Review : Mission D’Amour

Mission D'Amour

Mission D’Amour

Penulis : Francisca Todi

Editor : Ruth Priscilia Angelina

Desainer Kover : Orkha Creative

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 978-602-03-2487-6

Cetakan : I

Jumah Halaman : 368 hlmn

*

šBLURB›

Kehidupan Tara Asten sebagai asisten pribadi Putri Viola—Putri Mahkota Kerajaan Alerva yang supersibuk—selalu penuh tantangan. Namun, Tara tidak pernah menyangka Badan Intelijen Alerva (BIA) akan menjadikannya tersangka utama dalam rencana penyerangan keluarga kerajaan. Dia dimasukkan ke dalam masa percobaan tiga bulan, pekerjaannya terancam tamat!

BIA menugaskan salah satu agen rahasianya, Bastian von Staudt, alias Sebastian Marschall, untuk menyamar menjadi calon pengganti Tara dan menyelidiki wanita itu. Tapi di tengah perjalanan misinya, dia malah jatuh hati pada kepribadian lugu Tara. Bukannya mencari kesalahan Tara, Sebastian malah beberapa kali menolongnya.

Tara yang awalnya membenci pria itu, mulai bimbang dengan perasaannya. Sebastian pun mulai kesulitan mempertahankan penyamarannya.

Tapi, itu sebelum Sebastian mendengar percakapan mencurigakan Tara di telepon. Yang membawa Sebastian pada dua pilihan sulit : misi atau hatinya.

*

Tiga hari.

Hanya butuh tiga hari bagi saya untuk menggarap buku Mbae Cisca sampai habis. Namun, tepat di hari ketiga, keyboard rusak dan saya terpaksa harus menunda membuat review ini selama empat hari lagi. Heuheu. (Sebenarnya masih rusak, ini huruf ‘L’-nya mendem, untung masih bisa diakalin, ehe) : (

B-but… these are worth to wait!!! Ooowww!!! ‘Kay, nuff said, here goes nothin’…

Berkisah tentang Tara Asten yang hidupnya semakin ruwet semenjak kedatangan teman masa kecilnya, Danielle Laroche—bukan berarti hidup Tara sebelumnya aman tentram, apalagi setiap harinya ia harus berurusan dengan Putri Viola serta Dewan kerajaan, hehe. Kemudian, karena satu dan lain hal, jadilah ia tersangka nomor satu bagi BIA dan menjadikannya target untuk dimata-matai oleh Bastian von Staudt (a.k.a Sebastian Marschall).

Sebastian menyamar menjadi seorang event organizer pribadi Putri Viola, yang juga berarti ia hadir untuk mengancam karir Tara yang susah-payah ia pertahankan selama ini. Namun kebencian Tara makin hari makin sirna, sebab siapa sih yang bisa tahan sama pesona seorang Superman?

Dinding yang dibangun Tara untuk menghalangi Sebastian memasuki kehidupan pribadinya—apalagi masa lalu Tara yang begitu kelam membuat ia semakin tidak mau berurusan dengan Sebastian—sedikit demi sedikit runtuh. Mungkin karena senyumnya, atau kelembutannya, atau sikapnya yang seperti lelaki sejati, atau kencan mereka di restoran paling indah di Trioli atau mungkin karena Sebastian mampu menunjukkan impian yang ia sendiri takut untuk memimpikannya.

“Selama ini aku mengira manusia hanya terbagi menjadi dua golongan: peremuk impian dan penyemangat impian. Namun sejak aku mengenal Sebastian, aku menemukan golongan manusia ketiga. Pemberi impian kepada orang-orang tanpa impian.”

—(Tara Asten, 298)

Untuk desain kover bukunya… Qren beudht!!! Saya suka dengan warna merah yang dijadikan warna dominan untuk desain kover Mission D’Amour ini. Untuk perkara warna, saya merasa cukup hebat karena dapat mengenal banyak warna. Namun, kover buku ini mampu membuat saya merasa alay. Saya tahu warna merah biasa, merah hati, merah marun, bahkan merah cabe-cabean. Namun, merah yang digunakan untuk kover ini adalah hal baru bagi saya. Merah pastel kah?

