia adalah rumah. Sejauh apapun kaki melangkah dan sehebat apapun dirimu, pada akhirnya rindu akan membawamu untuk kembali.

Cerpen ini adalah cerpen terakhir yang akan saya review. Dan betapa puasnya saya, cerpen yang terakhir ini adalah juga cerpen sederhana yang memikat. Cerpen yang bernuansa religius ini bercerita tentang impian untuk memiliki rumah yang layak. Sederhana, namun berisi. Ada hal-hal yang bisa dipetik dari cerpen ini seperti ketabahan, sikap selalu merasa cukup dan lain-lain.

Cukup sekian dari saya, kurang lebihnya mohon maaf, wa billahi taufik wal hidayah. Untuk keseluruhan, saya akan memberikan buku ini tiga dari lima bintang.

Bintang 3

Saya merasa bangga terhadap diri saya dan teman-teman sesama penulis yang terhimpun dalam buku ini. Teruslah berkarya, dan jangan pernah merasa cukup. Dan saya akan setia menunggu endorse-an buku dari kalian. Ehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s