Review : Cinder

Cinder

Cinder

The Lunar Chronicles

Penulis: Marissa Meyer

Penerjemah: Yudith Listriandri

Penyunting: Selsa Chintya

Proofreader: Titish A. K.

Penerbit: Penerbit Spring

ISBN: 978-602-71505-4-6

Cetakan: I (Januari 2016)

Jumlah halaman: 384 hlmn

*

šBLURB›

Wabah baru tiba-tiba muncul dan mengecam populasi penduduk Bumi yang dipenuhi oleh manusia, cyborg, dan android. Sementara itu, di luar angkasa, orang-orang Bulan mengamati mereka, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.

Cinder, seorang cyborg, adalah mekanik ternama di New Beijing. Gadis itu memiliki masa lalu yang misterius, diangkat anak dan tinggal bersama ibu dan dua orang saudari tirinya. Suatu saat, dia bertemu dengan Pangeran Kai yang tampan. Dia tidak mengira bahwa pertemuannya dengan sang Pangeran akan membawanya terjebak dalam perseteruan antara Bumi dan Bulan. Dapatkah Cinder menyelamatkan sang Pangeran dan Bumi?

*

“She believed in dreams, all right, but she also believed in doing something about them. When Prince charming didn’t come along, she went over to the palace and got him.”

-Walt Disney

Kisah dongeng Cinderella bak legenda yang tak habis-habis diceritakan. Disebarkan dari mulut ke mulut, ditularkan lewat lembaran kertas, buku-buku, hingga berbentuk audio-visual dari generasi ke generasi.

Mulai dari (yang diduga) kisah aslinya yang ada jauh sebelum masehi, tentang Rhodopis sang budak wanita dari Yunani yang menikahi Raja Mesir. Lalu kisah Ye Xian dari negeri Tirai Bambu, Bawang Merah Bawang Putih dari Indonesia, Mary The Crab (Mariang Alimango) dari Filipina, Tam Cam dari Vietnam, serta Kongjwi And Patjwi dari Korea yang semuanya memiliki kesamaan plot dengan kisah Cinderella.

Kisah Cinderella sendiri pertama kali ditulis oleh Giambattista Basile yang memakai nama Cenerentola sebagai nama tokoh utama. Tulisan Basile inilah yang pertama kali menyertakan ibu dan saudari tiri yang kejam, make-over sihir, sepatu yang hilang, dan kerajaan yang kemudian mencari pemilik sepatu tersebut.

Setelah Basile, kemudian ada Perrault dengan Cendrillion-nya, Brothers Grimm dengan Aschenputtel-nya, Confessions Of An Ugly Stepsister-nya Gregory Maguire, dan masih banyak lagi penulis-penulis berbakat yang me-remake dongeng masterpiece ini.

Termasuk Marissa Meyer yang menambahkan beberapa sentuhan distopia, scifi, juga fantasi yang memberikan wajah baru bagi dongeng Cinderella tersebut.

Berkisah tentang kehidupan Linh Cinder sebagai cyborg (Cybernetic Organism, makhluk hidup yang memiliki bagian-bagian tubuh robot) di tengah hiruk pikuk kota New Beijing, ibu kota Persemakmuran Timur. Cinder yang juga seorang mekanik terkenal di kotanya memiliki masa lalu yang misterius. Almarhum walinya yang juga ilmuwan, Linh Garan, mengangkatnya sebagai anak setelah melakukan operasi kepada tubuh Cinder usai kecelakan hover yang mengakibatkan hilangnya satu tangan, satu kaki, dan juga ingatannya.

Cinder yang tak mengetahui asal-usulnya, terpaksa hidup serumah bersama dengan ibu tirinya, Adri, juga kedua orang saudari tirinya, Pearl dan Peony. Kehidupan Cinder sangatlah menyedihkan, apalagi sebuah hukum diciptakan khusus untuk para cyborg yang mengakibatkan adanya kesenjangan sosial antara manusia dengan cyborg.

Kesenjangan sosial itulah yang menjadi aral bagi Cinder kala Pangeran Kai datang ke kiosnya di pasar mingguan New Beijing pada suatu hari. Cinder dengan sengaja menyembunyikan fakta bahwa ia adalah seorang cyborg saat Pangeran memintanya untuk membetulkan android kesayangannya. Karena jika Pangeran Kai sampai tahu, maka Cinder yakin kalau yang nantinya ia terima hanyalah pandangan jijik dan merendahkan dari sang Pangeran.

Namun, ia akhirnya menyesal karena telah menyembunyikan jati dirinya. Sebab menurut sahabatnya yang berwujud android, Iko, Pangeran Kai sepertinya menyukainya. Yang mana hal itu tak boleh sampai terjadi. Karena pangeran adalah Pangeran, dan Cinder adalah… yah… cyborg.