Makanya, kalian semua harus dapatkan novel ini lalu tulis komentar kalian di bawah tentang warna merah yang digunakan desainer kovernya Mbae Cisca, ehe. Ditunggu!

Mbae Cisca mampu meramu unsur-unsur yang ada dalam sebuah novel dengan begitu apik dan cantik. Tema yang diangkatnya unik dan berbeda. Saya sendiri baru kali ini membaca karya penulis Indonesia yang menceritakan tentang mata-mata atau agen intelijen lalu di-mix dengan kisah-kisah kerajaan.

Kerajaan Alerva di sini adalah tempat yang benar-benar fiktif, begitu juga Carnot dan Trioli. Tetapi berkat kemampuan Mbae Cisca, saya dapat membayangkan kerajaan kecil itu berada tepat di tengah-tengah benua Eropa. Terrific!

Berbicara tentang sudut pandang, menulis sebuah novel dengan dua sudut pandang memang tak mudah, apalagi isi kepala keduanya benar-benar kompleks. Mungkin hal ini yang membuat Mbae Cisca sedikit keliru di dalam novelnya. Di halaman 300, tepat di bawah angka yang menunjukkan bab ke-27, tertulis Bastian, di mana paragraf demi paragraf selanjutnya sangat jelas menunjukkan bahwa sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang Tara.

Untuk cetakan selanjutnya, saya harap kesalahan kecil namun sangat mengganggu ini dapat diperbaiki.

Dua sudut pandang ini juga memiliki kelebihan, karenanya kita bisa tahu karakter masing-masing tokoh dari cara berpikirnya. Seperti Tara Asten yang baik hati, cerdas, lugu, penakut, selalu minder serta Bastian yang pintar, tegas, lembut juga pemberani.

Karakter setiap tokoh di novel ini digarap dengan cukup baik. Contohnya Tara yang dengan segala kebaikan yang ada pada dirinya, ternyata mempunyai masa lalu yang begitu kelam hingga membuatnya menjadi sosok yang minder serta susah membuka hatinya untuk lelaki yang mencintainya.

Danielle juga, walaupun memiliki latar belakang yang sama dengan Tara, ia tumbuh menjadi wanita urakan yang sangat berbeda dengan teman masa kecilnya itu. Semua dijabarkan dengan baik dan tidak terkesan terlalu mengada-ada ataupun ujug-ujug.

Hanya satu yang saya sayangkan, yaitu karakter Bastian. Menurut saya Mbae Cisca kurang memperkuat karakter bastian sebagaimana ia menciptakan karakter lainnya. Masa lalunya kurang nganu, hingga kebencian yang ia rasakan kepada keluarga kerajaan kurang cukup untuk dijadikan pergolakan batin baginya ketika bekerja di bawah sistem kerajaan. Namun untuk karakter lainnya disajikan dengan cukup yummy! Salute!

Ah, ya… Koreksi lagi untuk halaman 121, yang seharusnya ‘pantri’ menjadi ‘panti’, juga penggunaan kata ‘hipnosis’ yang harusnya ‘hipnotis’.

“Kelam matanya adalah sepasang black hole yang menghipnosis.”

(Tara Asten, 298)

Hipnosis : Keadaan seperti tidur karena sugesti.

Hipnotis : membuat atau menyebabkan seseorang berada dalam keadaan hipnosis

Saya sangat menikmati halaman demi halaman ketika membaca novel ini. Saya jatuh cinta dengan ceritanya, tokohnya, tempat-tempatnya, twist-nya, ahh… semuanya. Apalagi banyak sempilan-sempilan seperti ideologi komunisme yang disinggung, juga sedikit action, jenis-jenis makanan yang bikin baper. #typo #typosengaja #baperitukekinian #cintailahayahbunda

Over all, qreeenn!

This novel worth these stars

Bintang 4

Yay!!!

Advertisements

5 thoughts on “Review : Mission D’Amour

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s