Euforia karena telah bertemu Pangeran Kai yang tampan dan digilai seluruh wanita lajang di seluruh Persemakmuran Timur, lesap begitu mengetahui Peony, adik tiri Cinder yang ia sayangi, divonis tertular wabah Letumosis. Wabah yang kini menjadi epidemi dan telah merenggut banyak nyawa di Bumi.

Adri dan Pearl menyalahkan Cinder atas kejadian yang menimpa Peony. Dan karenanya, ia dipaksa menjadi relawan untuk penelitian yang tengah dilakukan para ilmuwan demi menemukan vaksin Letumosis tersebut. Cinder menolak, sebab ia selalu tahu kalau nasib para relawan sebelumnya berakhir mengenaskan.

Mereka mati.

Di tengah kekacauan hidup Cinder saat itu, Ratu Levana, pemimpin koloni Bulan yang terkenal kejam dan selalu mengkonfrontasi Bumi, memutuskan untuk berkunjung ke New Beijing demi membahas perjanjian perdamaian yang baru, tepat setelah kematian Kaisar Rikan, ayah Pangeran Kai.

Meski Persemakmuran Timur tengah berduka atas kepergian kaisar mereka, namun pesta dansa tahunan tetap akan dilaksanakan. Tetapi akankah ibu dan saudara tirinya mengizinkan Cinder untuk menghadiri pesta dansa yang diadakan kerajaan? Sebab, dengar-dengar Pangeran Kai akan mencari calon permaisurinya di pesta itu.

 “She was a cyborg, and she would never go to a ball.”

-Marissa Meyer

Cinder mampu membuai saya untuk ikut merasakan bagaimana sensasinya hidup di Bumi setelah perang dunia keempat. Di mana Bumi hanya terbagi menjadi beberapa negara besar yaitu: Persemakmuran Timur, Kerajaan Inggris, Federasi Eropa, Uni Afrika, Republik Amerika, dan Australia. Di mana kemajuan teknologi telah begitu pesat, hingga android dan cyborg mampu membaur dengan kehidupan masyarakatnya. Di mana Bulan mampu dihuni oleh manusia yang telah berevolusi.

Dan di mana kesetaraan begitu saru hingga patut ditanyakan.

Menjadi tidak seratus persen manusia otomatis mencap para cyborg ini sebagai warga kelas dua. Hal ini serupa dengan realitas yang ada pada masyarakat post-modern kita, di mana kaum inferior banyak ditindas kaum superior, ataupun minoritas yang dipukul telak oleh mayoritas.

Hal ini tercermin atas program ‘Regulasi Cyborg’ yang diadakan kerajaan untuk mencari relawan bagi pengujian vaksin Letumosis. Mengapa harus cyborg? Mengapa bukan manusia? Sebab tatanan masyarakat di buku Cinder ini menganggap bahwa nyawa manusia lebih berharga dibanding cyborg, dan juga sebagai balas budi yang harus diberikan oleh cyborg kepada para ilmuwan yang telah memberikan mereka kesempatan kedua untuk hidup.

Penindasan karena ketidaksetaraan ini juga dilakukan oleh Adri dan Pearl, mirip dengan ibu dan saudari tiri Cinderella dalam kisah aslinya.

Kalau kalian sempat merendahkan karakter Cinderella yang naif dan lemah di kisah aslinya, mungkin Cinder di buku ini akan memberi angin segar bagi kalian. Jauh dari kata lemah dan naif, Cinder di buku ini dibuat lebih realistis dan juga kuat. Ia yang sadar siapa dirinya, menolak untuk berhubungan dengan Pangeran Kai lebih jauh. Dan ketika ia dipaksa oleh beberapa android untuk menjadi relawan, ia tidak langsung ikut dengan patuh. Dan hasilnya, satu android hancur karena perlawanannya.

Berlawanan dengan karakter Cinder di atas, Pangeran Kai di buku ini terkesan lemah. Ada beberapa faktor yang menurut saya mempengaruhinya. Pertama, kekaisaran yang tiba-tiba saja harus ia kelola di usia semuda itu, usai kematian Kaisar Rikan yang juga adalah ayahnya. Kedua, posisinya sebagai pemimpin persemakmuran membuatnya harus berpikir sejuta kali atas nama kesejahteraan dan keselamatan rakyatnya. Ketiga, tekanan dan ancaman terselubung dari koloni Bulan yang mengharuskan Pangeran Kai untuk bersikap ‘cari aman’.

Namun, di atas segalanya, Pangeran Kai adalah juga sosok yang rendah hati, lucu, penyayang, dan bijaksana. Berbagai kesan ini dapat dengan mudah ditangkap di setiap dialog-dialognya yang digambarkan secara baik oleh penulis.

Ibu dan saudari-saudari tiri Cinderella yang mempunyai peran cukup penting dan sangat signifikan di kisah aslinya, di buku ini malah seperti tak cukup banyak memiliki panggung. Oh, kecuali Peony, saudari tiri yang bersikap baik pada Cinder.

Adri dan Pearl kurang terkesan keji (well, honestly, i really wished some gruesome scenes in this book) kepada Cinder. Cinder hanya disuruh bekerja di pasar (yang nyatanya hanya duduk-duduk saja), mencari barang-barang rongsok untuk memperbaiki peralatan elektronik di rumah mereka, mencuci hover (mobil terbang) dan hal-hal remeh lain.

Tak ada lentils yang harus ia pungut dan bersihkan satu-satu selama semalaman atau hal-hal keji lainnya yang biasanya dilakukan oleh ibu tiri. Kecuali menjual Cinder kepada para ilmuwan demi uang bisa dibilang keji, maka mereka cukup keji kalau begitu.

Dan yang mendapatkan banyak lampu sorot dalam perkara kekejian adalah, tak lain dan tak bukan, Ratu Levana dan konco-konconya.

Romansa yang hadir di antara Cinder dan Pangeran Kai amatlah berharga untuk dinikmati. Bagaimana cara Pangeran Kai yang mati-matian membujuk Cinder hingga mengundang rasa iba bagi saya, juga cara Cinder yang berkali-kali menolak setiap bujukan pangeran layaknya seorang wanita mandiri sangatlah menghibur di tengah keseriusan dan ketegangan terhadap ancaman meletusnya perang antara Bumi dan Bulan. Humor-humor segar dan menggelitik nan pas.

Dengan alur yang terang serta penceritaan dan sudut pandang yang jelas, seharusnya tidak ada kesulitan untuk memahami isi buku ini. Namun di dua puluh tiga halaman pertama, saya mengakui sangat sulit untuk mengerti jalan ceritanya. Saran saya, baca perlahan, dan kalau ada yang tak dimengerti, ada baiknya untuk dibaca ulang.

Perkara teknis tak banyak yang bisa saya koreksi.

  • Penggunaan kata memelesat yang saya rasa kurang cocok dalam cerita -> “…Iko menyeruak keluar dari kerumunan dan memelesat ke meja kerja…” ->sebab menurut KBBI, memelesat = memental; terlepas dengan cepat.
  • Penggunaan kata mencangkung yang tidak biasa dan menurut saya keren.
  • Penggunan kata diagnostis yang harusnya diagnosis di halaman 195 dan 231
  • Penggunan titik yang salah di halaman 214
  • Dan kata ‘Perintah’ yang seharusnya tak dikapitalkan

Membaca buku ini bagaikan berfantasi dalam realitas. Banyak nilai-nilai realis yang tersirat dan dapat kita jadikan alasan untuk duduk bersama, lengkap dengan kopi pekat yang mengepul serta pisang goreng di sisinya, seraya menekan ego untuk kemudian membicarakan apa yang baik dan benar bagi masyarakat yang harusnya penuh cinta.

Sekuel pertama dari The Lunar Chronicles ini pantas mendapatkan rating sebanyak…

Bintang 4

Tak sabar untuk sekuel selanjutnya, Scarlet, Cress, dan Winter! Yay!

Advertisements

4 thoughts on “Review : Cinder

  1. Trivia yang di paragraf-paragraf awal tentang cerita Cinderella di beberapa negara itu kamu tambahin sendiri atau memang ada dari pengantar bukunya? Bagus loh 😀

    Well, saya pun harus beberapa kali baca review-nya untuk bisa mengerti apa yang dii ginkan oleh cerita ala Marissa Meyer ini. Dan review darimu ini jadi penyelamat. Saya jadi lebuh paham ceritanya haha. Setengah terbayang cinderella, setengah lagu terbayang film doraemon jadinya. Bisa pindah tinggal ke bulan gitu XD

    Like

    • Whoa, dipuji sebegitunya oleh mbae reviewer keren dekade ini bikin speechless. Hehe. Alhamdulillah mbae, belajar banyak dr mbae dan teman teman reviewer lain.
      Itu saya riset sendiri mbae, googling sana sini. Jadi begitu deh.

      Haha, sayangnya androidnya cinder gak bisa ngeluarin benda-benda absurd bin ajaib kayak doraemon, mbae. 😄😄😄

      Terima kasih sudah membaca mbae. Ditunggu review keren lg di blognya mbae, juga tungguin review saya selanjutnya ya heuheu.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s